Adella Rahma Prameswari
Apakah ada yang lebih buruk dari hidupnya??
√ Ibunya dibunuh tanpa dia tahu siapa pelakunya
√ Selalu diganggu oleh kakak kelasnya yang gila
√ Kehadiran Ibu tiri yang tiba tiba.
Menyerah? Tidak, Adel tak ingin kalah. Dia memilih untuk berjuang menyelesaikan satu per satu masalah hidupnya.
Apakah Adel akan berhasil melakukannya?
( Hanya sebuah kisah tanpa arah.
hasil keputus asaan penulis terhadap ide yang tak dapat tercurah.
silakan berkeluh kesah, sopan santun sudah pastilah)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eliz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9
" Mau apa Lo telpon gue? Kalau Cuma mau pamer hubungan Lo sama Rafa mending Lo pergi dari rumah gue." Bukan sapaan hangat yang Adel dapatkan saat masuk ke dalam rumah seseorang yang berstatus sahabatnya itu. Hampir saja Adel kesal dan menabok Key, namun dia masih menahannya mengingat persahabatan mereka yang terbilang lama.
" Oh, Lo gak mau ini? Padahal gue ke sini Cuma mau ngantar ini. Kalau Lo gak mau ya udah," ujar Adel yang mengacungkan selembar kertas kecil lalu melambaikan kertas itu samil berbalik dari hadapan Key. Adel yakin Key akan penasaran. Apalagi gadis itu sudah terobsesi terhadap sesuatu hal yang hanya bisa diberikan oleh Adel.
" Itu Nomor Rafa? Seriusan itu nomor Rafa? Waaahhh, itu buat gue? Makasih banyak Adel, Lo emang sahabat gue yang paling baik dan paling gue sayang. Aaaa, I Love you Adel," ujar Key dengan riang sambil merebut selembar kertas itu dan merangkul serta menciumi Adel sebagai ucapan terima kasih.
" Kalau begini aja Lo baik – baik in gue. Ngaku sahabat, masalah cowok sampai kayak gitu. Ambil tuh nomor senyawa – nyawanya. Kesel banget gue sama dia," ujar Adel yang langsung masuk ke rumah Key tanpa persetujuan, gadis itu langsung diikuti oleh Key yang masih fokus pada kertas yang dia pegang.
" Ah iya, gue juga mau bilang itu, Lo jadi pembicaraan **** di kelas IPA juga. Katanya sih Lo godain kak Rafa terus ada yang bilang juga Lo pelet dia. Gitu lah pokoknya," ujar Key yang mulai menyalin nomor ponsel yang dia pegang. Adel memijit pelipisnya dan mengibaskan tangannya, meminta Key untuk berhenti membahas hal itu.
" Lo mending telpon Luna sama Lucy deh, terus ngapain gitu kek, nonton kek, atau apa terserah, yang penting ada kegiatan. Pusing kepala gue kalau bahas masalah itu aja," ujar Adel yang membuat Key menggelengkan kepalanya, hal itu tentu saja membuat Adel menjadi bingung, biasanya Key yang paling semangat jika mereka merencakan untuk berkumpul bersama.
" Mau nya sih kita kumpul gitu Del, tapi Lo tahu gak? Gue udah ada proyek ilmiah gitu, gak jelas banget **** gurunya, udah killer, langsung ngasih tugas yang susahnya minta ampun. Astaga, ngeri gue, ini aja belum gue kerjain. Gak tahu deh sama Lucy."
" Jadi intinya apa nih? Gue gak suka bertele – tele," ujar Adel yang membuat Key terkekeh. Sahabatnya itu memang selalu tahu isi pikirannya. Key hanya mendusel ke arah Adel, membuat Adel paham jika dia diusir secara halus. Gadis itu langsung berdiri dan pergi dari tempat itu tanpa mengatakan apapun lagi.
" Makasih ya nomor ponselnya, Love you banget deh sama Adella, Pintunya jangan lupa ditutup!" ujar Key yang melambaikan ponselnya dan mulai berteriak. Saat pintu tertutup, Key mulai menuliskan beberapa pesan yang akan dia kirimkan ke pemilik nomor yang baru saja diberikan oleh Adel.
" Joy, kita ke tempat latihan aja yuk, gue bosen kalau langsung pulang ke rumah," ujar Adel saat masuk ke dalam mobilnya dan supir mulai menjalankan mobil mereka. Joy yang duduk di kursi sebelah kemudi. Lelaki itu tampak tak setuju dengan perintah Adel, namun dia juga tak bisa menolak perintah tuannya.
" Gak papa, tangan gue udah gak cidera, yang ada mah tangan Lo yang cidera, jadi nanti yang latihan gue aja jangan Lo. Oke Joy?" tanya Adel yang menunjukkan jempolnya. Joy tersenyum tipis dan mengacungkan jempolnya dengan cool tanpa berkata apapun lalu meminta supir menuju tempat dimana mereka biasa melakukan latihan 'ilegal'.
Mobil berhenti cukup jauh dari tempat yang terbilang rahasia karna hanya Adel dan Joy yang tahu tempat itu. Untung saja novel ini bukan novel yang membahas cerita dewasa sehingga tidak akan ada adegan yang mungkin kalian harapkan. Hahahaha. Mereka tak mau orang lain tahu tentang tempat itu hingga mereka harus berjalan ke tempat itu.
" Kalau suatu hari ada tahu tempat ini gimana ya Joy? Bakal jadi masalah gak sih?" tanya Adel sambil masuk ke sebuah rumah dan menyalakan lampu yang ada di sana. Joy juga tampak berpikir kemungkinan yang akan terjadi. Tentu saja runyam jika ada yang mengetahui tempat itu.
" Saya rasa tidak mungkin nona, karna untuk masuk ke ruang rahasia kita memerlukan sidik jari nona atau sidik jari saya, tidak semua ornag bisa mengakses tempat ini. Jadi nona tenang saja, mari nona," ujar Joy dngan sopan sambil berjalan ke arah meja yang ada di sana. Joy memegang stiker yang ada di sana dan lantai langsung terbelah.
Di dalam lantai itu terdapat banyak anak tangga yang menuju ke ruang bawah tanah. Adel dan Joy langsung masuk ke ruang itu dan menutupnya. Secara otomatis ruang yang gelap itu langsung menjadi terang. Semua bagian ruang dalam rumah ini sudah di desain sepraktis mungkin sehingga tidak merepotkan jika mereka sedang terdesak.
" Gue mau main AK-47 dan Lo harus ajarin gue," ujar Adel dengan minat saat melihat pemandangan di hadapannya. Di depan gadis itu berjejer banyak lemari berisi macam – macam senjata. Mulai dari sentaja tajam, senjata api, dan bahkan sebuah panah beracun. Adel tak pernah menggunakannya dengan serius, dia hanya suka mengoleksi saja.
" Nona, AK-47 memiliki berat yang lumayan, saya rasa Luna memantabkan dulu untuk mengendalikan FN 57 yang kemarin saya ajarkan," ujar Joy sambil mengambil sebuah senjata api dari dalam lemari itu. Adel menolak saat Joy memberikan senjata itu padanya, dia tidak mau bermain dengan pistol kecil lagi, dia ingin memainkan senjata laras panjang agar terlihat keren.
" Tapi gue mau belajar yang itu Joy, ajarin gue lah," ujar Adel yang mulai merengek. Hal yang sudah sangat biasa bagi Joy, namun tidak pernah berhasil meluluhkannya karna dia berpegang teguh pada prinsip dan prosedur keamanan untuk Adel.
" Maaf nona, tapi itu sudah menjadi keputusan bulat karna hal itu untuk keamanan nona sendiri. Jika nona tetap nekat, saya harus melakukan hal yang tidak diinginkan," ujar Joy yang membuat Adel kembali cemberut. Adel mengambil senjata yang diberikan oleh Joy dan langsung mengarahkan senjata itu ke arah Joy.
" Ajarin gue atau Lo gue tembak mati dan membusuk di tempat ini," ujar Adel yang membuat Joy sedikit terkekeh. Lelaki itu mendekat tanpa takut dan memegang pistol di tangan Adel lalu mengarahkan ke arah bawah. Hal itu membuat Adel menatap ke arah senjata yang masih digenggamnya.
" Nona sebelum mengarahkan ke arah musuh, jangan lupa untuk menarik kuncinya dulu, kalau tidak pelatuknya gak akan mungkin bisa ditarik nona. Nona saja tidak tahu masalah ini, masak mau main senjata laras panjang," ujar Joy yang menarik kunci tersebut dan menggenggam tangan Adel dan mengarahkan pistol tersebut ke arah target.
`
~ dor
Peluru tersebut langsung mengenai sasaran yang membuat Adel berdecak kagum. Jika dia yang melakukannya sendiri, pasti tidak akan mengenai targetnya. Namun Joy bisa melakukan itu bahkan dengan tangan Adel yang sebenarnya menganggu pergerakan Joy. Lelaki itu memang sangat mengesankan bagi Adel, pantas saja lelaki itu dipercaya oleh ayahnya untuk menjaganya.
" Nona mau belajar sampai bisa? Atau sampai menyerah?" tanya Joy yang sengaja mengejek Adel. Gadis itu mendesis dan meminta Joy menjauh lalu dia mengarahkan pistol tersebut ke arah target dan berusaha mengenai target tersebut. Mereka cukup lama belajar sebelum akhirnya pulang ke rumah untuk beristirahat.
*
*
*
Adel berjalan dengan permen karet di mulutnya, dan earphone yang menyumpal telinganya. Itu keputusan yang dia ambil dan dia rasa jalan terbaik agar tidak terpancing emosi dengan mereka yang nyinyir tentangnya. Setidaknya dia tak mendengar celaan apapun selama perjalanannya ke kelas dan hal itu sangat membantu untuk menjaga moodnya tetap baik.
Adel masuk ke dalam kelasnya dan membuka mulutnya karna di dalam kelas itu terdapat banyak orang yang bukan anggota kelasnya. Gadis itu baru saja menghindari masalah, namun malah masalah itu yang tertarik untuk masuk ke hidupnya.
" Sayang, gue mau nanya deh sama Lo. Kenapa Lo sebar nomor gue ke orang lain? Lo tahu gak kalau nomor gue itu penting dan gak ada yang punya sama sekali," ujar Rafa yang membuat kelas tersebut menjadi hening. Adel merasa kesal, sungguh kesal. Dia sudah muak dengan kelakuan Rafa yang selalu saja kekanakan.
" Mau Lo apa sih? Tujuan Lo apa datang – datang bikin rusuh hidup gue. Lo mau apa kak dari gue? Gak bisa kah gue hidup sebagai adik kelas dengan tenang? Gue capek kak, gue capek ladenin semua bac*t fans Lo yang fanatik itu. Tolong kak, apapun tujuan Lo, jangan sangkutin ke gue lagi."
" Kenapa sih Lo jutek dan gak suka banget jadi pacar gue di saat banyak orang yang mau jadi pacar gue? Harusnya Lo itu bersyukur dan berterima kasih karna seorang Rafa mau ngejar Lo sampai sebegininya. Gue kurang apa coba?" tanya Rafa dengan nada menantang, suasana kelas menjadi tegang dan menunggu apa yang akan Adel katakan.
" Lo kak? Bagi mereka memang Lo sempurna. Tapi maaf, bagi gue Lo itu norak, bikin ilfeel. Lo pikir dandan urakan dan senioritas itu keren? Gak sama seklai kak. Gue bukan anak alay korban novel yang mengidolakan sosok badboy pembuat masalah, gak mau ada urusan sama manusia model begitu," ujar Adel dengan sengit.
" Maksud Lo, Lo gak pernah suka atau sekadar lirik gue sama sekali? terus nomor gue? Semua Cuma main – main? Lo berani mainin gue?" tanya Rafa dengan kaget. Dia tak mengira Adel seberani itu setelah mendengar rumor buruk tentangnya. Bukan rumor sih, karna apa yang dikatakan oleh Adel memang benar, jadi lebih tepatnya semua itu adalah informasi yang Adel dapat entah dari mana.
" Menurut Lo? Sahabat gue tergila – gila sama Lo dan dia minta gue buat nyari nomor Lo, dia bahkan salah paham dan benci sama gue karna dia ngira Gue pacaran sama Lo. Lo kira gue senang ada di posisi seperti itu? Engga kak! Makanya gue minta tolong sama Lo, gak usah usik hidup gue lagi," ujar Adel dengan lantang yang membuat teman kelasnya diam terpaku.
Rafa berjalan perlahan dan mendekati Adel, membuat Adel was – was dan memundurkan badannya, namun Rafa tetap menyorotnya dengan mata yang dingin sampai memojokkan Adel ke tembok. Rafa mendekat, Adel berusaha melawan Rafa dengan menatap balik mata elang itu. Dengan sisa keberanian dia berusaha membuat Rafa menyerah dan pergi dari hidupnya untuk selamanya.
" Gue bakal ingat hari ini. Lo juga harus mengingat hari ini, sekarang Lo nolak gue, tapi gue bakal bikin Lo jatuh cinta sama gue, apapun caranya. Lo udah bikin malu gue di hadapan teman – teman kelas Lo, Lo harus siap dengan harga yang harus dibayar. Oke? Kalau gitu gue balik ke kelas dulu," ujar Rafa dengan nada yang hangat, tak seperti tatapannya yang dingin menusuk.
Lelaki itu masih sempat tersenyum sebelum akhirnya pergi setelah mengucapkan pesan terakhirnya untuk Adel. Lelaki itu berpesan pada Adel untuk mengingatkan Key agar tidak mengirim pesan atau sesuatu yang tidak diinginkan akan terjadi pada Key. Hal itu tentu membuat Adel kepikiran dan khawatir. Bagaimapun dia harus melindungi Key.
" Lo mau gimana? Lo udah gagal dapetin dia, udah lah, kita ganti target aja, target yang gampang buat didapetin, gue yakin bos juga gak masalah sama sekali, ini kan Cuma Lo aja yang pingin nargetin dia," ujar Arya yang disetujui oleh teman – temannya.
" Gue merasa tertantang sekaligus terhina sama apa yang dia lakuin ke gue. Seumur hidup gue, baru kali ini ada orang berani n gelawan gue, perempuan pula. Gue yakin bos bakal terkesan sama dia, jadi gue harus dapatkan dia," ujar Rafa tersenyum iblis sambil melangkah lebar karna malas melihat tatapan memuja dari teman – temannya.
Entah mengapa dia sudah bosan dengan semua tatapan memuja itu, dia lebih tertarik pada orang yang tidak mengidolakannya, seakan menjadi tantangan baginya untuk menaklukkan orang itu. Rafa harus mendapatkan Adel apapun caranya, dia yakin gadis itu memiliki kelemahan hingga dia bisa masuk ke hidup Adel.
" Fa, Bos telpon nih, mau Lo jawab sekarang atau biarin dulu?" tanya Arya memberikan ponsel khusus untuk Rafa. Rafa menatap ponsel itu dan menyiapkan jawaban atas pertanyaan yang sudah dia duga akan dilontarkan oleh Bos besarnya. Rafa menghela napasnya dan langsung masuk ke kelasnya, lalu menjawab panggilan itu dengan sopan.
" Saya akan usahakan secepatnya, tenang saja, saya tidak pernah mengecewakan anda, saya memiliki target yang bagus, anda pasti menyukainya akrna yang kali ini sedikit liar dan ganas," ujar Rafa yang membuat suara di seberang sana tertawa renyah lalu mengucapkan beberapa kalimat sebelum panggilan terputus.
" Kapan gue bisa berhenti jadi budak tuh orang ya Ar? Gue capek harus korbanin banyak orang, padahal orang yang udah bikin Adek gue gitu udah mati sekarang," ujar Rafa dengan pelan. Arya menatap Rafa dengan penuh rasa kasihan, lelaki itu terjebak diantara amarah dan rasa kasihan.
" Lo bisa berhenti kapan pun, bahkan sekarang juga Lo bisa berhenti, tapi Lo tahu konekuensinya karna permintaan Lo menyangkut nyawa orang. Gue yang Cuma minta hal kecil aja bayarnya gede, apalagi Lo," ujar Arya yang membuat Rafa menghela napasnya.
" masa bodoh lah, gue bakal bikin semua cewek di dunia ini ngerasain apa yang adek gue rasain sampai rasa sakit di hati gue berkurang," ujar Rafa yang mendadak dingin dan berbicara dengan nada yang rendah. Arya pun hanya menepuk pundak Rafa tanpa berani berkomentar apapun.