Nadia mati mengenaskan akibat dikhianati. Namun, takdir memberinya kesempatan kedua dengan memindahkan jiwanya ke tubuh Chelsea Latief, gadis kaya raya yang sedang koma.
Terbangun sebagai Chelsea, Nadia tidak hanya harus mencari cara untuk menghancurkan orang-orang yang telah membunuhnya di masa lalu, tetapi ia juga harus bertahan hidup di rumah mewah yang penuh dengan konspirasi racun, sekaligus menghadapi Reynald—tunangan arogan yang tiba-tiba berbalik mengejar cintanya.
"Aku bukan Chelsea yang bisa kamu injak-injak lagi, Tuan Reynald."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SAIDA VALE, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 25: Langkah Menuju Dunia
Matahari pagi yang menembus jendela kaca setinggi langit-langit di lantai 50 gedung Kirana-Latief Group terasa berbeda hari ini. Bukan lagi sinar yang menyesakkan, melainkan simbol kemenangan yang mutlak. Nadia—yang kini lebih dikenal sebagai Chelsea Latief—berdiri di depan dinding kaca, menatap hamparan gedung pencakar langit kota.
Di bawah sana, papan nama raksasa Baskoro Corp telah lenyap, digantikan oleh nama yang seharusnya ada sejak dulu.
"Nona Chelsea, jadwal Anda hari ini sangat padat," Adrian masuk dengan tablet di tangannya, langkahnya terdengar lebih percaya diri sekarang. "Laporan keuangan minggu pertama setelah merger menunjukkan tren positif. Investor sangat puas dengan transparansi yang Anda terapkan."
Nadia berbalik, menyesap kopi hitamnya. "Bagus, Adrian. Tapi jangan biarkan mereka terlalu nyaman. Fokus kita sekarang adalah ekspansi. Aku ingin proyek Global Logistics Gateway yang dulu sempat terhenti, segera diaktifkan kembali."
"Maksud Anda... tender di Singapura?" tanya Adrian dengan nada terkejut. "Itu adalah proyek dengan skala internasional. Lawan kita bukan lagi perusahaan lokal, tapi raksasa dari luar negeri."
"Justru itu tujuannya," jawab Nadia dengan kilat mata yang tajam. "Nadia Kirana dulu mati sebelum sempat menaklukkan pasar Singapura. Hari ini, Chelsea Latief akan menyelesaikannya."
Tepat pukul sebelas siang, pintu ruangan Nadia terbuka tanpa ketukan. Seorang pria dengan aura dominan yang sanggup mengintimidasi siapa pun di ruangan itu melangkah masuk. Reynald, dengan setelan jas hitam yang sempurna, menaruh sebuah buket bunga mawar putih di meja kerja Nadia.
"Sepertinya Tunanganku sudah mulai merancang rencana untuk menguasai dunia," ucap Reynald dengan suara baritonnya yang berat, diiringi senyuman miring yang menawan.
Nadia tersenyum tipis, mendekati Reynald. "Aku hanya melanjutkan apa yang sudah seharusnya terjadi, Reynald. Singapura adalah langkah awal."
Reynald menarik pinggang Nadia dengan posesif, menatap langsung ke dalam manik matanya. "Hati-hati, Chelsea. Singapura adalah wilayah kekuasaan Arthur Chen. Dia pria yang sangat berbahaya, dan kudengar dia memiliki hubungan yang cukup 'dalam' dengan Baskoro di masa lalu. Dia sudah mendengar tentangmu."
"Arthur Chen?" Nadia mengernyitkan alisnya. Nama itu tidak asing baginya. Di kehidupan lalu, Arthur adalah saingan bisnis yang sangat ia segani. "Biarkan dia mendengar. Aku ingin dia tahu bahwa singa betina yang baru telah lahir."
Reynald mengecup kening Nadia dengan lembut. "Apapun yang terjadi, aku akan berada di belakangmu. Tapi ingat, jangan biarkan ambisimu membuatmu lengah."
Malam harinya, setelah seharian bekerja, Nadia kembali ke mansion Latief. Keadaan rumah kini jauh lebih tenang dan hangat setelah Hendra dan Keysha didepak. Namun, saat ia melangkah masuk ke kamarnya, ia menemukan sebuah kotak hadiah berwarna hitam tanpa nama pengirim di atas meja riasnya.
Nadia membukanya dengan waspada. Detak jantungnya seketika berhenti saat melihat isinya.
Di dalam kotak itu, terlipat rapi sebuah syal sutra berwarna biru laut.
Nadia gemetar saat menyentuh kain halus itu. Ini adalah syal yang ia kenakan pada malam ia didorong dari atap. Syal yang seharusnya hilang atau hancur saat ia jatuh. Di dalam lipatan syal, terdapat sebuah kartu kecil dengan tulisan tangan yang sangat elegan dan terasa sangat familier.
"Selamat kembali ke dunia bisnis, Kirana. Aku sudah lama menunggumu bangun dari tidur panjangmu."
Nadia menjatuhkan kartu itu, tubuhnya mendadak terasa dingin. Siapa pun pengirimnya, dia bukan hanya tahu tentang reinkarnasinya, tapi dia juga tahu detail kecil tentang malam kematiannya.
"Siapa... siapa yang melakukan ini?" bisik Nadia, matanya menatap syal biru itu dengan ketakutan yang mendalam.
Badai yang baru saja ia pikir sudah reda, ternyata hanyalah awal dari gelombang yang jauh lebih besar dan mematikan.