NovelToon NovelToon
"OTORITAS TANPA BATAS: SAGA EMPAT DEWA MULTIVERSE"

"OTORITAS TANPA BATAS: SAGA EMPAT DEWA MULTIVERSE"

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi
Popularitas:246
Nilai: 5
Nama Author: Mara Nata

Asap kelabu dari sisa pembakaran minyak mesin siber menyelinap masuk melalui celah pilar obsidian Aula Gerhana, berputar-putar menciptakan bayangan kaku di atas lantai batu yang dingin. Di luar menara istana, langit Planet Akuma sedang memuntahkan badai hujan merkuri cair yang paling pekat sepanjang satu abad sejarah klan Shinto. Ketukan logam mendidih yang menghantam atap baja terdengar konstan, menciptakan simfoni bising yang meredam detak kehidupan normal. Dengan gaya tarik bumi yang bekerja seratus kali lipat lebih ekstrem, atmosfer di dalam bilik bersalin itu terasa begitu menjepit raga, memaksa setiap hela napas yang keluar dari tenggorokan terasa berat dan membakar sistem pernapasan seutuhnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mara Nata, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9: Penempaan di Bawah Limpahan Racun

Tetesan merkuri cair yang merembes dari sela-sela atap seng gudang kayu Sektor Belakang berbunyi seperti ketukan logam yang teratur. Suaranya bergaung membosankan memotong keheningan malam Planet Akuma yang kian mencekam. Setelah matahari tenggelam dan melumat habis sisa-sisa cahaya kelabu di langit, Perguruan Batu Hitam resmi diselimuti oleh kabut belerang pekat yang melumpuhkan pandangan radar pengawas. Di dalam gudang kayu lapuknya yang sangat dingin, Ryuken tidak bergerak satu milimeter pun dari posisi duduk silanya di atas lantai batu hitam yang kasar dan berdebu kotor.

Napasnya berembus sangat lambat, membentuk kepulan uap hangat tipis yang langsung membeku di tengah udara bebas. Tubuh kurusnya yang baru menginjak usia remaja empat belas tahun dipenuhi oleh lebam kebiruan dan bekas luka goresan akibat hantaman tumit sepatu besi Ren kemarin siang di lapangan tengah. Rasa linu yang luar biasa hebat menjepit setiap persendian tulangnya, memaksanya mengatur aliran darah dari dalam agar tubuhnya tidak hancur dihantam beratnya gravitasi bumi yang seratus kali lipat lebih ekstrem sepanjang hidupnya.

Namun, batin Ryuken tidak sedang meratapi kepedihan luka fisik atau mengutuk rencana berdarah yang dirajut oleh Tetua Kaelen dan Valen Vorash di ruangan komando depan. Fokus pikirannya justru terkunci mati pada sebilah ranting kayu pohon Akuma sepanjang satu meter yang bertumpu di atas kedua pahanya yang dipenuhi kapalan kasar. Ranting kayu tua tanpa hiasan itu tampak sangat rapuh, namun serapan cairan merkuri selama belasan tahun telah mengeraskan struktur serat kayunya menjadi sepadat baja terbaik, memancarkan wibawa sunyi yang menolak untuk tunduk pada kehebatan mesin palsu musuh.

Tepat pada sepertiga malam ketika seluruh aktivitas bising di kompleks militer Sektor Delapan dibungkam seutuhnya, Ryuken bangkit berdiri sendiri tanpa menggunakan baju zirah pelindung tubuh sedikit pun. Ia menyeret sepasang kakinya yang linu melintasi jalan setapak batu hitam yang licin, berjalan sunyi menuju ke area halaman belakang menara Kuil Tinggi yang terasing dan dipenuhi oleh lumut beracun. Tempat kotor ini merupakan pembuangan akhir di mana seluruh pipa-pipa air limbah bertenaga mesin milik Sektor Delapan melepaskan sisa pembakaran mereka.

Cara latihan mandiri yang dijalankan oleh Ryuken malam itu benar-benar berada di luar batas akal sehat. Ia melangkah tegap, menempatkan tubuh kurusnya tepat di bawah moncong pipa besi raksasa yang sedang bocor. Ia membiarkan aliran air limbah yang pekat, berat, dan mendidih menghantam telak di atas ubun-ubun kepala serta sepasang pundaknya secara bertubi-tubi tanpa ampun. Daya tekan alami dari cairan merkuri campuran limbah beracun tersebut begitu gila, memancarkan panas merusak yang sanggup menghancurkan batuan tebal dalam sekejap mata.

Seketika, kulit milik Ryuken bergolak mendidih, melepuh hebat mengeluarkan kepulan asap hitam yang berbau hangus menyengat. Rasa perih yang luar biasa gila merobek tubuhnya, memaksa seluruh pembuluh darah di sepanjang nadinya menegang kaku hingga Ryuken beberapa kali memuntahkan gumpalan darah segar ke atas tanah kotor. Hantaman air limbah mendorong tubuh kurusnya amblas sedalam lima sentimeter ke dalam permukaan batu hitam kuil, mencoba menghancurkan tubuh murninya menjadi hancur berkeping-keping.

Namun, keteguhan di dalam tulang sang anak buangan menolak untuk runtuh menjadi abu yang kalah ditelan kejamnya penguasa klan. Ryuken memejamkan sepasang mata hitam legamnya secara perlahan, menahan rasa perih yang luar biasa pekat tersebut. Ia memfokuskan seluruh sisa tenaga jiwanya untuk menyelaraskan detak jantungnya yang aneh dengan jatuhnya uap air limbah di sekelilingnya.

Di sinilah, rahasia kekuatan tersembunyi di dalam tubuhnya mulai mencapai babak baru yang luar biasa. Ketika debaran jantungnya mendadak berhenti berdetak total selama beberapa saat di tengah siksaan panas radiasi, Ryuken tidak mati. Ia justru memanfaatkan detik-detik keheningan tersebut untuk memperlambat jatuhnya butiran air limbah yang menggantung kaku di udara sekeliling tubuhnya, seolah-olah seluruh dunia dipaksa membeku di bawah perintahnya.

Dalam jeda waktu yang sunyi tersebut, Ryuken menggerakkan lengan ototnya yang kasar penuh kapalan. Ia mengangkat ranting kayu pohon Akuma miliknya membelah kegelapan secara sangat lambat, senyap, mengalir bagai hantu yang memotong ruangan tanpa mengeluarkan suara bising seperti mesin-mesin palsu Sektor Delapan. Ia meniru dengan tingkat ketepatan sejati setiap lekukan sudut tebasan pedang besi kasar Instruktur Jurota yang telah ia rekam dan simpan di dalam lubuk jiwanya.

Sebuah gerakan angin tak berbunyi tercipta di sela-sela malam badai yang membeku kaku. Tanpa menggunakan mesin zirah atau bantuan senjata canggih, sebilah ranting kayu tua di tangan kanan Ryuken sanggup membelah sebutir tetesan merkuri cair limbah yang sedang jatuh meluncur secepat kilat menjadi dua bagian mendatar yang sangat rapi, sebelum cairan mendidih itu sempat menyentuh kulitnya.

Setiap kali jantungnya kembali meledak bergetar gila-gilaan setelah keheningan berlalu, Ryuken meluncurkan dorongan kaki kirinya setengah sentimeter ke belakang murni memanfaatkan ruang kosong yang tercipta dari kekuatan tekad fisiknya. Gerakan itu meninggalkan sebaris garis sayatan yang sangat lurus dan halus di sepanjang dinding tiang batu halaman kuil yang terasing.

Tiga ribu tebasan murni ia lepaskan di bawah siraman air limbah yang membakar kulitnya, membiarkan otot-otot tubuhnya terus mengeras, memadat, dan berubah menjadi sebilah pedang sejati yang menolak untuk patah oleh intimidasi politik mana pun di dunia. Tetesan keringat dan darah segar yang merembes membasahi batu hitam menjadi saksi dari sebuah proses latihan sunyi yang luar biasa kejam, mempersiapkan kebangkitan kekuatan tertinggi yang kelak minggu depan akan merobek seluruh wajah keangkuhan para tetua dan Valen Vorash di atas panggung pertempuran terbuka.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!