NovelToon NovelToon
27 Hari Setelah Melahirkan

27 Hari Setelah Melahirkan

Status: tamat
Genre:Romansa pedesaan / Cerai / Ibu susu / Tamat
Popularitas:859k
Nilai: 4.9
Nama Author: Septi.sari

Ibarat luka jahitan saja belum sepenuhnya kering. Tepat 27 hari setelah kematian bayinya, Hana dikejutkan dengan surat gugatan cerai yang Dzaki layangkan untuknya.

Status Whatsaap Mona-sahabat Hana, tertulis "First day honeymoon". Dan Hana yakin betul, pria menghadap belakang yang tengah Mona ajak foto itu adalah suaminya-Dzaki.

Sudah cukup!

Hana usap kasar air matanya. Memutuskan keluar dari rumah. Kepergian Hana menjadi pertemuanya dengan sosok bayi mungil yang tengah dehidrasi akibat kekurangan Asi. Dengan suka rela Hana menyumbangkan Asinya pada bocah bernama~Keira, bayi berusia 2 bulan yang di tinggalkan begitu saja oleh Ibunya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Septi.sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19

Hana berdehem kecil, lalu menerima mikrofon dari petugas, dan siap dengan wajah tenang mulai berkata, "Saya hanya ingin meluruskan jika semua tuduhan itu, tidak benar adanya, Hakim Ketua. Namun disini saya tidak ingin menambah runyam permasalahan yang terjadi. Padahal, pada kenyataanya dari tanggal 2, putri saya yang baru lahir itu di nyatakan meninggal hari itu juga. Selama 27 hari, saya masih dalam keadaan nifas, dan belum dapat merawat diri, atau sekedar meng'iyakan' permintaan Penggugat untuk berhubungan badan. Namun usut punya usut, pihak tergugat malah ada main dengan sahabat saya sendiri," Hana menatap Dzaki sejenak. "Bukan begitu, Pak Dzaki yang terhormat?!"

Dzaki menegang, begitu keluarganya yang datang.

Hana kembali menatap Hakim Ketua. "Bahkan, selama saya mengalami masa nifas itu, suami saya sangat jarang pulang ke rumah dengan alasan penampilan saya yang kurang menarik. Tapi setelah saya tahu yang sebenarnya, itu sudah cukup, dan memang berpisah menjadi jalan satu-satunya yang kami pilih."

Hakim Ketua manggut-manggut. Wajahnya serius, sorot matanya menatap dengan kuat. "Anda dapat memproses perselingkuhan itu menjadi pidana, sesuai undang-undang yang tertulis," timpalnya.

Hana menggelengkan kepala lemah. "Rencana saya awalnya memang seperti itu, namun ketika penggugat sudah melayangkan surat cerainya... Saya rasa, memperpanjang masalah hanya akan membuang waktu saya saja. Saya tetap ingin bercerai, apapun yang terjadi!"

Dzaki sudah mengepalkan tanganya bertumpu pada sisi kursi. Ia bagaikan maling yang tertangkap di siang bolong.

Hakim Ketua beralih kearah Dzaki. Wajah pria itu gelisah, sejak tadi bahkan sesekali menghembuskan napas kecil demi mengurangi rasa gemetarnya.

"Saudara Dzaki, Anda saat ini masih dapat bernapas bebas, sebab Istri Anda tidak melaporkan perselingkuhan-"

Tiba-tiba saja ucapan Ketua Hakim di serobot oleh Bu Diah. "Maaf, Hakim ketua... Disini saya hanya mau menjelaskan, bahwa putra saya tidak pernah berselingkuh selama menjadi suami dia!" tunjuknya tajam kearah Hana.

Dan seketika, ruangan itu mendadak tegang.

Madha yang duduk disebrang, sejak tadi sudah menggeretakan rahangnya menatap hal anarkis yang keluarga Dzaki lakukan.

Tok!

"Ibu, Anda harap tenang! Pihak keluarga tidak di perkenankan mengcampuri jalanya sidang. Meskipun putra Anda sendiri!" Hakim Ketua menatap kesal, bahkan sampai mengetukan palunya satu kali.

Hana hanya tersenyum miring menatap keluarga mantan suaminya itu, yang sangat memalukan. "Dasar nggak tahu malu," cibir batinnya.

Selama hampir 15 menit itu, akhirnya sidang berjalan lancar kembali. Hana yang sudah ihklas, dan memohon agar segera mendapat ketukan palu, kini kembali lagi membuka suara.

"Dan untuk masalah gugatan nafkah, saya tidak meminta banyak, Hakim Ketua. Saya hanya ingin mempertahankan apa yang menjadi milik pribadi saya saja!" seru Hana kembali menegakan wajahnya.

Hakim ketua beralih menatap Dzaki. "Saudara Dzaki, sesuai yang tertulis, apakah Anda memang berniat memberikan rumah itu sebagai kompensasi perceraian?!"

Dzaki mengangguk patuh. "Meskipun dalam rumah itu saya juga ikut andil mengisi barang-barangnya, namun saya ihklas memberikanya sebagai kompensasi, Hakim Ketua."

Hana tersenyum miring, merasa malu sendiri dengan kalimat ngelindur suaminya.

Sementara Bu Diah, wanita tua itu sudah bangkit. Wajahnya merah padam, napasnya mulai naik turun merasa tidak terima.

"Saya tidak setuju, Hakim Ketua!" sahutnya dengan suara lantang. Bu Diah sama sekali sudah tebal wajah, merasa acuh di tatap banyaknya orang. "Rumah yang di huni Hana saat ini, itu semua atas hasil jerih payah putra saya. Dan... Saya sebagai Ibunya meminta harta gono gini, sebab diantara keduanya tidak memiliki putri sebagai penguat!"

Hakim Ketua itu sampai mengernyit, merasa baru kali ini menemukan client yang sebegitu kerasnya mambahas harta gono gini.

"Bu, tapi disini sudah tertulis, jika putra Anda memberikan rumah itu sebagai bentuk kompensasi," jawab Hakim Ketua dengan tegas.

Madha, pria itu baru bangkit setelah mengambil mikrofon diatas meja. Ia yang sejak tadi diam menyimak, lidahnya menggeliat ketika mendengar kalimat-kalimat gila dari mantan mertua sang adik.

"Maaf, saya menyahut ucapan Bu Diah. Disini, saya sebagai walinya saudari Hana, hanya ingin MELURUSKAN saja!" tekan Madha. Wajahnya tenang, namun sorot matanya tak terpengaruh. "Rumah yang di huni kedua belah pihak itu, murni hadiah dari saya atas pernikahan adik saya-Hana. Dan, tidak ada uang serupiah pun dari pihak penggugat. Jadi, jika Bu Diah meminta harta gono gini, saya rasa itu seperti lelucon saja. Bu... Apa Anda tidak malu?!" tandas Madha tersenyum miring. "Terimakasih!" barulah setelah itu dirinya duduk kembali.

Keyla menarik pundak Ibunya agar duduk kembali. Meskipun hati Bu Diah terasa panas, namun tetap saja keinginannya itu bagaikan galian sumur yang tak ada habisnya--Hanya terlihat sia-sia.

Dzaki tertunduk diam.

"Untuk jalanya sidang ini, saya tegaskan PUTUS hari ini juga!"

Tok!

Hana menghembuskan napas lega. Ia menatap sang Kakak dengan senyum simpul menantinya.

Setelah bertanda tangan, Hana bersama sang Kakak saling bersalaman pada pihak Hakim, dan bergegas keluar terlebih dulu.

Melihat itu, Dzaki bergegas mengejar mantan Istrinya keluar.

"Hana, tunggu sebentar!" Dzaki berhasil menahan lengan Istrinya.

Hana menoleh, menarik kasar tanganya, lalu melipatnya di dada. "Ada apa lagi? Masih belum terima tentang harta gono gini?"

Dzaki menggelengkan kepala lemah. Wajahnya bagaikan orang yang menahan rasa sesal. "Hana... Setidaknya kita masih bisa tetap berkomunikasi setelah ini."

Hana berdecih. Senyumnya hambar, merasa sakit bercampur benci. "Ingat, Dzaki! Begitu sudah memutuskan cerai, maka di masa mendatang, kita hanyalah orang asing! Tidak adalagi basa basi apalagi komunikasi!" tekan Hana dengan suara beratnya. "Dan semoga saja kamu tidak menyesal sudah melepaskan aku!"

Tangan Hana kembali di tarik oleh kakaknya, lalu segera pergi dari hadapan pengkhianat itu.

Dzaki hanya mengepalkan tanganya dalam. Wajahnya menahan rasa kecewa, namun batinya bergolak ingin secepatnya melupakan Hana.

Didalam mobil itu, Hana menyandarkan punggungnya, benar-benar merasa lega tak berdasar. Namun, dibalik matanya terpejam kini, baru saja ia melihat puing-puing hatinya yang tertiup angin. Rasa lega bercampur sesag, menciptakan kesan lemas yang cukup menguras tenaganya.

"Han, setelah ini... Kamu jangan lagi memikirkan tentang pria bejad itu. Fokus lah menata diri dan hidupmu. Mas yakin, setelah badai, pasti akan muncul pelangi. Jadi, tetap lah bersemangat!" seru Madha memberi semangat.

Hana menoleh, wajahnya sudah benar-benar merasa ikhlas. Senyum diwajahnya juga telihat damai.

"Pasti kalau itu, Mas! Aku akan fokus lagi buat masa depanku. Makasih ya, Mas...."

Madha mengangguk, sambil mengusap lembut kepala adiknya.

"Mas Madha nggak boleh tahu kalau aku bekerja. Dia pasti akan marah, karena masa nifasku saja belum selesai," Hana menutupinya dengan senyuman.

Sementar di lain tempat.

Bu Diah masih merasa tak terima dengan keputusan hakim tentang harta goni gini itu. "Kamu ini gimana sih, Dzaki! Seharusnya kamu menuntut gono gini sama Hana! Kan lumayan meskipun hanya dapet 10 atau 20 juta. Lagian ya... Ibu ini butuh duit untuk merangkap arisan Ibu bulan lalu!"

Dzaki tak menghiraukan. Pria itu lebih memilih masuk begitu saja kedalam mobil, lalu bergegas pergi dari pengadilan.

Sementara Diah, wanita tua itu merasa kesal putranya tak lagi seperhatian dulu. "Bu... Ayo kita pulang! Nggak ada gunanya kita datang kesini kalau nggak menghasilkan," gadis berusia 20 tahun itu menekuk wajahnya.

Bu Diah hanya mampu menahan napas berat. "Kamu tenang aja, nanti biar Ibu bicara sama Mona. Ibu yakin, uangnya Dzaki sekarang dia yang pegang. Udah, ayo pulang!"

...----------------...

1
Rina Anggraeni
bagus cerita nya ..ga byk drama yg berkepanjangan .yg penting happy ending semuanya ...visual ny cocok cantik n ganteng meaki lokal 🤭💕💕💕
Ig:@septi.sari21: makasih kak rina atas dukunganya😍🙏
total 1 replies
guntur 1609
aneh. masa org gak bisa menolak lamaran orang
guntur 1609
jangan bilang adiknya lukman nanti suka sama madha🤭🤭
guntur 1609
dasar Tono gila. yg hamilin kan dia. seharusnya dia lah yg harus disalahkan
guntur 1609
mngkn jodoh sanas si lukman x
guntur 1609
kkwkwk🤣🤣🤣 kena pancing kau kan
Anonim
veritanya agak ngaco, banyak tokoh muncul tapi sosik ayah dari keduanya ga muncul2
guntur 1609
beghhh rupanya aprilia mamanya si anak yg jadi pebinor
guntur 1609
brti danish nya ja yg bodoh. Sioe ghianat pandu gak ada hak lagi sama kalian. semenjak dia selingkuh. jadi kno semua permintaanya kau turuti
guntur 1609
kkwkw🤣🤣🤣 ada yg mulai cemburu
guntur 1609
loh kok langsung putusan. seharusnya kan ada mediasi. dan yg lainya. maximal 3 kali pertemuan kalau gak salah
Lies Atikah
yang dicinta tetap mantan walau bertepuk sebelah tangan kasian si bodoh Danis gak jelas loh mash mepet2 sama mantan gliran si Hanna sama laki lain marah cemburu sakit sendiri dasar lemot berengsek lagi si hana juga bego kaya gak ada laki lain aja
guntur 1609
gak tahu ja kau nyet.. kesuksesan mu tu karna dia hana istrimu. bukan karna si lacur mona
guntur 1609
ia.... sih mona tu teman penghianat mu. dia selingkuh sm laki mu yg tingkahnya sprti binatang
Delia ATA
ya ampun, punya suami yang cuma lihat tampang auto stres perempuan. Astoge
Nasiati
🤣🤣🤣kepanasan kamu zaki
Andi Sofian
Mantap
Eomma azqi
dengerin hana tuh kata kk nya gk usah berharap sama laki² bejat kek dy lg
Eomma azqi
dasar laki pea klw manis di awal pacaran ama nikah doang giliran kelamaan malah banding²in bini nya ama orng laen pea klw udh gk suka jgn suka banding²in klw mau selengki selegki aja jgn nyari kesalahan bini yg baik
Nina Rochaeny
adat apaan sihhh...Hana juga ga bisa tegas
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!