Impian yang dibangun Luna selama bertahun-tahun bersama kekasihnya harus kandas.
Kekasihnya itu pamit tanpa memberikan alasan yang dapat dimengerti.
Luna hancur, padahal kekasihnya itu sudah berjanji akan mengenalkannya pada keluarga besar sang kekasih, setelah ia lulus kuliah.
Tapi malang tak dapat ditolak, kekasihnya itu membatalkan janji dan sumpahnya, tepat sebulan sebelum kelulusan Luna.
Setelah beberapa tahun berlalu, pria yang dulu membuat Luna patah hati kembali datang ke hidupnya.
Luna muak dan semakin membenci pria tersebut.
Akankah cinta Luna tumbuh kembali?
Atau Luna salah mengerti kenyataan? Karena ini adalah cinta yang baru.
Follow ig @poel_story27
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Poel Story27, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Terusir
Setelah mengutarakan niatnya untuk batal menikahi Luna, Tuan Daniel segera berdiri dan mengajak bodyguardnya untuk pulang.
Papi Luna langsung bergerak untuk mencegah kepergian Tuan Daniel. Jika pernikahan ini batal, tentu bantuan yang dijanjikan Tuan Daniel untuk perusahaannya akan batal juga, dan ini akan membuatnya terancam menjadi gelandangan.
"Tuan Daniel. Tunggu sebentar, aku berjanji akan membujuk putriku. Dia tidak akan berani melakukan hal buruk padamu." Papi Luna menghalangi langkah Tuan Daniel.
"Minggir, aku sudak tidak berniat menikahi putrimu!" seru Tuan Daniel.
Dia memerintahkan bodyguardnya untuk menyingkirkan papi Luna. Apa gunanya dia mendapatkan istri seorang gadis muda yang cantik, jika dia harus dibayang-bayangi ancaman akan meregang nyawa di malam pengantin.
Kepergian Tuan Daniel tidak dapat dicegah lagi, pria tua itu sudah melangkah keluar dari rumah, meninggalkan Luna yang sedang menatap punggungnya dengan cibiran.
Tuan Mailor berbalik menghampiri putrinya. Dia kehilangan kesabaran, karena putrinya itu sudah membuat rencananya menjadi berantakan.
"Anak kurang ajar! Apa gunanya aku membesarkanmu, jika kau tidak mau berbakti kepada orang tua!" seru Tuan Mailor seraya mengangkat tangan untuk menampar Luna.
Namun, hasilnya selalu sama, putrinya itu tidak pernah membiarkan tangan kasar sang papi mendarat di wajahnya.
"Pi, sampai kapan Papi tidak bisa berpikir jernih? Aku ini anak Papi. Anak kandung, bukan anak angkat, atau anak tiri. Tapi mengapa Papi tega ingin menjualku, hanya demi menyenangkan wanita yang sudah membuat keluarga kita hancur," isak Luna kecewa, seraya menghempaskan tangan Papinya.
Tuan Mailor bungkam. Benar pun apa yang dikatakan putrinya tetap percuma saja, karena pikirannya sudah tertutup. Entah apa yang sudah dilakukan istrinya, sampai apa pun yang di lakukan istri mudanya itu, dia akan selalu membelanya.
Tuan Mailor masih tidak bisa membendung kekesalannya, dia mengayunkan langkah panjang menuju kamar Luna. Setibanya di sana dia membuka lemari pakaian milik putrinya itu, lalu menghamburkan pakaian milik Luna ke lantai.
"Pi, apa yang Papi lakukan?" Luna hanya bisa menatap nanar punggung Papinya, lalu memunguti pakaiannya yang berserakan di lantai.
Tuan Mailor berbalik badan, seraya menghunuskan tatapan penuh kebencian kepada putrinya itu. "Pergi dari rumah ini, bawa semua barang-barangmu. Kau menumpang hidup di rumah ini, tapi sama sekali tidak tahu diuntung. Membantu keluarga yang sedang kesusahan pun tidak mau!"
Luna berdiri lalu menatap kecewa pada Papinya sendiri, di mana hati seorang ayah yang tega mengusir putri kandungnya sendiri. Sepahit inikah garis hidupnya, di saat orang-orang yang dia sayangi pergi satu-persatu, di saat itu pula cobaan demi cobaan menghampiri hidupnya.
"Menumpang Papi bilang. Apa Papi Lupa ini rumah siapa? Ini Rumah Mommy, tapi baiklah, aku akan pergi. Silahkah habiskan semua peninggalan Mommy, untuk istri Papi yang tidak tahu diuntung itu."
Luna mengemasi semua barang-barangnya, dia pergi menuju apartemen Rara, di sinilah dia akan menetap untuk sementara.
Di apartemen ini Luna bisa menenangkan diri, meskipun hanya untuk sementara, sampai ada orang yang berniat untuk membeli apartemen ini.
Luna menatapi seisi apartemen mewah yang kini menjadi begitu sunyi. Di sinilah biasanya dia bercanda ria bersama sahabatnya, ataupun menumpahkan segala keluh-kesahnya.
Tapi kini sudah tidak bisa lagi, sahabatnya itu tidak lagi di sini, sekarang tinggallah Luna sendiri bersama kesepian dan kesedihannya, tanpa tahu pada siapa dia harus mencurahkan isi hatinya.
Luna beristirahat di kamar yang dulunya ditampati Rara, dan tak butuh waktu lama dia pun terlelap.
Luna terbangun dari tidurnya karena mendengar suara berisik dari dalam tasnya, Luna langsung mencari pusat suara yang tak lain adalah ponselnya itu.
"Papi," gumam Luna sumringah saat melihat nama pemanggil yang tertera di layar ponselnya.
Bersambung.
Jangan lupa like, vote, dan komen.
Terimakasih.
Sementara sblm geovani meninggal blm sempet kasih tau siapa cewek yg harus di jaga gio
Sekalian rekomen buat yang kesusahan nyari novel yang seru dan bagus, mending coba baca yang judulnya (Siapa) Aku Tanpamu wajib searchnya pakek tanda kurung dan satu novel lagi judulnya Caraku Menemukanmu