DADANG SANG PENAKLUK adalah cerita tentang Dadang Hermawan, jawara silat dari Lembang yang tewas secara misterius lalu terbangun di tubuh pewaris konglomerat Jakarta. Di tengah dunia bisnis, keluarga berbahaya, dan organisasi rahasia yang mengincar tubuhnya, ia harus bertahan sambil mengungkap kebenaran di balik “Proyek Wadah Sempurna” yang menghubungkan hidup dan kematiannya. Setiap kemenangan membawa luka baru, setiap jawaban membuka misteri yang lebih gelap.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dri Andri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 33: PENYERAHAN DIRI DIMAS**
**
Sehari setelah pertarungan di gudang tua, David duduk di ruang kerjanya, masih merasakan nyeri di sekujur tubuh setiap kali bergerak terlalu cepat, tapi pikirannya sudah kembali fokus ke laporan-laporan proyek yang menumpuk. Dia mengira semua soal Dimas sudah selesai, tinggal menunggu kabar dari Rambo yang masih dirawat untuk pemulihan kaki dan tulang rusuknya.
Tapi siang itu, suasana lobi gedung pusat mendadak tegang. Satpam-satpam berdiri kaku, tangan siaga di dekat alat komunikasi, begitu sosok Dimas Santos berjalan masuk sendirian, tanpa jas mahal seperti biasanya, hanya kemeja sederhana, dan tanpa satu pun anak buah mengiringinya.
"Saya mau ketemu David Wijayakusuma," Dimas berkata tenang ke resepsionis, suaranya tidak menyimpan ancaman sama sekali, justru terdengar lelah.
Kabar itu langsung naik ke lantai eksekutif, dan David, ditemani Anto, Camelia, serta Rambo yang dipaksa hadir walau masih harus bertumpu pada tongkat akibat kakinya yang belum sembuh total, menerima Dimas di ruang rapat kecil.
Begitu masuk, Dimas tidak langsung bicara. Dia berjalan ke meja, dan satu per satu, dia meletakkan benda-benda dari sakunya. Sebuah pistol kecil, ponselnya, dan seikat kunci besar yang berderak saat menyentuh permukaan meja.
"Apa-apaan ini?" David bertanya, alisnya berkerut, tangannya tetap siaga.
"Kunci seluruh gudang saya," Dimas menjawab, suaranya datar, "termasuk yang kemarin kita pakai buat duel."
Rambo, yang berdiri menyandar pada tongkatnya, menatap Dimas dengan campuran amarah dan kewaspadaan, "Tuan, jangan percaya. Ini pasti jebakan lagi."
Dimas menggeleng pelan, menatap Rambo langsung, "Saya yang nyiksa lo kemarin. Saya tau lo gak akan pernah percaya saya secepat ini. Tapi ini bukan jebakan."
Dia menarik kursi, duduk dengan postur yang jauh berbeda dari kesan arogan yang selama ini dia bawa, "Di dunia yang saya jalani, ada satu aturan yang gak pernah saya langgar seumur hidup. Sekali kalah dalam duel yang adil, yang kalah wajib mengakui pemenangnya."
"Lo bukan budak gue," David menjawab cepat, masih belum sepenuhnya yakin dengan arah pembicaraan ini.
"Saya gak bilang saya budak," Dimas membalas, "tapi saya nyatain kesetiaan ke lo, sampai utang saya sebagai orang yang kalah dianggap lunas. Itu kode yang saya pegang dari dulu."
Dia mengeluarkan satu flashdisk lagi dari saku dalam kemejanya, meletakkannya di atas meja, "Ini daftar nama orang-orang yang selama ini disuap Reza. Jalur distribusi material ilegal yang dia pakai buat sabotase proyek lo. Rekening pembayaran lengkap. Sama identitas semua kaki tangan dia yang masih aktif."
Anto langsung mengambil flashdisk itu, membuka laptopnya, dan begitu data-data itu muncul di layar, matanya melebar, "Vid, ini... ini lengkap banget. Ini bukti yang kita butuhin dari awal."
David menatap Dimas lama, mencoba membaca apakah ini benar-benar tulus atau strategi lain yang lebih licik, "Kenapa lo nyerahin semua ini?"
"Karena saya kalah," Dimas menjawab sederhana, "dan karena saya tau, Reza bukan orang yang bisa nerima kekalahan dengan baik. Dia pasti akan cari orang yang lebih berbahaya dari saya. Saya cuma mau lo siap."
Camelia, yang sejak awal mengamati dengan saksama, akhirnya bersuara, "Lebih berbahaya dari Anda? Siapa?"
Dimas menggeleng, "Saya gak tau pasti. Tapi di dunia ini, selalu ada yang lebih tua, lebih licik, lebih punya kekuasaan dari saya. Reza akan nemu jalan itu, cepat atau lambat."
Setelah pertemuan singkat itu, Dimas berdiri, membungkuk sedikit ke arah David, lalu berjalan keluar dari ruangan dengan langkah tenang, tidak ada perlawanan, tidak ada ancaman, persis seperti yang dia katakan, mengakui kekalahannya secara penuh.
***
Tapi pergerakan Dimas itu tidak lepas dari mata-mata yang masih bekerja untuk Reza. Salah satu informan yang ditempatkan diam-diam di sekitar gedung, melihat Dimas keluar tanpa perlawanan sedikit pun, wajahnya tenang, bahkan terkesan lega, sama sekali jauh dari gambaran orang yang baru saja "menang" atau punya rencana tersembunyi.
Kabar itu sampai ke Reza dalam hitungan menit lewat pesan singkat.
Reza membaca pesan itu berulang-ulang, tangannya gemetar, "Dimas... berkhianat..."
Surya, yang berdiri di sampingnya, menjawab pelan, mencoba meredam amarah kakaknya yang mulai naik, "Bukan berkhianat, Kak. Dia kalah."
"SAMA AJA!" Reza membentak, melempar ponselnya ke sofa, "dia harusnya tetap di pihak gue, apa pun yang terjadi! Gue udah bayar dia mahal-mahal!"
"Kak," Surya berkata lebih tenang, "orang kayak Dimas itu punya kode sendiri. Kalau dia kalah secara adil, dia gak akan ngelawan itu. Itu udah prinsip hidup dia."
Reza terdiam, dadanya naik turun cepat, menyadari bahwa senjata terkuatnya, yang selama ini dia anggap pasti bisa menghancurkan David, sekarang justru berpindah sepenuhnya ke pihak musuh, membawa semua bukti yang bisa menghancurkan dirinya sendiri.
***
Malam itu, Reza pulang ke rumah dengan wajah muram, langkahnya berat, dan begitu masuk ke ruang tengah, Serlina yang sedang menunggu langsung berdiri, melihat ekspresi anaknya yang jauh dari biasanya.
"Reza, kamu kenapa?" Serlina bertanya, suaranya penuh kekhawatiran yang dipaksakan, lebih karena khawatir akan dampaknya pada rencana mereka ketimbang kekhawatiran tulus pada anaknya.
"Dimas berkhianat," Reza berkata pelan, duduk di sofa dengan tubuh lemas, "semua bukti yang bisa hancurin gue, sekarang ada di tangan David."
Serlina menatapnya lama, lalu bertanya dengan nada yang lebih tajam, "Masih ada jalan?"
Reza menatap kosong ke luar jendela, pikirannya berputar, mengingat nama yang disebut Surya beberapa hari lalu, nama yang sejak awal dia ragukan karena tahu betul harga yang harus dibayar untuk meminta bantuan semacam itu.
"Kalau cara halus gak bisa..." dia berkata pelan, suaranya berubah dingin, mengepalkan tangannya kuat-kuat, "...berarti kita harus main lebih kotor."
Belum sempat Serlina menjawab, ponsel Reza yang baru saja dia ambil kembali dari sofa, bergetar. Nomor yang tidak dikenal muncul di layar. Dia menjawabnya dengan ragu.
"Selamat malam," suara di seberang terdengar formal, halus, tapi entah kenapa membuat bulu kuduk Reza berdiri, "saya sekretaris pribadi Mr. Jarwo Grimshaw Hardjoprakoso."
Reza terdiam, jantungnya berdebar.
"Tuan Jarwo bersedia menerima Anda besok pagi."
Telepon itu ditutup tanpa menunggu jawaban, meninggalkan Reza yang masih memegang ponselnya dengan tangan gemetar, menyadari bahwa langkah yang baru saja dia ambil, entah disadarinya atau tidak, sudah membawanya melewati ambang batas yang selama ini dia hindari, masuk ke dunia yang jauh lebih besar dan jauh lebih berbahaya dari sekadar persaingan keluarga rebutan warisan.
*(bersambung)*