NovelToon NovelToon
Terjebak Cinta Sang Arjuna Langit

Terjebak Cinta Sang Arjuna Langit

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:305
Nilai: 5
Nama Author: chocomint09

Di kehidupan yang hanya sekali ini, tentu menikahi orang yang dicintai dan mencintai diri kita juga adalah impian semua orang. Laila pun begitu, gadis manja dan ceria itu selalu menyematkan do'a terbaik untuk kehidupan cintanya. Namun, wasiat Ibunya dan permintaan Ayah yang tak bisa ia tolak memaksa Laila untuk menikah dengan laki-laki yang bahkan jauh dari tipenya.

Siapakah sosok lelaki yang dijodohkan dengan Laila?

Apakah bisa Laila melewati perjodohan dan menjalani kehidupan pernikahan tanpa cinta?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon chocomint09, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Yakin?

Pagi itu Laila sudah disibukkan dengan mengurus kepulangan Ayahnya pulang dari rumah sakit. Setelah perawatan dari koma beberapa hari, Ayah Laila sudah dibolehkan pulang dengan syarat yang ketat dari dokter.

"Pi, habis ini jangan banyak pikiran lagi ya. Obatnya juga diminum rutin," ucap Laila sembari tangannya memasukkan beberapa barang milik Ayahnya ke dalam tas.

"Iya iya, Papi tau kok," balas Dirga. Setelah tidak mendengar kecerewetan lagi dari putrinya, akhirnya Dirga bisa mendengar itu hari ini.

Saat hendak turun dari kasurnya Dirga dicegah cepat oleh Laila.

"E..eh Pi mau ngapain sih?" tanya Laila yang refleks mendekati Ayahnya.

"Mau turunlah ndok," balas Dirga sembari kembali mencoba turun.

"Ohh Papi mau ke toilet ya?" tanya Laila.

"Enggak, kita kan mau pulang, ya Papi mau jalan nanti sampe lobi," jelas Dirga.

"No no ya Pi, nanti si Arjuna itu bakal bawain-"

Kriettt!

Suara pintu terbuka memecah perdebatan ayah dan anak itu.

"Nah itu orangnya udah dateng," cetus Laila.

Sudah ada Arjuna yang mendorong kursi roda masuk ke ruangan.

"Apaan sih pake kursi roda segala, Papi ini masih kuat jalan ya," tolak Dirga.

"Pi, Papi itu belum lama sadar dari koma, pasti butuh penyesuaian lagi buat bener-bener kuat jalan jarak jauh. Jadi sebelum itu harus pake kursi roda dulu buat turun ke lobi," jelas Laila.

"Tapi ndok kan-"

"Eitss... udah nurut sekali-kali sama anak Pi," paksa Laila.

Dirga tak punya pilihan lain selain menuruti putri kesayangannya itu.

Perjalanan pulang diselimuti keheningan, hanya ada obrolan antara Dirga dan Arjuna sesekali yang mencoba mencairkan suasana.

Sesampainya di rumah Laila tak banyak bicara, ia membereskan semua barang Ayahnya dan masuk ke dalam kamar meninggalkan Dirga dan Arjuna begitu saja.

"Maafkan sikap Laila ya Nak Juna," ujar Dirga.

"Ndak apa Om Dirga, saya paham."

"Jadi kapan kamu akan memproses nikah kantor kalian Nak Juna?" tanya Dirga.

"Secepatnya Om," balas Arjuna.

"Besok saja Nak Juna, lebih cepat lebih baik. Lagipula banyak yang akan kalian urus nanti," saran Dirga.

"Baik Om, besok saya akan kemari untuk menjemput Dek Laila," ujar Arjuna.

Selang beberapa menit mengobrol Arjuna pamit untuk pulang ke rumahnya, ia pun beberapa hari ini belum sempat pulang, entah seperti apa keadaan rumahnya saat ini.

...****************...

Suasana kamar Laila terasa begitu tenang malam itu. Lampu meja yang temaram memendarkan cahaya kekuningan, menciptakan siluet hangat di dinding kamar yang didominasi warna pastel. Di atas tempat tidur, Laila duduk bersila sambil memainkan ujung selimutnya, sementara Dirga ayahnya duduk di kursi belajar yang sengaja diputar menghadap sang putri.

Dirga memandangi putrinya dengan tatapan yang sulit diartikan. Ada kelegaan, namun juga sejuta tanya yang menggantung di kepalanya.

"Laila," panggil Dirga lembut, memecah keheningan yang sempat merayap di antara mereka.

"Papi sengaja masuk ke kamarmu karena Papi mau bicara dari hati ke hati. Tanpa ada tekanan dari siapa pun."

Laila mendongak, menatap mata teduh ayahnya. "Iya, Pi. Ada apa?"

Dirga membetulkan posisi duduknya, menumpukan kedua lengan di lutut sambil condong ke depan.

"Baru dua minggu yang lalu, kamu menangis dan bersikeras menolak perjodohanmu dengan Arjuna. Kamu bilang Papi egois karena menjodohkanmu. Tapi kemarin kamu bilang kamu bersedia. Papi hanya ingin memastikan, apakah ini murni keputusanmu, atau kamu hanya sedang mengalah?"

Laila menghela napas panjang. Ia menunduk sebentar, melihat jemarinya yang saling bertautan, lalu kembali menatap wajah ayahnya yang mulai dihiasi garis-garis penuaan. Dan ingatan beberapa hari lalu saat melihat ayahnya terbaring lemah kembali datang.

"Laila nggak lagi ngalah kok Pi. Laila serius dengan ucapan Laila kemarin," jelas Laila singkat.

Dirga mengernyitkan alisnya, sedikit sangsi. "Laila, Papi tahu betul sifatmu. Kamu bukan tipe orang yang mudah berubah pikiran dalam singkat tanpa alasan yang kuat. Apa yang membuatmu berbalik arah, Ndok? Tolong jujur sama Papi."

Laila tersenyum tipis, sebuah senyuman yang terlihat lebih dewasa dari biasanya. "Sederhana aja Pi jawabannya, Laila bisa liat ketulusan Arjuna sama Laila."

"Ketulusan? dari mana kamu bisa melihat ketulusan itu dan menyadarinya dalam waktu singkat Laila?" cecar Dirga, karena masih belum yakin dengan putrinya itu.

"Waktu di Bali," jawab Laila.

"Di Bali?"

"Awalnya Laila emang terganggu sama adanya Arjuna yang ikut ke Bali. Tapi justru saat di Bali beberapa hari itu Laila bisa lihat ketulusan dari Arjuna ke Laila," jelas Laila lagi.

Dirga terdiam mendengarkan penjelasan panjang lebar putrinya. Rasa cemas yang mengganjal di dadanya sejak putrinya itu mengatakan menerima perjodohan perlahan sirna, digantikan oleh rasa hangat yang membuncah. Ia berdiri dari kursinya, melangkah mendekat, lalu duduk di tepi tempat tidur dan mengusap rambut Laila dengan penuh kasih sayang.

"La, Papi harap kamu jujur sama jawabanmu itu dan nanti bisa menjalankan pernikahan ini dengan bahagia," ujar Dirga.

Laila memeluk ayahnya erat, hatinya tidak tenang karena berbohong kepada ayahnya tentang apa yang sebenarnya ia rasakan. Jauh di dalam sana ia tahu dirinya menolak keras perjodohan ini, namun tak akan ia biarkan lagi dirinya menjadi sumber dari stres ayahnya. Di dalam kamar yang tenang itu, sebuah lembaran baru di hidup Laila yang dilandasi dengan kebohongan besar akan segera dimulai.

Sesaat setelah kepergian ayahnya meninggal kamar, Laila mengambil ponselnya yang ia letakkan sembarangan di bawah bantal karena terkejut oleh kedatangan ayahnya tadi. Ia mendekatkan ponsel itu ke telinga.

"Kamu masih di sana kan sayang?" tanya Laila.

"Iya, aku masih di sini sayang. Aku denger semuanya obrolan kamu sama Papimu tadi," ucap Devan.

"Emm... sayang, kamu yakin sama pernikahan itu. Apa harus sampe segitunya kamu bohong demi Papi kamu. Dengan ngerelain kebahagiaan kamu sendiri begini?" tanya Devan mencoba meyakinkan Laila lagi akan pilihannya.

"Iya sayang aku yakin banget sama pilihanku, hanya ini satu-satunya jalan keluar supaya aku nggak lagi jadi beban pikiran Papi," ucap Laila yakin.

"Oke sayang aku selalu di sini dukung kamu apapun itu pilihan kamu," tutup Devan.

"Makasih ya sayang buat selalu ada di setiap langkah aku dan terus dukung aku apapun pilihan aku," ucap Laila.

"Always sayang, i love you."

"Love you too sayang." Laila menutup teleponnya.

Tok... tok... tok...

Suara ketukan pintu mengejutkan Laila.

"Masuk Pi," ujar Laila.

"Ada apa lagi ya Pi?" tanya Laila.

"Kamu tadi ngobrol sama siapa La? gak kedengeran jelas sih tapi Papi bisa denger sayup-sayup."

"Ohh itu...Emmm itu, tadi telponan sama Tasya," jawab Laila gugup.

"Tasya?"

"Iya itu sahabat aku Pi, masa Papi lupa."

"Papi tau sama Tasyanya, tapi ngobrolin apa sih udah hampir tengah malem gini?" tanya Dirga.

"Ee... itu."

"Kayaknya seru banget, hehehe," ucap Dirga dikuti suara kekehannya.

"Yaudah ini Papi tadi lupa bilang sama kamu, besok Arjuna ngajak kamu buat ngurusin pernikahan kantor kamu sama dia, jadi besok Lala siap-siap ya," ujar Dirga.

"Ohh iya Pi, besok Laila sempetin waktu," balas Laila.

"Loh kok disempetin sih, emangnya Lala udah ada janji sama siapa besok?" tanya Dirga.

"Tasya sama Keira Pi," jawab Laila, dan yap kedua sahabatnya menjadi kambing hitam Laila untuk menghindari besok bertemu Arjuna.

"Gak bisa dipindahkan lain waktu saja ndok, soalnya besok kalian bakal seharian sibuk ngurus berkas ini itu loh ndok," ujar Dirga.

"Iya deh, besok Laila kosongin waktu full," ucap Laila malas.

...Bersambung......

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!