Ara Milano tidak pernah menyangka satu malam akan mengubah seluruh hidupnya.
Ketika kakaknya menghilang sebelum pernikahan, keluarga Milano tidak memiliki pilihan lain. Demi menjaga perjanjian antara dua keluarga, Ara dipaksa mengenakan gaun pengantin dan menggantikan posisi kakaknya.
Pria yang menunggunya di altar adalah Dante Theo, pewaris keluarga mafia paling berkuasa, yang terkenal dingin, keras, dan tidak mengenal kata kompromi.
Dante tentu tahu wanita yang berdiri di hadapannya bukanlah pengantin yang seharusnya.
Sementara Ara merasa terjerat dalam pernikahan pengganti ini. Bahkan sejak di malam pernikahan, ia berulang kali mencoba kabur. Meskipun pada akhirnya usahanya seperti usaha menjaring angin.
Lama kelamaan keduanya terbiasa dengan kehadiran lainnya. Bagi Dante, gadis itu telah menjadi bagian dari perjanjian yang tidak boleh dilepaskan. Sekalipun harus ia akui, Ara bukan wanita yang mudah dikendalikan. Sayangnya ia juga tidak pernah sanggup kehilangannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Liza Navy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11 Berbagi Ranjang
Malam itu, setelah makan malam selesai, Ara langsung kembali ke kamar. Ia tidak menunggu Dante. Ia juga tidak berniat membuka percakapan dengan Dante.
Malam ini bakal menjadi malam panjang, setidaknya untuknya. Ia berbeda dari pria berwajah dingin tanpa ekspresi yang masih ada di bawah. Saat ini sepertinya pria itu sedang menunggu laporan dari Luca. Entah apa yang dilaporkan Luca tangan kanannya itu.
Ara melihat ranjang besar yang berada di tengah ruangan. Langkahnya terhenti. Ranjang itu kembali mengingatkannya pada keputusan Dante. Mulai malam ini, mereka berbagi ranjang. Itu tidak bisa ditawar.
Ara pasrah pada nasibnya malam ini. Pikirnya apapun yang terjadi, terjadilah. Ia mengambil piyama dari lemari, lalu masuk ke kamar mandi. Beberapa menit kemudian, Ara keluar dari kamar mandi.
Ia mendapati Dante sudah berada di kamar. Pria itu sedang duduk di sisi ranjang sambil membaca beberapa dokumen.
Ara berhenti. Dante mengangkat wajah. Tatapan mereka bertemu.
"Sudah selesai?" tanya Dante tanpa memandang Ara. Ia masih sibuk membaca laporannya.
Ara mengangguk. Dante kembali membaca.
Ara berjalan menuju ranjang. Ia berdiri di sisi yang paling jauh dari Dante. Perlahan ia naik ke atas kasur. Ia duduk di seberang.
Dante memperhatikannya.
Ara mengulum bibirnya, sebelum berkata, "Kau tidak mandi?"
"Bukannya kau takut melihatku berbalut handuk?" goda Dante dengan nada suara datar.
Ara bergidik. Pria ini ya--batinnya--ditanya baik-baik, malah sengaja cari masalah. Ia menarik nafas dalam dan menahan amarahnya.
"Seharian tadi kau ada di luar. Sebaiknya kau mandi dulu," bujuk Ara menoleh ke arah Dante. Ia sedikit terkejut melihat Dante yang tidak lagi membaca dan menunggunya bicara.
"Baiklah aku akan mandi," ujar Dante sembari menaruh dokumen di atas nakas di sisi tempat tidur.
"Aku sudah menyiapkan piyama dan handukmu di kamar mandi."
Dante menyeringai lebar. "Kau sudah menyiapkan antisipasi rupanya."
Ara mengabaikan kata-kata Dante. Ia menarik selimut dan mengambil novel dari atas meja di sisi ranjangnya. Ia menunggu Dante selesai mandi. Mereka harus membahas kesepakatan di atas ranjang. Kalau tidak, ia tidak akan tenang menyerahkan kehormatannya di atas ranjang ini. Bagaimanapun saat ia tidur, ia tidak akan tahu apa yang bisa dilakukan Dante padanya. Ia meremang membayangkannya. Itu bukan hal yang menyenangkan untuk dipikirkan.
Pintu kamar mandi terbuka. Dante keluar beberapa menit kemudian. Berbeda dari sebelumnya, kali ini ia sudah langsung mengenakan piyama. Dante tidak lagi hanya memakai handuk dan berkeliaran di kamar itu. Rambut pria itu masih sedikit basah. Ia mengusap rambutnya dengan handuk kecil sambil berjalan menuju sisi ranjang.
Ara sempat melirik sekilas. Tapi ia buru-buru menarik pandangannya.
Dante menyadarinya. "Kau melihatku."
"Aku tidak melihat," sangkal Ara bersikukuh.
Dante menahan senyum. "Apa perlunya melihat ku diam-diam dan malu-malu seperti itu."
"Sudah kukatakan, aku tidak melihatmu!" tegas Ara mulai kesal.
Dante tak menggubris sedikit luapan emosi istrinya. Ia dengan tenang duduk di sisi ranjang.
Ara mengambil sebuah bantal. Ia meletakkan bantal itu tepat di tengah ranjang.
Dante menatap bantal itu. "Untuk apa bantal ini?"
"Untuk membatasi kita. Bantal ini batasnya. Kau di kiri, aku di kanan. Siapa yang melanggar, dia keturunan.. "
"Keturunan siapa?" timpal Dante memperjelas. "Kau ingin memakiku, maki saja. Tidak perlu menggunakan bantal."
Ara mengulum bibirnya. Tidak mungkin ia bilang keturunan anjing atau ular beludak di depan Dante. Ia tidak bisa memberi kesempatan Dante menemukan kesalahannya dan menghukumnya lagi. Ia berpikir keras dan mencari kata yang tepat.
"Bantal ini hanya batas antara kau dan aku," tutur Ara menurunkan beberapa oktaf suaranya.
"Baiklah," ujar Dante setuju.
Ara sedikit lega. Dante tidak mencari keributan dengannya di atas ranjang. Setidaknya pria itu tidak mendebat nya lagi.
Ara berbaring memunggungi Dante. Lampu utama sudah dimatikan. Hanya lampu tidur yang tersisa. Dante juga tidak membaca dokumennya lagi.
Kamar menjadi tenang.
Ara mencoba memejamkan mata. Namun ia tidak bisa tidur. Ia bisa merasakan nafas Dante di belakangnya. Pria itu juga belum tidur.
Beberapa menit berlalu.
"Ara." panggil Dante pelan.
Ara membuka mata. Ia membalikkan tubuh. Tatapan mereka bertemu.
"Sejak tadi kau terus bergerak."
"Aku hanya belum terbiasa."
"Berbagi ranjang?"
"Ya."
"Aku juga."
Ara menatapnya dengan heran.
"Aku pikir ini tidak akan menjadi masalah padamu. Seperti katamu siapapun pengantinnya, hasilnya sama saja. Kau manusia dingin, bagaimana bisa mengerti cinta."
Dante menyeringai. "Berbagi ranjang tidak harus ada cinta."
"Ya, aku tahu." Ara tidak ingin melanjutkan adu argumentasi diantara mereka.
Dante kemudian mengambil bantal pembatas itu dan menggesernya sedikit.
Ara langsung menahan tangan Dante.
"Aku hanya ingin membetulkannya," ujar Dante mendongak pada Ara.
"Ooh," gumam Ara mirip desisan ringan. Ia melepaskan lengan Dante.
Beberapa saat kemudian, Dante berkata, "Tenang saja. Aku tidak akan menyentuhmu tanpa izin darimu."
Kedua pupil mata Ara membola. Ia tidak menyangka Dante akan mengatakan itu.
"Benarkah?"
"Benar."
"Termasuk saat aku tidur?"
"Termasuk."
Ara menatap langit-langit. "Baiklah. Aku percaya padamu." Ia merasakan tubuhnya sedikit lebih rileks.
Dante mematikan lampu tidur. Ruangan menjadi gelap. "Selamat malam, Ara."
Ara menarik selimut sampai ke bahu. Ia sudah tidak terlalu tegang.
"Selamat malam." Ara perlahan memejamkan mata.
Malam semakin larut, udara kamar menjadi semakin dingin. Ara tanpa sadar menarik selimut lebih banyak. Dante membiarkannya.
Ara tertidur lebih dulu. Dalam tidurnya, tubuhnya bergerak tanpa sadar. Bantal pembatas di tengah mereka bergeser.
Ara perlahan bergerak mendekat. Sampai akhirnya kepalanya berada hanya beberapa sentimeter dari bahu Dante.
Dante yang belum sepenuhnya tertidur membuka mata. Ia melihat Ara.
Untuk beberapa detik, ia tetap tidak bergerak. Kemudian ia menarik selimut yang hampir terlepas dari tubuh Ara dan menutupinya kembali. Ia dengan hati-hati melakukan nya agar tidak membangunkan istrinya. Ia tetap memegang janjinya. Ia tidak menyentuh Ara lebih dari yang diperlukan.
Namun ketika Dante hendak kembali tidur, Ara tiba-tiba bergerak. Tangannya mencari sesuatu di atas kasur. Jarinya berakhir menggenggam ujung lengan piyama Dante.
Dante membeku. Ia menatap tangan kecil yang mencengkeram kain bajunya.
Ara masih tertidur. Jelas ia tidak sadar sama sekali apa yang sedang dilakukannya.
Dante tidak menarik tangannya. Ia membiarkannya. Wajah dinginnya melunak.
"Kau yang mendekat lebih dulu, bukan aku." Dante mengatakan pada Ara seolah Ara masih terbangun.
Ia memandang wajah istrinya sekali lagi sebelum memejamkan mata.
Namun Ara kembali bergerak lagi. Ia bergerak mendekati Dante dan meringkuk memeluk tubuhnya. Ia seperti anjing kecil yang mencari kehangatan.
Dante mendesah berat. "Sebenarnya siapa yang menguji siapa. Siapa yang menghukum siapa."
Ia membiarkan Ara tetap memeluk tubuhnya sepanjang malam. Ia sendiri memilih memejamkan mata dan segera pergi ke alam mimpi. Ia tidak menyentuh Ara sesuai janjinya.
***