NovelToon NovelToon
Atas Trauma Kakakku, Aku Hancurkan Kau Lewat Pamanmu

Atas Trauma Kakakku, Aku Hancurkan Kau Lewat Pamanmu

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:972
Nilai: 5
Nama Author: Hello Ketty.

Bertahun-tahun Sarah disiksa suaminya hingga trauma berat dan akhirnya memilih untuk pergi. Adik kembarnya, Sera, datang untuk membalas dendam. Mengetahui suami kakaknya licik dan telah merampas seluruh harta kakaknya, Sera berjanji akan mengambil kembali semua hak milik kakaknya—meski harus merangkak naik ke atas ranjang Sean, paman dari suami kakaknya yang berkuasa.

Berhasilkah rencana Sera? Bisakah ia mengambil kembali segala hak milik kakaknya? Atau penyamarannya akan terbongkar, menjatuhkannya ke dalam bahaya yang jauh lebih mengerikan di tangan keluarga yang kejam dan penuh kelicikan itu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hello Ketty., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8

Ini pasti ruangannya...

Tok... tok... tok...

Sera mengetuk pintu perlahan.

"Masuk," suara itu terdengar dari dalam. Meski baru pertama kali mendengarnya tadi di lantai bawah, Sera langsung mengenali dan menghafal suara itu.

Ia mendorong pintu terbuka. Di sana, terlihat Sean yang sedang sibuk menatap layar komputernya.

Sera melangkah mendekat ke meja kerja pria itu, lalu meletakkan secangkir kopi di atasnya.

"Ini kopi, Paman," ucap Sera, sengaja memanggilnya dengan sebutan yang biasa digunakan kakaknya.

"Terima kasih," jawab Sean singkat tanpa menoleh.

Tapi tentu saja Sean tahu siapa yang datang. Selama ini, tak ada pelayan lain yang berani mendekat saat ia pulang—kecuali Bik Siska dan Sarah.

Pelayan yang lain pasti akan menghindar atau memerintahkan salah satu dari mereka berdua untuk melayani. Itulah sebabnya Sean tidak merasa asing melihat Sarah yang datang membawa kopi; hal itu sudah menjadi kebiasaan saat ia pulang.

Setelah Sean mengucapkan terima kasih, Sera masih berdiri diam di tempat dan belum beranjak pergi.

Menyadari itu, Sean pun menghentikan gerakan tangannya di atas papan ketik, lalu menoleh ke arahnya.

"Ada apa?" tanyanya.

Suara Sean terdengar lebih tenang dan lebih manusiawi dibandingkan saat ia berbicara dengan anggota keluarga yang lain.

Dengan Sarah, Sean memang sering bersikap lebih lembut.

Jadi begini... caranya memperlakukan Kakak selama ini... batin Sera lega masih ada orang baik di rumah itu.

"Paman..." Sera pura-pura menggantung ucapannya hanya untuk memancing reaksi pria itu terlebih dulu sebelum mengatakan niatnya.

"Ya, katakan saja," ujar Sean sembari memperbaiki posisi duduknya, menatap gadis itu lekat. Seperti biasa, ia berpikir Sarah pasti ingin mengatakan sesuatu atau meminta bantuan—sebab selama ini Sarah sering lebih berani berbicara pada paman suaminya daripada pada suaminya sendiri.

"Paman tahu tidak... kenapa aku dipindahkan ke kamar bawah?" tanya Sera perlahan pura-pura menunduk, mulai memancing pembicaraan.

Wajah Sean seketika berubah serius. "Dipindahkan ke kamar bawah? Sejak kapan? Kau yang menginginkannya?"

Sera menggeleng cepat. "Tentu saja tidak, Paman. Sekitar lebih dua minggu, aku baru saja pergi berkunjung ke kerabat Ibu. Saat aku pulang, barang-barangku sudah dipindahkan ke lantai bawah."

"Apa? Kau tahu siapa yang memindahkan barang-barangmu ke bawah?" tanya Sean mulai terpancing.

"Soal itu aku juga tidak tahu, Paman. Cuma tadi Bibi bilang aku harus tidur di bawah, di bagian belakang bersama para pelayan."

Raut wajah Sean berubah seketika.

Sera tersenyum dalam hati. Reaksi Sean ternyata persis seperti yang ia duga—berjalan sesuai rencananya.

Pria itu langsung menghubungi kepala pelayan, menyuruh Martha datang ke ruangannya.

Martha pun tampak tergesa-gesa menaiki anak tangga menuju ruangan Sean. Di tengah jalan ia berpapasan dengan Rika.

"Kau mau ke mana?"

"Tuan memanggilku ke ruangannya," ujar Martha berbisik pelan, lalu segera melangkah masuk.

Ternyata Rika ikut menyusul di belakangnya dan berdiri di ambang pintu karena Martha lupa menutupnya.

Setibanya di dalam ruangan, Martha melirik sekilas ke arah Sera yang berdiri di depan meja kerja Sean.

"Tuan, memanggil saya?" Tanya Martha.

"Martha, katakan, siapa yang memindahkan barang-barang Sarah ke lantai bawah? Bahkan ditempatkan di kamar para pelayan?"

Martha menelan salivanya dengan susah payah. Ia tak menyangka selama bertahun-tahun tinggal dikamar pelayan, Sarah sudah berani mengadukan masalah itu ke Sean.

"S-siapa yang bilang begitu, Tuan?" ternyata Martha begitu berani menyangkal.

Mendengar jawaban Martha, Sean langsung menegakkan posisi duduknya, menatap Martha tajam.

"Kau yakin tidak tahu?" tanyanya pelan, namun nadanya setajam pedang yang siap menghunus leher.

Keringat dingin seketika membasahi dahi Martha.

"Ada apa ini, Sean?" Rika segera melangkah masuk ke dalam ruangan, berusaha menghentikan pembahasan mereka.

Ia takut jika Martha sampai terbongkar, dirinya pun otomatis akan terseret—karena mereka berdua sama-sama terlibat dalam rencana menyingkirkan Sarah dulu.

"Atau mungkin kau yang terlibat di dalamnya?" Tatapan tajam Sean justru berpindah pada Rika.

Kini Rika yang terkena imbasnya.

"Maksudmu apa, Sean? Kau menuduh aku yang menyuruh Sarah pindah ke lantai bawah, ke kamar pelayan? Jangan asal tuduh aku kayak gitu, Sean. Aku bahkan tidak tahu apa-apa soal itu!" Elak Rika berbohong.

"Jadi, kalau bukan kau siapa lagi?"

Mulut pedas Sean seketika membuat wajah Rika memerah menahan amarah.

"Seharusnya kau tidak bicara seperti itu padaku hanya karena wanita ini, Sean. Aku ini kakakmu! Sementara dia hanya orang luar yang kapan saja bisa bercerai dengan Adrian!"

"Cukup!" potong Sean tegas.

Melihat pembelaan Sean pada Sera membuatnya semakin murka. Seketika Rika mengalihkan pandangannya ke arah Sera seperti siap untuk menerkamnya.

"Hei kau! Apa yang sudah kau adukan pada Sean, sampai dia marah-marah dan menuduhku yang tidak aku perbuat!" Rika yang sudah tidak tahan langsung mendorong keras bahu Sera.

Sera sebenarnya sama sekali tidak gentar dengan tindakan kasar dari Rika. Namun ia menggunakan cara itu untuk memancing kemarahan Sean.

"Aduh, sakit, Bu... Kok Ibu tega banget sama Sarah..." Matanya mulai berkaca-kaca dengan gelagat lemah yang meyakinkan.

Brak!

Rika terperanjat kaget saat Sean menggebrak meja dengan keras.

"Berani kau bertindak kasar di depanku?!" hardik Sean murka. Ia bahkan tak lagi memanggil Rika kakak, hanya menyebutnya 'kau'.

Rika menarik napas sejenak berusaha tenang.

"Sean... perempuan ini hanya berbohong! Buktinya barang-barangnya masih ada di kamar Adrian! Kalau kau tidak percaya, kau pergi saja lihat sendiri di sana!" ucap Rika membela diri.

Sean melirik sekilas ke arah Sera yang memasang wajah tampak sedih dan tertindas.

"Baiklah, aku akan pergi melihat sendiri keadaan yang sebenarnya."

Sial... Pasti mereka sengaja menaruh barang-barang Kakak di sana hanya untuk menutupi keburukan mereka. Ternyata mereka sudah merencanakan ini sejak lama, setiap kali Tuan Sean datang ke rumah ini, Kakak pasti dipindahkan dan suruh kembali ke kamar Adrian, supaya tidak ada yang tahu apa yang sebenarnya terjadi. batin Sera mendesis dalam hati.

Sera berjalan perlahan mengikuti langkah mereka dari belakang, sementara Sean melangkah lebar di deretan paling depan menuju kamar Adrian.

"Mampus kau nanti..." bisik Martha pelan tepat di telinga Sera yang berjalan paling belakang.

Sera hanya tersenyum tipis tanpa menoleh sedikit pun mendengar bisikan jahat itu.

Dasar tua bangka yang tidak tahu diri... Kau belum tahu dengan siapa kalian berhadapan sebenarnya. Aku punya banyak cara untuk melawan dan menghancurkan semua kelicikan kalian... Kalian belum tahu apa yang akan kalian hadapi nanti... batinnya tersenyum licik.

Sean langsung masuk ke dalam kamar dan memeriksa lemari di ruang ganti.

Benar saja, di sana masih tersusun rapi beberapa barang milik Sarah, masih banyak baju yang terlihat layak, serta beberapa barang pribadi lainnya.

Setelah selesai memeriksa, Sean langsung berbalik menatap ke arah Sera, seolah bertanya lewat tatapan itu: Apa kau sedang berbohong padaku?

"Lihat! Siapa sekarang yang berbohong? Wanita ini yang picik dan pendusta!" seru Rika sambil menunjuk ke arah Sera.

Sera lagi-lagi tersenyum dalam hati melihat Rika yang mulai kehilangan kendali.

"Aku tidak tahu soal ini, Paman. Tapi tadi pelayan bilang kalau aku harus tidur di bagian belakang," ucap Sera dengan wajah sendu, terus melanjutkan sandiwaranya.

"Kau! Berani-beraninya kau berbohong?!" pekik Rika, tangannya terayun siap menampar wajah Sera.

"Paman, aku tidak bohong!"

Sera dengan sigap menghindar, lalu segera berdiri tepat di belakang tubuh tegak Sean mencari perlindungan.

"Percaya deh sama aku, Paman.." elaknya sembari memegangi lengan pria itu.

Refleks, pandangan Sean tertuju pada tangan Sera yang kini menempel erat di lengannya.

Mampus kau! Tuan Sean itu tidak suka disentuh wanita! Semua orang tahu dia penyukai sesama jenis. Dan kau berani menyentuhnya? Tamatlah sandiwaramu, Sarah! batin Martha meledak kegirangan, tak sabar melihat Sera akan segera dihajar oleh Sean.

 

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!