NovelToon NovelToon
Menjadi Ibu Pengganti

Menjadi Ibu Pengganti

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Teen / Ibu Pengganti
Popularitas:462.5k
Nilai: 5
Nama Author: desialfaraby

Rima adalah seorang perempuan yang bersedia menjadi Ibu Pengganti dari anak Evan. Rima akan mengandung hasil bayi tabung anak Evan dan almarhumah istrinya. Ini dia lakukan semata-mata untuk mendapatkan uang. Demi adik dan neneknya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon desialfaraby, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bagian 8: Mual

...

Malam adalah saat dimana Evan berkunjung ke kediaman Rima. Merasa tidak enak hati, Rima ingin membuat sesuatu untuk Evan. Tidak, sebenarnya untuk mereka. Hanya masakan simple, berbekal resep yang dirinya dapat dari internet dengan sedikit tambahan. Rima tengah memasak sweet spicy chicken. Entah kenapa, dia menginginkan itu kali ini.

Rima mengeluarkan ayam yang sudah dimarinate tadi dan mencampurkannya dengan tepung sedikit demi sedikit. Lalu, dia mengulangi tahap itu berulang kali.

Bell apartemen berbunyi. Evan sudah datang.

"Saya mencium aroma makanan..." gumam Evan ketika masuk.

Ditangannya lagi-lagi membawa beberapa belanjaan lagi. Apa yang kini dia beli?

"Kamu sedang memasak?" tanya Evan meletakkan semua barang-barang yang baru dia beli diatas sofa.

Dia mengikuti langkah Rima yang berjalan menuju dapur. Terlihat bahwa Rima tengah memasak.

"Iya, Pak. Saya sedang memasak. Sebagai cemilan." ucap Rima sembari menoleh sebentar.

"Seharusnya kamu tidak perlu masak. Saya tidak mau kamu lelah."

"Saya sedang ingin memasak, Pak."

Evan tersenyum sebentar lalu membenarkan apron Rima yang diikat asal. Dia akan belikan apron yang lebih bagus lain hari.

Masakan itu semakin menggugah selera ketika sudah ditata sedemikian rupa diatas meja. Selanjutnya, Rima mengeluarkan kentang frozen dari kulkas. Dia akan menggorengnya.

"Saya bantu."

"Jangan, Pak. Bapak duduk saja." pinta Rima.

"Baiklah, saya tak akan mengganggu."

Evan hanya melihati Rima saja. Dia berjalan kesana dan kemari mengambil bahan-bahan yang kurang. Sedang, Evan memantau Rima dari bangkunya. Dia lincah sekali.

Ketika makanan itu sudah selesai dimasak segera Evan membantu Rima untuk menyajikannya. Evan lalu mengecek kulkas. Tidak ada cola. Ya, Evan sebenarnya tidak menyediakan minuman tidak sehat seperti cola di kulkas. Itu tidak baik, bukan?

Alhasil Evan membuatkan minuman untuk dirinya.

"Lho, Pak. Saya saja. Sini saya bantu."

"Tidak. Tidak apa, Rima." tolak Evan.

Bagaimana bisa seorang bos turun tangan membuat minum dengan masih memakai dasi. Padahal Rima tengah membuat orange juice untuk dirinya, maksud hati ingin membuatkan minum Evan pula tapi tidak jadi.

"Sudah, sudah. Kamu lelah. Duduk dulu ya, biar saya susun." ucap Evan menggiring Rima untuk duduk di kursinya.

Rima pun menyerah dan memilih menurut. Evan sesegera mungkin membawa minuman tadi keatas meja. Dia mengambil tempat duduk tepat di sebelah Rima. Semakin hari Evan memutuskan untuk lebih dekat dengan Rima.

"Bagaimana, Pak? Terlalu pedas kah?" tanya Rima ketika Evan mencoba makannya pertama kali.

"Tidak kok. Sudah pas, Rima." jawab Evan membuat Rima senang.

Rima selanjutnya makan dengan lahap. Entah karena hamil apa bukan yang jelas selera makannya ikut melonjak naik. Bahkan kentang goreng kebanyakan Rima yang banyak. Apakah ini namanya masih cemilan?

"Saya senang kamu lahap makannya."

"Apa saya terlalu banyak makannya, Pak?" tanya Rima yang belum menyadarinya.

"Lumayan. Tapi, besok-besok jangan dibiasakan makan ini terus ya, Rima. Saya khawatir ini tidak terlalu sehat buat kamu."

"Baik, Pak. Tapi sebenarnya saya masak ini untuk Bapak. Karena... saya tidak pernah menjamu Bapak ketika datang."

Evan tersenyum dan tangannya mengacak rambut Rima sebentar. Evan membantu Rima membersihkan tangannya. Tetapi baru sebentar dan makanan belum diolah Rima sudah mual lagi.

Evan yang tau Rima akan muntah lagi, dia segera membantunya. Itu pasti menyakitkan, apalagi Rima dan Evan baru makan makanan yang lumayan pedas.

"Sudah?" tanya Evan pada Rima.

Rima belum menjawab. Dia masih menundukkan wajahnya kearah wastafel. Tangan Evan masih memijat tengkuk Rima perlahan.

Begitu muntahnya selesai, Rima dilanda lemas kembali. Mendadak dia tak berdaya dan menyerah begitu saja ketika Evan menggendongnya. Seperti biasanya, Rima dibaringkan diatas tempat tidurnya. Evan membantu Rima melepaskan apron yang dia pakai. Sendal yang dia pakai juga ikut Evan lepaskan.

"Besok, saya akan panggil Lusi kesini. Saya tidak bisa melihat kamu terus-menerus seperti ini." gumam Evan.

"Tidak perlu, Pak."

Evan menggelengkan kepalanya. Dia segera menelfon Lusi untuk datang esok hari. Sejak Rima hamil dia semakin khawatir akan kesehatan Rima. Bagaimana pun itu akan berdampak pada kehamilannya.

"Bapak tidak perlu khawatir. Dokter Lusi juga sudah pernah katakan bahwa ini normal, Pak. Apalagi dikehamilan awal seperti saya."

"Tetap saja. Saya tidak tega lihat kamu seperti itu. Bagaimana bisa saya tinggal diam." ucap Evan dengan dingin.

Suasana hatinya ikut tidak beres pula belakangan ini. Dia menjadi mudah sensitif.

"Mau bagaimana pun, ada anak saya di kandungan kamu. Bagaimana saya tidak khawatir, Rima."

Rima diam. Memilih tidak membantah lagi. Bahwasanya Evan melakukan ini semata-mata untuk anaknya. Dia harus menuruti perkataan Evan apapun itu.

...

"Aku pulang dulu. Beristirahatlah dengan nyenyak disana, Irene."

Evan menaruh sebuket bunga lagi diatas makam mendiang istrinya itu. Sekaligus bunga itu sebagai pengganti buket bunga kemarin. Evan selalu melakukan rutinitas ini setiap harinya. Lebih sering ketika dia akan pergi bekerja. Tapi kali ini dia memilih untuk berkunjung setelah jam makan siang.

"Kita ke Bandara." ucap Evan pada supir pribadinya itu.

Mobil Evan berjalan menuju Bandara. Dia mendadak harus pergi ke Singapore siang ini. Dia akan menemui seorang CEO asal sana yang akan bekerja sama dengannnya dalam pembangunan hotel di Singapore.

Di Apartemen Rima kedatangan tamu. Yaitu, Lusi dan Erlang. Mereka datang atas perintah sang kakak tertua Evan. Alhasil mereka harus mencancel jadwal mereka.

"Tidak apa-apa kok. Pak Evan memang begitu, dia selalu khawatir. Ini saya beri obat. Diminum jika hanya muntah dan mual yang kamu alami terus-terusan dan membuat kamu lemah, pusing. Jika hanya sesekali tidak perlu. Itu hal yang wajar."

Lusi menjelaskan pada Rima sembari memberikannya obat yang bisa menahan keinginannya untuk muntah dan mual. Rima menganggukkan kepalanya. Menurut saja. Dokter Lusi pasti tau yang terbaik.

"Baik, Dok. Terima kasih."

"Iya sama-sama. Susunya masih diminum kan? Vitamin?" tanya Lusi.

"Masih, Dok. Mbak Wirda selalu mengingatkan saya."

Lusi menganggukkan kepalanya dan mencatat sesuatu di catatannya sebagai laporan pada Evan. Tiba-tiba saja Erlang memasuki kamar Rima. Ditangannya terdapat sebuah totebag yang bisa ditebak itu pemberian dari Evan.

"Saya bawa sesuatu dari Pak Evan untuk kamu." gumam Erlang sembari memberikan totebag itu.

"Terima kasih, Pak."

Rima meraih totebag itu dan melihat sejenak apa isi dari totebag itu. Apron. Evan membelikannya apron. Berwarna pastel dan cerah.

Disaat itu juga ponsel Rima berbunyi. Evan menelfonnya.

"Halo, Pak."

"Hadiah dari saya sudah diberi Erlang?" tanya Evan langsung.

"Sudah, Pak. Terima kasih. Saya--saya jadi tidak enak diberi seperti ini terus."

"Tidak apa-apa. Saya senang beri kamu hadiah. Saya sedang ada meeting di Singapore, sekarang saya sedang di Bandara. Jika kamu butuh sesuatu silahkan telefon Erlang. Dia sudah saya tugaskan untuk jaga kamu selama 2 hari."

"Um--iya Pak."

"Saya berangkat dulu. Nanti malam saya telefon lagi ya."

"Baik Pak."

Telefon mereka terputus. Terlihat Lusi dan Erlang memandanginya. Rima menyembunyikan ponselnya dan mengesampingkan hadiah dari Evan barusan.

"Ya sudah kalau begitu, saya harus kembali ke rumah sakit dulu. Jika ada sesuatu yang darurat kamu boleh hubungin saya ya, Rima."

"Terima kasih, Dok."

Rima mengikuti langkah Lusi yang hendak pergi. Sembari mengucap terima kasih sekali lagi. Erlang pun juga ikut pergi. Erlang mengatakan bahwa dia akan tinggal di apartemen Evan yang tepat berada di depan apartemen Rima.

Setelahnya, Rima duduk dengan Wirda di pantry. Wirda tengah memasak sesuatu untuk Rima.

"Mbak masak apa?" tanya Rima penasaran.

"Apple pie. Kamu akan suka, Rim"

Rima menganggukkan kepalanya. Dari aromanya saja sudah enak, apalagi jika dimakan nanti. Tetapi ada yang menarik perhatian Rima di meja pantry. Ada sebuah undangan. Undangan pertunangan. Tertulis Randi dan Oliv.

"Undangan untuk Evan saya titip ke kamu saja ya, Rim."

"Oh iya Mbak."

Setelah matang apple pie itu segera dipotong dan berikan pada Rima. Wangi apple pie itu langsung membuat Rima lapar kembali. Padahal dia sudah makan saat Lusi dan Erlang datang.

Wajah Rima tampang riang seiring sesuap demi sesuap makanan manis itu dia makan.

"Mbak denger kamu masih mual dan muntah. Tapi Mbak gak pernah denger kamu gitu, Rim."

"Iya, Mbak. Kalau udah malem, saya bawaannya mual dan muntah. Rima malu Mbak, setiap Pak Evan datang saya seperti itu terus." ucap Rima.

"Apa kamu mual karena ketemu Evan, Rima? Bisa jadi sih, biasanya yang hamil begitu.

"Bener gitu, Mbak?" tanya Rima penasan. "Iya, Rima. Mbak serius."

Rima pun setuju pula dengan perkataan Wirda. Sepertinya memang benar seperti itu adanya. Lalu, apa yang harus dia buat jika sudah begitu?

...

"Kamu sudah tidur ya?" tanya Evan ketika telefon itu tersambung.

"Belum, Pak."

"Rima masih mual dan muntah tadi?"

"Tidak, Pak. Rima bahkan tidak merasakan mual dari pagi hingga sekarang."

"Wah, bisa begitu ya." sambung Evan.

"Kamu suka apron yang tadi saya beri?"

"Suka, Pak. Bagus sekali."

"Syukurlah kalau kamu suka. Apa kamu sedang ingin sesuatu? Saya tidak tahu banyak tentang kehamilan hanya saja yang saya baca kadang suka mengidam."

"Sejauh ini saya belum mengidam apapun, Pak."

"Kalau mengidam ingin apapun katakan pada saya ya."

"Baik, Pak."

Beberapa saat Evan dan Rima diam dalam hening. Masing-masing dari mereka sedang berpikir apa yang akan mereka bicarakan lagi.

"Kalau saya hitung kamu sudah hamil 4 minggu ya. Tidak terasa sudah sebulan."

"Bapak menghitungnya? Bahkan saya belum menanyakan itu pada Dokter Lusi."

"Sebagai seorang calon Ayah, saya harus tahu usia anak saya sendiri. Saya sudah tulis dicatatan saya semuanya."

"Dia akan bangga punya Ayah seperti Bapak."

"Rasanya campur aduk. Saya harus membesarkannya sendiri. Sudahlah, kamu lekas istirahat Rima. Jangan terlalu lama tidur. Kamu harus tidur yang cukup."

"Iya, Pak. Saya akan segera tidur."

"Besok, akan saya telefon kembali."

"Baik, Pak."

Telefon itu terputus. Begitu telefon itu terputus. Ponsel Rima kembali berbunyi. Kali ini dia mendapat pesan. Pesan tanpa nama. Membuat Rima mengernyitkan dahinya.

From: +62888 333***

Sundal.

...

Hi! Maaf baru update. Aku cuma mau bilang kalau ini bakal diupdate 1 minggu sekali dan kalau rajin bakal aku up 2 kali 1 minggu hehe 😊😊 Maaf sudah membuat kalian menunggu lama terima kasih atas vote dan komennya 😀😀

1
Nor Azijah
ceritanya bagus
o2m860270
mampir kk..
mizuki
semoga saja Rima gak hanya sekedar ibu pengganti ya....semoga mereka bisa menjadi keluarga yg utuh...
Akun Samsung
randy dan gilang
Lisa
Koq sampe skrg blum up lg ya
Lisa: o gitu..udh 1 bln Kak
total 3 replies
Devi Sihotang Sihotang
thor kenapa tidak menikah ja
Devi Sihotang Sihotang
lucu juga evan msh ingat hri pernikahan nya... seharusnya org yg sudah meninggal tidak perlu di inget trs, cukup mendo'akan nya ja
Devi Sihotang Sihotang
mertua egois, emang kenapa evan nikah sm rima, kan ga masalah, lagian irene pun udah menginggal... kan bagus evan menata masa depan dengan rima...
Ingka
seruuu....👍
Ingka
Menarik ternyata..🤭 lanjut baca...
Ingka
Semangat Thor ya up nya...💪💪💪
Ingka
Rima...kamu anak baik. Terpaksa bersedia jd ibu pengganti krn kondisi keuangan darurat..demi nenek yg sakit dan adikmu. Semoga maslahmu teratasi ya...
Ingka
Mampir ah...suka penasaran sm cerita begini...lanjut...
Ana Susana
❤️
Sri Hartati
jatuh cinta sm tiap novel mu thorr.. cerita nya bagus banget, tp sayang cerita nya semua nya nanggung gak ada kelanjutan nya hehehe maaf ya thorr ..ayoo semangat donk thorr lanjutin lagu semua novelmu, jangan sedih² terus, Allah maha tahu jodoh terbaikmu, sehat² trrus dan semangat terus utk berkarya ..
Lisa
Koq blum up lg ya..
Anisnikmah
suka Thor update terus ya
Lisa
Makasih y Kak utk update nya..kita selalu menunggu kelanjutan ceritanya nih..suka bgt sm ceritanya..
Roroazzahra
mungkin bukan jodoh terbaik maka ikhlaskan Kaka
pada waktu yang tepat jodoh itu akan datang karena semua sudah digariskan
semangat 💪 kak
Ratu Tety Haryati
Alhamdulillah...terimakasih Upnya Thor...
Mertua Evan ini seenaknya menghina Rima sampe lupa berterimakasih, tanpa Rima, cucumu belum tentu lahir dgn sehat dan sempurna.
Klo Evan gak mau sama Irina, berarti ada sesuatu dari anak ibu yg tidak disukai Evan. Move on to Bu, bok jgn maksa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!