NovelToon NovelToon
Ditinggal Menikah Dipinang Pewaris

Ditinggal Menikah Dipinang Pewaris

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / CEO
Popularitas:484
Nilai: 5
Nama Author: Anjana

Ketika Zilia mengetahui kekasihnya menikah dengan wanita lain, hidupnya seketika berubah.
Belum sempat menyembuhkan luka, ia justru dijodohkan dengan Rafael, pewaris keluarga Darmawan yang nyaris tidak dikenalnya. Namun, siapa sangka jika Vio datang kembali dan bersumpah akan merebutnya, sementara Rafael terang-terangan bahwa Zilia sebagai calon istrinya.
Di antara cinta lama, perjodohan, kecemburuan, dan rahasia keluarga, Zilia tidak pernah menyangka, bahwa pria yang awalnya hanya dianggap sebagai pengganti, justru akan menjadi lelaki yang mengubah seluruh hidupnya.

Akankah Zilia mendapatkan kebahagiaan? Atau justru ujian hidupnya semakin berat.
Penasaran? yuk ikuti jalan cerita mereka

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anjana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 5

Zilia yang sejak tadi menunggu kabar dari Vio akhirnya menyerah. Ia meletakkan ponselnya di atas nakas, lalu merebahkan tubuh di atas kasur.

Tatapannya menerawang ke langit-langit kamar.

Entah mengapa, malam itu hatinya terasa tidak tenang.

"Semoga kamu benar-benar cuma sibuk, Vio..." gumamnya lirih.

Baru saja memejamkan mata, tiba-tiba...

Brrt... Brrt... Brrt...

Suara dering ponsel membuatnya tersentak.

Dengan gerakan cepat, Zilia langsung meraih ponselnya. Senyum lebar sempat mengembang di wajahnya.

"Vio!"

Namun, senyum itu seketika menghilang saat melihat nama yang tertera di layar.

Papa.

Zilia mengembuskan napas panjang.

"Ada apa lagi sih..."

Sebenarnya ia enggan mengangkat panggilan itu. Namun setelah beberapa detik berpikir, akhirnya ia mengusap layar ponselnya.

"Halo."

Suara pria paruh baya terdengar dari seberang.

"Zilia."

Nada suaranya tenang, tetapi terdengar berwibawa.

"Kamu sudah membaca surat yang Papa kirim?"

"Sudah."

"Bagaimana keputusanmu?"

Zilia langsung menjawab tanpa berpikir panjang.

"Aku menolak."

Di seberang sana, terjadi keheningan beberapa saat.

"Kamu bahkan belum mendengar penjelasan Papa."

"Aku rasa nggak ada yang perlu dijelaskan."

"Ada."

Suara ayahnya terdengar lebih serius.

"Papa ingin kamu pulang."

"Aku nggak mau."

"Kenapa?"

Pertanyaan itu membuat Zilia tersenyum getir.

"Papa masih tanya kenapa?"

"Papa ingin mendengarnya langsung darimu."

Zilia menarik napas dalam.

"Karena rumah itu bukan rumahku."

"Itu tetap rumahmu."

"Bukan."

Suara Zilia mulai bergetar.

"Rumahku ada di sini. Bersama Bu Retno. Beliau yang membesarkanku. Beliau yang menemani aku saat sakit, saat menangis, saat ulang tahun, sampai aku dewasa."

Suara di seberang kembali hening.

"Sedangkan Papa..."

Zilia menahan air mata yang mulai menggenang.

"...Papa memilih membangun keluarga baru."

Ayahnya mengembuskan napas pelan.

"Papa tahu kamu masih menyimpan luka."

"Bukan luka, Pa."

"Lalu?"

"Kecewa."

Satu kata itu membuat suasana menjadi sunyi.

Beberapa saat kemudian, ayahnya kembali berbicara.

"Papa tidak menelepon untuk berdebat."

"Lalu?"

"Papa hanya ingin kamu pulang. Besok pagi sopir akan menjemputmu."

Zilia langsung bangkit dari tempat tidurnya.

"Aku bilang aku nggak mau!"

"Kali ini bukan permintaan."

Raut wajah Zilia berubah.

"Papa sudah memutuskan."

"Aku juga sudah memutuskan."

Suara Zilia terdengar tegas.

"Aku akan tetap tinggal di sini."

Ayahnya terdiam sejenak, seolah sedang menahan emosi.

"Baik."

Jawaban singkat itu justru membuat Zilia merasa ada yang tidak beres.

"Tapi ingat satu hal."

"Apa?"

"Papa berharap kamu tidak menyesali keputusanmu."

Sambungan telepon langsung terputus.

"Tut... tut... tut..."

Zilia masih menempelkan ponsel di telinganya.

Tatapannya kosong.

"Apa maksud Papa?"

Ia mencoba menghubungi kembali nomor itu, tetapi panggilannya langsung ditolak.

Perasaan gelisah kembali menyelimuti hatinya.

Belum selesai memikirkan Vio yang tidak bisa dihubungi, kini ayah kandungnya justru memberikan ultimatum yang sulit ia pahami.

Malam itu, Zilia memeluk kedua lututnya di atas kasur.

Untuk pertama kalinya, ia merasa hidupnya perlahan mulai keluar dari jalan yang selama ini ia rencanakan.

Zilia tidak memiliki pilihan lain. Berbagai alasan telah ia susun di dalam pikirannya, tetapi semuanya terasa sia-sia. Ia tahu betul sifat ayahnya. Sekali mengambil keputusan, sangat sulit untuk mengubahnya.

Dengan langkah gontai, Zilia kembali merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur.

Tatapannya kosong menatap langit-langit kamar.

Ia mengembuskan napas panjang, berharap beban di dadanya ikut menghilang. Namun, yang terjadi justru sebaliknya. Kepalanya dipenuhi berbagai pertanyaan yang tak kunjung menemukan jawaban.

Baru kemarin Vio berpamitan pulang ke rumah orang tuanya. Kini, dirinya pun dihadapkan pada pilihan yang sama—kembali ke rumah yang selama ini enggan ia datangi, atau tetap bertahan dengan segala konsekuensinya.

"Apa ini kebetulan... atau memang takdir?" gumamnya lirih.

Perlahan, matanya mulai memerah.

Ia teringat janji Vio di tepi danau.

"Aku akan kembali. Aku akan menjemputmu, melamarmu, lalu menikahimu."

Janji itu masih begitu jelas terngiang di telinganya. Janji yang membuatnya yakin untuk tetap menunggu.

"Aku percaya sama kamu, Vio..." bisiknya sambil menggenggam ponsel di dadanya.

Namun, hingga malam semakin larut, tidak ada satu pun kabar darinya.

Ponsel yang sedari tadi ia harapkan berdering tetap sunyi.

Keheningan itu justru membuat hatinya semakin sesak.

"Aku cuma ingin dengar suaramu sekali saja," ucapnya pelan.

Kelopak matanya perlahan terasa berat. Meski pikirannya masih dipenuhi kecemasan, tubuhnya sudah terlalu lelah untuk terus memaksakan diri terjaga.

Dengan perasaan yang bercampur aduk antara rindu, khawatir, dan kebingungan, Zilia akhirnya memejamkan mata.

Ia tidak menyadari bahwa malam itu adalah awal dari perubahan besar yang akan mengubah jalan hidupnya, juga hubungannya dengan orang-orang yang paling ia cintai.

Keesokan paginya...

Langit masih diselimuti gelap. Embun pagi menempel di dedaunan, sementara suasana di sekitar rumah masih begitu sunyi.

Di dalam kamar, Zilia masih meringkuk di balik selimut. Semalaman ia sulit memejamkan mata karena memikirkan Vio dan telepon dari ayahnya.

Brummm...

Suara mesin mobil yang berhenti di depan rumah membuatnya mengernyit.

Brumm...

Kali ini terdengar lebih jelas.

Zilia mengucek kedua matanya, lalu bangkit dengan malas dari tempat tidur.

"Siapa sih pagi-pagi begini?" gerutunya.

Ia berjalan menuju jendela dan menyingkap tirainya sedikit.

Seketika matanya membulat.

Sebuah mobil hitam mewah terparkir tepat di depan rumah. Beberapa pria berpakaian rapi berdiri di samping kendaraan itu.

"Apa?!"

Zilia refleks membuka tirai lebih lebar.

Zilia mondar mandir didalam kamar. Ia mencoba membuka pintunya. Yakni memastikan.

"Masih pagi begini, bahkan matahari belum benar-benar terbit. Papa sudah nyuruh orang datang ke sini?"

Ia berdecak kesal.

"Huh... memang dasar si tua—"

"Si tua apa, hm?"

Suara langkah kaki seorang pria tiba-tiba terdengar jelas.

Zilia langsung menoleh.

Kedua bola matanya membulat sempurna.

"Ka... Kak Davin?"

Di dekat pintu berdiri seorang pria bertubuh tinggi dengan kemeja putih yang lengan bajunya digulung hingga siku. Senyum jahil menghiasi wajah tampannya, sementara kedua tangannya dimasukkan ke saku celana.

"Akhirnya kenal juga."

Zilia mendengus pelan.

"Kak Davin ngapain di sini?"

Davin terkekeh.

"Aku disuruh Om buat jemput adikku yang paling cantik ini."

"Ogah."

Jawaban Zilia begitu cepat.

Davin mengangkat sebelah alisnya.

"Belum juga diajak, sudah nolak."

"Aku nggak mau pulang."

"Kakak tahu."

"Kalau tahu, kenapa masih datang?"

Davin berjalan mendekat, lalu tanpa izin mengacak pelan rambut Zilia.

"Karena aku cuma menjalankan tugas."

"Ih... jangan acak-acak rambutku!"

Zilia buru-buru merapikan rambutnya yang sudah susah payah disisir.

Davin hanya tertawa kecil.

Sejak kecil, hubungan mereka memang cukup dekat. Berbeda dengan ayah Zilia yang terkesan dingin, Davin justru sering diam-diam datang menjenguknya saat masih kecil.

Sayangnya, setelah Davin melanjutkan pendidikan di luar negeri dan sibuk membantu perusahaan keluarga, mereka jarang bertemu lagi.

"Udah selesai ngambeknya?" goda Davin.

"Aku nggak ngambek."

"Oh ya?"

"Nggak."

"Terus yang tadi ngomong 'si tua' itu siapa?"

Wajah Zilia langsung memerah.

"Itu... bukan aku."

"Hm... kalau Om dengar sendiri, kira-kira gimana ya?"

"Kak Davin!"

Davin kembali tertawa.

"Tenang. Kakak nggak akan ngadu."

Ia lalu mengubah ekspresinya menjadi lebih serius.

"Zil, Om benar-benar ingin bertemu sama kamu loh."

Zilia langsung memalingkan wajah.

"Aku nggak siap."

"Nggak ada orang yang benar-benar siap menghadapi masa lalunya."

Suasana seketika menjadi hening.

Davin melanjutkan dengan nada lembut.

"Aku nggak akan memaksa. Tapi setidaknya... temui Om sekali saja. Dengarkan apa yang ingin beliau sampaikan. Setelah itu, kalau kamu tetap memilih kembali ke sini, aku sendiri yang akan mengantarmu pulang."

Zilia menatap Davin beberapa saat.

Ia tahu sepupunya itu bukan tipe orang yang pandai membujuk. Jika sampai berbicara selembut ini, berarti ayahnya benar-benar menginginkan kepulangannya.

Namun, bayangan rumah yang telah lama ia tinggalkan masih menjadi ketakutan terbesar di dalam hatinya.

Rumah itu adalah tempat ia kehilangan kasih sayang seorang ibu... sekaligus tempat yang selalu mengingatkannya bahwa dirinya pernah merasa tidak diinginkan.

1
Leisha
Lanjut thor...
awas y thor kalo gk update
suka ceritanya
Leisha
Ditunggu kelanjutannya kak❤
Anjana
Asiap.... gas pol nyampe end kak. Jangan lupa untuk selalu dukung biar authornya semangat nulisnya😍
Leisha
Semoga tidak gantung ceritanya
awas ya thor kalo gak nyampe end
tak jewer kamu thor😄
Leisha
Bagus ceritanya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!