NovelToon NovelToon
WARUNG KECIL MILIK SANG KONGLOMERAT

WARUNG KECIL MILIK SANG KONGLOMERAT

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Crazy Rich/Konglomerat / Mengubah Takdir
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Theurgist

Setelah meninggal karena kelelahan bekerja, Arga terbangun di masa lalu sebagai dirinya yang berusia delapan belas tahun.

Dengan ingatan tentang masa depan, ia bertekad mengubah nasib keluarganya dan menyelamatkan warung kecil yang menjadi sumber penghidupan mereka.

Dimulai dari usaha sederhana di pinggir jalan, Arga melangkah menuju dunia bisnis yang penuh peluang, persaingan, dan pengkhianatan.

Kali ini, ia tidak akan mengulangi kesalahan yang sama.

"Jika diberi kesempatan kedua, bisakah sebuah warung kecil melahirkan seorang konglomerat?"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Theurgist, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6 – Kesuksesan yang Mulai Menekan

Pisang goreng buatan ibunya ternyata menjadi daya tarik baru bagi warung keluarga Arga.

Sudah hampir dua minggu sejak mereka mulai menjualnya.

Awalnya hanya dua puluh buah setiap pagi.

Kemudian meningkat menjadi empat puluh.

Lalu enam puluh.

Kini jumlahnya mencapai hampir seratus buah per hari.

Dan yang mengejutkan, hampir semuanya selalu habis terjual.

Bagi kebanyakan orang, itu adalah kabar baik.

Namun bagi Arga, semakin lama justru muncul perasaan tidak tenang.

Karena ia mulai melihat sesuatu yang tidak disadari orang tuanya.

Warung memang semakin ramai.

Pendapatan memang meningkat.

Tetapi beban kerja juga meningkat.

Dan beban terbesar jatuh kepada satu orang.

Ibunya.

Pagi itu Arga terbangun lebih awal dari biasanya.

Jam di dinding baru menunjukkan pukul empat lewat sepuluh menit.

Rumah masih gelap.

Ayahnya bahkan belum bangun.

Namun dari dapur sudah terdengar suara aktivitas.

Arga segera keluar kamar.

Benar saja.

Ibunya sudah berdiri di depan kompor.

Wajan besar berisi minyak panas mengeluarkan suara mendesis.

Di meja terdapat tumpukan pisang yang sudah dikupas.

Sari tampak sibuk mencampur adonan sambil sesekali mengaduk gorengan.

"Ibu sudah bangun?"

Wanita itu menoleh.

"Loh, kok bangun pagi?"

"Aku yang harusnya tanya."

Sari tersenyum kecil.

"Kalau tidak mulai sekarang, nanti tidak selesai."

Arga memperhatikan wajah ibunya.

Meskipun tersenyum, terlihat jelas wanita itu kurang tidur.

Ada lingkar hitam tipis di bawah matanya.

Dan saat menuangkan adonan, gerakannya tidak lagi secepat minggu lalu.

"Bu, kita kurangi saja jumlahnya."

Sari langsung menggeleng.

"Sayang kalau dikurangi."

"Tapi Ibu capek."

"Capek sedikit tidak apa-apa."

Jawaban itu membuat Arga terdiam.

Di kehidupan sebelumnya, ibunya juga selalu seperti ini.

Lebih memikirkan keluarganya dibanding dirinya sendiri.

Karena itulah ia sering mengabaikan kondisi kesehatannya.

Dan Arga tidak ingin sejarah itu terulang.

Namun ia juga tahu ibunya bukan orang yang mudah dibujuk.

Terutama ketika menyangkut keluarga.

Hari itu sekolah terasa berjalan lambat.

Sepanjang pelajaran, pikiran Arga terus kembali ke dapur rumahnya.

Ke wajah ibunya yang semakin lelah.

Ke tangannya yang mulai memerah karena terlalu sering terkena panas minyak.

Dan ke kenyataan bahwa keberhasilan kecil mereka ternyata membawa masalah baru.

Saat bel pulang berbunyi, Arga langsung bergegas pulang.

Begitu sampai di warung, ia melihat kondisi yang membuat dadanya semakin berat.

Ibunya sedang melayani pelanggan.

Namun beberapa kali terlihat memijat pergelangan tangan kirinya.

Gerakan kecil.

Hampir tidak terlihat.

Tetapi cukup untuk membuat Arga sadar.

Keadaan ini tidak bisa terus berlanjut.

Malam harinya, setelah warung tutup, keluarga mereka berkumpul di meja makan.

Ayahnya sedang menghitung pemasukan.

Sementara Arga membuka buku catatan.

"Pendapatan minggu ini naik lagi."

Suara ayahnya terdengar cukup senang.

"Kita bahkan belum pernah dapat angka seperti ini dalam beberapa bulan terakhir."

Biasanya Arga juga akan ikut senang.

Namun kali ini tidak.

Ia menatap ibunya.

Wanita itu tampak kelelahan.

Bahkan saat duduk pun bahunya terlihat turun.

Seolah energinya benar-benar terkuras.

"Ayah."

"Hm?"

"Kita perlu bicara."

Ayahnya mengangkat kepala.

Ekspresi Arga yang serius membuat suasana menjadi tenang.

"Ada apa?"

"Ibu sudah terlalu capek."

Ruangan langsung hening.

Sari mencoba tersenyum.

"Tidak separah itu."

"Tapi memang capek, kan?"

Wanita itu tidak langsung menjawab.

Dan keheningan itu sudah menjadi jawaban.

Ayahnya menghela napas panjang.

"Sebenarnya aku juga memperhatikannya."

Mendengar itu, Arga sedikit lega.

Setidaknya ia bukan satu-satunya yang menyadari masalah tersebut.

"Lalu bagaimana?" tanya ayahnya.

Itulah pertanyaan yang sejak beberapa hari terakhir terus menghantui Arga.

Bagaimana?

Mengurangi produksi?

Mereka akan kehilangan pelanggan.

Membiarkan keadaan seperti sekarang?

Kesehatan ibunya bisa terganggu.

Menambah bantuan?

Mereka membutuhkan biaya.

Semua pilihan memiliki risiko.

Malam itu Arga menghabiskan waktu berjam-jam dengan buku catatannya.

Ia menuliskan semua kemungkinan.

Keuntungan harian.

Biaya bahan baku.

Pengeluaran rumah tangga.

Lalu mulai membuat simulasi sederhana.

Kalau mereka mempekerjakan seseorang selama beberapa jam setiap pagi, berapa biayanya?

Kalau produksi bertambah, apakah keuntungan masih cukup?

Jika tidak bertambah, apakah tetap layak?

Setelah hampir satu jam menghitung, Arga akhirnya menemukan sesuatu.

Mereka mungkin belum mampu menggaji pegawai tetap.

Namun mereka bisa membayar bantuan paruh waktu.

Setidaknya untuk pekerjaan sederhana.

Keesokan paginya, Arga menyampaikan idenya.

"Kita cari bantuan."

Ayahnya mengernyit.

"Bantuan?"

"Orang yang membantu Ibu mengupas pisang atau menyiapkan bahan."

"Kalau harus bayar?"

"Itu memang mengurangi keuntungan."

Ayahnya mengangguk.

"Nah."

"Tapi kalau Ibu sakit, kerugiannya lebih besar."

Kalimat itu membuat ayahnya terdiam.

Karena memang benar.

Tidak ada gunanya keuntungan bertambah jika kesehatan keluarga memburuk.

Beberapa saat kemudian, ibunya berkata pelan.

"Sebenarnya ada Bu Rina."

Arga langsung menoleh.

Bu Rina adalah tetangga mereka.

Seorang janda yang tinggal bersama anaknya.

Kondisi ekonominya tidak terlalu baik.

Kadang-kadang ia menerima pekerjaan apa saja untuk menambah penghasilan.

"Ibu pernah bicara dengannya?"

Sari mengangguk.

"Beberapa hari lalu."

"Kok tidak bilang?"

"Aku belum yakin."

Arga mulai memahami.

Ibunya sebenarnya sudah memikirkan masalah yang sama.

Hanya saja ia tidak ingin menambah beban keluarga.

Hari itu juga mereka menemui Bu Rina.

Wanita itu tampak terkejut saat mendengar tawaran tersebut.

"Membantu di dapur?"

"Iya," jawab Sari.

"Hanya beberapa jam setiap pagi."

Bu Rina terlihat ragu.

"Mau memang?"

"Tentu."

Arga tersenyum.

"Kami justru yang membutuhkan bantuan."

Untuk pertama kalinya sejak beberapa hari terakhir, Arga merasa sedikit lebih tenang.

Masalah produksi mulai menemukan jalan keluar.

Namun ternyata masalah tidak berhenti di sana.

Tiga hari kemudian, produksi berjalan lebih lancar.

Bu Rina membantu mengupas pisang.

Sari bisa fokus menggoreng.

Jumlah gorengan bahkan bertambah.

Tetapi saat Arga memeriksa catatan keuangan, ia menemukan sesuatu yang mengganggu.

Uang tunai warung mulai menipis.

Keuntungan memang naik.

Namun mereka juga membeli lebih banyak bahan.

Lebih banyak minyak.

Lebih banyak pisang.

Dan sekarang harus membayar bantuan tambahan.

Pendapatan meningkat.

Tetapi arus kas mereka justru mulai ketat.

Malam itu, Arga menatap angka-angka di buku catatan.

Kerutan muncul di dahinya.

Di kehidupan sebelumnya, ia pernah mendengar banyak bisnis bangkrut meskipun penjualannya tinggi.

Saat itu ia tidak terlalu memahami alasannya.

Kini ia mulai mengerti.

Karena pertumbuhan juga membutuhkan biaya.

Dan biaya itu tidak kecil.

Ayahnya memperhatikan ekspresinya.

"Ada masalah?"

Arga mengangguk pelan.

"Mungkin."

"Apa?"

Arga menutup buku catatannya.

Lalu menghela napas panjang.

"Warung kita mulai berkembang."

"Itu bagus, kan?"

"Bagus."

Tatapan Arga jatuh pada tumpukan catatan pengeluaran.

"Tapi kalau tidak hati-hati, kita bisa kehabisan uang lebih cepat daripada yang kita kira."

Mendengar itu, ayah dan ibunya langsung terdiam.

Sementara di dalam hati, Arga menyadari satu hal.

Menarik pelanggan ternyata hanya langkah pertama.

Menjalankan usaha yang terus berkembang jauh lebih sulit.

Dan tantangan berikutnya baru saja dimulai.

1
Dewiendahsetiowati
gak ada jari emas kah ini atau sistem gitu thor
Dewiendahsetiowati: ok Thor dan ditunggu up selanjutnya
total 2 replies
Dewiendahsetiowati
hadir thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!