NovelToon NovelToon
Suci Tak Selalu Berdarah

Suci Tak Selalu Berdarah

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Cintapertama / Perjodohan
Popularitas:3.4k
Nilai: 5
Nama Author: Restu Langit 2

Suci Tak Selalu Berdarah, karena tak semua bunga gugur saat mekar. Namun ketika harga diri Niken Ayuningrum diukur dari setetes merah, maka malam pertama yang katanya paling indah, kini berubah sunyi penuh prasangka.

Tatapan Danendra Pradipta seketika berubah, ketika ia mengetahui bahwa tidak ada tanda yang diyakini sebagai bukti kesucian sang istri.

"Jangan hukum aku dengan mitos lama, yang menjadikan perempuan tersangka. Jika cinta benar ada, maka pecayalah bahwa suci tak selalu berdarah."

Ia pendam tangis dalam doa, berharap waktu akan membuka mata suaminya, karena kesucian bukan tentang darah, melainkan menjaga hati hingga akhirnya. Dan biarkan dunia berkata apa, tapi Niken tetap suci meski tak berdarah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Restu Langit 2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Skincare Alami

 Pagi kembali datang dengan kesibukan yang hampir sama. Cahaya matahari masuk melalui celah tirai kamar ketika Niken membuka mata. Ia sempat terdiam beberapa detik sebelum mengingat hari itu adalah hari kerja.

 Di sampingnya, Danendra telihat masih terlelap. Meski begitu ia tak ingin membangunkan suaminya terlalu cepat. Kakinya terayun kebawah dari tempat tidur, ia lalu mengambil pakaian dan masuk ke dalam kamar mandi.

 Beberapa saat kemudian....

Danendra baru saja membuka mata ketika Niken keluar dari kamar mandi dengan pakaian rapi. "Sudah pagi, ya?" tanyanya yang dijawab senyum serta anggukan kepala oleh Niken. "Kamu mau berangkat?"

 "Iya, Mas."

 Danendra bangkit lalu melihat jam di nakas, "masih ada waktu." Ucapnya sambil bergegas turun dari tempat tidurnya.

 "Masih, Mas mandi saja dulu, habis ini kita sarapan." Kata Niken sambil bercermin di meja rias.

 Tidak lama kemudian, mereka sudah berada di meja makan. Pradipta tampak belum ikut sarapan karena masih beristirahat di kamar. Sebelumnya, Ratih sudah mengatakan bahwa suaminya baru akan makan setelah obat pagi diminum.

 Niken beberapa kali menatap pintu kamar Pradipta. "Mas, Ayah masih tidur?"

 "Iya, biarkan saja." Kata Danendra sembari mengambil sepotong roti, "Dokter memang menyarankan Ayah banyak istirahat."

 Niken mengangguk. "Semoga hari ini Ayah lebih segar."

 "Amin."

 Mereka kemudian menyelesaikan sarapan sambil mengobrolkan tentang rencana pada hari itu. Kemudian Niken memberikan minum untuk suaminya, lalu Danendra membalas dengan menyuapi roti.

 "Buka mulut," kata Danendra yang membuat Niken melotot kecil sambil tersenyum.

 "Aku bisa makan sendiri, Mas."

 "Iya, tapi kalau aku suapin pasti rasanya akan beda." Kata Danendra yang membuat Niken akhirnya menurut.

 "Baiklah." Ia membuka mulutnya untuk menerima suapan dari Danendra.

 Kemudian keduanya menyelesaikannya dengan suapan terakhir yang saling berebut hingga diakhiri tawa dan perut yang terasa kenyang.

 Setelah itu, Niken mengambil tas mengajarnya. Sementara Danendra sudah menunggu di teras dengan kunci mobil di tangannya.

 "Ayo." Kata Niken saat sedang menutup pintu.

 Kemudian mereka masuk ke dalam mobil. Pagi itu, perjalanan menuju TK Tunas Arunika terasa tenang dan damai tanpa pembicaraan yang berat. Mereka hanya membicarakan hal-hal kecil, mulai dari kegiatan Niken di sekolah sampai pekerjaan Danendra yang harus diselesaikan setelah mengantar istrinya.

 Sesampainya di depan sekolah, Niken melepas sabuk pengamannya, lalu mencium punggung tangan suaminya yang dibalas dengan kecupan di kening oleh Danendra.

 "Aku turun," katanya yang dijawab anggukan oleh Danendra.

 "Semangat."

 "Mas juga."

 "Baik Bu Guru." Kata Danendra, lalu keduanya tertawa kecil.

 Niken turun dari mobil membawa senyum kecil, lalu melambaikan tangan. Kemudian seperti biasanya, Danendra menunggu sampai istrinya melewati gerbang, barulah ia menjalankan mobilnya kembali.

 * *

 Kegiatan belajar mengajar berjalan seperti biasa. Niken kembali sibuk dengan anak-anak didiknya, ia membantu mereka mengambar, menemani mereka bermain, lalu mengajarkan beberapa lagu anak-anak.

 Untuk beberapa jam, pikirannya bebar-benar teralihakan, hingga waktu istirahat tiba, kemudian Niken kembali ke ruang guru.

 "Nik, sini." Kata Maya sambil menikmati bekal yang ia bawa.

 Niken mengangguk kemudian mengambil kursi di sebelahnya, lalu duduk di dekat Maya.

 "Kelihatanya hari ini wajahmu lebih cerah," goda Maya yang membuat Niken tertawa kecil.

 "Memangnya kemarin tidak?"

 "Bukan begitu, tapi ini memang beda. Senyummu lebar terus dari tadi, pasti ada yang bikin kamu bahagia."

 "Jelas aku bahagia, May. Lihat saja, anak-anak begitu lucu."

 Maya langsung menyenggol lengannya. "Anak-anak atau suamimu yang setiap hari bikin hati berbunga-bunga?"

 Niken terkekeh, "apaan sih, Bu Maya."

 "Ya maklum, aku kan belum menikah. Jadi kalau lihat orang yang wajahnya sumringah begini, aku curiga... jangan-jangan suaminya lagi rajin kasih perhatian."

 "Bisa saja kamu, May. Mas Danendra memang orangnya perhatian."

 "Nah, kan!" Jawab Maya cepat, "kelihatan banget dari wajahmu. Jadi benar, ya, cinta suami itu bisa jadi skincare alami?"

 "Mungkin." Jawab Niken singkat.

 "Kok mungkin sih, kan Bu Guru Niken yang sudah ngerasain."

 Niken tertawa karenanya. "Nanti kalau sudah punya suami, Bu Guru Maya juga akan tahu sendiri."

 "Hm, berarti aku harus cari yang cintanya kelihatan sampai ke wajahku, dong."

 "Betul. Jangan cuma cari yang ganteng, tapi cari yang bikin kamu merasa dihargai dan disayang tentunya."

 "Siap Bu Guru! Aku catat." Jawab Maya penuh semangat, "ternyata jam istirahat kali ini bukan cuma makan bekal, tapi juga dapat konsultasi percintaan gratis."

 "Baiklah, tapi untuk hari ini saja. Besok-besok harus bayar." Kata Niken yang memicu gelak tawa di antara semua guru yang berada di sana.

 Kemudian ponsel Niken yang tergeletak di atas meja bergetar pelan, layar menampilkan nama ibunya yang membuat senyumnya perlahan memudar.

 Ia lalu segera berdiri, "Maaf, semuanya, saya angkat telepon dulu."

 Niken berjalan keluar dari ruang guru, lalu menerima panggilan dari ibunya di lorong yang agak sepi dari anak-anak.

 "Assalamu'alaikum, Bu." Ucap Niken sesaat setelah panggilan terhubung.

 Dari ujung telepon, ibunya menjawab dengan suara yang terdengar berat. "Wa'alaikumussalam."

 "Ada apa, Bu?" tanya Niken yang tak kunjung mendapat jawaban dari ibunya.

 Niken langsung merasa tidak enak ketika ia menunggu suara ibunya cukup lama. "Ibu?" Ulangnya lagi.

 "Kamu sedang mengajar?" tanya ibunya akhirnya.

 "Ini sedang istirahat, Bu."

 "Ibu mau bicara sama kamu sebentar."

 Niken langsung mengernyit, "ada apa, Bu?"

 Ibunya menarik napas panjang sebelum berkata. "Ini tentang kakakmu."

 Niken terdiam sesaat, mengingat namanya saja sudah cukup membuatnya merasa tidak nyaman. "Mas Rangga kenapa lagi?"

 "Dia membuat masalah lagi."

 Niken memejamkan matanya sesaat, kemudian berkata lirih. "Masalah apa lagi, Ibu?"

 "Semalam Rangga berkelahi."

 "Berkelahi? Tapi kenapa, Bu? Apa masalahnya?"

 "Katanya ada orang yang datang menagih hutang."

 Niken menggenggam ponselnya lebih erat. "Hutang yang mana, Bu?"

 Ibunya terdiam sejenak, kemudian berkata dengan suara lirih. "Niken... jumlahnya sudah semakin banyak. Kita tidak akan mampu membayarnya lagi. Ayahmu sudah tidak tahu lagi harus bagaimana. Kalau tidak segera dibayar, mereka mengancam akan mengambil rumah kita."

 "Rumah?" Ucap Niken menahan syok di dadanya.

 Ibunya mengangguk meski Niken tak melihatnya. "Kalau tidak ada jalan lain, mungkin kita akan kehilangan rumah."

 Niken menundukan kepala, untuk sesaat ia tidak mampu berkata apa-apa. Rumah itu bukan sekedar bangunan, karena di sanalah ia tumbuh, dan di sana pula kedua orang tuannya menjalani hidup, namun kini terancam karena ulah kakaknya.

 "Jangan lakukan apa-apa dulu, Bu. Aku akan pulang setelah selesai mengajar nanti. Kita akan sama-sama mencari jalan lain."

 "Iya." Kata Ibunya sebelum mengakhiri panggilan.

 Setelah panggilan berakhir, Niken masih berdiri di tempat yang sama, ia menatap kosong ke lantai. Hingga suara anak dari ujung lorong membuatnya tersadar.

 "Bu Niken!" Panggil Salsa yang langsung membuat Niken mengusap sudut matanya.

 "Iya, Salsa?"

 "Ayo, Bu, sudah waktunya masuk lagi."

 Niken akhirnya tersenyum. "Iya, Salsa. Ayo."

 Ia menyimpan ponselnya kembali ke dalam tas, kemudian mengandeng tangan Salsa sambil berjalan menuju kelas. Usai istirahat, senyum yang ia berikan kepada anak-anak terasa jauh lebih berat, karena ia membawa masalah dari rumah lamanya ke dalam kehidupan barunya.

...****************...

1
Emily
Alana gak tau malu
Emily
walau gak berdarah kan pasti rasanya beda
Anam
Semangat update thor
Nina Melliana
laki2 pengecut pake ngadu ke ibunya, weuleuh mending pisah rmh sm mertua , niken.
Nina Melliana
betul gk kesucian diukur dg darah, itu cm mitos, yg penting " kepercayaan" , jaman sdh canggih, soal darah bisa dibuat ( dioprasi) bisa ber " kali" perawan 🤣
Kale Ganindra Awan
lanjut terus thor
Kale Ganindra Awan
kak Thor jngn sampai ada pelakor dlm pernikahan Danendra dn Niken,,hempaskn Alana jauh" thor
Kale Ganindra Awan
kisah ini sprti kisahku,,mlm pertama istriku tk meneteskn darah,,tp aku lihat dia sangat kesakitan,,bedanya aku tk perna menanyakn pda istriku tentang hal itu,,dn aku coba tanya ke temanku yg berprofesi dokter kandungan,,mmng sejatinya ada wanita yg tk mengeluarkan darah saat mlm pertama,,karena bentuk selaput dara yg menyerupai cincin,,
Kale Ganindra Awan
semoga pernikahanmu kekal tanpa ada orang ketiga
Kale Ganindra Awan
seharusnya nih ya Daren,,kau tak perlu cerita ke ibu mu,masalah mlm pertama mu ,,kau sekolah tinggi percuma,jika ilmu cetek,,baca buku,,tanya dokter,jngn langsung menuduh niken yg bukan",,dasar kau Daren
Emily: iya geram sih lakik gak bisa jaga Marwah istri
total 1 replies
Kale Ganindra Awan
berarti si Danen sdh cerita ke orang tuanya soal mlm pertamanya,,,laki"mulut lemes
Kale Ganindra Awan
mulai para penggibah dn profokator menunjukkan muka
Kale Ganindra Awan
hanya laki"picik dn tidak berpikir rasional,jika mlm pertama harus ada tetes darah perawan, ,,
Kale Ganindra Awan
memang laki" picik jika malam pertama harus identik dengan adanya tetesan darah perawan, gk pernah sklh atau baca buku kan suaminya,,,kayaknya seru nih novelnya,,
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!