"Maaf, aku mundur."
"Maksudmu?"
"Kita akhiri hubungan ini. Terima kasih untuk semuanya, Pak Riko."
Rencana lamaran gagal seketika. Hubungan yang baru seumur jagung pun kandas dalam sekejap. Riko tak paham. Ia sampai beberapa kali menanyakan keputusan Lily.
Lantas, bagaimana kelanjutan cerita mereka? Akankah tali yang sudah putus bisa disambung kembali?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cietyameyzha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hei!
~Katanya cinta, tapi melihat dia bahagia dengan yang lain, justru hatimu tak terima.~
🌈🌈🌈🌈🌈🌈
🌈🌈🌈🌈
🌈🌈
Hujan semakin deras. Jarak pandang pun terbatas. Namun, kedua insan itu tak sedikit pun terusik. Mereka masih saling menatap seolah melebur kerinduan di curahnya hujan.
"Kamu tau. Tulus paling indah itu ketika masih bisa tersenyum di tengah-tengah dalamnya luka. Ikhlas paling hebat itu saat mampu menyembunyikan tangis, meski dalam kesendirian. Memeluk rindu dalam sendu tanpa melibatkan orang lain," sambung Riko dengan tenang. Luapan emosi yang sempat membeludak bisa ia redam beberapa menit yang lalu.
"Pak." Suara Lily masih indah di dengar bagi Riko. Perempuan itu menggigit bibir bawahnya, ragu. "Saya minta maaf."
"Untuk apa?"
"Semuanya."
"Bukannya dulu sudah!"
Lily tak berkutik.
"Saya tidak butuh permintaan maafmu!" Riko semakin tegas.
"Lalu?"
"Kamu tidak peka atau pura-pura tidak mengerti?"
Dahi Lily mengerut.
"Jelaskan, sekali pun itu menyakitkan untuk saya!" Riko menyambung kalimatnya.
Lily bergeming. Tangannya mulai bergetar. Hawa dingin menjalar di sekujur tubuhnya. Ia bisa demam. Ini tak bisa dibiarkan.
"Pegang ini." Riko memberikan gagang payung kepada Lily yang langsung diambil oleh perempuan tersebut.
Tanpa diduga Riko membuka jas hitamnya cepat, kemudian menyematkannya di punggung Lily. "Pakai itu. Ayo, naik mobil. Kamu bisa sakit."
Perhatian Riko masih sama. Hangat dan menenangkan. Beralasan hujan yang lebat Riko menggiring Lily ke mobil. Mereka bisa berbicara di sana tanpa takut ada yang jatuh sakit di antara keduanya.
Keduanya masuk mobil. Riko menyimpan payung dan jas basah di jok belakang. Kendaraannya mulai berjalan kembali. Suasana hening. Lily memilih diam tanpa kata, sedangkan Riko menunggu untaian kata yang keluar dari mulut mantan kekasihnya.
Setelah berkendara sekitar dua menit, Riko mulai membuka percakapan di antara mereka. Menanyakan ke mana ia harus mengantar perempuan di sampingnya ini pulang.
"Di daerah perumahan Cemara," sahut Lily.
Riko mengerti. Lingkungan itu tak jauh dari sini. Mungkin sekitar tiga menit lagi. Hujan mulai reda, meninggalkan genangan air di beberapa jalanan. Sesuai perkiraan Riko, mereka pun sampai tiga menit kemudian. Lily keluar disusul Riko.
Sebuah rumah sederhana dengan perkarangan sedikit luas menjadi pemandangan indah bagi Riko. Sisa-sisa air hujan menetes dari dedaunan. Ada beberapa pohon di halaman rumah Lily.
Di teras. Tampak seorang wanita paruh baya sedang bermain dengan seorang anak perempuan yang pernah Riko lihat di depan kantor beberapa waktu lalu. Kenyataan ini terus menguatkan Riko bahwa, Lily memang sudah menikah. Ah ... ini menyakitkan!
"Terima kasih tumpangannya, Pak," ujar Lily sembari menganggukkan kepala.
"Dia anakmu?" tanya Riko tanpa basa basi dengan telunjuk tangan mengarah kepada anak perempuan mungil itu.
Lily mengangguk cepat. "Ya."
"Kamu benar-benar sudah menikah?"
"Ya."
"Dengan siap?"
Lily diam.
"Jangan diam. Apa kamu mau buat saya penasaran sampai sulit makan?"
Lily tercengang. Riko mengagaruk kepalanya yang tak gatal. Kenapa harus bilang. Bodoh kamu!
"Maksudnya, saya sedang sariawan makanya sulit makan!" Perjelas Riko.
"Maaf, Pak, saya belum bisa menjelaskan untuk sekarang. Bolehkan saya jelaskan di lain waktu?" pinta Lily.
"Kapan?" Riko tak sabaran.
Lily diam.
"Jangan dipaksakan. Mungkin saya memang terlalu banyak ikut campur. Sebaiknya kamu segera masuk, ini dingin! Saya pamit. Assalamu'alaikum."
Riko berbalik, Lily masih terpaku di tempatnya.
"Tunggu, Pak." Lily mencegah Riko. "Besok. Ya, besok. Di jam makan siang."
Langkah Riko berhenti. "Baiklah."
"Setelah saya menjelaskan. Apa Pak Riko bakal berhenti mengintimidasi saya dengan tatapan tajam itu?"
Alis Riko terangkat ke atas. "Tergantung penjelasanmu."
Lily tak mengerti.
"Apa kamu merasa terintimidasi?" Riko bertanya balik. Ia mengembuskan napas kasar. "Cepatlah masuk! Anakmu pasti rindu maminya."
Lily segera masuk rumah. Ia berjalan cepat dengan hati tak karuan. Sementara Riko melangkah mendekati mobil, ketika tangannya hendak membuka pintu mobil. Tiba-tiba suara seseorang menghentikan kegiatannya.
"Hei!" panggil orang itu.
Riko berhenti. Membalikkan badan. Orang tersebut berdiri dengan tegap. Jarak mereka sekitar tiga meter. "Anda yang bernama Riko, kan?"
nikah kq dibuat mainan
begitu sih etikanya
semangat dan sukses trs untuk karya" nya yg lain 💪💪💪💗