NovelToon NovelToon
Belenggu Janji Dan Rasa

Belenggu Janji Dan Rasa

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: "Emy"

seorang pria dingin yang terjebak di situasi tak terduga. Pria itu di nikah paksa oleh warga setempat, menikahi gadis sma kelas 3 bernama Rara Sephyra. Dalam hitungan detik statusnya berubah menjadi seorang suami.
Namun di sisi lain dia juga memiliki tunangan seusianya.
Bagaimanakah kisah mereka selanjutnya.
Apakah si pria akan mempertahan pernikahannya?
Atau akan memilih tunangannya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon "Emy", isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6

Sementara itu, di dalam mobil dua sejoli yang duduk bersebelahan melaju membelah jalanan kota, atmosfer terasa begitu mencekam. Rara duduk kaku di kursi sebelah Athur , matanya menatap nanar ke arah luar jendela. Jari-jarinya gemetar, meremas kain rok abu-abu kusamnya sampai berkerut.

"Siapa yang berani membuatmu menangis di sekolah?"

Pertanyaan Athur kembali menggema, memecah keheningan di dalam mobil. Nadanya sangat datar, namun aura kepemimpinan dan ketegasan yang keluar dari pria itu membuat bulu kuduk Rara meremang.

Rara menelan ludah dengan susah payah. Lidahnya mendadak kelu. Ia bingung setengah mati. Di satu sisi, ia ingin menumpahkan semua ketakutannya tentang labrakan di kantin, sidang di ruang BK, hingga ancaman kehilangan beasiswa.

Namun di sisi lain, ia takut. Athur adalah pria asing yang baru dinikahinya semalam karena paksaan warga. Bagaimana kalau pria berwajah dingin ini justru menganggapnya sebagai pembawa masalah?

"Saya tidak suka mengulang pertanyaan, Rara," ucap Athur lagi. Kali ini ia meminggirkan mobilnya di bahu jalan yang sepi, lalu mematikan mesin.

Athur memutar tubuhnya, menghadap langsung ke arah istri kecilnya. Tatapan matanya yang tajam mengunci manik mata Rara yang berkaca-kaca.

"Ingat posisi saya sekarang. Di mata hukum agama, saya adalah suamimu. Dan di atas kertas apa pun, saya adalah kepala keluarga yang bertanggung jawab penuh atas keselamatanmu, Fino, dan Nina."

Athur sengaja menekan setiap kata untuk memprovokasi sekaligus meyakinkan Rara. "Jika ada orang di sekolah itu yang mengusikmu hingga membuatmu gemetar seperti ini, itu artinya mereka menantang saya. Cerita sekarang, atau saya yang akan datang sendiri ke sekolahmu besok pagi untuk mencari tahu."

Mendengar gertakan tegas namun sarat akan perlindungan itu, pertahanan Rara runtuh. Air mata yang sejak tadi ditahannya akhirnya luruh membasahi pipinya. Ia menyadari, di balik sikap dingin pria di hadapannya ini, ada sebuah jangkar kokoh yang siap menopang hidupnya yang rapuh.

"T-tadi di kantin... ada siswi yang melabrak aku, mas, " isak Rara akhirnya, suaranya terdengar bergetar pasrah. "Dia... dia marah karena aku dekat dengan Alden. Dia mempermalukan aku di depan semua orang, mengatai aku anak kontrakan miskin yang nggak tahu diri karena dekatin anak orang kaya."

Rara menyeka air matanya dengan ujung seragamnya, lalu menatap Athur dengan pandangan memohon yang amat sangat. "Kami semua dibawa ke ruang BK, Kak. Aku takut banget... aku, Fino, dan Nina bisa sekolah di sana karena beasiswa. Kalau guru-guru sampai tahu masalah pernikahan siri kita karena keributan ini, beasiswa kami pasti dicabut. Aku bingung harus gimana, Kak..."

Mendengar nama 'Alden' kembali disebut, rahang Athur mengeras sempurna hingga urat-urat di lehernya menegang. Kilatan amarah yang sangat dingin berkilat di matanya. Pria itu mengepalkan tangannya di atas kemudi, berusaha meredam emosinya agar tidak menakuti Rara yang sedang menangis.

Athur tidak menyangka bahwa adiknya sendiri secara tidak sengaja menjadi sumbu dari penderitaan istrinya hari ini. Namun, melihat Rara yang begitu rapuh, Athur menghela napas panjang lalu mengulurkan tangannya, mengusap puncak kepala Rara dengan kelembutan yang jarang ia perlihatkan.

"Hapus air matamu," ujar Athur, suaranya kini melunak namun tetap penuh penekanan mutlak.

"Urusan beasiswa dan siswi itu, biar saya yang selesaikan. Tidak akan ada satu orang pun yang bisa mengeluarkanmu dari sekolah itu. Amankan posisimu, dan menjauhlah dari Alden untuk sementara waktu. Mengerti?"

Rara mendongak, menatap wajah tegas Athur di balik sisa air matanya, perlahan merasakan secercah rasa aman yang belum pernah ia rasakan sejak kepergian ayahnya.

Athur segera bergerak cepat setelah mendengar seluruh cerita Rara. Sebagai seorang pengusaha sukses yang mengendalikan jaringan bawah tanah—seorang mafia yang disegani namun hanya bergerak untuk membela kaum yang tertindas—Athur tidak akan membiarkan siapa pun mengusik ketenangan keluarganya.

Sambil menyetir dengan satu tangan, Athur mengirimkan pesan singkat berkode khusus kepada asisten pribadinya. Perintahnya mutlak: hubungi pihak yayasan pemilik SMA Garuda. Hanya dalam waktu kurang dari satu jam, roda kekuasaan Athur bekerja di balik layar.

Gadis yang melabrak Rara di kantin langsung menerima akibatnya. Pihak yayasan, yang sebagian besar sahamnya ternyata terafiliasi dengan jaringan bisnis Athur, langsung menjatuhkan sanksi skorsing berat dan pencabutan fasilitas sekolah bagi siswi tersebut atas tindakan perundungan (bullying). Tidak ada yang berani membantah, dan posisi beasiswa Rara, Dino, serta Nina kini terkunci aman tanpa ada satu pun guru BK yang berani mengutak-atiknya lagi.

Di sisi lain, fokus Athur terbagi. Sambil menatap jalanan, tangan kirinya refleks menyentuh perutnya yang masih dibalut perban di balik kemeja. Selain mengurus masalah sekolah Rara, otaknya terus berputar tajam mencari tahu dalang di balik peristiwa beberapa hari lalu. Bagaimana bisa seorang mafia besar seperti dirinya dijebak hingga terkena luka tembak di perut, lalu terdampar setengah sadar di lingkungan kontrakan ini? Ada pengkhianat di dalam jalurnya, dan Athur bersumpah akan menguliti orang itu begitu lukanya sembuh total.

Kepulangan di Kontrakan Tripleks

Mobil milik Athur berhenti di gang depan. Agar tidak memancing kecurigaan tetangga atau Alden yang mungkin menyusul, Rara turun lebih dulu dan berjalan cepat masuk ke rumah. Athur menyusul beberapa menit kemudian setelah memastikan situasi aman.

Menjelang sore, pintu kontrakan diketuk dengan kasar. Fno dan Nina akhirnya pulang sekolah dengan napas terengah-engah. Wajah Fino yang biasanya penuh cengiran tengil kali ini terlihat serius dan dipenuhi rasa penasaran. Begitu melangkah masuk, sepasang kembar itu langsung berpencar mencari perlindungan untuk kakak mereka.

"Bang! Bang Athur!" seru Fino celingukan di ruang tengah, langsung mencari keberadaan kakak iparnya yang berwajah dingin itu. Fino ingin memastikan apakah pria itu benar-benar bisa diandalkan setelah aksi "penculikan" kilat di gerbang sekolah tadi.

Sementara itu, Nina yang masih didera ketakutan soal beasiswa langsung berlari ke arah belakang. "Kak! Kak Rara di mana?" panggil Nina setengah merengek.

"Kakak di dapur, Nin!" sahut sebuah suara lembut dari sudut ruangan.

Fino dan Nina segera melangkah ke area dapur yang sempit. Di sana, mereka mendapati Rara sedang berdiri di depan kompor minyak, sibuk memotong sayuran untuk menu makan malam mereka. Hebatnya, wajah Rara tidak lagi sembap atau ketakutan seperti saat di ruang BK tadi. Ada guratan ketenangan di wajahnya, membuat kedua adiknya sedikit bernapas lega.

"Gila ya, Kak! Tadi itu keren banget tapi bikin jantungan!" cerat Fino langsung bersandar di pintu dapur dengan gaya tengilnya yang kembali muncul.

"Gue sama Nina udah siap-siap pasang badan kalau Alden macam-macam, eh tiba-tiba Pawang Utama datang naik mobil mengkilap langsung angkut Kakak. Si Alden langsung planga-plongo kayak ayam kehilangan induk di gerbang!"

"Fino, kecilkan suaramu! Mas Athur ada di kamar mandi belakang," bisik Rara tersipu malu sambil melotot ke arah adiknya.

Nina mendekati Rara, memeluk lengan kakaknya erat. "Kak, tapi beneran aman kan? Nina takut banget kalau guru-guru tahu soal... pernikahan kemarin."

Rara tersenyum hangat, mengusap pipi adik kembarnya Dino itu. "Aman, Nin. Mas Athur bilang, dia yang akan urus semuanya. Beasiswa kita gak akan hilang."

Fino langsung bersedekap dada, menaikkan sebelah alisnya dengan senyum miring yang menyebalkan. "Hmm, gaya bener ya si Abang tampan itu. Tapi awas aja kalau dia cuma omong doang. Biar kata dia badannya tegap kayak tentara, kalau dia berani bohongin Bos Rara, tetap bakal gue rontokin giginya pakai gagang sapu kontrakan!" sesumbar Fino dengan nada sok jagoan, memicu tawa kecil dari Rara dan Nina di tengah ruang dapur yang pengap itu.

1
Embhul82
bagus ceritanya q suka
Emy: makasih sudah mau mampir. Jangan lupa kritik dan saran
total 1 replies
Embhul82
up lagi kak 🤭
Brigita
kurang paham di ini sih
Emy: makasih bnyak kak sudah di koreksi. sebagai manusia pasti tetap ada kesalahan. Alhamdulillah kak sudah di perbaiki
total 1 replies
Brigita
lanjutt truss kakk😍👍💪
Emy: terimakasih kak
total 1 replies
Brigita
semangat kakkk💪💪💪👍😍
Emy: Makasih sudah hadia kak. kritik dan sarannya y kak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!