NovelToon NovelToon
Vampire Aedes

Vampire Aedes

Status: sedang berlangsung
Genre:Vampire / Spiritual / Roh Supernatural / Reinkarnasi / Romansa Fantasi / Tamat
Popularitas:21.8k
Nilai: 5
Nama Author: TenSa

"Dasar nyamuk jantan!"

Namaku Aster, siswi SMP berusia tiga belas tahun. Belajar sampai larut malam untuk persiapan ulangan Biologi, tapi malah ketiduran. Ketika membuka mata ... hei tempat apaan ini? Pak Steven, saya minta maaf pernah mengutuk Bapak. Waktu itu saya benar-benar iseng.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon TenSa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

8. Aroma yang Menggoda

Meski ketakutan, wanita tersebut akhirnya melepaskan lengan Sari. Aster bisa bernapas lega membawa pelayan tersayangnya pergi. Pantas saja Lavender mengatakan kalau pelayannya terlalu loyal. Itu semua karena pelayan pribadi Laven tidak ada yang benar-benar setia. Mereka belum bisa membedakan mana majikan mana bukan.

Aster keluar dari wilayah kamar Putri Lavender. Dia menarik kain yang menghalangi mata Sari. "Iris hitam sangat langka di sini. Jadi kamu harus menjaganya dengan baik."

Sari tersenyum. "Terima kasih sudah menyelamatkan saya! Apa Tuan Putri baik-baik saja?"

Aster menyilangkan tangan di depan dada. "Aku tidak selemah itu. Oh, ya! Cepat kamu antarkan aku ke tembok jam raksasa!"

"Baik!"

***

"Lewat sini, Tuan Putri." Kedua tangan Sari merentang ke samping. Mengantar pada tangga utama yang sepertinya terhubung ke atas sana.

Aster mendongak. Telapak ditempelkan ke alis, seakan hormat ke tiang bendera. Ia bergumam, "Tinggi sekali ya."

"Apa Tuan Putri mengatakan sesuatu?" Sari menilik wajah Aster yang bersemu merah dan berpeluh.

"Bersihkan telingamu." Bulir keringat terjebak di rambut alis Aster. Perjalanan ke sini memang lumayan jauh. Hiperbolanya adalah berjalan di sepanjang tembok besar Cina, lalu di akhir perjalanan ada sebuah tangga dan kamu harus menaikinya.

"Sudahlah, ayo naik!" Aster melangkahi anak tangga pertama. Suatu getaran tak nyaman tertangkap telinga. "Suara apa di sana?"

"Detak jam. Tuan Putri harus melangkah sesuai ritme agar telinga Anda tidak terganggu."

Aster melanjutkan langkahnya. "Sari, kau ini seperti buku yang tahu segalanya. Apa kau diam-diam membaca buku?"

"Sejak kecil berada di sini, saya hanya sering mendengar omongan penghuni Istana. Orangtua saya juga mengajarkan hal-hal kecil, seperti menghalau bunyi jam."

Tak.

Tak.

Tak.

"Apa orangtuaku masih ada?" tanya Aster tiba-tiba. Benar, mungkinkah itu Ibu atau Ayah?

Sari mengerutkan dahi. "Raja dan Ratu akan selalu hidup. Kenapa Tuan Putri menanyakan hal ini?"

"Bukan. Maksudku adalah orangtua kandungku?"

"Maaf, Tuan Putri lebih tahu daripada saya. Saya hanya mengenal Anda sebatas pelayan. Omong-omong, kenapa Tuan Putri bersikeras ke sini?" tanya Sari, mengalihkan atensi.

"Ah, aku ingin melihat Istana Apung. Bisakah nanti kau tunjukkan di mana kastilnya? Aku yakin bangunan itu tertutup kabut. Penglihatanku tidak jelas," kata Aster disertai dengusan pelan. Andaikan ada kacamata di dunia mimpi, persis seperti kacamata yang biasa ia kenakan setiap harinya.

"Tentu saja. Ayo bergegas melihatnya dan segera kembali. Sebentar lagi matahari terbenam." Sari mempercepat langkahnya dua kali lipat.

Setelah sampai, Aster disuguhi bola api berwarna jingga dengan mega merah. Cahayanya membentuk siluet bayangan Aster dan Sari yang memanjang, kemudian memantul ke tembok di belakang. Bola itu bersembunyi di balik bukit yang ia rasa berdiri sebuah Istana di atasnya. Aster menyipitkan mata.

"Istana Apung," ucap Sari. "Dengar-dengar penghuni di sana paling tertutup dengan dunia luar dan hanya membuka tangan bagi kita."

Aster melihat aura suram melingkupi wilayah bukit. Ia teringat siapa yang pertama kali mengucap Istana tersebut, Putri Aedes. "Ada banyak virus di tempat itu!"

"Bagaimana Putri tahu?" tanya Sari terkejut. Pasalnya, Tuan Putri baru dua hari di sini dan ada namanya garis pembatas di antara dua wilayah. Jika sebelumnya Aster adalah anak biasa di luar Istana, bukan mudah melintasi daerah sana.

Aster meluruskan bibir. Sari di mimpi takkan mengingat bahwa dialah yang mengatakan, gigitan Putri Aedes mengundang penyakit. "Seseorang memberitahuku, salah satu perwakilan jiwa di sana adalah penyebar virus demam berdarah."

"Tuan Putri, tolong jangan berkata sembarangan!" Sari membekapnya. Dia berbisik, "Kepala pelayan mengumumkan, satu perwakilan dari Istana Apung berkunjung ke Istana Bunga untuk makan malam. Pendengaran mereka sangat tajam, kalau ucapan barusan terdengar, bisa-bisa—"

Aster menaikkan kedua alis, menunggu kelanjutan meskipun wajahnya telah membiru sebab menahan napas. Sari menggeleng, tidak sanggup membayangkan jika kepala cantik tuan putrinya melayang. Tangannya diturunkan. Segera Aster menghirup udara banyak-banyak.

"Makan malam?" Mirisnya diriku yang akan menjadi menu makan malam, pikir Aster nelangsa.

"Iya. Bahkan kepala pelayan sudah menyiapkan segala keperluan untuk diinap. Kulihat dia sangat bersemangat. Tentu saja, sudah empat tahun tiada kunjungan istimewa seperti ini, jadi sambutannya haruslah istimewa.

Apa Tuan Putri mau memberi sambutan? Kalau tidak salah, keretanya akan datang sebentar lagi." Sebentar lagi ... sebentar lagi ... perwakilan itu ... siapa lagi kalau bukan Pangeran Aedes? Ia sangat yakin, tujuannya ke sini adalah mencari Putri Tumbal.

"Tidak." Aster berbalik. "Sari, ayo kembali ke kamar! Malam nanti aku tidak akan datang karena kepalaku masih pusing."

***

"Pangeranku, apa yang sedang mengganggu pikiran Anda?" tanya pria di luar kereta kepada Pangeran Aedes. Belakangan ini dia terlalu banyak berdiam entah memikirkan apa.

Laki-laki berusia delapan belas tahun tersebut membuka tirai kecil dan mengatakan tentang aroma yang sejak kemarin terus menggodanya. "Aku yakin dia berasal dari sini."

Pelayan yang tadi bertanya mengulas senyum. "Apa Tuan akan membawanya ke Istana?"

Pangeran Aedes menarik sudut bibir. "Siapa yang berani menolak perintahku kecuali wanita bau 'itu'? Ah, Pelayan, cepatlah sedikit!" teriaknya saat melewati area dekat pasar. Ia menutup hidung, tak tahan akan bau menyengat dari setiap orang yang lewat.

Pengawal membuka gerbang utama dan kereta pun memasuki Istana Bunga. Terlihat sepatu cokelat menginjakkan ujungnya ke rerumputan segar. "Jangan ada yang mengikutiku."

Kedua pelayan hanya bisa mengangguk dan tetap berdiri di posisi tersebut. Satu orang menjaga kereta, satunya lagi menjaga kuda. Bahkan jika ada petir yang menyambar, mereka akan gosong dengan pose demikian.

Pangeran Aedes pun berjalan lebih masuk. Aroma manis semakin menguar. Langkah kakinya dipercepat, kian cepat, lalu situasi memaksanya berlari. Beberapa pelayan menyadari bahwa dirinya perwakilan jiwa dari Istana seberang. Sebentar lagi seseorang akan datang mencarinya, jadi ia harus segera menemukan barang enak itu.

Tiba di depan tangga yang membuat telinganya berdengung hebat, Pangeran Aedes berhenti. Perempuan mungil menginjak anak tangga terakhir sambil mengangkat sedikit gaunnya. Di situlah mereka saling menatap.

Aster mendongak dengan mata membulat. "Lo?!"

Tidak. Dia tidak boleh mati di tempat ini. Di mana hanya ada satu saksi mata, yaitu Sari. Bisa saja saat pengadilan berlangsung, Sari dibekap atau malah lehernya ikutan dihisap. Aster mengangkat gaun lebih tinggi, lantas berlari tanpa memikirkan apa pun. Hanya kata "lari" memenuhi kepalanya.

"Kau tidak mengikuti tuan putrimu?" sentak Pangeran. Sari tergagap-gagap menjawab pertanyaan dari orang tampan.

Dia pun membungkuk hormat. "Sa-saya me-menyambut P-pangeran. Kepala Sari sudah mengumumkan kepada seluruh sari di Istana Bunga bahwa Anda akan datang saat matahari terbenam. Jika ada sesuatu yang Tuan Pangeran butuhkan, Anda bisa mengatakannya kepada saya."

"Tidak buruk. Pastikan tuan putrimu menghadiri acara makan malam nanti." Karena melihat sikap Aster yang seolah menghindar, ia meragukan kedatangan gadis itu entah di saat makan malam ataupun pertemuan bangsawan.

1
Muhammad Alfario Wirawan
wkwkwk itu namanya bukan curhat, tapi mau ngerumpiin gurunya wkwk
SAYA MALAS RISET
Akhirnya .... g-gomenasai~ Aster-chan _T Semoga kamu tenang di alam sana ya ueuee... Alhamdulillah aku bisa lanjut vampir2 kesayanganku yang lain. Hah, Ibu Peri pergi dulu dadah! Klo lagi luang, pasti kamu kurevisi kok🥰
kelincipincang
ceritanya keren semamgat kakakkk
kelincipincang
gamau dipanggil tuan putri terus mau dipanggil affah dong?? sayang?
SAYA MALAS RISET: Say it e es ti i ar! Aster!
total 1 replies
Mamahsp99
mampir
berlyan_biru03: Pengagum Rahasia Mu...
total 3 replies
Sabar ya Putri Ketujuh🤧🤧🤧
Waduh DBD😦
Wow Aksi Aster udah bikin deg-degan😍
SAYA MALAS RISET: Hah? Emang Aster lagi ngapain kok bikin deg2an?
total 1 replies
The best❤️❤️❤️❤️
flower bean
Lihat aku disini, pembaca yang selalu setia menanti~~
SongbirdGarden
Thor, kalau capek, istirahat dulu, minum dulu, besok kita lanjut lagi ya :) Aku selalu nunggu author kok!
SAYA MALAS RISET: Aduh ya ampun makasih ya Noveltoon udah peduli sama karya saya
total 1 replies
PrincessFuzzie
Dimohon kepada author, cukup! Jangan bikin aku baper lebih parah daripada ini huhu
Zhivana anindia Lestari
hi ka aku mampir ya semangat up nya
SAYA MALAS RISET: Terima kasih sudah mampir, Sayang.
total 1 replies
alterna.nas
elipsis sudah oke. Namun, paragraf ini bukan dialog tag, melainkan dialog aksi😉. Jadi, pakai tanda titik saja. Jadi, elipsisnya (...) tambah satu titik apabila dia ada di akhir kalimat.

"Saya ...." Aster bla bla bla
alterna.nas
untuk kata: Kakak tidak usah pakai kapital di awal kata, kecuali kalau dia menjadi kata yang berada di awal kalimat.

kenapa? karena sapaan tanpa tambahan nama tidak perlu pakai huruf kapital di awal kata.
alterna.nas
ini harusnya dialog aksi.
aturan menggunakan dialog aksi adalah pakai koma atau tanda baca lain, kecuali tanda koma. Sebab tanda koma adalah tanda wajib bagi dialog tag.

dialog tag juga boleh pakai tanda baca lain selain koma, kecuali tanda titik😉
alterna.nas
Halo, Nanas-imnida sedang tahap membaca. Sebelumnya, saya mohon maaf apabila terdapat kata atau kalimat yang dapat menyinggung. Saya bukan seorang ahli kurasi, tetapi saya bisa menjelaskan sedikit tentang kepenulisan.

Sejauh ini yang dapat saya tangkap dari cerita kakak adalah masih terdapat penggunaan dialog tag dan dialog aksi/narasi yang keliru.

Ceritanya bagus, saya pikir akan menceritakan tokoh dari dunia fantasi original, ternyata semua kejadian fantasi tersebut terjadi berkat Aster bermimpi aneh. Keren sekali kakak membawakannya dengan begitu santai dan bagi saya asik-asik saja.

Bahkan, saya sontak tertawa ketika tahu siapa pangeran ke-tujuh, Aedes Aegepty😂 (eh maaf kalau penulisannya salah). oke lanjut.

Pada paragraf ini, yang tepat adalah seperti ini: "Ish!" Aster menoleh. (pakai titik saja. Kenapa harus seperti itu? Sebab di sana menoleh bukan dialog tag, melainkan dialog aksi/narasi.

Dialog aksi/narasi adalah dialog yang menjelaskan tentang aksi si pembicara, sedangkan dialog tag hanya memberitahukan penjelasan bahwa si pembicara tengah berbicara.
SAYA MALAS RISET: Halo, Kak Nanas! Terima kasih sudah direview. Itu sangat membantuku.
total 1 replies
SAYA MALAS RISET
Halo, Kakak Pembaca! Dukung karya TenSa yuk dengan cara like, komen, dan tap ❤️
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!