NovelToon NovelToon
Cewe Cegil Vs CEO Dingin

Cewe Cegil Vs CEO Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / CEO / Nikah Kontrak
Popularitas:5.7k
Nilai: 5
Nama Author: Nalara amora

"Apa gunanya menjadi istri CEO kalau hatinya saja sedingin es kutub?"

Hidup Aratala Arasunya Grita tak pernah mudah. Sejak kecil di panti asuhan hingga berjuang demi biaya kuliah semester dua, Aratala sudah kenyang dengan kerasnya hidup. Namun, sebuah insiden sepeda listrik mempertemukannya dengan seorang wanita elegan—yang secara mengejutkan memintanya menjadi istri anaknya.

Elio Lerian Raymond, CEO muda yang dingin dan ceplas-ceplos, bukanlah pria yang mudah ditaklukkan. Awalnya Aratala menolak, namun angka fantastis yang ditawarkan mampu membungkam egonya.
Lagipula, ini cuma kontrak, pikir Aratala.
Namun, bagaimana jika pernikahan atas dasar kontrak dan kebutuhan biaya panti ini justru membawanya ke dalam pusaran perasaan yang tidak pernah ia rencanakan? Apalagi saat sang CEO mulai menunjukkan sisi posesifnya yang tak terduga.

Selamat datang di kehidupan penuh drama antara Cewe Cegil vs CEO dingin

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nalara amora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

secerah harapan di panti

Mobil sedan putih yang dikemudikan Aratala berbelok pelan memasuki halaman Panti Asuhan Kasih Sari. Suasana di tempat itu masih sama seperti terakhir kali ia datangi—sederhana, hangat, dan dipenuhi suara tawa anak-anak berlarian di halaman depan.

Begitu mesin mobil dimatikan, pintu terbuka dan Aratala langsung melangkah keluar. Ia sempat meringis kecil saat tarikan napasnya tidak sengaja menekan otot perutnya yang masih ngilu, tetapi rasa sakit itu ia abaikan begitu saja. Demi Riyah, ia bisa menahan segalanya.

"Kak Tala!"

Teriakan nyaring itu memecah lamunannya. Belum sempat Aratala menutup pintu mobil, sesosok anak perempuan berambut kepang dua berlari kencang ke arahnya, disusul oleh beberapa anak lain yang langsung menghambur memeluk kakinya.

"Hati-hati, sayang. Jangan lari-lari," ucap Aratala lembut sambil berjongkok, merentangkan tangan untuk menyambut pelukan hangat anak-anak panti yang selalu berhasil menjadi penawar lelahnya.

Dari teras utama, Bi Nisa berjalan menghampiri dengan senyum teduh yang terukir di wajah keriputnya. Wanita paruh baya itu menyeka kedua tangannya ke kain lap kotak-kotak yang terselip di pinggang roknya.

"Astaga, Aratala... Bibi kira kamu batal datang karena pesanmu kemarin bilang kurang sehat," kata Bi Nisa begitu tiba di dekat mereka, matanya menatap lekat wajah pucat Aratala dengan sejumput kekhawatiran khas seorang ibu. "Badanmu kurusan, Nak. Pucat banget. Yakin nggak apa-apa perjalanan jauh nyetir sendiri?"

Aratala tersenyum manis, berusaha menyembunyikan segala kekacauan yang baru saja ia lewati tiga hari belakangan di rumah Elio. Ia berdiri tegak, lalu merangkul pundak Bi Nisa dengan penuh kehangatan.

"Aku baik-baik saja, Bi. Cuma masuk angin biasa kok, makanya baru sempat ke sini hari ini sesuai janjiku," dusta Aratala halus. Ia menoleh pada anak-anak kecil yang masih mengerubunginya. "Mana Riyah? Dari tadi aku nggak lihat si kecil aktif itu."

Wajah Bi Nisa yang tadinya semringah mendadak sedikit meredup. Ia menghela napas berat, membuat debaran di dada Aratala langsung berubah menjadi kepanikan senyap.

"Riyah ada di kamarnya, Nak. Sejak kemarin malam demamnya naik lagi, napasnya agak sesak karena kecapekan habis main kemarin. Dokter klinik langganan panti bilang... operasinya benar-benar nggak boleh ditunda lebih lama lagi kalau kita mau selamatkan kondisi jantungnya."

Aratala mengepalkan kedua tangannya erat-erat di balik saku mantelnya. Tekadnya semakin membara. uang hasil "pemerasan" dari Elio dan black card tanpa batas di dalam tasnya adalah jawaban atas doa-doa mereka hari ini.

"Tenang, Bi. Biar aku yang urus semuanya sekarang," ucap Aratala dengan suara tegas dan penuh keyakinan, menepis segala keraguan di hati Bi Nisa.

Mendengar ucapan mantap Aratala, Bi Nisa justru menggelengkan kepalanya pelan. Wanita paruh baya itu meraih tangan Aratala dan menggenggamnya erat, seolah ingin menyalurkan ketenangan sekaligus beban berat yang selama ini ia pendam sendiri.

"Jangan ngawur, Nak," ucap Bi Nisa dengan nada lembut namun sarat akan kekhawatiran. "Bibi tahu kamu sekarang sudah menikah dan punya kehidupan sendiri bersama suamimu. Biaya operasi jantung Riyah itu nggak sedikit, Aratala. Ratusan juta... Bibi nggak mau kehadiran Bibi dan anak-anak panti malah jadi beban buat rumah tangga kamu."

Bi Nisa menghela napas panjang, matanya menerawang menatap pintu kamar di ujung lorong panti.

"Bibi tahu kamu selalu pengin nolong, tapi Bibi nggak mau kamu sampai bertengkar sama suamimu atau minjam uang ke sana ke mari cuma buat kami. Biar Bibi coba cari cara lain, mungkin cicil ke pihak rumah sakit atau minta keringanan—"

"Bi, stop." Aratala memotong ucapan Bi Nisa dengan senyuman paling tulus yang bisa ia berikan. Ia balas meremas tangan tua itu dengan penuh keyakinan.

Aratala tersenyum kecut dalam hati. Kalau Bi Nisa tahu uang ratusan juta itu baru saja ia 'peras' dari pria tiran bernama Elio, wanita tua ini mungkin akan pingsan di tempat. Tapi tentu saja Aratala tidak boleh jujur soal asal-usul uang panas tersebut.

"Bibi nggak usah pusing mikirin darimana uangnya datang, dan Bibi nggak perlu utang ke sana ke mari," kata Aratala tegas, matanya menatap lurus manik mata Bi Nisa. "Uang operasinya sudah ada. Semuanya sudah siap, Bi. ini rezeki halal—meski jalannya agak dramatis sedikit." Aratala terkekeh pelan di akhir kalimat untuk mencairkan suasana.

"Tapi, Aratala—"

"Pokoknya nggak ada penolakan, Bi Nisa sayang," potong Aratala lagi sambil merangkul pundak wanita itu dan membimbingnya melangkah masuk ke dalam panti. "Sekarang, antar aku nemuin Riyah. Kita ke rumah sakitnya hari ini juga, biar bocah kesayangan kita itu bisa cepat sembuh dan lari-larian lagi."

Bi Nisa terpaku, menatap wajah Aratala yang memancarkan keyakinan mutlak tanpa celah. Ada kilatan air mata yang seketika menggenang di pelupuk mata wanita paruh baya itu. Selama berbulan-bulan ia bergulat dengan rasa putus asa memikirkan biaya medis Riyah, dan kini, dalam sekejap, beban itu seolah diangkat begitu saja oleh kehadiran Aratala.

Dengan tangan yang sedikit bergetar, Bi Nisa mengangguk pelan. Ia tidak lagi mampu membendung rasa harunya. "Makasih, Nak... Makasih banyak. Kamu selalu jadi malaikat penolong buat panti ini," bisiknya lirih sambil menepuk punggung tangan Aratala.

"Udah, jangan melow gitu, dong. Nanti cantiknya Bi Nisa luntur," canda Aratala, sengaja mencairkan suasana agar Bi Nisa tidak terlalu hanyut dalam emosi.

🌴🌴🌴

Keduanya kemudian berjalan beriringan menyusuri lorong panti hingga berhenti di sebuah kamar sederhana bercat dinding hijau muda. Pintu kamar itu terbuka sedikit. Dari celahnya, Aratala bisa melihat sesosok anak perempuan berambut ikal pendek tengah berbaring lemah di atas ranjang kecil. Wajah mungil itu tampak pucat pasi, dengan selang oksigen tipis yang melintang di bawah hidungnya. Napasnya terdengar pendek-pendek dan berat.

Hati Aratala seperti dicubit kuat-kuat melihat pemandangan itu. Segala luka fisik dan rasa jijik akibat perlakuan Elio beberapa hari lalu mendadak terasa tidak ada apa-apanya dibanding penderitaan yang harus ditanggung oleh bocah tak berdosa ini.

Aratala mendorong pintu lebih lebar, lalu melangkah masuk dengan senyuman paling ceria yang bisa ia pasang di wajahnya.

"Halo, Pahlawan Kecilku!" sapa Aratala dengan suara riang, sengaja dibuat-buat agar tidak terdengar sedih.

Mendengar suara itu, mata Riyah yang tadinya terpejam perlahan terbuka. Bibir kecilnya yang kering merekah membentuk senyuman lemah begitu melihat siapa yang datang.

"Kak... Tala..." panggil Riyah dengan suara parau dan berbisik.

Aratala langsung berlutut di sisi ranjang, menggenggam tangan mungil Riyah yang terasa begitu dingin di dalam genggamannya. Ia mengecup punggung tangan anak itu penuh sayang, lalu berbisik lembut, "Maaf ya Kakak baru datang sekarang. Tapi tenang aja, mulai hari ini Riyah nggak usah nahan sakit lagi. Kita bakal ke dokter, operasi, terus habis itu Riyah bisa main lompat tali lagi sama temen-temen. Janji, ya?"

Riyah mengangguk lemah, memberikan secercah harapan di tengah ruangan yang sunyi itu.

Aratala berdiri tegak, lalu menatap Bi Nisa yang berdiri di ambang pintu dengan tatapan penuh tekad. Ponsel di dalam saku mantelnya terasa bergetar pelan—sebuah notifikasi pesan masuk yang diabaikannya begitu saja. Ia tidak peduli siapa yang mengirim pesan, entah itu dari asisten rumah tangga di sayap utara atau bahkan dari Elio sendiri.

Yang ada di prioritas utamanya saat ini hanya satu: membawa Riyah ke rumah sakit terbaik hari ini juga, menggunakan setiap sen uang yang berhasil ia peras dari sang suami kontrak.

🌴🌴🌴

1
Tio Buki
Like iklan plus komen🙏👍
Nalara amora: makasihhh kaaa😭🙏
total 1 replies
Tio Buki
Semangat ya👍👍
Nalara amora: kaka juga semangat 🙏🤌🏻
total 1 replies
Tio Buki
Lanjut Thor 🙏🙏🙏
Nalara amora: iyaa kaaa😭
total 1 replies
Tio Buki
Iya
Tio Buki
Aku memang gila
Tio Buki
🤣🤣🤣🤣🤣
Tio Buki
Bahasa apa itu
Nalara amora: kaaaa😭😭🙏
total 1 replies
Tio Buki
Iya, sebentar
Tio Buki
Siapa panggil aku
Tio Buki
Nah betul kan
Nalara amora: apa ka yg bentuknya nihh🤣
total 1 replies
Tio Buki
Ngintip ya
Tio Buki
Jangan, iya
Nalara amora: kaaa😭
total 1 replies
Tio Buki
Tekan lah
Lasa Hardianti
Hati-hati loh Aratala ntar di hukum sma Elio cma gara-gara telpon nya ga diangkat /Facepalm/
Lasa Hardianti
Posesif amat sih Mas Elio/Facepalm/
Lasa Hardianti
Elio takut Bastian jadi saingannya/Chuckle/
Nalara amora: hehehe😭😭
total 1 replies
Lasa Hardianti
Cailah sa ae lu Elio bikin Aratala salting brutal🤣
Nalara amora: bisaa donk kaa🤭
total 1 replies
OlivéNoir
HUAAAHH PRIA MATANG
Nalara amora: pria matang 😭
total 1 replies
Lasa Hardianti
Loh berarti orang tua kandung Aratala kemana dong? Kok dia malah dibesarin di panti asuhan, ada backstory sedih kayaknya nih 😢
Nalara amora: hheeheh kaa😄
total 5 replies
Lasa Hardianti
Ku kira bakal jadi pacar ternyata langsung gas jadi istrinya, ibunya gercep juga/Chuckle/
Nalara amora: gecep bgt ka ini mahh 😭😭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!