di saat seorang pemuda mengira sudah menemukan cinta yang tulus ternyata dia salah malah kembali di khianati...
Akankan dia menemukan cinta tulus itu...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ray firmansyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 13
"Tunggu!! saya mohon pada semuanya, huft..baiklah saya akan menikahinya dan saya mohon jangan ada lagi yang menghinanya seperti tadi, jika masih ada saya akan menuntut orang itu." tegas Ardan.
Asyifa yang mendengar ucapan dari Ardan orang yang baru di kenalnya beberapa menit yang lalu itu kaget karena sudah membela harga dirinya sampai seperti itu.
"Halah!! tadi saja mengelak nya tetapi sekarang malah membelanya, sudahlah Pak Rt sekarang juga kita nikahkan saja keduanya." ucap Warga.
"Huft...Baiklah." sahut Pak Rt.
Akhirnya Ardan dan Asyifa pun di Nikah kan secara paksa dan Pak Rt sendirilah yang menikahkan keduanya, ya karena kebetulan Pak Rt juga merupakan seorang Ustad di desa tersebut, pernikahan secara paksa pun selesai dengan di saksikan oleh para Warga dan hanya dengan mahar uang sebesar seratus ribu rupiah saja.
"Haha akhirnya saya bisa menyingkirkan nya dari Mas Doni, sekarang Mas Doni hanya akan jadi milikku seorang dan nikmatilah hidupmu Syifa yang menikah dengan orang asing serta miskin itu." batin seorang Wanita dalang dari semua kejadian itu.
Ya Wanita yang memprovokasi para Warga itu bernama Mila, karena kecemburuannya dan tidak rela kalau Pria yang di sukai nya di rebut sama Asyifa, jadi Mila pun melakukan berbagai cara untuk menyingkirkan Asyifa, akhirnya dia pun berhasil dan sangat senang dengan keberhasilan rencananya.
Para Warga pun satu persatu membubarkan diri begitu pun dengan Pak Rt untuk pulang ke Rumah masing-masing, sekarang tinggal Ardan dan Asyifa yang berada di dalam Rumah Asyifa dengan berstatus Suami Istri dadakan.
"Maaf yah!! karena kamu ingin mengobati lukaku, kamu jadi mengalami kejadian yang tak mengenakan seperti ini." ucap Ardan.
"Sudahlah tidak apa-apa kan sudah terjadi juga, tapi yang sangat membuatku tak mengerti adalah kenapa kamu malah menyetujui untuk menikah denganku, padahal kamu sudah mengetahui kalau aku ini seorang Perempuan dengan berstatus yang sudah Janda." sahut Asyifa.
"Tadi aku berpikir untuk menyelamatkan kita berdua daripada di arak keliling Desa, lagi pula bagiku tidak masalah kalau aku menikahi Perempuan dengan status Janda kan yang terpenting bukan Istri orang." ucap Ardan.
"Memang sih kamu benar, huft...sudahlah lagian ini juga sudah terjadi dan mungkin ini juga sudah menjadi bagian dari takdir ku." sahut Asyifa.
"Kamu tenang saja meskipun kita sudah Sah menjadi Suami Istri secara Agama, aku tidak akan melakukan hal yang di luar batas." ucap Ardan.
"Hmm baiklah!! begini saja kalau masalah pernikahan paksa ini, besok kita bisa langsung urus surat perceraian kita." sahut Asyifa.
"Gimana kalau aku ingin terus bersamamu dalam pernikahan ini, dengan suka dan duka kita berdua selalu bersama." saran Ardan.
"Hah!! kamu tuh kalau ngomong tuh jangan ngaco deh, kamu itu masih muda dan masih bisa mendapatkan seorang Gadis di luaran sana untuk kamu nikahi, jangan berharap denganku yang berstatus Janda." shock Asyifa.
"Memang benar sih apa yang kamu katakan itu, tapi entah kenapa aku menginginkan pernikahan kita berdua ini terus berlanjut, lagipula paling selisih antara kita berdua cuman dua tahun doang." ucap Ardan.
"Sudahlah aku malas untuk berdebat dengan kamu lebih baik aku masuk kamar dan istirahat, kamu boleh tidur di manapun yang penting jangan di kamarku, ingat itu."
Sahut Asyifa sambil langsung melangkah menuju kamar nya dan masuk ke kamarnya begitu saja meninggalkan Ardan yang masih duduk di kursi.
"Huft..galak benar Istri dadakanku ini." gerutu Ardan.
.
.
Keesokan Hari
Asyifa seperti kebiasaannya dia selalu sudah bangun untuk Sholat Shubuh dan setelahnya bertadarus sebentar di dalam kamarnya, tapi masih terdengar sama Ardan yang tidur di kursi dan langsung mengerjapkan matanya.
Setelah selesai bertadarus Asyifa pun keluar dari kamarnya dan langsung melihat Ardan yang masih tertidur di kursi Asyifa hanya bisa menggelengkan kepalanya.
"Huft..gimana mau jadi Suami dan Imam yang baik, jam segini saja masih belum bangun." gerutu Asyifa sambil melangkahkan kakinya menuju ke dapur.
Tapi masih terdengar sama Ardan, ya karena dia hanya berpura-pura tertidur itu pun sambil tersenyum mendengar Asyifa menggerutu.
Setelah setengah jam lebih Asyifa berkutat di dapur kini dia pun sudah menyelesaikan masakannya, ketika ingin membangunkan Ardan tapi ternyata Ardan sudah bangun dari tidurnya dan sekarang sedang duduk sambil memainkan Hp nya.
"Baguslah kalau kamu sudah bangun sendiri jadi aku tidak perlu repot-repot untuk membangunkannya, ini ada sarapan anggap saja ini sebagai ucapan terimakasih karena kamu sudah menolongku untuk yang kedua kalinya." ucap Asyifa sambil meletakan makanan di meja.
"Terimakasih!! bagaimana kalau aku menganggap ini sebagai bakti Istri ke Suaminya, hmm bisakah kita memulainya dari awal lagi untuk menjalin hubungan di antara kita berdua." pinta Ardan.
"Kamu serius dengan ucapan kamu yang semalam itu?" tanya Asyifa.
"Iya memang bener aku serius ingin menjalin hubungan denganmu, apa ada yang salah." jawab Ardan.
"Ya tentu saja ada yang salah yaitu otakmu kan masih banyak yang masih Gadis, tapi kenapa kamu memilih yang sudah berstatus Janda sepertiku?" tanya Asyifa.
"Kan sudah aku bilang yang penting bukan Istri orang jadi tidak masalah bagiku, kan yang terpenting itu kita berdua saling menerima apa adanya satu sama lain." jawab Ardan.
Asyifa pun terdiam tidak bisa berkata-kata apapun lagi setelah mendengar ucapan dari Ardan, malahan Asyifa melihat ke mata Ardan untuk mencari apakah ada kebohongan di sana tapi Sayang tidak menemukannya.
Ardan yang mengerti pun dengan Istri dadakan itu, pasti masih ada sedikit trauma di dalam dirinya itu dan Ardan pun menuliskan nomor Hp nya di kertas.
"Hmm baiklah Syifa!! aku harus pergi kerja dulu dan ini nomorku jika butuh bantuan dan apapun itu, jangan pernah sungkan untuk menghubungi ku, ya udah Assalamualaikum."
Ardan pun memberikan kertas tersebut ke Asyifa tapi Asyifa sama sekali tidak menyentuhnya malahan terus melihat ke kertas tersebut, Ardan pun langsung keluar dari Rumah Asyifa tanpa menunggu jawaban salamnya di balas oleh Asyifa.
"Huft..aku bingung harus senang atau gimana yah untuk menanggapi semua yang terjadi di hidupku ini, karena tiba-tiba aku sudah punya Suami lagi." batin Asyifa.
.
.
Di Tempat Lain
"Apa kalian semua sudah ada yang tau tempat Bang Ardan berada dimana?" tanya Dimas.
"Belum Bang!! kami juga sudah meminta pada yang lain untuk menyisir di titik terakhir melihat Bang Ar, tapi kami semua tidak menemukannya sama sekali." jawab pegawai di Rumah Ardan.
"Ini sungguh aneh sekali kok tidak bisa...
Bersambung
~ *See You Next* ~