Zara — gadis sederhana, polos, dan hidup dalam keterbatasan, namun tetap memancarkan keanggunan yang tak dimiliki siapa pun. Dipermainkan takdir, ia dipersatukan dengan Adrian Romanov, pria dingin, berkuasa, dan menjadi sumber segala penderitaannya. Dituduh, disakiti, dan dikucilkan, Zara harus menelan semua kepahitan sendirian. Namun ketika sebutir nyawa tumbuh di dalam rahimnya, semangatnya bangkit kembali. Demi bayi yang dikandungnya, ia berjanji akan bertahan, melewati badai, dan membuktikan bahwa ketabahan akan mengalahkan segala kepalsuan. Akankah takdir berubah, atau justru luka yang semakin dalam menantinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PUTRI, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Godaan Yang Berujung Pada Ancaman Dingin
Begitu masuk ke kamar, Fara langsung menutup pintu rapat-rapat, lalu bersandar sebentar di belakangnya sebelum berjalan perlahan menuju tempat tidur. Dia meletakkan tas-tas belanjaannya di sisi kasur dengan gerakan lembut, seolah tak ingin merusak apa pun. Matanya melirik ke arah tas itu berulang kali, sudut bibirnya terus terangkat membentuk senyum bahagia yang dia coba tahan tapi tak bisa sembunyikan sepenuhnya — terlihat jelas dari kilau matanya yang bersinar.
Setelah beberapa detik memandanginya dengan puas, dia menghela napas ringan lalu berdiri perlahan, berjalan menuju kamar mandi dengan langkah yang terasa lebih ringan dari biasanya.
Sekitar sejam kemudian dia keluar, rambutnya masih sedikit basah dan beraroma sabun wangi, kulitnya terlihat segar dan bersih. Tanpa membuang waktu, dia meraih salah satu tas belanjaan itu dengan hati-hati, membukanya perlahan seolah membuka harta berharga. Dia mengeluarkan baju yang baru saja dibelinya, lalu mengenakannya dengan gerakan pelan dan teliti, sesekali membetulkan kerah serta merapikan ujung bajunya sambil menatap pantulan dirinya di cermin dengan tatapan penuh rasa suka.
Fernando baru saja melangkah masuk ke rumah, jas hitamnya masih rapi tergantung pas di bahu lebarnya, dipadukan kemeja hitam di dalamnya yang terlihat halus dan berkilau samar terkena cahaya. Di satu tangannya tergenggam tas kulit berisi tumpukan dokumen penting yang dia pegang erat, seolah tak ingin ada yang terlewat.
Sambil mulai menaiki tangga, jari-jarinya yang berurat jelas terangkat perlahan, meraih ujung dasi yang terasa mulai menyempit di leher. Dia melonggarkannya pelan, sedikit menariknya ke bawah sampai terasa longgar dan tak lagi mengikat, napasnya pun jadi terasa lebih lega seketika. Gerakannya santai tapi tetap berwibawa, tak ada tanda kelelahan berlebih meski seharian sibuk di kantor.
Bukan ke arah kamar tidur kakinya melangkah, melainkan berbelok menuju ruang kerjanya sendiri. Bahunya tetap tegap, setiap langkah terasa pasti dan tenang — bahkan saat dia membetulkan sedikit kerah bajunya yang tergeser, pesona tegas dan berkelas itu tak pernah luntur sedikit pun.
Begitu sampai di ruang kerjanya, dia meletakkan tas kulit berisi dokumen itu perlahan ke lantai di samping kakinya. Lalu tubuhnya merosot santai ke sandaran, kepala terangkat mendongak ke belakang, menutup matanya sejenak melepaskan semua ketegangan seharian.
Tangannya bergerak turun ke kerah, menarik sedikit lalu membuka satu-dua kancing bagian atas kemejanya — terbukalah sedikit pandangan pada lekukan otot dadanya yang padat dan terbentuk rapi, kulitnya terlihat halus namun menyimpan kekuatan tersembunyi. Satu tangannya tergantung longgar di sisi sandaran, urat-urat halus terlihat jelas di pergelangan dan jemarinya yang terkulai lemas, sementara bahunya yang lebar akhirnya benar-benar rileks setelah seharian menanggung beban pekerjaan.
Napasnya terdengar lambat dan dalam, seolah ingin menyedot semua ketenangan yang ada, meski di balik kelopak mata yang terpejam itu tetap terasa aura dingin dan berwibawa yang tak pernah hilang dari dirinya.
Fara duduk di depan meja rias, jemarinya baru saja menyentuh ujung bibirnya untuk merapikan sisa riasan tipis, wajahnya tampak bersinar sempurna. Begitu telinganya menangkap suara langkah dan pintu depan yang tertutup — tanda Adrian sudah pulang — dia perlahan berdiri dari tempat duduknya.
Dia mengenakan gaun satin berwarna cokelat lembut, halus mengikuti lekuk tubuhnya, ujungnya dihiasi renda yang jatuh rapi dan terlihat mewah namun tetap anggun. Kainnya berkilau samar setiap kali dia bergerak, menambah kesan lembut yang ingin dia tampilkan.
Dengan langkah hati-hati, dia melangkah perlahan mendekati pintu kamar, membukanya pelan agar tak menimbulkan suara berisik. Turun ke lantai bawah, dia berjalan menuju dapur, menyiapkan secangkir kopi hitam yang pas rasanya — persis seperti yang dia tahu disukai Adrian. Setelah matang dan dituang rapi, dia meletakkannya di atas nampan kecil, lalu membawanya naik kembali.
Pertama dia mengetuk pintu kamar Adrian, menunggu sebentar tapi tak ada jawaban. Membuka sedikit celah, ternyata ruangan itu kosong. Hatinya berdebar pelan, lalu dia berjalan menuju ruang kerja, jemarinya sedikit menekan sisi nampan karena gugup. Sesampainya di depan pintu, dia menarik napas pendek, lalu mengetuknya perlahan dan suaranya terdengar lembut: “Adrian… aku bawakan kopi untukmu.”
Dari dalam terdengar jawaban, terdengar agak heran namun tetap tenang — Adrian tak mengubah posisinya yang sedang bersandar santai, kepala mendongak ke belakang dan mata masih terpejam melepas lelah. Suaranya berat namun jelas menjawab: “Masuk.”
Begitu masuk, Fara meletakkan cangkir kopi itu pelan di atas meja tepat di hadapan Adrian. Adrian perlahan menegakkan tubuhnya, lalu menatapnya dari ujung kepala sampai ujung kaki dengan pandangan yang makin menyelidik. Matanya terhenti pada pakaian yang dikenakan Fara — bagian atasnya terlihat terbuka, talinya tipis sekali, hanya selebar satu sentimeter saja, hingga lekukan dadanya terlihat samar. Bagian bawah gaun itu juga pendek, berhenti tepat di atas pahanya, memperlihatkan kulit putih halus yang berkilau lembut, sementara rambut panjangnya terurai jatuh lurus menutupi sebagian bahunya.
Di dalam hatinya Adrian hanya menyeringai: “Hoho… jadi begini caranya dia mencoba menggoda aku, ya?”
Dia menyeringai kecil, lalu menutup separuh wajahnya dengan telapak tangan kanannya sambil menahan tawa rendah yang terdengar dingin dan meremehkan.
Fara mengira reaksinya tanda diterima, jadi dia memberanikan diri melangkah lebih dekat lagi. “Apakah ada yang bisa aku bantu—”
Belum sempat kalimat itu selesai meluncur, Adrian tiba-tiba mengayunkan lengan kanannya dengan kasar. Cangkir kopi itu terlempar jatuh ke lantai, pecah berkeping-keping disertai suara benturan yang memekakkan telinga. Dalam sekejap dia sudah berdiri tegak, lalu merengkuh rambut Fara dengan genggaman yang kuat dan menyakitkan. Dia kembali duduk, menarik rambut itu makin keras hingga kepala Fara terangkat paksa, lalu mendorong tubuh wanita itu hingga tersungkur jatuh berlutut di lantai.
Fara terperanjat kaget, kedua tangannya segera menahan lantai agar tidak terbentur parah. Matanya membelalak penuh syok, lalu mendongak menatap Adrian dengan wajah pucat pasi. Tanpa membuang waktu, Adrian membuka laci mejanya, meraih pistol itu, lalu menarik kembali rambut Fara mendekatkan wajah mereka nyaris bersentuhan.
Dengan tangan kanannya dia menempelkan mulut senjata itu tepat di pelipis Fara, mendorongnya sedikit hingga leher wanita itu terangkat tegang, urat-urat halusnya tampak menonjol jelas di bawah kulitnya. Suara Adrian turun jadi rendah, dingin, dan tajam seperti es saat dia mengancam:
“Kau kira aku buta, tidak tahu permainan kotor apa yang sedang kau mainkan?”
Fara menggeliat mencoba melepaskan diri, matanya membesar penuh ketakutan dan rasa sakit yang menusuk.
Adrian melanjutkan dengan nada makin tajam dan jijik: “Sepertinya aku terlalu lunak padamu sampai kau berani melampaui batas begini.padahal baru saja sebulan kau tinggal disini tau sudah bertingkah .Kau kira aku akan tergoda oleh wanita murahan sepertimu? Ketahuilah — aku paling membenci dan merasa jijik melihat tingkahmu ini. Bagaimana rasanya kalau aku tarik pelatuknya sekarang, hmm?”
Air mata Fara langsung mengalir deras membasahi pipinya, dia terisak-isak sambil merintih memohon: “Ampun… aku salah, aku benar-benar salah! Maafkan aku, tolong ampunilah aku…”
Sudut bibir Adrian terangkat membentuk senyum dingin dan puas melihat wanita itu terkapar tak berdaya. Namun tepat di detik itu, keduanya terkejut mendengar suara ketukan pelan di pintu, disusul suara lembut namun tegas milik Zara dari luar yang sedikit agak khawatir:
“Kak Fara? Aku masuk ya…”
Belum sempat gagang pintu diputar sepenuhnya, Adrian bergerak secepat kilat — memasukkan kembali pistol itu ke dalam laci dan menguncinya sebentar. Sementara itu, Fara langsung terjatuh lemas tersungkur di lantai, mencoba menutupi wajahnya yang penuh air mata dan rasa sakit sebelum pintu itu terbuka lebar.