Cinta Adharra dan Rafael sudah terjalin saat mereka masih kecil. Usia keduanya yang terpaut beberapa tahun dan masalah silih berganti datang menguji cinta keduanya. Terlebih setelah kesalahan besar yang Rafael lakukan membuat Adharra goyah dalam kekecewaan. Walaupun saat bersama Rafael membuatnya lemah dan terluka tapi dia tidak bisa berhenti mencintainya, dia telah terjebak dalam cinta Rafael.
Akankah mereka bisa mempertahankan kisah asmaranya? Simak ceritanya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shinbisar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 9
Sesampainya di puncak, mereka langsung menuju Villa penginapan, yang kebetulan lokasinya berdekatan dengan Taman Wisata Matahari.
Arra memandang takjub sekeliling area puncak yang menampakkan pemandangan indah. Mata gadis itu berbinar gembira, kala melihat arena bermain Flying fox yang ada di kawasan ini. "Waahhh... itu pasti seru banget, Arra mau main. Mau main!" rengek gadis itu menarik lengan sang kakak.
Angga menelisik area sekitar yang membuat mata adiknya terbius, dan dia juga jadi tertarik ingin mencoba. Arra, meskipun gadis itu masih anak-anak dengan umur yang terbilang masih sangat muda, namun ia tidak sepenakut anak-anak lainnya, jika hanya untuk bermain dengan ketinggian. Malahan Arra justru sangat menyukai permainan yang seperti ini. Menantang adrenalin namun dengan sensasi yang seru, tentu itu bagi sebagian orang yang menyukainya.
"Masuk dulu, kita istirahat sebentar Dek! Badan Abang pegel habis nyupirin kamu," Angga mencoba memberi pengertian pada sang adik.
Perjalan dari Jakarta ke Bogor memakan waktu kurang lebih 1,5 jam. Ditambah Angga hanya men-nyupir seorang diri, beda dengan Rafael yang bisa bergantian dengan Arkala dan Rio. Hal itu alhasil membuat pinggang Angga sedikit terasa sakit karena terlalu lama dibawa duduk dengan posisi yang sama tak berubah.
"Nggak mau! Aku mau main Abaanngggg! Mainnnnn...!" rengek Arra menjadi. Gadis itu memasang wajah cemberut hendak menangis.
Rafael yang baru saja tiba dikarenakan tadi saat di perjalanan ban mobilnya sempat mendadak bocor dan membuat ia tertinggal pun segera mendekati kerumunan teman-temannya. Angga, Tita dan Arra. "Kamu mau main, Ra? Sama bang Rafa aja, ya. Yuk!" ajak Rafa, tak sengaja mendengar rengekan Arra. Segera gadis itu melerai tangannya yang melingkari kakaknya dan berlalu mendekati Rafael.
"Ayo, Bang Rafa. Aku mau main, sepuasnya!" ujar Arra mengerling manja, menunjuk arena bermain yang ingin dicobanya.
"Sesuai keinginan Princes nya Abang. Yuk jalan." Rafael lalu menggamit lengan kecil sang gadis yang tenggelam di genggamannya.
Lelah selepas men-nyupir tadi, ditambah dengan tragedi ban bocor yang mengharuskan ia menggantinya dibantu Arkala dan Rio pun, rasanya menghilang seketika, terkalahkan dengan semangat untuk mengajak Arra yang ingin sekali bermain.
"Rio! Gue titip tas. Sekalian bawain ke kamar! Gue mau nge-date dulu, lo jangan ganggu!" titah Rafael berujar songong, saat melihat temannya yang satu itu hendak mengekori ia dan gadisnya.
"Yah, gue mau ikut Raf, masa ditinggal sih," keluh Rio kesal. Angga dan Arka sontak terkekeh pelan melihatnya. Mereka menertawai Rio yang selalu menjadi pengecoh.
Mungkin Rafael masih dendam dengan Rio yang tadi sempat menggoda Arra saat di rumah, pikir mereka.
"Angga, gue sekalian izin deh bawa Arra main! Tita, lo juga nggak apa-apa kan gue tinggal?" izin Rafael.
Meskipun ia sudah dekat dan mengenal keluarga Om Dimas sejak kecil, tetap saja jika menyangkut Arra, ia harus meminta izin dahulu.
"Iya!" sahut Angga dan Tita bersamaan. Netra mereka beradu saling bersitubruk lalu membuang pandangan dengan canggung. "Hati-hati! Arra kamu jangan nyusahin Rafael, ya Dek!" tambah Angga berpesan.
Dengan wajah congkaknya pula Rafael menggoda Rio yang memandang berharap akan diajak. Rafael lalu berjalan menggandeng Arra erat, takut gadis kecil itu hilang dari pengawasannya.