Saniya Syamira, tak memiliki pilihan lain selain menerima perjodohan amanah dari almarhum kakeknya.
Terlebih sang ibu mengkhawatirkan dirinya jadi perawan tua dikarenakan memiliki kekurangan. Saniya penyandang disabilitas fisik, kaki kanannya diamputasi sedari dia berumur 8 tahun.
Mampukah Saniya menjalani biduk rumah tangga bersama pria berstatus duda yang pernah gagal menikah sampai dua kali dengan wanita sama yakni, cinta pertamanya?
Lantas, bagaimana dengan sepasang anak tirinya, bisakah mereka menerima wanita lain selain ibu kandung?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cublik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rencana gagal : 11
“Katanya mau jadi ibu rumah tangga, eh gak taunya tetap saja sibuk sendiri. Kamu menikah sama papiku pasti karena harta, iya kan?” Tatiana memandang rendah ibu tirinya.
Saniya Syamira membalas tatapan sinis dengan aura keibuan, sorot mata teduh. “Sayangnya harta papimu gak bisa membeli harga diriku yang tidak ternilai. Jadi, simpan praduga liar itu.”
“Sombong banget kamu,” balasnya tak terima.
“Gapapa sombong ke orang yang minim adab, mengedepankan emosi daripada logika. Kalau kamu pintar, seharusnya cara berpikirmu tak sempit. Sebelum menilai, terlebih dahulu belajar mengenal, barulah bisa menyimpulkan. Selamat pagi Tatiana.” Saniya melempar senyum sumringah, lalu dia melangkah penuh percaya diri.
Tatiana menghentakkan kaki beralas sandal rumah. Dadanya bergemuruh, kesal sekali. Ternyata ibu tirinya sulit diprovokasi.
Di dapur, Saniya minta diajari membuat secangkir kopi teruntuk suaminya.
Bi Lilik menyambut antusias, memberitahukan tentang takaran bubuk kopi, serta gula pasir, dan seberapa banyak air putihnya.
Aroma kopi tercampur air panas, menguar gurih. Saniya membawa sendiri minuman buatannya.
Dari arah belakang, tertutup lemari partisi, Tatiana Wilman tersenyum culas, dia berjalan terburu-buru tanpa melihat depan, menciptakan skenario murahan demi membuat sang ibu tiri terlihat jahat dimata ayahnya.
Rencananya hampir sukses, kaki kanan bersiap menjegal langkah wanita yang sepertinya tidak menyadari seseorang berdiri di belakangnya, tetapi semua kacau ….
Ardan berlari menghindari kejaran sang pengasuh yang menenteng baju, dia tidak memperhatikan jalan, dan Saniya terlambat menghindar, pas bersamaan kaki Tatiana sudah maju.
Demi menghindari kopi panas menyiram kepala Ardan, Saniya memilih menghalau dengan menarik gelas secepat yang dia bisa.
Arghhh!
Teriakan Saniya melengking. Dia meringis menahan sakit. Kulit perutnya terasa perih, panas. Akibat menjaga keseimbangan tubuh, ujung kaki diamputasi terasa berdenyut.
Saniya mundur, punggungnya membentur meja pantry, tangkai gelas masih digenggam kuat, tidak dilepaskan. Sengaja dipertahankan agar tidak jatuh dan langsung pencah, dia takut Ardan menginjak kaca tajam.
Tatiana membeku di tempat, bukan ini hasil dari rencana tanpa perencanaan matang. Yang dia inginkan, tumpahan kopi mengenai tangannya agar Saniya disalahkan oleh sang ayah.
Ardan kebingungan, sedikitpun badannya tidak terkena tumpahan kopi. Mata bulatnya berair memandangi wajah menahan sakit tetapi tidak mengeluh apalagi menangis.
Mulut Saniya terkatup, digigitnya pipi bagian dalam demi menyalurkan rasa sakit.
Yarash berlari memasuki ruang makan, langsung merebut gelas dan membantingnya sedikit kuat ke atas pantry.
Dia membopong Saniya tanpa berbicara sepatah katapun. Membawa sang wanita masuk ke dalam kamar mereka.
“Suci, ambilkan kotak P3k!” titahnya menggelegar, mengejutkan gadis belia yang wajahnya memucat.
Sekujur tubuh Tatiana gemetaran, rasa takut menyelusup ke relung hati.
***
Saniya didudukkan di atas kasur. Yarash bergerak mengikuti insting, tidak memikirkan apapun selain ingin memberikan pertolongan.
Kancing blouse putih sudah bercampur warna hitam, dibuka sampai bawah, lalu dibiarkan terjun dan tertahan tangan Saniya yang menekan kasur.
Suci masuk membawa kotak obat, rautnya cemas, merasa bersalah karena tidak bisa menjaga Ardan.
“Keluarlah! Tutup rapat pintunya!” tegasnya.
“Baik, Pak.” Suci setengah berlari, membuka pintu langsung menutup nya lagi dari luar.
Yarash mengambil bantal, meletakkan di belakang Saniya. “Berbaringlah, biar saya obati.”
“Aku bisa sendiri, Mas. Taruh saja —” kalimatnya menggantung, badannya didorong sampai kepala menekan bantal.
Saniya merasa tidak nyaman, meski Yarash suaminya, tapi terasa asing dan baru kali ini ada pria dewasa melihatnya cuma memakai bra.
“Kulit mu kemerahan, bila tak segera diobati akan melepuh.” Diambil secukupnya gel menggunakan ujung jari, lalu dioleskan lembut ke permukaan kulit memerah tepat di bawah bra.
Perut Saniya mengempis, dia menahan napas, kedua tangannya terkepal di sisi tubuh.
Melihat perubahan gesture menegang, baru menyadarkan Yarash kalau posisi mereka sangat intim — ia berlutut di samping kaki merapat.
Pria sudah mengenakan setelan kemeja dan celana bahan — juga menahan napas, tatapannya barulah benar-benar melihat area yang sedang diusapnya dengan perasaan berbeda.
Permukaan kulit yang keseharian tertutup kain, lebih putih dari lengan, dan terasa lembut saat diraba. Susah payah Yarash menelan air ludah sampai jakunnya naik turun.
Bertahun-tahun lamanya dia tidak lagi bersentuhan dengan wanita, dan tak pula sedekat ini, rasanya aneh tetapi bukan sesuatu membuatnya risih apalagi jijik.
“Mas, sudah belum?” Saniya merasakan sensasi dingin dari gel, lalu jemari menggelitik di atas permukaan perutnya, bahkan tadi ujung jari telunjuk Yarash menelusup ke bawah bra meski tak sampai menyentuh buah dada.
“Sebentar lagi,” dia pun tidak mempercayai kalimat barusan.
Kemerahan sebesar telapak tangannya sudah diolesi gel secara merata, malah dioles dua kali.
‘Konyol,’ ejeknya pada diri sendiri. Cepat-cepat Yarash menutup rapat botol gel. “Sudah selesai.”
“Tolong kamu keluar dulu, Mas. Aku mau ganti baju.” Saniya enggan membuka mata, masih berbaring terlentang, dia didera malu.
Yarash berdehem, kemudian berdiri sambil membawa kotak obat. “Sebaiknya kamu libur hari ini, takutnya kalau dipaksakan mengajar, lukanya terasa perih tergesek pakaian.”
“Aku gapapa. Rasa perihnya mulai berangsur pergi,” jawabnya cepat.
“Saya tinggal dulu, kalau semisal membutuhkan bantuan, berteriak saja,” rasanya sedikit enggan keluar dari kamar, sementara matanya terpaku pada area perut berkulit putih.
“Iya.”
Yarash pun akhirnya benar-benar keluar dari dalam kamar.
Huffff ….
Saniya menghela napas, lalu dia bangkit dan berjalan ke lemari pakaian. Mengambil dress longgar panjang sebetis, lengan pendek. Menghindari memakai baju setelan.
Setelah memastikan penampilannya rapi, dan baju kotor sudah dimasukkan ke keranjang rotan, Saniya keluar dari dalam kamar, berjalan pelan-pelan ke ruang makan. Mengatur ekspresi agar terlihat baik-baik saja, padahal menahan perih pada perut serta denyut di kaki.
Tatiana diam-diam melirik wanita sudah berganti pakaian, diperhatikannya raut tenang, batinnya pun berbisik. ‘Apa dia gak kesakitan? Kopi tadi pasti panas sekali?’
.
.
Bersambung.
ini sdh pol pas... bagus
si kecil ardan & si tita mulut racun😁
jngn di ganti lg ya kak cublik
lupakan lepaskan belenggu masa lalu.. sambutlah masa depan
dahayu apa kabarrr...