Gimana rasanya suka sama customer sendiri?
Kalau customer-nya jomblo, oke lah... masih bisa dideketin pelan-pelan.
Lah, aku?
Aku ajah kerja di toko bunga.
Yang artinya, sebagian besar customer-ku datang buat beli bunga untuk pacarnya, calon istrinya, atau bahkan istrinya beneran.
Sial banget nggak sih?
Gini nih kalau kelamaan jomblo. Sekalinya suka sama cowok, malah suka sama cowok yang kemungkinan besar udah ada yang punya.
Huhuhu.
Tapi tenang, aku tahu diri kok.
Aku cuma mengaguminya dari jauh.
Lagian, mana mungkin ada kisah cinta antara karyawan toko bunga biasa sepertiku dengan customer yang cuma datang sesekali?
...kan?
Atau jangan-jangan, semesta memang sedang menyiapkan sesuatu yang nggak pernah aku duga?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rygobii_15, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
13 event
Pagi itu datang terlalu cepat, langit masih abu-abu ketika Wulan tiba di Ibusya Flower Studio. Tidak seperti biasanya, ia tidak berhenti sebentar untuk mengagumi bunga-bunga di rak.
Langkahnya langsung menuju dalam, membuka apron, lalu mulai mengecek satu per satu bucket bunga yang sudah disiapkan dari semalam.
Hari ini bukan hari biasa Hari event.
Tangannya bergerak otomatis, tapi pikirannya… tidak sepenuhnya di sana.
Semalam rumahnya masih terasa berat Suara itu masih tersisa di kepala.
Tapi Wulan menarik napas pelan. “Kerja dulu.”
gumamnya. “Yang lain nanti.”
Bel pintu berbunyi.
Ting!
Sarah masuk seperti biasa, tapi hari ini auranya lebih tegas dari biasanya. Tablet di tangan, rambut rapi, dan langkah cepat seperti sudah memetakan seluruh hari di kepalanya.
“Lan.”
“Iya, Kak.”
“Hari ini kita berangkat lebih awal. Jam delapan sudah harus di venue.”
Wulan mengangguk. “Siap.”
Sarah menatapnya sekilas. “Kamu oke?”
Wulan langsung menjawab cepat. “Oke, Kak.”
Tidak ada pertanyaan lanjutan. Sarah sudah cukup paham Wulan tipe yang tidak akan banyak cerita.
Sarah lalu membuka file di tablet. “Ini full event day. Tidak ada ruang buat kesalahan kecil.”
Wulan mengangguk lagi. “Iya.”
Tapi di dalam dirinya, ada sesuatu yang masih terasa berat.
Beberapa menit kemudian, suara pintu kembali terdengar.
Ting!
Wulan menoleh, Saka masuk Kemeja putih, tas selempang, wajah datar seperti biasa.
“Pagi.” Suara itu sederhana.
Tapi hari ini, entah kenapa Wulan merasa sedikit lebih tenang. “Pagi,” jawabnya pelan.
Sarah menutup tablet. “Pas. Kita berangkat sekarang.”
Di luar, mobil sudah menunggu Kali ini tidak ada banyak percakapan di awal, Sarah langsung duduk di depan, Wulan di tengah, Saka di kursi pengemudi.
Mobil mulai bergerak meninggalkan studio Sunyi Tapi bukan sunyi yang nyaman, Lebih ke sunyi yang penuh kepala masing-masing.
Setengah perjalanan, Saka membuka suara. “Venue siap?”
Sarah yang menjawab duluan. “Vendor sudah mulai setup. Tapi kita harus cek ulang dekor utama.”
Saka mengangguk. “ oke”
Lalu diam lagi, Wulan menatap keluar jendela Tapi pikirannya tidak benar-benar melihat jalan.
Ada sisa-sisa rumah yang masih menempel di dadanya, Kalimat-kalimat semalam, Wajah ibunya, Dan kelelahan yang tidak bisa ia jelaskan.
Saka melirik sekilas dari kaca spion. “Udah sarapan?”
Wulan sedikit kaget. “Hah?”
“Belum sarapan?”
“Oh… udah.”Jawaban itu keluar refleks.
Padahal sebenarnya… tidak sepenuhnya benar.
Saka tidak menekan lebih jauh.“Hm.”
Tapi sejak itu, dia tidak kembali fokus ke jalan saja, Sesampainya di venue, suasana langsung berubah ramai.
Orang-orang lalu-lalang membawa bunga, kain dekorasi, dan rangka besi besar.
Ini bukan lagi tahap cek,Ini tahap eksekusi.
“Okay,” kata Sarah langsung. “Kita split.”
Wulan membuka catatan, Saka berdiri di sebelahnya.
Sarah menunjuk layout. “Wulan, kamu cek area aisle dan pelaminan.”
“Saka, kamu bantu struktur dekor utama.”
“Kalau ada yang nggak sesuai, langsung stop.”
Dua-duanya mengangguk. “Siap.”
Hari mulai berjalan cepat.
Wulan bergerak dari satu titik ke titik lain Mengecek bunga Menyentuh kelopak Mengatur ulang posisi Kadang membungkuk, kadang berdiri cepat.
Saka tidak jauh Tapi tidak selalu dekat juga.
Sampai—
“Wulan.” Suara itu memanggil.
“Iya?”
Saka menunjuk kabel dekor di lantai. “Kabel ini nggak aman.”
Wulan langsung mendekat.“Oh iya…”
Ia hampir melangkah terlalu dekat—
Saka refleks menarik lengannya sedikit ke belakang. “Pelan.”
Hanya satu kata.
Tapi cukup membuat Wulan berhenti. “ eh iya.”
Tangannya masih terasa sedikit hangat di titik yang tadi disentuh Tapi ia tidak bilang apa-apa.
Dari jauh, Sarah memperhatikan Bukan dengan ekspresi serius Tapi dengan tenang.
Seperti seseorang yang memang sudah memperkirakan arah cerita dari awal.
“Hm…” gumamnya pelan.
Waktu berjalan semakin cepat Vendor mulai panik kecil di beberapa titik.
“Ini kainnya kurang panjang!”
“Bunga ini belum datang!”
“Lighting belum sinkron!”
Suasana mulai naik.
Tapi Sarah tetap tenang. “Stop panik Kerjakan sesuai prioritas.”
Suara itu cukup untuk merapikan chaos kecil di sana Di sisi lain, Wulan mulai merasa tubuhnya lebih cepat lelah dari biasanya.
Bukan karena kerja saja Tapi karena pikirannya tidak benar-benar kosong, Ada sesuatu yang terus mengganggu.
Sampai Saka tiba di sebelahnya lagi. “Kamu pucat.”
Wulan langsung menoleh. “ masa sih.”
Saka menatapnya sebentar. “Kalau capek bilang.”
Wulan buru-buru menggeleng. “oke nanti aku bilang.”
Tapi Saka tidak langsung pergi Dia hanya berdiri sebentar, Lalu berkata pelan,“Jangan dipaksain.”
Kalimat itu sederhana Tapi entah kenapa lebih berat dari semua briefing hari ini.
Jam mendekati siang Venue mulai terlihat bentuknya.Dekorasi utama hampir selesai.
Wulan berdiri di tengah ruangan, melihat bunga-bunga yang sudah terpasang.
Cantik Sesuai konsep Tapi dadanya masih terasa penuh, Bukan karena kerjaan, Tapi karena semuanya terasa… terlalu berbarengan.
Sarah mendekat. “Baguskan.”
Hanya itu Tapi itu sudah cukup.
Lalu Sarah menatap Wulan lebih lama dari biasanya. “Lan.”
“Iya, Kak?”
“Kalau capek, bilang.”
Wulan terdiam sebentar, Lalu mengangguk kecil.
“ okey kakak boss”
Beberapa menit kemudian, Sarah sengaja menjauh Alasan cek vendor Tapi jelas bukan hanya itu.
Sekarang hanya tersisa Wulan dan Saka di satu sisi ruangan Suasana sedikit lebih tenang.
Saka duduk di pinggir meja kecil, membuka botol minum Wulan berdiri di depannya, masih memegang catatan.
“Ini udah hampir selesai ya?” tanya Wulan pelan.
“Iya.”
Hening sebentar. Saka menatapnya. “Kamu dari pagi nggak berhenti.”
Wulan tertawa kecil. “Namanya juga kerja.”
Saka diam sebentar, Lalu berkata “Tapi kamu nggak harus kuat terus.”
Wulan langsung menoleh. “apa?”
Saka mengangkat bahu kecil. “Kadang berhenti juga nggak apa.”
Wulan tidak langsung menjawab. Karena kalimat itu terlalu tepat sasaran.
" wah emang keliatan banget gue yah stresnya "
batin wulan tidak percaya
Di kejauhan, Sarah selesai dengan urusannya Ia melihat mereka lagi Kali ini tidak ada senyum.
Hanya tenang Lalu ia menatap jam.“Hm Masih panjang.”
Dan tanpa mereka sadari Hari ini baru saja dimulai Dan sesuatu yang lebih besar dari sekadar event
baru mulai bergerak di antara mereka bertiga.