Bagi Adista, barang antik bukan sekadar benda mati; mereka memiliki jiwa, cerita, dan keindahan tersendiri. Hobinya mengoleksi barang-barang unik dan kuno selalu berhasil membawa kepuasan tersendiri, hingga suatu malam di sebuah ruang pelelangan rahasia, matanya terpaku pada sebuah mahakarya yang unik.
Sebuah lukisan tua berbingkai emas kusam yang menggambarkan sosok perempuan dengan air mata darah.
Ada daya tarik magis yang tak kasat mata, seolah lukisan itu sengaja memanggil namanya. Tergiur oleh keunikan dan aura mistisnya, Adista berhasil memenangkan lelang tersebut tanpa tahu harga yang harus ia bayar bukan sekadar uang.
Sejak lukisan itu tergantung di dinding rumahnya, atmosfer berubah mencekam. Langkah kaki misterius, bau anyir yang menguap di udara, hingga bisikan ghaib yang menyayat hati mulai meneror malam-malam Adista. Sosok perempuan dalam kanvas itu seolah hidup, dan tangisan darahnya perlahan mulai merembes keluar dari bingkai, menuntut balas yang mengerikan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andhig Rosdiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER 18
Matahari sore mulai tenggelam, digantikan oleh langit jingga yang perlahan meredup. Mobil Adista memasuki halaman rumah dengan pelan. Hari ini terasa sangat melelahkan bagi Adista. Urusan kantor yang menumpuk ditambah dengan pikiran yang terus berputar memikirkan teka-teki kematian kakak dan sepupunya membuat energi tubuhnya terkuras habis.
Setelah memarkir mobil, Adista melangkah masuk ke dalam rumah. Suasana di dalam masih sama seperti hari-hari sebelumnya, bersih dan rapi berkat kerja keras Bik Sumi. Namun, rasa lelah yang luar biasa membuat Adista tidak sanggup lagi untuk berjalan menuju kamarnya di lantai atas.
Ia langsung merebahkan tubuhnya di atas sofa panjang yang empuk di ruang tengah. Posisi sofa itu tepat berada di bawah dinding tempat lukisan perempuan menangis darah itu digantung. Hanya dalam hitungan menit, mata Adista terasa sangat berat. Hembusan angin dari pendingin ruangan membuat Adista akhirnya terpejam. Ia tertidur sangat lelap karena kecapekan.
Namun, ketenangan tidur Adista tidak berlangsung lama. Kesadarannya perlahan-lahan ditarik masuk ke dalam sebuah mimpi yang sangat gelap. Mimpi itu terasa begitu nyata, begitu jelas, hingga Adista bisa merasakan hawa dingin dan mencium bau tanah yang basah.
Di dalam mimpinya, Adista mendapati dirinya berdiri di sebuah jalanan sepi dan gelap pada malam hari. Suasana jalanan itu tampak seperti suasana puluhan tahun yang lalu. Tidak jauh dari tempatnya berdiri, Adista mendengar suara napas yang terengah-engah dan langkah kaki yang berlari dengan panik.
TAP... TAP... TAP...
Seorang wanita muda berlari dengan tatapan mata penuh ketakutan. Wanita itu memiliki wajah yang sangat cantik, dengan rambut hitam panjang yang terurai . Adista tersentak di dalam mimpinya. Wajah wanita itu sangat mirip dengan sosok perempuan yang ada di dalam lukisan koleksinya, namun kali ini wanita itu berwujud manusia hidup yang nyata. Wanita cantik itu mengenakan gaun putih yang sudah kotor terkena noda tanah.
Di belakang wanita itu, tampak lima orang laki-laki preman berwajah beringas sedang mengejarnya sambil tertawa-tawa licik. Para preman itu sama sekali tidak tahu siapa wanita ini, dan mereka juga tidak tahu siapa pacar dari wanita tersebut. Mereka hanya melihat seorang perempuan cantik yang berjalan sendirian di tempat sepi, dan niat jahat langsung muncul di otak mereka.
"Mau lari ke mana kamu, Manis? Tidak akan ada yang bisa menolongmu di sini!" teriak salah satu preman bertubuh kekar.
Napas wanita itu semakin memburu. Air mata mengalir deras di pipinya yang mulus. "Tolong! Siapa pun, tolong aku!" jerit wanita itu dengan suara yang serak karena kehabisan tenaga.
Di dalam mimpi itu, Adista mencoba berlari untuk menolong wanita tersebut. Namun, anehnya, tubuh Adista seperti terpaku di atas tanah. Ia hanya bisa berdiri mematung, dipaksa menyaksikan kejadian tragis yang mulai berlangsung di depan mata kepalanya sendiri.
BRUK!
Wanita itu tersandung sebuah batu besar dan jatuh tersungkur di atas tanah. Belum sempat ia bangkit berdiri, lima preman kejam itu sudah mengepungnya. Mereka langsung menyiksa wanita malang itu tanpa ampun. Mereka mencengkeram tangan dan kakinya dengan kasar, lalu mulai merenggut kehormatan wanita itu secara bergantian di atas tanah yang dingin.
Wanita itu menjerit kesakitan, menangis, dan memohon agar mereka berhenti. Namun, para preman itu justru semakin menjadi-jadi. Siksaan yang kejam dan kebiadaban mereka membuat darah segar mulai mengalir deras dari kemaluan perempuan tersebut, membasahi gaun putihnya yang robek. Rasa sakit yang luar biasa menghantam tubuh dan jiwa wanita itu.
Setelah puas melampiaskan nafsu bejat mereka secara bergantian, kelima preman itu belum juga puas. Dengan kejam, mereka mencengkeram rambut panjang wanita yang sudah lemas dan tidak berdaya itu, lalu menyeret tubuhnya di atas tanah menuju ke sebuah gudang kosong yang berada di dekat sana. Wanita itu hanya bisa merintih pasrah saat tubuhnya bergesekan dengan tanah dan batu.
Di dalam gudang kosong yang gelap dan pengap, penyiksaan itu mencapai puncaknya. Sebelum kematiannya, para preman itu mengambil batu-batu besar yang tergeletak di dalam gudang. Tanpa rasa kemanusiaan sedikit pun, mereka menghantamkan batu-batu tersebut ke tubuh dan kepala perempuan itu berkali-kali.
BRAK! BRAK!
Suara hantaman batu dan patahan tulang terdengar sangat mengerikan di dalam gudang yang sunyi. Darah segar muncrat ke mana-mana, membasahi dinding-dinding gudang yang kotor. Wanita itu mengejang kesakitan sebelum akhirnya napasnya berhenti untuk selamanya, mati dengan kondisi yang sangat mengenaskan di tangan lima laki-laki kejam.
Rasa sakit yang dahsyat, kehancuran, dan kebencian yang teramat sangat berkumpul menjadi satu sebelum nyawanya hilang. Pandangan mata wanita itu di detik-detik terakhir kematiannya memancarkan dendam kesumat yang sangat membara terhadap seluruh kaum laki-laki di dunia.
Adista yang melihat kejadian itu di dalam mimpinya ikut menangis histeris. Dada Adista terasa sangat sesak seolah-olah ia bisa merasakan langsung penderitaan wanita di depannya. Mimpi buruk itu terasa sangat nyata dan mencekam, membuka tabir rahasia kelam tentang penderitaan luar biasa yang melahirkan kutukan maut di dalam rumahnya.
soookorrr
apa ya g gmn gtu smpe teror siang hari pun ada lho
mau lwrtahanin lukisan mu apa mau buang dan bakar gtu
trus piye yo saiki
nah jadi misteri bget sih tp sadis cara bantai nya hiss ngeri ya