NovelToon NovelToon
Satu Bulan Menunda Cerai

Satu Bulan Menunda Cerai

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Transmigrasi / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:3.5k
Nilai: 5
Nama Author: Ririne Rose

Gisella terbangun dalam tubuh seorang wanita figuran dengan nama yang sama di dalam sebuah novel roman. Sialnya, momen transmigrasinya terjadi tepat saat sang suami, Adrian Arthur—seorang profesor riset jenius berusia 27 tahun yang dingin dan kaku—menyodorkan surat cerai di atas meja.

Mampukah Gisella mengubah takdir kematian tragisnya dan bertahan di samping sang profesor jenius, ataukah waktu satu bulan itu akan tetap menjadi akhir dari kisah mereka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ririne Rose, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

EPISODE 22: Adrian yang Mulai Memperhatikan

Suasana di dalam kafe tua ujung dermaga itu seketika berubah menjadi medan perang atmosferik yang mencekik.

Kehadiran Adrian Arthur yang tiba-tiba—lengkap dengan aura dominan yang membekukan udara—membuat Julian membeku di tempatnya.

 Tangan pria parasit itu yang semula hendak merogoh saku jaketnya langsung tergantung kaku di udara, sementara nyalinya menciut drastis begitu melihat dua pria bertubuh tegap di belakang Adrian.

Gisella sendiri tidak mampu bersuara. Jantungnya berpacu dalam ritme panik yang tak keruan.

"Bagaimana Adrian bisa ada di sini? Bagaimana dia tahu?"

Adrian melangkah mendekat.

Setiap ketukan pantofelnya di atas lantai kayu kafe yang lapuk terdengar seperti hitungan mundur yang menakutkan.

Dia berhenti tepat di samping meja, menatap Julian dengan pandangan meremehkan yang amat dingin, seolah sedang melihat seonggok sampah laboratorium yang kontaminasi.

"K-Kau... Profesor Arthur?"

Julian mencoba mengumpulkan sisa-sisa keberaniannya, meski suaranya bergetar hebat.

"Apa yang kau lakukan di sini? Ini urusanku dengan Gisella!"

"Semua hal yang melibatkan wanita ini adalah urusanku, Tuan Julian," sahut Adrian,

suaranya rendah, bariton, dan sarat akan ancaman yang terukur.

Dia melirik salah satu pria bersetelan jas di belakangnya.

"Bawa pria ini keluar. Pastikan berkas-berkas perjudiannya di distrik bawah diserahkan ke kompartemen kepolisian pusat malam ini juga. Aku yakin mereka sangat tertarik dengan utang jatuh temponya."

"Baik, Tuan Profesor,"

jawab pria tegap itu sigap.

"Tunggu! Kau tidak bisa melakukan ini! Gisella, kau—"

Teriakan Julian teredam saat tubuh ringkihnya diseret keluar dengan paksa oleh dua pengawal sewaan Adrian.

 Pintu kaca kafe kembali berderit, menyisakan keheningan yang pekat di antara Adrian dan Gisella.

Adrian mengembuskan napas panjang. Kemarahan dingin di wajahnya perlahan memudar, digantikan oleh gurat kelelahan yang mendalam.

Dia menatap Gisella yang masih terduduk kaku dengan wajah pucat.

Tanpa sepatah kata pun, Adrian mengulurkan tangannya yang besar dan hangat di depan Gisella.

"Ayo pulang," ucapnya lirih.

Gisella menatap telapak tangan itu ragu sejenak, sebelum akhirnya meletakkan jemarinya yang dingin di sana.

Begitu kulit mereka bersentuhan, Adrian langsung menggenggamnya erat, seolah memastikan wanita itu tidak akan lari ke mana pun lagi malam ini.

Perjalanan pulang di dalam mobil sedan hitam milik Adrian diselimuti keheningan yang tebal.

 Adrian fokus menyetir, sementara Gisella memandangkan wajahnya ke luar jendela, menatap lampu-lampu kota Aethelgard yang mengabur karena kabut malam.

Rasa bersalah berkecamuk di dalam dadanya.

Dia merasa bodoh karena berpikir bisa menyelesaikan masalah pelik ini sendirian tanpa melibatkan pemilik sah dari riset yang dipertaruhkan.

Begitu mereka tiba di kediaman Arthur, waktu sudah menunjukkan pukul setengah sepuluh malam.

Rumah sudah sepi; Nyonya Arthur dan Valerie tampaknya sudah berada di kamar masing-masing.

Adrian melepas mantel panjangnya dan meletakkannya di sofa ruang tengah, lalu berbalik menatap Gisella yang masih berdiri canggung di dekat pintu.

"Duduklah, Gisella,"

kata Adrian, menunjuk kursi di depan piano hitam besar—tempat yang akhir-akhir ini menjadi saksi bisu pergeseran hubungan mereka.

Gisella berjalan pelan dan duduk di kursi piano, melipat tangannya di atas pangkuan.

"Bagaimana kau bisa tahu aku ada di sana, Adrian? Dan dari mana kau tahu tentang Julian?"

Adrian menarik kursi kerja kayu dari sudut ruangan, meletakkannya tepat di hadapan Gisella, lalu duduk di sana.

Jarak di antara mereka sangat dekat, hingga Gisella bisa melihat binar mata Adrian yang kini dipenuhi oleh emosi yang rumit.

"Kau pikir aku benar-benar melepaskan pengawasan terhadapmu setelah insiden rumah sakit itu?"

Adrian membuka suara, nadanya tidak lagi marah, melainkan terdengar seperti seorang pria yang sedang mencoba memahami sebuah teka-teki.

"Bibi Martha menyerahkan amplop cokelat itu kepadaku sesaat setelah kau pergi. Dia mencemaskan keselamatanmu. Begitu aku membaca isi surat Julian tentang 'pencurian riset' dan 'dokumen rahasia', aku langsung tahu ke mana kau pergi."

Gisella menunduk, tidak berani menatap mata Adrian.

 "Maaf... aku tidak bermaksud menyembunyikannya darimu. Aku hanya... aku hanya tidak ingin kau mencurigai aku lagi. Dokumen perjanjian yang dikatakan Julian itu, itu dibuat oleh Gisella yang dulu, enam bulan lalu. Aku yang sekarang tidak pernah—"

"Aku tahu," potong Adrian cepat.

Gisella tersentak dan mendongak.

"Kau... tahu?"

"Aku sudah mulai memperhatikanmu dengan saksama, Gisella. Lebih dari yang kau sadari,"

ucap Adrian, suaranya melunak, matanya menatap intens ke dalam manik mata cokelat jernih Gisella.

Pria itu menundukkan tubuhnya sedikit, menumpukan kedua sikunya di atas lutut, memperkecil jarak di antara wajah mereka.

"Jika kau adalah Gisella yang dulu, kau akan menggunakan ancaman Julian sebagai senjata untuk memeras uang dariku, atau kau akan ketakutan dan menangis meminta bantuanku demi menyelamatkan kekasih gelapmu itu. Tapi apa yang kau lakukan di kafe tadi?"

Adrian menunjuk ke arah Gisella dengan gerakan dagunya.

"Kau menghadapinya sendirian. Kau menganalisis celah hukumnya, mematahkan argumennya dengan logika yang dingin, dan melindungiku serta riset keluarga ini dengan caramu sendiri. Seorang mata-mata industri tidak akan mempertaruhkan nyawanya di dermaga kotor hanya untuk membela pria yang seharusnya dia khianati."

Adrian mengulurkan tangannya, perlahan menyelipkan sehelai rambut cokelat bergelombang Gisella yang berantakan ke belakang telinganya.

Sentuhan itu begitu lembut, kontras dengan jemarinya yang biasa kaku memegang tabung reaksi.

"Mata ini tidak bisa berbohong, Gisella,"

bisik Adrian, ibu jarinya mengusap pelipis Gisella dengan gerakan yang hampir membuat pertahanan diri wanita itu meleleh.

"Aku mulai memperhatikan bagaimana caramu berjalan, bagaimana caramu menyajikan sup di pagi hari, dan bagaimana caramu memandangku dengan rasa bersalah malam ini. Es di hatiku mungkin sudah mencair sejak lagu Chopin tempo hari, tapi malam ini, perhatianku kepadamu sudah melampaui batasan eksperimen sains mana pun."

Gisella menahan napasnya.

 Tatapan mata Adrian malam ini begitu pekat oleh rasa kagum dan kepemilikan yang murni.

Pria kaku ini tidak lagi mencari celah kesalahannya; dia justru sedang secara terang-terangan mengakui bahwa dia telah jatuh ke dalam jerat pesonanya.

"Adrian... tapi kontrak tiga puluh hari kita—"

"Lupakan kontrak itu untuk sejenak,"

 potong Adrian dengan tegas namun lembut. Dia menggenggam kedua tangan Gisella, meremasnya pelan untuk menyalurkan rasa aman.

"Mulai besok, aku tidak akan membiarkanmu menghadapi masa lalu tubuh ini sendirian. Jika ada lintah lain yang mencoba mengintaimu, mereka harus berhadapan dengan hukum keluarga Arthur terlebih dahulu."

Adrian bangkit berdiri, menatap Gisella yang masih terpaku di kursi piano dengan wajah yang merona merah muda yang manis.

Pria itu membetulkan letak kemeja hitamnya, lalu memberikan seulas senyuman tipis yang sangat menawan.

"Sekarang, mandilah dan istirahat. Kamar nomor dua adalah zona otonommu, tapi ingat... besok sore, kau punya utang dua lagu piano klasik untuk menenangkan sarafku yang tegang karena ulah nekatmu malam ini."

Setelah melemparkan perintah yang sarat akan perhatian protektif itu, Adrian melangkah menaiki tangga menuju lantai dua.

Gisella menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi, menatap kepergian Adrian dengan senyuman yang tidak bisa dia sembunyikan lagi.

Jebakan masa lalu dari Julian mungkin sempat mengintainya siang tadi, tetapi malam ini, perhatian yang mulai ditunjukkan oleh sang suami justru menjadi benteng terkuat yang siap melindunginya dari plot tragis dunia fiksi ini. Permainan catur takdir mereka kini telah berubah arah sepenuhnya.

1
Mar lina
lanjut Thor ceritanya
ditunggu updatenya
pengen tau pasti tentang cinta Mereka...
Mar lina
Aku mampir, Thor.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!