Hana Untari seorang wanita yang baik dan cantik, diamenikah dengan laki‑laki bernama Dimas Prayoga. Hana tinggal dengan suami beserta keluarga suaminya. Namun, Dimas selama 3 tahun menjadi suami Hana tidak menafkahinya dengan layak, dia beralasan jika Hana juga mempunyai penghasilan yang cukup. Dimas menghabiskan uangnya untuk kebutuhannya sendiri, sedangkan untuk kebutuhan ibu dan kakak serta adiknya semua uang dari Hana. Perselingkuhan Dimas dengan orang terdekat Hana, membuat Hana tidak bisa memaafkan suaminya. Mampukah Hana menjalani biduk rumah tangga dengan Dimas?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lisxone, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Keluarga Aneh
Sampai keesokan harinya, Hana tetap mendiamkan semua anggota keluarga suaminya. Bahkan semalam Hana juga mengunci kamar sehingga Dimas tidak bisa masuk kamar, dengan terpaksa Dimas tidur di kamar belakang dekat dapur.
Hana memanggil orang untuk membereskan rumahnya, sebab rumah sudah benar‑benar berantakan. Dan moodnya pun sedang tidak baik, sehingga dia memanggil bik Jamilah untuk membereskan rumah yang sudah seperti kapal pecah.
" Maaf mbak Hana, saya datangnya kesiangan. Padahal janji jam setengah 7 datang ini sudah jam 7 baru datang. Sekali lagi maaf ya mbak."Ucap Bik Jamilah merasa tidak enak sudah datang terlambat, padahal baru pertama kali kerja dengan Hana.
" Tidak apa‑apa bik. Lagian ini juga hari libur jadi aku masih ada di rumah, bibi mau minum teh dulu atau mau langsung beres‑beres?."Tanya Hana dengan sopan.
" Langsung beres‑beres saja mbak, tadi bibi sudah minum teh di rumah. Oh iya mbak, ini rumah kok kotor banget mbak? Tumben banget loh, maaf bukannya saya lancang mbak."Ucap bik Jamilah sambil menutup mulutnya karena sudah keceplosan.
" Ya beginilah rumah saya bik, baru 2 hari saya tidak membersihkannya sudah seperti kapal pecah. Hemm.. tanpa saya kasih tahu juga bibi sudah tahu siapa yang bikin rumah saya seperti ini, bik."Jawab Hana apa adanya tanpa ada yang ditutupi.
Ibu Sundari, Lastri dan Sintia di lingkungan itu sudah terkenal sombong dan pemalas. Para tetangga tahu sendiri, sebab mereka bertiga tidak pernah yang namanya mengerjakan pekerjaan rumah. Semua dikerjakan oleh Hana, bahkan saat Hana repot pun mereka bertiga memilih duduk santai di teras rumah.
" Yang sabar ya mbak. Ya sudah kalau begitu bibi langsung beres‑beres saja, permisi."Ucap Bik Jamilah.
Hana mengangguk setuju dan tanpa dikasih tahu, bik Jamilah sudah tahu apa saja yang harus dia kerjakan. Melihat ada bik Jamilah di dalam rumah, membuat ibu Sundari bertanya‑tanya.
" Kenapa ada Jamilah si miskin ini di rumah ku?." Ucap ibu Sundari pelan.
" Heehh Jamilah !! Mau apa kamu di rumahku? Mau maling? Huhh dasar wanita miskin, pagi‑pagi begini masuk rumah orang tanpa izin."Ucap ibu Sundari menghardik bik Jamilah.
Mendengar ibu mertuanya memarahi bik Jamilah, Hana pun menghampirinya.
" Bik Jamilah datang ke sini Hana yang suruh, kenapa? Masalah bagi ibu? Kalau ibu melarang bik Jamilah ada di rumah ini, ibu saja yang membereskan rumah ini.
Bagaimana?."Seru Hana menantang ibu mertuanya.
Heeh Hana !! Kamu jangan hambur‑hamburkan ya uang anakku, kamu itu cuma resepsionis rendahan jadi yang kamu pakai bayar Jamilah pasti uang Dimas kan? Tidak tahu malu, lalu gunanya kamu di rumah ini apa kalau tidak mau beres‑beres rumah?."Seru ibu Sundari tetap saja dia beranggapan uang Dimas yang Hana pakai.
Hana melirik bik Jamilah sambil menganggukkan kepalanya. Bik Jamilah pun paham, bik Jamilah mulai mengerjakan pekerjaannya dan tidak menghiraukan ibu Sundari yang sedang beradu mulut dengan Hana. Dia datang ke rumah itu untuk bekerja, bukan untuk ikut mendengarkan perdebatan Hana dan ibu Sundari.
Dimas dan yang lainnya ikut menghampiri ibu Sundari. Atas permintaan Hana, mereka semua kini ada di teras belakang. Ada hal yang ingin Hana bicarakan dengan mereka.
Ada apa sih mengumpulkan kita di sini? Aku ini lapar, mau sarapan Hana. Kamu sudah masak belum?."Tanya Sintia seenaknya.
Bbrrakkk
" Diam kamu !! Kalau mau tinggal di rumah ini, lebih baik kamu diam dan jangan banyak tingkah."Seru Hana memandang Sintia dengan tajam.
" Dengarkan semuanya !! Mulai hari ini bik Jamilah akan kerja di rumah ini, dia bekerja di sini hanya untukku. Ingat hanya untukku, jadi hanya aku yang bisa menyuruh bik Jamilah. Kalian semua tidak berhak, sebab aku yang menggaji bik Jamilah."Seru Hana bicara serius.
" Maksud kamu itu bagaimana, Hana? Kamu lama‑lama kurangajar juga ya. Ini rumah Dimas, tapi kenapa kamu yang jadi berkuasa? Istri tidak tahu di untung, sudah mandul bikin marah terus, ceraikan saja istrimu ini, Dim. Istri susah di atur ! "Ucap ibu Sundari tidak setuju dengan keputusan Hana.
Ibu?
Dimas bergumam menyebut ibunya, semuanya benar‑benar kacau. Ibunya yang sudah menyusahkan dirinya sendiri. Bukan, bukan hanya dirinya sendiri akan tetapi keluarga yang lainnya juga.
Sekali lagi ibu mengatakan aku istri mandul aku akan usir ibu dari rumahku. Asal kalian tahu, rumah ini adalah rumahku bukan rumah mas Dimas. Seratus persen rumah ku, rumah dari pemberian kakakku, Farhan. Dan, mungkin sekarang ini saatnya kalian semua tahu kebenaran yang sesungguhnya agar kalian ini bisa tahu diri. Selama 3 tahun aku dan mas Dimas menikah, belum pernah mas Dimas memberikan gajinya kepadaku jadi untuk semua kebutuhan rumah, uang bulanan untuk ibu dan Lastri, biaya sekolah Lastri selama 3 tahun ini, itu semua murni uang ku. Uang dari menantu yang kalian anggap miskin ini, uang dari seorang resepsionis rendahan ini !!."Ucap Hana
akhirnya dia menceritakan semua kebenarannya yang sudah dia tutupi selama 3 tahun ini.
Soal pekerjaan dan jabatan Dimas, dia tidak mau tahu. Biar itu urusan Dimas yang memberitahu keluarganya. Yang terpenting bagi Hana, sekarang apa yang ingin dia ungkapkan sudah dia ungkapkan.
Haahhhh
Tidak mungkin, tidak mungkin rumah ini rumah kamu. Dan tidak mungkin selama ini uang yang kamu berikan itu uang kamu. Kamu pasti berbohongkan? Iya kamu pasti berbohong."Ucap ibu Sundari menolak mempercayai perkataan Hana.
Mbak Hana jangan bohong kamu, apa mbak kira kami akan percaya begitu saja? Tidak semudah itu kami percaya mbak. Iya mbak Sintia?."Seru Lastri meminta dukungan dari sekutunya.
Kalian tidak percaya itu urusan kalian. Atau mungkin kalian malu untuk mempercayainya? Malu karena selama 3 tahun ini sudah hidup numpang dan gratisan, biaya hidup numpang sama aku seorang wanita yang kalian bilang miskin ini?."Seru Hana semakin berani.
Stop !! Stop Hana !! Sudah cukup, tidak perlu lagi kamu jelaskan. Iya, memang benar selama 3 tahun ini kamu yang sudah menanggung biaya hidupku dan ke tiga keluarga ku ini !!."Ucap Dimas dengan mengeraskan suaranya.
Ddeegghhh
Ibu Sundari langsung mengalihkan pandangannya ke arah Dimas. Apakah yang diucapkan anaknya barusan adalah sebuah kebenaran?
Jadi semua yang dikatakan Hana itu benar, Dim?."Tanya Ibu Sundari berharap apa yang dikatakan Hana adalah sebuah kebohongan.
Benar bu, semua yang dikatakan Hana benar. Dimas memang tidak pernah memberi dia uang, tapi dia kan punya penghasilan juga. Jadi Dimas tidak salah dong, selagi dia ada uang dia juga punya kewajiban untuk menafkahi keluarga. Rumah ini memang rumahnya, tapi aku ini suaminya dan berarti aku juga berhak atas rumah ini."Ucap Dimas benar‑benar tidak tahu malu.
Iya, kamu betul Dim. Kamu juga punya hak atas rumah ini, karena kamu itu kepala keluarga. Dia seorang istri juga berhak menafkahi keluarga suaminya."Ucap ibu Sundari membenarkan ucapan Dimas.
Cciihhhh
Hana berdercak kesal sambil menggelengkan kepalanya. Para benalu tidak tahu diri itu ternyata mukanya tebal juga, tidak tahu malu. Benar‑benar tidak tahu malu, padahal selama ini uang yang mereka nikmati itu milik Hana.
Aku setuju sama Dimas."Ucap Sintia ikut mendukung Dimas.
Aku juga setuju."Seru Lastri ikut memberi dukungan.
" Keluarga Anehh !!."Seru Hana lalu dia meninggalkan mereka.