Raka—sosok cowok yang santai—bersiap memulai lembaran baru di jenjang SMA Negeri Garuda. Awalnya, ia hanya ingin menjalani kehidupan sekolah yang wajar; bergaul, bermain, dan menikmati masa mudanya.
Namun, ekspektasi santai itu mendadak buyar. Tak disangka, Raka justru bertemu dengan teman-teman yang super jahil, serta Alya—gadis dingin yang ternyata menyimpan masalah yang sangat rumit di balik senyumnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HAMZAHikhsan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 6: AKSI RAKA YANG GAGAL!
"Udahlah jangan bahas itu, gue mau ikut challenge nih," potong Raka.
Mendengar kata challenge dari Raka, Aira pun tersenyum tipis dan mulai nimbrung. "Hei, katanya lu mau ikut challenge?"
Raka sontak kaget. Kehadiran sepupunya ini benar-benar di luar ekspektasi.
"Uhmm, iya. Emang kenapa?"
"Apakah kalian udah baca posternya?"
"Iya, tapi itu gue anggap sebagai challenge, bukan ngincar hadiahnya." jawab Raka dengan nada mantap.
"Hoho, menarik! Kalau gitu kalian coba langsung aja!"
Saat Raka melirik ke arah meja Alya lagi, cewek itu sudah dikerubungi banyak murid. Banyak orang yang menginginkan hadiah itu demi kesenangan mereka sendiri.
Melihat kerumunan yang makin liar, Dimas dan Raka terperanjat bersamaan.
"Ugh..."
"Gila, banyak banget tiba-tiba!"jawab Dimas kaget
Ekspresi Aira yang terlalu santai membuat Raka melontarkan pertanyaan curiga.
"Lah, lu kenapa reaksinya biasa aja?"
"Bukannya aku yang sebar poster itu?" sahut Aira sambil mengangkat kedua alisnya dan tersenyum tipis.
"Ohh, gitu... Eh, apa?!" Raka melotot. "Jadi lu biang keroknya?!"
"Gimana? Seru, gak?" tanya Aira tanpa dosa.
"Haa?! Gak masuk akal! Kenapa lu bikin poster ginian?! Ya meski menggiurkan... tapi kan gak boleh!" omel Dimas kesal, lalu menoleh pada temannya. "Ya, kan, Rak?"
"Ehmm, apa?"
"Loh, kenapa jawabnya gitu?"
"Loh, terus gimana? Harus kayak 'wow' gitu?"
"Sebenarnya gue mau mikir kayak lu, Mas. Tapi karena gue suka tantangan, jadi maaf kalau gak sefrekuensi. Lagian lu sendiri tergiur, kan, sama hadiahnya?" celekit Raka.
"Ha-h?! Gu-gue gak tergiur!"
"Udahlah, jangan sok tsundere."
"Eee... emang gak boleh?"
"Gak."
Sementara mereka sibuk mengobrolkan hal tidak penting, Alya justru sedang bersusah payah melarikan diri dari kejaran orang-orang. Kini, cewek itu bersembunyi di gudang tua belakang sekolah yang kotor dan berdebu—seperti tempat yang sudah bertahun-tahun tidak terpakai.
"Huh, gila... sepupu gue ada-ada aja bikin poster mengganggu gitu," gumam Alya sambil menyandarkan punggungnya ke dinding.
"Haah..." Alya mendesah pelan, namun sedetik kemudian bibirnya mengukir senyum tipis. "Tapi... aku gak nyalahin dia juga, sih."
Kepulangan sepupunya membuat Alya merasa lega. Setidaknya, masih ada seseorang yang sangat berharga yang kembali berdiri di dekatnya.
Sementara itu, di dalam kelas...
Mereka bertiga masih saja memperdebatkan hal tidak bermutu.
Dimas akhirnya menghela napas pasrah dan mengalah.
"Haa... ya udahlah, terserah lu, Rak. Terus sekarang lu mau gimana? Si Alya udah kabur dari tadi."
"Hah? Kabur?!"
"Iya, dari tadi."
"Kenapa gak bilang dari awal?!"
"Ya karena gue lagi ngeladenin lu!"
Sadar Alya sudah menghilang, Raka langsung melesat keluar kelas untuk mencarinya.
Dimas menatap heran ke arah pintu. Dia tidak menyangka temannya yang biasanya santai itu bisa bertindak tergesa-gesa hanya untuk hal yang menurutnya tidak penting.
"Wah, itu beneran temen lu?" tanya Aira menunjuk ke arah pintu.
"Bukan, itu ayah gue yang hilang," jawab Dimas datar.
"Hahahah! Lucu juga lu!" Aira tertawa lepas sambil memegangi perutnya.
Tawa Aira dan Dimas perlahan memudar seiring menjauhnya langkah kaki Raka. Cowok itu benar-benar sudah melesat jauh dari kelas, menembus riuhnya koridor sekolah yang masih dipenuhi murid-murid berburu hadiah seratus juta.
Raka mengusap wajahnya yang mulai berkeringat. Alya gak mungkin ke kantin atau perpus, terlalu ramai... pikirnya cepat, memutar otak menebak tempat persembunyian terbaik cewek itu.
Saat sebuah ide melintas di kepalanya, Raka langsung melesat menuju satu-satunya tempat yang paling memungkinkan untuk Alya bersembunyi.
Sesampainya di lokasi, langkah Raka terhenti di depan sebuah bangunan tua yang tampak kumuh dan terbengkalai.
Tanpa ragu, Raka mendorong pintu dan melangkah masuk ke dalam gudang tersebut.
Di tengah ruangan berdebu itu, ia akhirnya menemukan Alya—cewek itu tampak sedang duduk sendirian sambil melamun.
Raka mulai menundukkan badannya, melangkah sepelan mungkin demi melancarkan niat jahilnya untuk mengejutkan Alya.
Begitu sampai tepat di depan cewek itu, Raka yang mukanya sudah tertutup buku tebal siap melancarkan aksinya.
"BAAA!"
Krikkk... krikkk...
Tidak ada jeritan. Tidak ada lompatan kaget. Alya hanya menatap datar ke arah Raka tanpa mengedipkan matA sedikit pun.
"Ngapain, sih?" tanya Alya dingin.
"Hahaha... gak kaget, ya?" tawa Raka hambar, berusaha menyelamatkan sisa-sisa harga dirinya.
Karena aksinya gagal total, wajah Raka langsung memerah padam akibat menanggung malu yang teramat sangat.
Mumpung gengsinya belum hancur berkeping-keping, ia berjalan mendekati Alya dan buru-buru mengalihkan topik.
"Uhmm... lu kenapa?" tanya Raka berusaha mencairkan suasana.
"Huhh..." Alya mendesah pelan. "Sebenarnya aku..."
Alya menghentikan kalimatnya. Matanya menatap Raka curiga. "Ehh, tunggu. Kenapa gue harus beritahu lu?"
Alya mendadak bangkit dari tempat duduknya dan melangkah pergi. Namun, sebelum cewek itu mencapai pintu keluar gudang, Raka bergegas maju dan menahan langkahnya.
"Tunggu dulu!"
"Hmm? Ada apa lagi?"
"Kenapa sepupu lu bikin poster ginian?" Raka menyodorkan lembaran poster kusam yang sejak tadi digenggamnya.
Alya hanya melirik sekilas ke arah kertas itu, lalu mengabaikannya begitu saja tanpa minat. "Gak tahu. Gak usah ikut campur urusan gue."
Tanpa membuang kata lagi, Alya benar-benar melangkah keluar dari gudang tua itu, meninggalkan Raka yang masih berdiri mematung sendirian di dekat pintu yang berderit pelan.
Raka bergumam pelan sambil menatap punggung Alya yang menjauh, "Hmm... sepertinya ada hal besar yang lagi dia sembunyikan."
Ia menghela napas panjang dan mengusap wajahnya. "Ya udahlah, mungkin dia lagi butuh waktu buat sendiri dulu. Sebaiknya gue balik ke kelas sekarang, siapa tahu sebentar lagi guru masuk."
Sesampainya di dalam ruang kelas...
Suasana ruangan itu ternyata masih sangat sepi dan lengang, menandakan bel tanda masuk sekolah memang belum berbunyi.
Saat Raka mengedarkan pandangannya ke seluruh sudut ruangan, matanya menangkap sosok yang sangat ia kenal—Dimas yang sedang tertidur lelap dengan kepala terkapar di atas meja kayu.
Raka berjalan santai mendekati meja temannya itu, lalu menepuk agak keras punggung Dimas.
Tepukan mendadak itu sukses membuat Dimas melonjak kaget dari duduknya. "Wah! Apa?! Ada guru masuk, kah?!"
"Gak ada," jawab Raka santai sambil mendaratkan bokongnya di kursi sebelah.
"Aduh, lu ini, Rak! Lagi asyik mimpi padahal!" omel Dimas gusar sambil mengusap matanya yang masih sepet. "Kenapa balik? Mau curhat lu?"
"Ya kali gue curhat sama lu."
"Terus ngapain muka lu ditekuk gitu balik ke sini?"
"Hmm... karena Alya sepertinya menyembunyikan sesuatu dari kita."
Dimas menaikkan sebelah alisnya, rasa kantuknya menguap seketika. "Menyembunyikan sesuatu?"
"Iya."
Dimas menatap Raka intens, raut wajahnya yang tadinya konyol mendadak berubah serius. Di tengah keheningan kelas yang masih sepi sebelum bel berbunyi, pikiran Raka kembali melayang pada tatapan dingin Alya di gudang tadi. Ada teka-teki besar di balik poster seratus juta itu, dan Raka tahu... mereka baru saja menginjakkan kaki di awal kekacauan yang sebenarnya.