NovelToon NovelToon
Menikahi Ayah Mantanku

Menikahi Ayah Mantanku

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Nikah Kontrak / Perjodohan
Popularitas:6.1k
Nilai: 5
Nama Author: Dunia_halusinasi

Diana Ayuningtyas, Berniat memberikan kejutan. dengan sengaja mendatangi Apartemen Gilang Wijaya - sang kekasih, untuk merayakan ulang tahunnya.

Tetapi malah mendapatkan kenyataan bahwa kekasihnya ternyata tinggal bersama wanita lain.

"Kamu siapa ?"

"Aku? Aku tunangan pemilik Apartemen ini!"

Duarrr...

Diana langsung terdiam mematung, tidak ingin percaya.

"Sayang ! Siapa yang datang ?"

Tapi suara Gilang dari dalam, yang memanggil wanita di depannya ini dengan panggilan mesra, membuatnya tidak bisa menahan nya lagi.

Sebelum Gilang datang, Diana segera pergi dengan air mata yang perlahan mengalir.

Lift perlahan tertutup, matanya menatap lurus ke depan, hatinya bergemuruh.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dunia_halusinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4 Pertemuan yang mengubah takdir

Bab 4: Pertemuan yang Mengubah Takdir

Tangan kekar namun lembut itu menahan lengan Diana, mencegah tubuhnya yang nyaris terjatuh ke aspal jalanan.

Sentuhan itu terasa hangat dan menenangkan, berbeda dengan apa yang ia rasakan selama beberapa hari terakhir ini.

Diana mengangkat wajahnya, menyeka air mata yang membasahi pipi dengan punggung tangan, lalu menatap pria di hadapannya dengan pandangan yang masih kabur karena tangis.

Astaga, kenapa jantungku berdegup kencang .

Diana merasa sedikit canggung.

Arga Wijaya masih menatapnya dengan tatapan penuh perhatian dan ketenangan.

Tidak ada rasa ingin tahu yang berlebihan, tidak pula tatapan menghakimi yang sering ia terima dari orang lain.

Hanya kelembutan yang membuat hati Diana yang sedang kacau itu sedikit tenang.

“Duduklah sebentar di bangku itu. Kamu terlihat sangat lemas, tidak baik memaksakan diri berjalan dalam kondisi seperti ini,” ujar Arga dengan suaranya yang dalam dan berat, namun terdengar sangat menenangkan.

Tanpa menunggu jawaban, Arga perlahan menuntun Diana menuju bangku taman yang tidak jauh dari tempat mereka berdiri.

Ia memastikan gadis itu duduk dengan nyaman sebelum akhirnya duduk agak menjauh, memberi ruang pribadi agar Diana tidak merasa terganggu.

Aku ragu, tapi rasanya kepalaku ingin pecah saat memendam nya sendiri

Setelah beberapa saat mencoba mengatur napas, Diana akhirnya mampu berbicara dengan suara yang lebih jelas meski masih sedikit bergetar.

“Maafkan saya sekali lagi, Pak. Saya benar-benar tidak sengaja menabrak tadi. Dan terima kasih banyak atas bantuannya… kalau tidak, mungkin saya sudah terjatuh.”

Arga menggeleng pelan sambil tersenyum tipis, senyum yang membuat raut wajahnya yang tegas terlihat lebih ramah dan menawan.

“Tidak perlu meminta maaf berulang kali. Saya melihat dari tadi kamu berjalan dengan pandangan kosong, seolah pikiranmu sedang melayang jauh. Ada beban berat yang sedang dipikul, bukan?”

Nyessss...

Rasanya kayak tenang banget.

Pertanyaan itu terasa sederhana, namun seolah menyentuh bagian paling dalam hati Diana.

Selama ini ia hanya bisa memendam semuanya, dan baru Bu Siti yang mendengar keluh kesahnya semalam.

Mendengar pertanyaan dari orang asing ini, entah mengapa rasanya ada dorongan kuat untuk menceritakan semuanya.

"Tidak usah di paksakan jika memang tidak ingin menceritakan nya" Ujar Arga

Tetapi Diana ingin bercerita.

Mungkin karena tatapan Arga terasa begitu aman, atau mungkin karena ia merasa sudah tidak sanggup lagi menanggung semuanya sendirian.

Diana menghela napas panjang, memandang lurus ke depan sebelum mulai bercerita.

“Hidup saya terasa sangat berat belakangan ini, Pak. Baru saja hati saya disakiti oleh orang yang saya percayai sepenuhnya, dan hari ini saya juga kehilangan pekerjaan. Rasanya seolah semua pintu harapan tertutup rapat untuk saya.”

Arga mendengarkan dengan seksama, tidak menyela sedikit pun.

Ia hanya sesekali mengangguk, memberi isyarat agar Diana melanjutkan ceritanya.

Melihat sikap itu, Diana pun melanjutkan, menceritakan secara singkat namun jujur tentang pengkhianatan Gilang,

rencana kejutan yang berubah menjadi luka, hingga keputusan pemilik kantor yang memecatnya hari ini.

Ia tidak menyebutkan nama Gilang maupun keluarganya, hanya menceritakan inti permasalahannya.

Setelah Diana selesai berbicara, suasana hening sejenak.

Arga menatap ke arah jalan raya yang ramai, lalu menoleh kembali ke arah gadis itu dengan pandangan yang bijaksana.

“Dengarkan saya, Nak. Dalam hidup ini, seringkali kita merasa hancur ketika sesuatu yang kita andalkan hilang.

Namun, ingatlah bahwa ketika satu pintu tertutup, biasanya Tuhan sedang membuka pintu lain yang jauh lebih baik, meski kita belum bisa melihatnya saat ini,” ujar Arga dengan nada tenang dan meyakinkan.

“Kehilangan orang yang tidak setia bukanlah kerugian bagimu, tapi justru menyelamatkanmu dari penderitaan yang lebih besar di masa depan.

Dan soal pekerjaan, kemampuan tidak akan hilang hanya karena sebuah surat pemberhentian. Selama kamu mau berusaha, jalan pasti akan terbuka.”

Kata-kata itu masuk begitu saja ke dalam hati Diana, menenangkan gejolak yang selama ini mengamuk di dadanya.

Rasanya seperti mendapatkan arahan yang selama ini ia butuhkan.

“Terima kasih atas nasihatnya, Pak. Mendengar kata-kata Bapak saja rasanya beban di pundak saya terasa sedikit lebih ringan.”

Arga tersenyum lagi, lalu mengeluarkan kartu nama dari dalam saku jasnya dan menyerahkannya kepada Diana.

“Ini kartu nama saya. Jika nanti kamu membutuhkan bantuan untuk mencari pekerjaan, atau ada kesulitan lain yang sekiranya bisa saya bantu, jangan ragu untuk menghubungi nomor itu.

Saya tidak berjanji bisa menyelesaikan semuanya, tapi setidaknya saya bisa mencoba membantu.”

Diana menerima kartu nama itu dengan kedua tangan,

matanya sedikit terbelalak saat membaca tulisan tercetak di sana: Arga Wijaya – Direktur Utama Grup Wijaya.

Ia tahu betul nama perusahaan itu, salah satu perusahaan terbesar dan paling disegani di kota ini.

Pria yang duduk di sampingnya ini ternyata bukan orang sembarangan.

“Pak Arga… ini terlalu mulia. Saya hanya orang biasa, tidak pantas menerima tawaran sebesar ini,” tolak Diana dengan nada tidak percaya.

“Tidak ada yang pantas atau tidak pantas. Saya hanya membantu orang yang terlihat membutuhkan dan memiliki semangat untuk bangkit.

Simpan saja itu sebagai jaminan, bukan sebagai kewajiban. Anggap saja ini cara saya berbagi kebaikan,” jawab Arga tegas namun tetap lembut.

Tak lama kemudian, ponsel Arga berdering dari dalam tasnya.

Ia mengangkatnya sebentar, lalu menutupnya kembali dengan raut wajah yang sedikit berubah.

“Maaf, saya harus melanjutkan perjalanan sekarang. Semoga apa yang kamu alami segera membaik, dan semangat, karena hidup harus terus berjalan.”

"Terimakasih banyak" Ujar Diana sambil tersenyum manis

Arga berdiri dari bangku, menatap Diana sekali lagi sebelum melangkah pergi.

Diana hanya bisa memandang punggung pria itu yang perlahan menjauh, masih menggenggam erat kartu nama di tangannya.

Ia merasa nyaman saat berbicara dengan pria itu yang ternyata Tuan Arga Wijaya.

Sementara itu, di dalam mobil mewah yang membawanya pergi, Arga masih teringat pada wajah Diana.

Ada sesuatu yang membuatnya tergerak membantu gadis itu—mungkin ketulusan di matanya, atau mungkin rasa iba yang muncul begitu saja.

Tanpa sadar ia tersenyum kecil saat matanya melihat bayangan Diana dari kaca spion

Radit pramuja - Asisten Arga sedikit heran melihat senyuman itu.

"Tuan, anda baik-baik saja?"

"Yah, aku baik-baik saja" Ujar Arga, tetapi dia kembali tersenyum

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!