“Cinta bisa menjadi rumah yang nyaman, atau justru belenggu yang tak terlihat”
Arin sudah menikah dengan seorang pengusaha yang terkenal dan sangat sukses. Pernikahan yang diimpikan banyak orang. Dari Luar kehidupan Arin sangat sempurna, suami yang tampan, kekayaan yang melimpah, dan status sosial yang dihormati. Namun, hanya Arin yang tahu bahwa di balik kemewahan itu, ada sesuatu yang tidak boleh diketahui siapa pun.
Semua baik-baik saja, aku bisa mengatasinya, aku tidak butuh siapapun. Tekanan, trauma, stres, dan emosi yang sering ditahan oleh Arin perlahan menumpuk di dalam dirinya, dengan mengabaikan rasa sakit dan setiap trauma yang menghampirinya, tanpa sadar tubuh Arin mulai bereaksi terhadap setiap beban yang selama ini dia abaikan. di malam yang tenang tanpa kendali Arin mulai berjalan dalam tidurnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon byKaru, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15: Virelle Hotel
Bzzzt! Bzzzt! Bzzzt!...
Suara alarm membangunkan Arin dari tidurnya. Arin membuka matanya dan tatapannya langsung tertuju pada setelan baju kerjanya yang sudah dipersiapkan tadi malam.
Hari ini adalah hari pertama Arin bekerja di Virelle Hotel. Arin sangat senang karena mendapatkan pekerjaan ini, terlebih posisi yang diberikan padanya sama saat dia bekerja di Regen Hotel. Hal itu berarti dia sudah terbiasa dengan lingkungan pekerjaannya tanpa harus mulai belajar dari nol lagi dan hanya perlu beradaptasi pada rekan-rekan kerja yang lain.
Arin berdiri tegak di depan cermin, melihat dirinya dengan setelan yang baru, terasa asing tapi ini akan menjadi jalan hidupnya yang baru. Arin tersenyum di depan cermin menyemangati dirinya.
Arin memilih menaiki taksi menuju Virelle Hotel. Sesampainya di depan lobi, Arin menarik napasnya dalam-dalam lalu masuk ke dalam. Mata Arin langsung tertuju pada resepsionis lalu menuju ke sana.
"Permisi.. maaf, aku ingin bertanya. Kantor General Manager ada di lantai berapa?" tanya Arin.
"Selamat pagi, Bu Arin. Kantor General Manager ada di lantai dua puluh tiga," jawab resepsionis tersebut dengan ramah.
Arin pun tersenyum menanggapi respons mereka. Arin bahkan tidak menyangka kalau mereka sudah mengenal dirinya.
"Terima kasih," jawab Arin sambil tersenyum, lalu dia segera pergi menuju lift.
Ting!
Pintu lift terbuka tepat di lantai dua puluh tiga. Begitu Arin keluar dari lift, dia segera bertemu dengan meja resepsionis lagi. Arin menghampiri dan memberi tahu maksud kedatangannya.
"Baik, Bu Arin. Tunggu sebentar," ujar resepsionis tersebut sambil segera mengambil gagang telepon dan menghubungi kantor General Manager.
Tak butuh waktu lama, resepsionis tersebut menutup teleponnya dan mengisyaratkan Arin bahwa dia sudah bisa masuk.
"Selamat pagi, Pak," ucap Arin sopan sambil menundukkan kepala sedikit lalu mendekat ke meja General Manager.
"Arin...? Silakan duduk," sambut General Manager sambil memberikan gestur tangan menuju sofa yang ada di ruangan.
Arin pun mengikuti instruksi dan segera duduk. Ia menunggu beberapa detik, melihat General Managernya yang baru mengambil amplop coklat di atas meja lalu ikut bergabung duduk di depannya.
"Melihat pengalamanmu, sepertinya tidak ada yang perlu aku jelaskan lagi tentang pekerjaanmu," ucap General Manager sembari membuka amplop tersebut.
"Iya, benar, Pak," jawab Arin tersenyum yakin, dan General Manager juga ikut tersenyum menanggapi.
"Ini kontrak selama kau bekerja di sini, silakan dibaca dulu." Arin mengambil selembaran kertas tersebut dan mulai membacanya. Matanya langsung tertuju pada salary yang ditawarkan. Gajinya bahkan mengalami kenaikan sedikit dari saat dia bekerja di Regen Hotel.
"Kontrak ini juga akan dikirim ke emailmu, kau masih akan bisa membacanya di sana," ucap General Manager. Arin mengangguk setuju, lalu dia meraih pulpen di atas meja dan menandatangani kontrak tersebut. Selesai itu, Arin kembali memasukkan lembaran kertas tersebut ke dalam amplop dan menyerahkannya kembali pada General Manager.
"Boleh aku bertanya sesuatu tentang pribadimu?" tanya General Manager.
"Iya, tentu boleh, Pak." Arin sedikit menegakkan tubuhnya, bersiap untuk mendengar.
"Apa kau memiliki hubungan dengan CEO dari Regen Hotel?" tanyanya.
Pertanyaan itu seketika membuat Arin bingung. Ia terdiam sejenak mendengar pertanyaan itu, mencernanya baik-baik. "Saya tidak memiliki hubungan apa pun dengan Pak Nathan Regen, Pak," jawab Arin.
GM mengangguk saat mendengar jawaban tersebut.
"Kalau boleh saya tahu, kenapa Bapak bertanya tentang hal itu?" tanya Arin penasaran. Gosip apa yang menyebar sampai General Managernya yang baru menanyakan hal tersebut.
"Ah, bukan apa-apa. Kau sudah selesai, kau sudah bisa keluar. Asistenku akan menunjukkan hotel ini padamu."
General Manager langsung berdiri kembali menuju kursi tempat kerjanya, meninggalkan Arin dengan pertanyaannya yang masih belum dijawab dan membuat Arin kebingungan.
"Baik, Pak, terima kasih," ucap Arin membungkuk sedikit lalu pergi dari ruangan tersebut.
Saat keluar dari ruangan General Manager, Arin berpapasan dengan Asisten General Manager di depan lift. Asisten General Manager langsung mengenali Arin dan memperkenalkan dirinya sebentar, lalu meminta Arin untuk mengikutinya.
"Arin, bagaimana? Kau sudah melihat beberapa tempat: restoran hotel kami, dapur, lounge, bar, dan terakhir aku tunjukkan kafe hotel ini. Bagaimana? Apa kafe ini lebih baik dari kafe di Regen Hotel?" ucapnya sambil tersenyum.
Arin tahu itu hanya candaan. Ia ikut tersenyum.
Namun untuk beberapa detik, Arin tidak tahu harus menjawab apa. Pertanyaan itu sederhana, tapi terasa seperti menyinggung pintu kenangan yang belum sepenuhnya ia kunci.
"Aku menyukai tempat ini," jawab Arin sambil menyapu pandangannya ke setiap sudut ruangan sambil tersenyum.
"Baik, Bu, saya mengerti," jawab Arin.
"Kalau begitu, aku akan pergi dulu. Jika nanti kau ada pertanyaan, bisa menghubungiku atau datang ke kantorku."
"Baik, Bu. Terima kasih karena sudah mengajakku keliling dan mengenal hotel ini, Bu."
Arin sedikit membungkuk mengucapkan terima kasih, lalu sang asisten manager pun pergi.
Arin sekali lagi melihat sekeliling, kembali ke restoran hotel. Rasa sesak sedikit timbul di dadanya, merindukan Regen Hotel. Hotel ini juga sangat mewah, tidak jauh berbeda dengan Regen Hotel, tapi rasanya sangat berbeda.
Arin menarik napasnya pelan namun dalam.
"Aku akan menyukai tempat ini," gumam Arin pelan.
...*****...
Langkah Nathan yang tegas bergema halus di atas karpet tebal sepanjang koridor hotel. Ia menuju ruang VVIP, tempat ayahnya, Victor Regen, dan keluarga Tuan Dison telah menunggu.
"Saya akan membuka pintunya, Tuan?" tanya pelayan yang berdiri siap di depan pintu.
Nathan menarik napas panjang, lalu menghembuskannya perlahan.
"Buka."
Saat pintu terbuka, suara tawa langsung menyambutnya. Ayahnya, Tuan Dison, Andre, serta para wanita lainnya ada di dalam.
"Ah, kau sudah datang," sambut Victor, senyum tak pudar dari wajahnya.
Semua orang menghentikan percakapan mereka, memusatkan perhatian pada Nathan, termasuk Alia.
Wanita cantik yang duduk mengenakan setelan tweed blush pink dengan jaket klasik. Rambut coklat panjangnya membuatnya tampak anggun, namun itu tidak cukup untuk memikat Nathan.
Nathan dengan mantap masuk lalu memberi salam dengan sopan kepada Tuan Dison. Setelah itu, ia menuju satu-satunya kursi kosong di samping Alia.
"Baiklah, karena semua sudah berkumpul, mari kita hidangkan makanan," ujar Victor bersemangat, memberi isyarat pada pelayan di dekat pintu.
Hidangan segera disajikan, namun tidak seorang pun benar-benar memperhatikan makanan lezat di hadapan mereka. Semua mata tertuju pada Nathan dan Alia. Alia sendiri sesekali melirik Nathan dengan senyum kecil di bibirnya.
Tapi berbeda dengan mereka, Nathan justru memperhatikan setiap hidangan yang disajikan, terutama steak yang diletakkan pelayan di depannya. Begitu pelayan pergi, suasana kembali ramai oleh obrolan Victor dan Tuan Dison, yang sesekali disela oleh Andre. Namun, bagi Nathan, tidak ada yang menarik dari percakapan itu.
"Kau sangat suka steak?" tanya Alia pelan, berusaha memulai percakapan.
"Iya," jawab Nathan singkat, tanpa menoleh. Ia tetap fokus memotong dan menyantap steaknya.
"Jadi, kau membenciku?" tanya Alia berikutnya, membuat suasana hening seketika dan membuat Nathan berhenti memotong steaknya.
Nathan menoleh menatap Alia. Semua mata di ruangan itu tertuju padanya, menanti jawaban.
Pandangan Nathan sejenak berpindah kepada ayahnya, menangkap raut wajah yang menegang dan emosi yang mulai memanas.
"Tentu tidak. Kenapa aku harus membencimu?" jawab Nathan sambil memberikan senyum tipisnya. Entah itu senyuman sinis atau paksaan, hanya dialah yang tahu.
Rasa lega tampak pada wajah Victor, diikuti senyum dari Tuan Dison dan istrinya. Namun, tidak dengan Andre dan Niken.
"Kalian hanya perlu saling mengenal lebih dalam," timpal Victor. "Lihatlah putraku, Andre, dan menantuku. Awalnya mereka juga seperti kalian berdua, tapi lihat sekarang, pernikahan mereka harmonis bahkan sudah dikaruniai dua anak laki-laki kembar," jelas Victor kepada Alia.
Alia dan lainnya tersenyum mendengar hal itu. Andre segera memegang tangan Niken, seolah membenarkan perkataan Ayahnya. Namun Nathan tidak peduli, ia hanya fokus pada makanannya.
"Sebenarnya, ada satu hal yang sedikit menggangguku. Aku membaca beberapa berita tentang Nathan di media," jelas istri Tuan Dison tiba-tiba. "Kami sangat menyayangi putri kami, karena itu aku sedikit khawatir, jangan-jangan berita itu.."
Ia menghentikan ucapannya dan menatap Nathan, seolah memintanya menjelaskan rumor pergaulannya dengan banyak wanita.
Nathan menyadari hal itu. Ia meletakkan pisau dan garpu, lalu memberikan senyum.
"Media akan memberitakan apa pun yang menarik perhatian, Bibi. Tidak perlu khawatir tentang itu," ujarnya tenang.
"Tidak perlu khawatir. Berita di luar hanya sekadar berita, tapi kita mengenalnya di sini," sahut Tuan Dison pada istrinya sambil melirik Nathan. Nathan balas tersenyum, menandakan ia setuju.
"Sebenarnya, aku tidak memperdulikan rumor seperti itu. Seperti kata Ayah, apa pun yang orang katakan, aku mengenalnya langsung di sini. Jadi tidak ada yang perlu dikhawatirkan," lanjut Alia, menatap ibunya sebentar sebelum memandang Nathan. Kini pandangan mereka bertemu.
"Baguslah.. Aku sebenarnya cukup khawatir dengan berita itu. Tapi karena Alia begitu dewasa, itu membuatku lega," sahut Victor, lalu membuat semua orang tersenyum.
Tiba-tiba, Nathan berdiri, menarik kembali perhatian semua orang.
"Maaf, aku ada janji penting. Aku harus pergi," ucapnya, menatap semua orang sebelum akhirnya berhenti pada Victor Ayahnya.
"Tidak bisa kau tunda?" tanya Andre.
"Tidak bisa. Kau tidak keberatan, kan?" Nathan melihat Alia.
"Baiklah, tidak apa-apa. Jika itu janji penting, kau bisa pergi," jawab Alia dan memberikan senyum tulusnya.
Nathan membalas dengan senyum kecil, lalu memberi hormat kepada Tuan Dison dan istrinya. Setelah itu ia segera keluar meninggalkan ruangan, pergi tanpa menoleh dan mengabaikan tatapan ayahnya.