"Seharusnya dia adalah adik iparku! tapi kini malah menjadi istriku!" ABIAN NUGRAHA.
"Pria itu seharusnya menjadi kakak Iparku, tapi sekarang dia adalah suamiku!" MAHARAYA FADILLA.
bagaimana jadinya dua orang yang sebelumnya tidak saling mengenal namun tiba-tiba dinikahkan. semua itu bermula karena Andira Fadillah atau yang akrab di sapa Dira selaku kakak Maharaya atau Raya, kabur tepat di hari pernikahannya dengan seorang pria yang telah di jodohkan oleh orangtuanya bernama Abian Nugraha. Dira yang tiba-tiba saja menghilang saat akad akan di mulai membuat Ayah Faizal panik. karena insiden itu Ayah Faizal meminta Raya putri bungsunya yang masih duduk di bangku SMA kelas 12 itu untuk menjadi pengantin pengganti Kakaknya. Demi menjaga nama baik keluarga.
Bagaimana kah kelanjutan kisah keduanya. apakah mereka bisa saling menerima satu sama lain? dengan rentang usia yang lumayan jauh.
Yuk! ikuti kisah mereka!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon QueenShafa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34
"Kamu kenapa sih? Kek, ketakutan banget aku masuk ke sini! Kek apa aja deh!" Ucap Dira sambil menyandarkan punggungnya pada daun pintu itu.
Valdo gelabakan mendengar ucapan Dira. "Bukan begitu Beb! Aku hanya sedang banyak lekerjaan saja saat ini. Jadi tolong kamu kembali ke ruangan mu dulu ya!" Ucap Valdo berusaha menetralkan sikapnya.
"Tapi,,,,,,"
"Please beb, nanti sore tunggu aku di apartemen, oke!" Potong Valdo cepat sambil menagkup wajah Dira dan menyuruhnya untuk segera kembali ke ruangannya.
"Oke, awas ya kalau kamu bohong! Aku bakal ngambek sama kamu!" Ucap Dira yang akhirnya luluh juga dengan sikap lembut Valdo. Walaupun wanita itu masih merengut sambil keluar dari ruangan Valdo.
"Hoh!" Valdo menghela nafas lega saat Dira sudah berlalu dari ruangannya. Valdo kembali duduk di kursi kerjanya sambil menghela nafas panjang.
Tok! Tok! Tok!
"Masuk!" Sahutnya mempersilahkan.
"Maaf pak, Nyonya Maura sudah berada di parkiran!" Lapor Sekretaris Valdo yang bernama bernama Erik.
"Baik, terimakasih Erik!" Balas Valdo sambil berdiri dari kursinya. Bersiap menyambut Nyonya Maura selaku direktur utama Bank Swasta tempatnya menjabat sebagai Wakil direktur. Sekaligus adik Ipar dari Nyonya Maura tersebut.
Valdo dan Erik juga beberapa staf penting lainnya segera menyambut kedatangan sang Direktur tidak terkecuali Dira dan beberapa staf lainnya pun ikut berjejer rapi dalam penyambutan sang Direktur.
"Selamat datang Nyonya Maura!" Ucap Valdo saat Maura telah memasuki gedung itu.
Maura mengangguk sambil menyapu sekeliling orang-orang yang menyambutnya. Keningnya mengkerut saat tatapannya terpaut pada salah satu karyawan wanita yang bernama Dira. Namun hanya sebentar saja, Maura segera melanjutkan langkahnya menuju Ruangannya.
"Ya ampun, bu Dirut kelihatan dingin banget ya!" Bisik Dira pada salah satu rekan kerjanya. Dira baru kali ini melihat langsung Direktur utama Bank tempatnya bekerja itu.
"Hust! Jaga ucapanmu Dira, jangan sampai terdengar oleh beliau, bisa-bisa kamu langsung disidang nanti!" Tegur rekan kerja Dira yang bernama Rista.
"Udah yuk, kembali bekerja!" Ucap Rista lagi mengajak semua rekan nya untuk kembali ke ruangan masing-masing. Termasuk Dira.
"Sepertinya Valdo takut banget sama Dirut itu, apa beliau istrinya Valdo?" Batin Dira seraya kembali ke ruangannya.
Sementara itu di ruangan direktur utama Valdo sedang berdiri di depan meja Maura. Menanti apa yang akan di ucapkan oleh wanita itu.
"Valdo, aku mendengar keluhan Aura, maka dari itu aku terpaksa terbang jauh-jauh dari LN kesini. Apa yang telah kamu lakukan padanya?" Tanya Maura sambil menatap intens laki-laki yang berdiri gugup di hadapannya itu. Maura bisa melihat kegugupan Valdo.
"Kami baik-baik saja Kak, tidak ada yang berubah!" Sahut Valdo tanpa menatap Maura.
"Kamu yakin dengan apa yang kamu katakan itu? Aura tidak mungkin berbicara seperti itu jika dia tidak merasa tersakiti oleh kelakuanmu!" Tukas Maura lagi yang masih memperhatikan gesture Valdo.
"Saya yakin kakak, kami hanya terlihat sedikit kesalah pahaman saja. Tapi kami sudah baik-baik saja saat ini!" Sahut Valdo lagi berusaha meyakinkan Kakak Iparnya itu.
"Oke! Aku pegang kata-kata mu itu! Tapi, jika suatu saat aku menemukan bukti jika kamu telah menyakiti adik ku, kamu akan tamat Valdo! Aku harap kamu tidak melupakan darimana kamu berasal!" Ancam Maura yang berhasil membuat Valdo ketar-ketir.
"Aku akan menetap sedikit lama di tanah air tercinta ini. Jadi kuharap kamu dan Aura benar-benar baik-baik saja!" Lanjutnya sambil bersidekap tangan menatap adik iparnya itu.
"Haduh! Bisa gawat ini kalau dia menetap terlalu lama di Indonesia, pergerakan aku bakal terbatas!" Batin Valdo resah.
*
*
"Raya, gimana rasanya menikah?" Tanya Syifa dengan suara pelan!
"Iya Ya, aku penasaran gimana rasanya menjadi istri Om-om hihihi!" Timpal Sherly sembari terkekeh kecil.
"Bobonya gimana Bu ketu! Apa.....apa...."
"Skip...skip! Apaan sih kalian, aneh-aneh aja deh pertanyaannya!" Potong Raya sembari mengipas-ngipaskan kerupuk pada ke empat teman-teman reseknya itu. Bisa-bisanya yang mereka pertanyaan hal-hal yang seperti itu. Sejujurnya dirinya merasa malu saat tiba-tiba saja mengingat setiap malam tidur di pelukan Abian.
"Halah, sok-sokan nih, buketu! Tinggal jawab saja loh! Enak tidak menikah dengan Om-om?" Ucap Fikha sambil mencomot kerupuk dari tangan Raya dan memakannya.
"Syut!! Kalian tuh ya, jangan bertanya yang aneh-aneh. Nanti ada yang dengar gimana? Kan nanti gue yang repot kalau ada yang tahu kalau gue udah nikah!" Ucap Raya lagi dengan suara kecil.
"Hai Raya dan geng, gue boleh gabung disini nggak?"
Sontak saja kelima gadis itu menoleh ke arah suara tersebut. Dan ternyata suara itu berasal dari murid laki-laki yang banyak dikagumi oleh murid-murid cewek di sekolah itu. Ya, dia adalah Axel kelas 12 Ipa.
"Em... Boleh, silahkan Xel!" Ucap Maudy sambil menggeser duduknya kemudian membersihkan Axel untuk duduk.
Sementara Syfa, Sherly, Fikha dan Raya saling pandang.
"Raya, bisa ngobrol berdua aja nggak? Ada yang mau gue omongin penting!" Ucap Axel lagi sambil menatap Raya dengan tatapan lembut.
Raya dan ke empat temannya saling pandang mendengar permintaan Axel itu. Terutama Raya yang langsung mengingat suaminya.
"Mau ngomong Apaan? Udah gih, ngomong aja langsung. Mereka nggak bisa kemana-mana!" Sahut Raya yang memang biasa saja saat berhadapan dengan Axel.
Axel pun melirik ke empat teman Raya itu. Dan kompak ke empatnya pun nyengir kuda. Sebagai simbol jika mereka tidak berkenan untuk meninggalkan ketua mereka hanya berduaan saja dengannya.
Axel pun menghela nafasnya pasrah dengan semua itu. "Raya, kamu,,,,,,,"
Drerttt!!
Dreett!!!
"Eh, sorry Xel, aku terima panggilan telpon dulu!" Raya segera berdiri dari duduknya dan sedikit menjauh dari kantin agar tidak terlalu ribut oleh suara ramai anak-anak yang sedang berada di kantin itu.
"Susah banget sih deketin kamu Raya!" Batin Axel sambil menatap punggung Raya yang sedang menerima telpon entah dari siapa. Axel sempat melihat layar ponsel Raya tadi yang menampilkan gambar kontak seorang cowok.