Lin Ye terbatuk memuntahkan darah hitam dan terbangun di tanah pemakaman Sekte Pedang Surgawi.
Dantiannya telah hancur lebur, menjadikannya tumpukan sampah yang selalu dihina oleh para kultivator lain.
Angin malam yang dingin berhembus membawa aroma dupa busuk dan aura kematian yang sangat pekat di sekitarnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ikyar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Guncangan di Puncak Awan Emas
Di puncak tertinggi dari Gunung Pedang Surgawi, awan putih berarak dengan sangat tenang menyelimuti Istana Awan Emas yang berdiri megah.
Suasana sakral yang biasanya menenangkan jiwa para kultivator tiba-tiba terkoyak oleh sebuah fluktuasi energi yang sangat mengerikan.
Di dalam kedalaman ruang rahasia milik Tetua Agung Chu Zhen, sebuah plakat giok kehidupan yang tersimpan di atas altar tiba-tiba bergetar hebat.
Plakat giok yang selalu memancarkan pendaran cahaya keemasan hangat itu mulai meredup dan memunculkan retakan halus di bagian tengahnya.
Hanya dalam hitungan detik, retakan itu menjalar dengan sangat cepat bagaikan jaring laba-laba yang menutupi seluruh permukaan giok tersebut.
Sebuah suara pecahan yang sangat renyah dan nyaring bergema memecah keheningan mutlak di dalam ruang rahasia bawah tanah itu.
Plakat giok kehidupan itu akhirnya hancur berkeping-keping, berubah menjadi serpihan debu redup yang berserakan di atas meja altar.
Mata Tetua Agung Chu Zhen yang sedang tertutup rapat untuk bermeditasi seketika terbuka lebar dengan pandangan yang kosong.
Sepasang mata tuanya yang biasanya memancarkan kebijaksanaan dan otoritas kini dipenuhi oleh urat-urat merah yang sangat mengerikan.
Plakat giok kehidupan itu adalah milik Chu Yan, cucu tunggal kesayangannya yang merupakan satu-satunya penerus dari garis keturunan keluarga Chu.
Di dunia kultivasi Benua Awan Ilahi, hancurnya sebuah plakat kehidupan hanya memiliki satu arti mutlak yang tidak bisa dibantah oleh siapa pun.
Jiwa dan raga dari pemilik plakat tersebut telah dihancurkan sepenuhnya dan dihapus dari alam semesta tanpa menyisakan jejak sedikit pun.
"Tidak... ini tidak mungkin terjadi... ini pasti hanya sebuah kesalahan dari formasi giok kehidupan!" gumam Chu Zhen dengan suara yang bergetar hebat.
Tangan keriputnya yang biasanya sanggup menghancurkan gunung dengan satu tamparan kini gemetar tak terkendali saat mencoba menyentuh serpihan debu giok tersebut.
Saat ujung jarinya menyentuh debu giok yang dingin itu, kenyataan pahit langsung menghantam akal sehatnya bagaikan palu godam raksasa.
Esensi kehidupan Chu Yan benar-benar telah padam, dan bahkan sisa-sisa jiwanya sama sekali tidak bisa dirasakan oleh ikatan darah di antara mereka.
Sebuah raungan keputusasaan yang sangat panjang dan memilukan meledak dari tenggorokan Tetua Agung Chu Zhen.
Suara raungan itu mengandung amarah, kesedihan, dan niat membunuh yang begitu pekat hingga mampu mengubah warna langit siang menjadi gelap gulita.
Gelombang energi spiritual dari puncak Alam Inti Emas meledak keluar dari tubuh rentanya tanpa bisa dikendalikan lagi.
Dinding-dinding batu giok di ruang rahasia itu langsung retak dan hancur berantakan akibat tekanan aura yang sangat menindas tersebut.
Pilar-pilar penyangga istana bawah tanah patah menjadi dua bagian, membuat langit-langit ruangan runtuh menimpa segala sesuatu di bawahnya.
Chu Zhen melesat ke atas menembus reruntuhan batu raksasa itu bagaikan sebuah meteor putih yang melawan gravitasi bumi.
Ia melayang tinggi di udara tepat di atas Istana Awan Emas, membiarkan jubah putihnya berkibar liar dihempas angin badai yang tercipta dari auranya sendiri.
"Siapa pun yang berani menyentuh sehelai rambut cucuku, aku bersumpah akan mencabut sembilan generasi keluargamu dari muka bumi!" raung Chu Zhen hingga suaranya menggema ke seluruh penjuru sekte.
Puluhan ribu murid pelataran dalam yang sedang berlatih seketika memuntahkan darah dan jatuh berlutut karena tidak sanggup menahan tekanan niat membunuh tersebut.
Bahkan para penatua pelataran dalam yang memiliki kultivasi tinggi harus memusatkan seluruh energi mereka hanya untuk bisa berdiri tegak.
Dari puncak gunung yang berseberangan, seberkas cahaya keemasan melesat cepat dan bermanifestasi menjadi sesosok pria paruh baya yang memegang sebuah pedang giok.
Pria itu adalah Jian Wuji, Pemimpin Sekte Pedang Surgawi yang memiliki kultivasi di atas semua orang yang ada di wilayah ini.
Wajah Jian Wuji terlihat sangat tegang saat ia melihat Tetua Agung Chu Zhen yang sepertinya telah kehilangan seluruh kewarasannya.
"Kakak Seperguruan Chu! Tenangkan dirimu! Ada apa gerangan hingga kau melepaskan niat membunuh sebesar ini di dalam wilayah sekte kita sendiri?!" seru Jian Wuji mencoba menyadarkan pria tua itu.
Chu Zhen menoleh ke arah Pemimpin Sekte dengan sepasang mata yang kini sepenuhnya berwarna merah darah seperti iblis yang kehilangan akal.
"Cucuku... Chu Yan telah dibunuh! Plakat kehidupannya baru saja hancur berkeping-keping di dalam ruang meditasiku!" jawab Chu Zhen dengan suara yang serak dan mematikan.
Mendengar berita tersebut, wajah Jian Wuji seketika memucat dan ia tanpa sadar meremas gagang pedang gioknya dengan sangat kuat.
Ia tahu betul betapa jeniusnya Chu Yan dan betapa Pasukan Eksekutor Pedang Darah yang menyertainya sangatlah kuat dan tak tertandingi.
"Bagaimana mungkin hal ini bisa terjadi?! Bukankah ia baru saja turun ke pelataran luar untuk mengejar seorang penyusup rendahan?!" tanya Jian Wuji dengan nada tidak percaya.
"Tikus iblis itu pasti telah merencanakan jebakan besar dan menyembunyikan kultivator tingkat tinggi di pelataran luar kita!" balas Chu Zhen sambil menggertakkan giginya.
Tanpa menunggu persetujuan dari Pemimpin Sekte, Chu Zhen langsung membalikkan badannya dan melesat ke arah bawah gunung menuju pelataran luar.
Kecepatannya membelah udara menciptakan suara ledakan sonik yang membuat gendang telinga para murid di bawahnya pecah berdarah.
Jian Wuji menghela napas panjang dan menyadari bahwa badai darah yang sangat besar akan segera menyapu bersih seluruh sekte hari ini.
Ia segera memberikan perintah darurat melalui telepati kepada seluruh tetua pelataran dalam untuk bersiap menghadapi ancaman sekte iblis berskala besar.
Sementara itu, di reruntuhan hutan bambu hitam pelataran luar, suasana keheningan yang mencekam masih menyelimuti lautan mayat dan darah segar.
Kabut hitam penelan jiwa telah sepenuhnya menghilang, menyisakan pemandangan pembantaian brutal yang tidak akan pernah bisa dilupakan oleh sejarah.
Lin Ye berdiri dengan sangat tenang di tengah genangan darah, menghadap ke arah langit di mana awan kelabu mulai berputar membentuk pusaran badai.
Pemuda berjubah abu-abu itu bisa merasakan fluktuasi energi Inti Emas yang sangat kuat sedang melesat turun dari puncak gunung dengan kecepatan penuh.
Ujung bibirnya melengkung ke atas membentuk senyuman sinis yang memancarkan ejekan mutlak terhadap kemarahan pria tua arogan tersebut.
"Sang kakek akhirnya turun gunung untuk memungut tulang belulang cucunya yang tidak berharga ini," gumam Lin Ye sambil terkekeh pelan.
Meskipun saat ini kultivasinya telah melonjak tajam hingga mencapai puncak tahap ketujuh Alam Pengumpulan Qi, Lin Ye bukanlah orang bodoh.
Ia sangat menyadari perbedaan jurang kekuatan yang membentang antara Alam Pengumpulan Qi dan Alam Inti Emas.
Bahkan dengan bantuan Jenderal Wu An sekalipun, menghadapi Tetua Agung yang sedang mengamuk di siang bolong adalah tindakan bunuh diri yang konyol.
Tujuannya hari ini sudah lebih dari sekadar tercapai, ia telah menghancurkan harapan keluarga Chu dan menebarkan teror yang meruntuhkan mental seluruh sekte.
"Waktunya untuk mundur dan mencerna seluruh hasil panen hari ini," ucap Lin Ye kepada dirinya sendiri.
Ia mengangkat tangannya dan Jenderal Wu An seketika berubah menjadi kabut hitam yang langsung menyusup kembali ke dalam bayangan di bawah kaki tuannya.