Emily terpaksa menjadi pengantin dari Leon Anderson yang merupakan seorang mafia lumpuh menggantikan sang kakak yang kabur menjelang hari bahagia. Pernikahan mereka juga terjadi karena orang tuanya Emily memiliki utang besar kepada Leon dan Emily juga tak tau jika dirinya hanya seorang anak angkat. Seiring berjalannya waktu, cinta mereka pun tumbuh dan Emily mengandung. Namun, sebuah insiden memisahkan keduanya.
Beberapa tahun kemudian, mereka kembali bertemu tetapi semua telah berubah. Emily tak mengingat kejadian yang lalu. Akankah keduanya bersatu lagi merawat dan membesarkan buah hati mereka? Atau keduanya memilih jalan hidup masing-masing dengan orang berbeda?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mami Al, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6
Sudah seminggu Emily menjadi istrinya Leon. Selama itu pula Emily tak pernah keluar dari istana megah suaminya.
Hari ini juga merupakan hari kelima Emily mengajarkan Leon berjalan. Pemulihan kaki Leon menunjukkan kemajuan. Leon mampu berdiri tanpa bantuan tongkat selama 3 menit.
Seperti biasa di sore hari ini Emily melatih Leon lagi. Emily mengulurkan kedua tangannya memegang kedua tangan suaminya yang juga sama-sama terulur. Leon maju selangkah demi selangkah dan Emily mundur perlahan memastikan Leon tak terjatuh.
"Sekarang pegang satu tangan saya!" Emily melepaskan tangan kirinya.
"Aku hampir jatuh, Emily!"
"Jangan melangkah terburu-buru, santai saja!" kata Emily tersenyum.
Leon terus melangkah, Emily siap menjaganya agar tak terjatuh.
"Ayo, Tuan pasti bisa!" Emily memberikan semangat, perlahan ia melepaskan genggamannya.
Leon yang sadar istrinya tak memegangnya hampir saja kehilangan keseimbangannya. Emily dengan cepat memeluk tubuh suaminya.
Emily tersenyum dan berkata, "Tuan, hebat!"
"Aku hampir saja jatuh!" kesal Leon.
"Kita coba sekali lagi tanpa pegangan, ya!" kata Emily.
Leon menggelengkan kepalanya.
"Bukankah Tuan ingin menghukum saya?" Emily tersenyum menggoda.
"Baiklah, jika kau mau!" Leon melepaskan pelukan dan istrinya mundur 3 langkah ke belakang.
Leon kini berdiri tanpa pegangan meskipun kakinya gemetaran.
"Ayo, Tuan!" Emily memberikan semangat.
Leon perlahan melangkah.
Melihat Leon berjalan walaupun tak secepat orang normal lainnya membuat Emily tersenyum.
Leon mampu berjalan dengan beberapa langkah. Begitu sampai batas yang ditentukan Emily, sontak wanita itu melompat kegirangan. Ia berlari kecil menghampiri suaminya dan memeluknya, "Tuan, berhasil!"
Leon terdiam ketika Emily memeluknya penuh kebahagiaan.
Emily melepaskan pelukannya dan mendongakkan wajahnya menatap suaminya sambil tersenyum, "Saya senang Tuan akhirnya bisa berjalan lagi!"
"Kau tidak takut dengan hukuman yang akan aku berikan?"
Emily menggelengkan kepalanya dan berkata, "Tidak, Tuan. Saya malah senang Tuan kembali normal."
Leon tertawa getir lalu berucap, "Kau sungguh aneh!"
-
Malam ini, Leon tak memakai kursi roda lagi menuju ruang makan melainkan dipapah dibantu Emily.
Seorang pelayan pria menarik kursi agar memudahkan Emily mendudukkan Leon.
Setelah menyediakan kursi buat Leon, pria paruh baya itu juga memberikan kursi buat Emily.
"Terima kasih!" ucap Emily menatap sejenak pelayan di rumah suaminya.
Leon dan Emily pun menikmati makan malam seperti hari-hari biasanya tanpa suara.
Selesai makan, Emily kembali membantu suaminya berjalan menuju kamar.
Di ranjang, Emily menyandarkan punggung Leon dengan bantal yang menempel di kepala tempat tidur. Ia juga meluruskan kaki suaminya lalu mengambil sebuah buku di meja nakas dan menyerahkannya.
Emily tak segera naik ke ranjang, ia duduk di sofa sampai Leon memejamkan matanya.
Meskipun mengantuk, Emily tetap harus terjaga. Ia tak ingin Leon memarahinya lagi karena tertidur.
Sejam kemudian, Leon pun tidur. Emily memperbaiki posisi bantal dan tubuh suaminya. Menarik selimut menutupi separuh tubuh Leon. Setelah suaminya tertidur, Emily naik ke atas ranjang dan ikut berbaring di sebelahnya.
***
Pagi harinya, Leon terbangun dan melihat tangan Emily memeluk perutnya. Leon lantas tersenyum tipis dan menurunkan tangan istrinya itu dengan pelan dan lembut. Ia tak mau membuat Emily membuka matanya karena ketahuan menyentuhnya.
Leon turun dari ranjang, ia melangkah meraih kursi rodanya. Ia mencoba ke kamar mandi secara mandiri.
Emily mengerjapkan matanya dan mengarahkan pandangannya ke arah jam dinding. Begitu melihat angka di benda bulat itu, ia bergegas bangkit. Ia mengucek matanya memastikan bahwa jam yang dilihatnya tak salah. Ia kemudian menoleh ke sampingnya. Suaminya ternyata lebih dulu terbangun. "Astaga, aku melakukan kesalahan lagi!" ia tampak panik.
Emily turun dari ranjang dan melangkah cepat menuju kamar mandi. Ia sengaja berdiri di depan ruangan itu menunggu suaminya keluar.
Satu menit berlalu, Leon pun membuka pintu. Ia begitu terkejut melihat istrinya berdiri dihadapannya.
Emily tersenyum nyengir dan bertanya, "Apa Tuan sudah mandi?"
"Kau lihat sendiri saja!" jawab Leon kesal.
Emily memegang lengan Leon dan menuntunnya ke kursi roda. "Kenapa tidak membangunkan saya?"
"Aku memberikan keringanan kepadamu."
Emily tersenyum senang, "Terima kasih, Tuan."
"Hanya hari ini saja. Besok jangan diulangi lagi!" kata Leon.
"Baiklah!" ucap Emily yang begitu bahagia karena hari ini ia tak mendapatkan teguran dari suaminya.
Setelah memakaikan pakaian suaminya, Emily bergegas ke kamar mandi membersihkan dirinya. Ia sengaja mempercepat kegiatan mandinya agar Leon tak lama menunggunya.
Emily yang lupa membawa pakaian ke kamar mandi, keluar menggunakan handuk kimono dengan rambut ditutupi handuk kecil.
"Mau kemana?" tanya Leon yang berada di kursi roda sembari tangannya memegang phablet.
"Saya mau memakai pakaian," jawab Emily mengarahkan pandangannya ke arah kamar mandi.
"Pakai saja di sini!" kata Leon.
"Hah? Apa?" tanya Emily terkejut.
"Ya, pakai di depanku," jawab Leon.
Emily tertawa getir dan berkata, "Tuan, saya malu!"
"Kau istriku. Memangnya kenapa kalau menampakan bentuk tubuhmu dihadapan ku?"
"Tetapi--" ucapan Emily terjeda bingung melanjutkan kata-katanya.
"Kita sudah melewati sepuluh menit sarapan pagi!" kata Leon.
Emily menghela napas pasrah, "Baiklah!"
Emily membalikkan badannya, ia tak mau menunjukkan seluruh anggota tubuhnya dihadapan suaminya. Pernikahan mereka terjadi karena terpaksa, ia tak mau Leon memanfaatkannya untuk kesenangan pribadi pria itu.
Perlahan Emily melepaskan handuk yang menutupi tubuhnya, jantungnya berdetak kencang ketika melakukannya.
Leon yang melihatnya dari belakang, matanya tak berkedip memandang punggung mulus dan bersih milik istrinya. Meskipun dirinya belum mencicipinya. Sebagai pria normal, ia pastinya ingin merasakan nikmatnya tubuh istri sahnya. Tapi, rasa ego di hatinya melarangnya apalagi dia yang memaksa dan memilih Emily menjadi pasangannya semua karena menghindari rasa malu dan memenuhi permintaan Mama Rachel.
Emily memakai pakaian dengan cepat, ia tak mau Leon terlalu lama memperhatikan tubuhnya.
Setelah beberapa jenis pakaian sudah Emily kenakan, ia membalikkan badannya dan tersenyum kecil. Ia melepaskan handuk di kepalanya dan melangkah cepat ke arah meja rias lalu menyisir rambutnya.
Emily kini sudah rapi dan wangi, ia kemudian mendorong kursi roda suaminya keluar kamar.
"Emily, apa sebelumnya kau punya kekasih?" tanya Leon ketika keduanya berjalan menuju ruang makan.
"Saya tidak punya waktu mencari dan berteman dengan pria di luar sana, Tuan. Saya lebih banyak di rumah membantu para pelayan. Saya hanya keluar ke rumah saat sekolah saja," jawab Emily.
"Bagaimana hubunganmu dengan Belinda?" tanya Leon lagi.
"Tidak terlalu baik, Tuan. Kak Belinda lebih sering di luar rumah. Hampir dua bulan sekali dia melakukan perjalanan ke luar negeri," jawab Emily lagi.
"Kau tidak sedang menjelekkan Belinda dihadapan aku 'kan?" celetuk Leon.
Emily tersenyum getir, ia lalu berkata, "Tuan adalah orang yang hebat memiliki banyak pengawal. Jika Tuan tak percaya padaku, silakan mencari kebenarannya sendiri."