Status adik angkat tak pernah membuatku aman dari mereka."
Bertransmigrasi ke tubuh figuran yang diangkat anak oleh keluarga Sterling, Ceira berniat kabur dari alur novel. Namun, jiwa barunya yang tangguh justru memicu obsesi gelap Kaiser dan King Sterling.
Satu tubuh adik angkat, dua raga kembar, dan empat jiwa penguasa yang terobsesi mengunci hidupnya. Lari bukanlah opsi saat jerat liar mereka sudah mengunci mati.
"Mampukah dia lolos dari jerat liar mereka?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon namice, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jerat Rantai Tersembunyi
Pagi yang dingin dan remang menyelimuti Kediaman Sterling, namun tidak sedikitpun mampu mendinginkan gejolak kemarahan dan ketakutan yang berkecamuk di dalam dada Ceira.
Gadis itu sudah terbangun dan berdiri terpaku di balik pintu kaca balkon kamarnya yang terbuka lebar, membiarkan angin subuh menampar wajahnya yang pucat. Matanya menyendu, menatap kosong ke arah halaman luas yang dikelilingi pagar pengamanan ketat, merutuki nasib buruk yang telah menjebaknya di tempat terkutuk ini.
Pikiran gadis itu masih berputar liar, dihantui oleh kengerian sentuhan brutal semalam. Jejak tanda merah dan rasa perih yang tertinggal di leher serta sekujur tubuhnya menjadi bukti nyata atas klaim mutlak yang dipaksakan oleh Kaiser dan alter egonya, Zero begitu juga dengan Lucid. Mereka memberikan tanda merah dan ciuman bergantian. Rasa sakit fisik itu memang perlahan mereda, namun luka psikologis yang ditinggalkannya terasa begitu membekas, mengikis sisa-sisa kewarasan dan ketenangannya sebagai seorang wanita muda yang terbiasa hidup mandiri.
"Aku tidak boleh menyerah begitu saja," gumamnya dengan suara tercekat, jemarinya mengepal erat di atas pembatas besi balkon hingga buku-buku jarinya memutih. "Mereka mungkin berhasil menyita perangkat digital dan mengunci seluruh aksesku keluar, tapi otakku tidak bisa mereka renggut. Aku harus terus menyusun rencana untuk bisa kabur dan pergi dari keluarga psikopat ini, bagaimanapun caranya."
Di tengah keputusasaannya yang mendalam, ingatan Ceira melayang pada kenyataan pahit dari alur aslinya, dari awal Ceira tahu Kaiser maupun King sebenarnya telah memiliki seorang tunangan resmi yang sama, yaitu Audrey—pemeran wanita utama yang sebelumnya sempat datang berkunjung dan terlihat cemburu oleh kehadirannya, serta Clara sang antagonis yang mati-matian mencintai Kaiser dan King. Kebenaran itu membuat dada Ceira semakin sesak. Jika si kembar sudah terikat pertunangan resmi dengan wanita lain, lalu untuk apa mereka mengurungnya dan memperlakukannya dengan obsesi gila seperti ini? Apakah ia hanya dijadikan mainan pelarian atau boneka pelampiasan di antara rahasia gelap keluarga Sterling? Pertanyaan-pertanyaan itu terus berputar di kepalanya tanpa pernah menemukan jawaban yang rasional.
Lamunannya mendadak buyar saat ketukan pelan namun tegas terdengar di pintu kamar utamanya.
Tok. Tok.
"Nona Ceira?" suara pelayan wanita paruh baya terdengar ragu-ragu dan penuh kehati-hatian dari balik pintu kayu berukir itu. "Tuan Kaiser dan Tuan King menunggu Anda di ruang makan utama untuk sarapan pagi ini. Mohon jangan membuat mereka menunggu."
Ceira menelan ludah dengan susah payah, merasakan kerongkongannya mendadak kering kerontang. Mengingat kejadian kemarin malam di mana ia nyaris disiksa habis-habisan karena menolak makan—yang kala itu beruntung sempat terlepas karena ada urusan mendesak yang mengalihkan perhatian si kembar sesaat—membuat nyalinya ciut seketika.
"Sialan, aku harus turun makan," gumamnya dalam hati dengan perasaan geram yang membakar dada. "Jika aku tidak turun karena menolak makan lagi, dia pasti akan menghukumku dengan cara jauh keuh gila dari semalam. Aku harus bertahan hidup demi bisa melihat kebebasanku nanti."
Dengan terpaksa dan langkah kaki yang terasa sangat berat bagaikan terseret rantai besi, Ceira akhirnya membuka pintu kamar dan berjalan menyusuri koridor panjang menuju ruang makan utama.
Begitu ia tiba di sana, atmosfer langsung terasa begitu mencekam, seolah udara di ruangan itu berubah menjadi gas beracun yang menyesakkan.
Kaiser dan King duduk berdampingan di ujung meja makan yang panjang, menatap tajam ke arahnya sejak langkah pertama ia memasuki ruangan. Dengan enggan dan gestur kaku, Ceira menarik kursi yang berada paling jauh dari posisi mereka, lalu mulai menyuap makanannya dalam diam, menelan setiap butir nasi tanpa rasa di tengah keheningan yang mematikan.
Suasana hening sejenak sebelum Kaiser meletakkan perangkat makan peraknya dengan bunyi dentingan nyaring yang memecah kesunyian. Manik mata hitam kelam pria itu menatap lurus, menghujam pertahanan Ceira tanpa ampun.
"Mulai hari ini, rutinitasmu bertambah, Kucing Kecil," ucap Kaiser dengan nada suara yang dingin, datar, dan mutlak tidak menerima bantahan. "Setelah jam kuliahmu selesai setiap siang, mobil penjemput akan membawamu langsung ke kantor pusat perusahaanku. Kamu akan mulai bekerja sebagai sekretaris pribadiku di ruang kerjaku."
Ceira langsung mendongak seketika, matanya membelalak lebar di balik kacamata tipisnya karena dilanda rasa tidak percaya. Darahnya mendidih seketika, mengalirkan gelombang amarah yang membuat sekujur tubuhnya bergetar hebat. Dia tahu, menjadi sekretaris pribadi di kantor berarti ia akan dikurung dalam pengawasan 24 jam penuh—tanpa ada detik pun ruang untuk bernapas bebas!
"Tidak!" Teriak Ceira spontan, menolak mentah-mentah tanpa mempedulikan konsekuensinya. "Aku tidak mau! Aku punya kesibukan sendiri, aku punya jadwal kuliah, dan aku bukan bawahanmu yang bisa kamu suruh sesuka hatimu!"
Suhu di dalam ruang makan itu mendadak drop secara drastis, seolah musim dingin ekstrem menyergap ruangan dalam sekejap. Kaiser bangkit dari kursinya dengan gerakan lambat yang memancarkan teror murni, dan dalam sepersekian detik, manik mata hitam kelam pria itu berubah menjadi kekosongan mutlak berwarna merah. Zero telah mengambil alih sepenuhnya. Melihat perlawanan Ceira yang membangkang, Zero melangkah maju dengan aura menakutkan yang mencengkeram sukma.
Didorong oleh kepanikan yang mencapai puncaknya, Ceira yang nekat melayangkan tinju pertamanya secara membabi-buta ke arah wajah pria itu, mengerahkan seluruh teknik dasar bela diri jalanan yang pernah ia latih selama bertahun-tahun. Namun, hasilnya benar-benar sia-sia.
Kekuatan fisik Zero sama sekali tidak masuk akal, bagaikan tembok baja yang mustahil untuk diruntuhkan oleh tenaga manusia biasa.
Hanya dengan satu gerakan tangan yang sangat santai, sebelah tangan Zero dengan mudah menangkap kepalan tangan Ceira, lalu memutarnya ke belakang punggung dengan cengkeraman besi yang langsung melumpuhkan seluruh persendian gadis itu. Ceira terpekik tertahan, tubuhnya merosot kehilangan keseimbangan.
Di seberang meja, King hanya tersenyum menyeringai tipis melihat perlawanan sia-sia itu, menikmati tontonan keputusasaan mangsa mereka dengan sorot mata yang dingin. Namun tak lama kemudian, manik mata perak King ikut berubah menjadi lapisan es yang pekat berwarna warna menjadi merah.
Jiwa Lucid sang manipulator tanpa empati, ikut terbangun dari dalam kesadarannya, mengamati setiap gerak-gerik meronta Ceira dengan tatapan penuh minat yang teramat berbahaya dan haus kendali.
Tanpa membuang waktu, Zero mengangkat tubuh mungil Ceira dengan mudah, lalu mendudukannya secara paksa di atas permukaan meja makan yang dingin, mengurungnya tanpa celah di antara kedua lengan bidangnya.
Tanpa ampun sedikit pun, Zero meraup bibir Ceira dalam sebuah ciuman yang sangat brutal, menuntut, dan dipenuhi oleh hasrat posesif yang teramat membara. Belum sempat Ceira bernapas lega atau menghirup sisa oksigen di sekitarnya, ciuman itu diulang untuk kedua kalinya—jauh lebih dalam, lebih liar, dan menuntut penyerahan mutlak—hingga membuat paru-paru Ceira terasa terbakar hebat dan pandangannya mulai berkunang-kunang.
Belum cukup sampai di situ, Zero menurunkan wajahnya perlahan, lalu mengecupi leher jenjang Ceira dengan beringas, meninggalkan jejak-jejak kepemilikan baru yang semakin mempertegas dominasinya. Ceira berusaha menahan desahannya.
"Aku tidak suka dibantah, Kucing Kecil," desis Zero tajam penuh ancaman kematian tepat di kulit leher Ceira yang bergetar hebat. "Dan satu lagi... aku masih menahan hasrat liarku yang sebenarnya padamu, jadi ikuti setiap kata-kataku tanpa terkecuali dan jangan pernah berani berniat melirik atau berdekatan dengan pria manapun di dunia luar sana. Jika kamu berani melanggarnya, aku tidak akan segan-segan memiliki mu seutuhnya di tempat umum sekalipun... dan bukan cuma aku, tapi Kaiser, King, dan juga Lucid akan melakukan hal yang sama."
Deg...
Mereka gila, mereka benar-benar obsesi kepadaku... kenapa jadi seperti ini?
Kaiser sempat menarik diri sejenak, mengecup sekilas bibir Ceira dengan gerakan yang sedikit melunak, membuat gadis itu sempat menduga di dalam hatinya bahwa mimpi buruk pagi itu telah menemui akhirnya. Namun, dugaannya meleset jauh seratus delapan puluh derajat.
Sebelum Ceira sempat merosot turun atau melepaskan diri dari atas meja makan, King—yang kini sepenuhnya telah dikendalikan oleh Lucid—melangkah mendekat dengan senyuman misterius yang mencengangkan. Pria berambut putih perak itu mencengkeram kedua tangan Ceira yang lemas, menguncinya rapat-rapat ke belakang punggung dengan cara yang persis seperti yang dilakukan Kaiser sebelumnya, lalu membungkam bibir gadis itu dalam ciuman sarat hasrat liar yang dingin, penuh perhitungan, dan menghanyutkan kesadaran.
Ciuman Lucid terasa sangat berbeda dari Zero; ia terasa tenang, menghitung setiap detik keputusasaan Ceira, namun sama sekali tidak menyisakan ruang ampun bagi jiwa yang meronta di dalamnya.
Begitu Lucid akhirnya melonggarkan ciumannya dan melepaskan bibir Ceira yang kini bengkak serta mati rasa, ia membisikkan kalimat mengerikan tepat di daun telinga gadis itu dengan suara bariton yang membuat darah Ceira membeku seketika di dalam pembuluh nadinya.
"Ini adalah bentuk hukuman awal untuk ketidakpatuhanmu, Sayang... aku pun sebenarnya masih menahan diri agar tidak memilikimu sepenuhnya hari ini," bisik Lucid dengan nada suara yang begitu lembut, namun menyimpan teror psikopat yang teramat pekat. "Tetapi ingatlah satu hal ini, jika kamu masih berani nakal atau mencoba melawan aturan kami di luar sana, maka hasrat ini akan aku lepaskan secepatnya tanpa ampun di hadapan banyak orang. Bagaimana... apa sekarang kamu benar-benar paham di mana posisimu, Kucing Kecilku?"
aku tunggu👍👍👍👍
semangat......
gak jdi tuker tempat ma kamu ah..atutt 🤣🤣🤣🤣 jiwa halu ku meronta 😩😩
aahhh...gak sabar up lgi..👏👏👏
Semangat