Disclaimer: No plagiat, no boom like❗
Karena permintaan terakhir ibunya, Tyasabella Almeera terpaksa menerima kenyataan yang tidak pernah ia inginkan: menikah muda.
Dan lebih parahnya lagi, menikah dengan musuhnya sendiri, Faris Abimanyu Alzavian. Cowok tukang nyolot yang selalu berhasil membuat emosinya naik setiap hari.
"Kenapa harus lo sih?" kesal Tya.
Faris langsung mendelik. "Emangnya gue mau nikah sama lo?"
"Gue juga gak mau."
"Bagus. Berarti kita sepakat."
Tya mendengus. "Sepakat kalau ini ide paling buruk yang pernah ada."
Namun, takdir seolah tidak peduli dengan pendapat mereka. Di tengah kehilangan yang masih terasa, dua remaja keras kepala itu dipaksa menjalani sebuah pernikahan yang tidak pernah mereka pilih sendiri.
Masalahnya, bagaimana jika perlahan mereka mulai menemukan sesuatu yang tidak pernah mereka duga sebelumnya?
Karena terkadang, orang yang paling sering membuat kita kesal justru menjadi orang yang paling sulit dilupakan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NdahDhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35: Rahasia semalam
Setelah memastikan sosok Faris benar-benar menghilang di gelapnya jalan, Tya menutup kembali tirai balkon. Ia menghela nafas pelan, lalu kembali merebahkan tubuhnya di atas kasur.
Tya sama sekali tidak berniat mencari tahu ke mana Faris pergi. Mau balapan, nongkrong, atau apa pun di luar sana, itu bukan urusannya.
"Lagipula, ngapain gue mikirin dia?" Gumamnya pelan.
Perlahan, Tya kembali memejamkan mata. Keheningan malam kembali menyelimuti kamar itu hingga akhirnya rasa kantuk kembali membawanya terlelap.
Entah sudah berapa lama Tya tertidur. Saat kembali membuka mata, suasana kamar masih gelap. Ia mengerjapkan mata beberapa kali sebelum menoleh ke arah jam digital yang berada di atas meja kecil di samping ranjang, 02.00 WIB.
"Hmm..."
Tya mengusap pelan wajahnya. Anehnya, setelah terbangun kali ini, rasa kantuknya justru menghilang begitu saja. Ia menghela nafas pelan, lalu meraih gelas berisi air putih yang berada di atas meja. Tanpa banyak pikir, ia meneguknya beberapa kali hingga tenggorokannya terasa lebih segar.
Namun, tepat saat gelas itu kembali diletakkan, suara gesekan gerbang terdengar samar dari luar rumah. Tya menghentikan gerakannya, kepalanya sedikit menoleh ke arah balkon. Beberapa saat kemudian, sudut bibirnya terangkat tipis.
"Balik juga, ternyata," gumam Tya lirih.
Tanpa berniat memastikan lagi, Tya langsung merebahkan tubuhnya kembali. Ia menarik selimut hingga sebatas dada, lalu memejamkan matanya rapat-rapat.
Kalau benar itu Faris, Tya tidak ingin ketahuan masih terjaga. Biarlah cowok itu mengira semua orang di rumah itu sudah tertidur pulas.
Tya memeluk guling di sampingnya erat-erat. Wajahnya sengaja dibenamkan di sela-sela guling hingga nyaris tak terlihat. Kelopak matanya tetap terpejam rapat, sementara nafasnya dibuat setenang mungkin, menyerupai orang yang sedang tertidur lelap.
Kamar itu kembali hening. Hingga beberapa saat kemudian, terdengar suara gagang pintu yang diputar dengan sangat pelan. Lalu, daun pintu itu terbuka sedikit demi sedikit.
Dari balik pintu, Faris sempat mengintip. Sorot matanya langsung tertuju ke arah tempat tidur. Dilihatnya Tya meringkuk memeluk guling, sama sekali tidak bergerak.
Faris menghela nafas lega, "Syukurlah," gumamnya lirih nyaris tak terdengar. "Aman."
Tanpa Faris sadari, gadis yang dikiranya masih terlelap itu justru sedang menahan senyum di balik guling. "Aman, ya?" Batin Tya. "Nikmati dulu, bro. Besok ada kejutan buat lo."
Tring!
Tanpa sengaja, kunci motor yang masih berada di dalam genggaman Faris terlepas dan jatuh ke lantai. Suara logam yang beradu dengan keramik terdengar cukup jelas di tengah sunyinya malam.
Faris langsung membeku. Tatapannya spontan beralih ke arah tempat tidur. Di atas kasur, Tya yang sebenarnya belum tidur perlahan bergerak. Ia pura-pura mengulet kecil, lalu memiringkan tubuhnya membelakangi Faris sambil menarik selimut lebih tinggi.
Melihat gerakan itu, jantung Faris seolah berhenti berdetak beberapa detik. Ia menahan nafas, tak berani bergerak sedikit pun. Tatapannya terus tertuju ke arah Tya, menunggu apakah gadis itu akan benar-benar bangun.
Beberapa saat berlalu, tak ada suara. Tya kembali diam, nafasnya terdengar teratur seperti orang yang masih terlelap. Faris akhirnya menghela nafas panjang.
"Sialan," umpat Faris sangat pelan, nyaris tak terdengar. "Kirain bangun."
Dengan gerakan hati-hati, Faris berjongkok mengambil kembali kunci motornya. Kali ini, setiap langkah yang ia lakukan jauh lebih pelan dibanding sebelumnya.
Sementara itu, di balik kelopak mata yang masih terpejam, Tya menggigit bibir bawahnya kuat-kuat. Ia berusaha mati-matian menahan tawa yang nyaris lolos. Entah mengapa, berpura-pura seperti itu justru membuat hatinya dipenuhi rasa geli.
"Badboy nyolot itu, ternyata bisa panik juga," pikir Tya.
Setelah memastikan semuanya kembali aman, Faris meletakkan kunci motornya perlahan di atas meja kecil di samping sofa. Ia kembali melepas jaketnya, lalu merebahkan tubuh di sofa yang menjadi tempat tidurnya beberapa hari terakhir.
Nafas Faris masih sedikit memburu karena rasa tegang yang baru saja ia alami. Sesaat, ia mendongakkan kepala, menatap langit-langit kamar yang temaram diterangi cahaya lampu tidur.
"Huft..."
Faris menghela nafas panjang. Malam itu benar-benar menguras energinya. Balapan yang berlangsung sengit, perjalanan pulang yang harus dilakukan diam-diam, hingga momen ketika kunci motornya nyaris membongkar rahasianya.
Perlahan, kedua matanya mulai terasa berat. Tatapannya yang semula masih terpaku pada langit-langit kamar akhirnya memudar. Tak berselang lama, ia benar-benar terlelap.
...✧✧✧✧✧✧✧✧✧✧...
Cahaya mentari pagi mulai menyelinap melalui celah gorden, menghangatkan sudut-sudut kamar yang semalam dipenuhi keheningan.
Suara pintu kamar mandi terbuka pelan. Faris keluar sambil mengusap rambutnya yang masih sedikit basah dengan handuk, bahkan beberapa tetes air jatuh dari ujung rambutnya. Tanpa berpikir panjang, ia melempar handuk itu begitu saja ke atas kasur sebelum berjalan menuju lemari.
Di sisi lain, Tya yang sedang merapikan buku-bukunya spontan menghentikan gerakannya. Tatapannya langsung tertuju pada handuk basah yang kini tergeletak di atas kasur. Keningnya langsung berkerut.
"Ih, jorok banget sih, lo!" Omel Tya. "Handuk basah ditaruh di atas kasur!"
"Tinggal di gantung," sahut Faris tanpa menoleh. "Gitu aja ribet."
Tya langsung mendengus kesal. "Lo pikir gue pembantu?!" Tanpa basa-basi, ia meraih handuk itu, dan...
Plukk!
Handuk itu melayang tepat mengenai wajah Faris. "Woi!" Ia buru-buru menarik handuk dari wajahnya sambil mendelik. "Apaan, sih?!"
"Gantung sendiri!" Jawab Tya ketus.
Faris mengeraskan rahangnya. Dengan wajah tidak ikhlas, ia mengambil handuk itu dan menjemurnya di balkon. Tya yang melihatnya hanya menghela nafas. Beberapa saat kemudian, ia melirik ke arah Faris.
"Eh," ujar Tya. "Tumben lo bangun cepat."
Faris mengangkat sebelah alis. "Terus?"
Tya mengangkat bahu santai, seolah hanya bertanya iseng. "Ya, biasanya lo kayak kebo."
Faris langsung menoleh tajam. "Mulut lo emang gak bisa diem, ya?!"
Tya memutar bola mata, "Lah, salah?" Ujarnya, menatap Faris sejenak sebelum akhirnya kembali memasukkan buku-bukunya ke dalam tas.
Faris hanya bisa berdecak sambil membuka lemari. "Ck! Cewek galak!"
Tya sama sekali tidak menanggapi ucapan terakhir Faris. Baginya, memperpanjang perdebatan dengan cowok itu hanya akan menghabiskan tenaga di pagi hari.
Tya merapikan resleting tasnya, lalu menyampirkannya ke bahu. Tanpa menoleh sedikit pun ke arah Faris, Tya melangkah menuju pintu kamar.
Tya melangkah menuju lantai bawah. Aroma masakan hangat mulai tercium dari arah dapur. Tiba di dapur, ia melihat ibu Faris sedang sibuk menata beberapa piring di atas meja.
"Pagi, Tante," sapa Tya ramah.
Ibu Faris menoleh dengan senyum hangat. "Selamat pagi, sayang," ujarnya. "Udah siap-siap?"
"Iya, Tante," Tya mengangguk kecil. "Tya bantuin ya, Tante."
"Ya, ampun. Gak usah, sayang... Mama bisa sendiri," jawab ibu Faris.
"Gapapa kok, Tante," ujar Tya sambil menuangkan air ke dalam gelas. "Biar cepat selesai."
Ibu Faris tersenyum melihat putri sahabatnya itu. "Kamu ini, rajin banget."
Tya hanya membalas dengan senyum tipis. Tanpa banyak bicara, ia kembali membantu ibu Faris menyiapkan sarapan.
Sementara ibu Faris beberapa kali melirik ke arah Tya dengan tatapan penuh rasa syukur. Kehadiran gadis itu membuat suasana dapur terasa lebih hangat. Sesekali mereka mengobrol ringan, diselingi tawa kecil yang terdengar akrab.
Beberapa menit berlalu, satu per satu penghuni rumah mulai berdatangan. Ayah Faris keluar dari ruang kerjanya sambil merapikan lengan kemejanya, disusul Faris yang menuruni tangga sambil memasukkan kedua tangan ke saku celana.
Tya menikmati sarapannya dengan tenang. Sesekali ia menyendok nasi, lalu menyeruput teh hangat yang tersaji di samping piringnya.
Di sela-sela sarapan, tanpa sadar tatapannya sesekali beralih pada Faris yang duduk tepat di hadapannya. Cowok itu makan seperti biasa, tanpa menunjukkan gelagat aneh sedikit pun.
Hingga pada satu momen, Faris mendadak mengangkat kepala. Tatapan mereka bertemu. Faris mengernyit sedikit. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, sorot matanya seolah mengatakan, 'Apa lihat-lihat?'
Tya yang menyadari itu hanya mengalihkan pandangannya dengan santai. Ia kembali melanjutkan sarapannya seolah tidak terjadi apa-apa.
Di sisi lain meja, kedua orang tua Keanu masih asyik berbincang mengenai urusan kantor. Percakapan keduanya mengalir santai, membuat suasana meja makan terasa hangat.
Ayah Faris baru saja menyeruput kopinya. Lalu, pandangannya mengarah kepada istrinya. "Gimana, Mah?" Tanyanya santai. "Faris masih keluyuran sampai malam?"
Faris tetap tenang di tempatnya. Tangannya masih sibuk menyuap sarapan, seolah topik pembicaraan itu sama sekali tidak ada hubungannya dengan dirinya.
Ibu Faris tersenyum kecil. "Sepertinya udah mulai berkurang, Pah," jawabnya. "Kemarin juga Faris langsung pulang bareng Tya."
Ayah Faris mengangguk pelan, nada suaranya terdengar lega. "Bagus kalau begitu. Memang pelan-pelan harus dikurangi kebiasaannya."
Faris hanya berdehem pelan sambil melanjutkan makannya. Wajahnya masih terlihat datar, berusaha mempertahankan ekspresi setenang mungkin.
Sementara Tya masih menikmati sarapannya dalam diam. Sebuah kejutan masih ia simpan rapat, menunggu waktu yang tepat untuk mengutarakannya.
"Mama memang lebih senang lihat Faris di rumah, Pah," lanjut ibu Faris. "Daripada keluyuran terus sampai malam. Kita juga gak pernah tau dia ngapain aja di luar sana."
Ayah Faris menghela nafas pelan, lalu mengangguk setuju. "Iya. Yang penting sekarang udah ada perubahan."
Suasana meja makan kembali hening. Yang terdengar hanya bunyi sendok dan garpu yang sesekali beradu dengan piring.
Tya yang sejak tadi makan dengan tenang, perlahan meletakkan sendoknya di atas piring. Tatapannya menatap kedua orang tua Faris bergantian. "Om... Tante," panggilnya pelan.
Suara Tya membuat perhatian semua orang di meja makan tertuju padanya. "Iya, sayang," sahut ibu Faris.
"Tya... Tya boleh ngomong sesuatu?" Lanjut Tya.
Ayah dan ibu Faris saling bertukar pandang sejenak. Raut wajah keduanya langsung berubah penuh perhatian. Mereka mengira Tya akan menyampaikan isi hatinya setelah resmi menjadi bagian keluarga Alzavian. Sementara Faris hanya melirik sekilas tanpa mengatakan apa-apa.
Ibu Faris tersenyum hangat pada Tya. "Tentu saja boleh, sayang," ujarnya lembut. "Memangnya, Tya mau ngomong apa?"
Sebelum menjawab, Tya sempat melirik sekilas ke arah Faris yang masih asyik menikmati sarapannya. Tatapan itu hanya berlangsung sesaat sebelum kembali beralih pada ibu Faris.
"Tadi malam, Faris diam-diam keluar dari rumah," ujar Tya. "Jam setengah sebelas, Tante."
"Apa?" Ujar ayah dan ibu Faris hampir bersamaan.
"Ukhukk! Ukhukk!"
Faris yang sedang menyuapkan nasi ke mulutnya langsung tersedak hebat. Ia buru-buru meraih gelas di sampingnya lalu meneguknya beberapa kali. Wajahnya memerah, bukan hanya karena tersedak, tetapi juga karena ucapan Tya yang benar-benar di luar dugaannya.
"Tya gak sengaja kebangun semalam," lanjut Tya jujur. "Terus gak sengaja dengar suara gerbang dari balkon. Pas Tya lihat, Faris lagi buka gerbang pelan-pelan sambil nuntun motornya keluar, Tante."
Faris yang masih terbatuk-batuk langsung membeku. "Sial, ketahuan gue!" Batin Faris.
Tya melanjutkan tanpa beban sedikit pun. "Terus motornya baru di hidupin pas udah sampai di ujung jalan." Jelasnya. "Dan Faris pulangnya pukul dua dini hari, Om."
Hening, kedua orang tua Faris perlahan mengalihkan pandangan ke putra mereka. Sementara Faris masih memegang gelas di tangannya. Tatapannya kosong beberapa saat, seolah otaknya sedang memproses pembicaraan ini.
Ibu Faris masih menatap putranya dengan wajah penuh kecewa. "Faris," panggilnya pelan. "Yang Tya bilang itu, benar?"
Tidak ada jawaban. Melihat putranya memilih diam, ayah Faris akhirnya angkat bicara. Nada suaranya tenang, tapi tegas. "Papa mau dengar penjelasannya dari kamu," tatapannya lurus ke arah Faris. "Semalam kamu keluar diam-diam, ke mana?"
Faris menghela nafas pelan. Ia menggaruk tengkuknya sekilas, lalu mengangkat kepala. "Ke rumah Andre, Pah."
"Malam-malam?" Tanya ayahnya dengan kening berkerut.
"Ngambil buku tugas," jawab Faris cepat, seolah jawaban itu sudah ia siapkan sejak awal. "Kemarin ketinggalan di rumah dia."
Ibu Faris masih tampak belum sepenuhnya percaya. "Kalau emang cuma ambil buku, kenapa harus diam-diam? Kenapa gak bilang dulu sama Mama atau Papa?"
"Orang Mama sama Papa udah tidur," sahut Faris cepat. "Masa iya harus dibangunin cuma buat bilang mau ambil buku?"
Nada jawabannya memang terdengar santai, tetapi tetap khas Faris. Selalu ada sedikit bantahan di setiap penjelasannya.
Sementara Tya kembali menyendok sarapannya sambil menahan senyum. Ia tidak menyela sedikit pun. Baginya, cukup membuka rahasia semalam. Soal alasan Faris benar atau tidak, biarlah itu menjadi urusan Faris sendiri.
Ibu Faris masih belum terlihat yakin. Tatapannya tetap tertuju pada Faris. "Kalau memang benar kamu ke rumah Andre buat ambil buku," ujarnya pelan. Tangannya terulur sedikit. "Mana bukunya?"
^^^Bersambung...^^^