NovelToon NovelToon
Diusir Mertua, Ternyata Pewaris Konglomerat

Diusir Mertua, Ternyata Pewaris Konglomerat

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Menantu Pria/matrilokal / Menyembunyikan Identitas
Popularitas:7k
Nilai: 5
Nama Author: Ardana Bayu

"Arya Suryanegara — menantu miskin yang diusir dari rumah mertua tanpa sepeser pun. Dicaci, dihinakan, diperlakukan bagai sampah selama tiga tahun.

Tapi semua orang salah besar.

Arya adalah pewaris tunggal Keluarga Suryanegara, konglomerat terkuat di Indonesia dengan aset ratusan triliun. Perusahaan terbesar di kota itu? Miliknya. Mantan Kapten Kopassus dengan kemampuan bela diri mematikan? Itu dia. Otak bisnis jenius yang bisa menghancurkan perusahaan saingan dengan satu telepon? Juga dia.

Sekarang penyamarannya berakhir. Yang pernah menghinanya akan berlutut. Yang berani menyentuh orang-orangnya akan hancur — secara bisnis, secara hukum, secara total.

Menantu miskin? Tidak. Pewaris triliunan yang kembali untuk mengambil tahtanya."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ardana Bayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 34

Bab 034: Syarat dari Prabu

Arya tidak langsung duduk.

Ia berdiri di hadapan Prabu Suryanegara, dengan Dewi di sisi kanan dan dua anggota Divisi Intelijen Keluarga di dekat pintu. Luka di sisi tubuhnya berdenyut pelan, tetapi rasa sakit itu justru membantu pikirannya tetap tajam.

Orang yang menawarkan jalan pulang setelah mengirim bayangan ke rumahmu tidak sedang membuka pintu.

Ia sedang mengukur apakah kamu masih memegang kunci.

"Jalan pulang?" tanya Arya.

Prabu mengangkat cangkir teh jahe. "Kau masih Suryanegara."

"Beberapa hari lalu Dewan Tetua tidak terdengar setuju."

"Dewan Tetua mengikuti siapa yang paling kuat menahan badai."

Dewi tersenyum dingin. "Kalimat yang sangat nyaman setelah mereka membuat badai."

Prabu melirik Dewi. "Kau masih setajam ibumu."

"Dan Arya lebih sabar dari ayahnya. Itu sebabnya Anda masih bisa minum teh di gedung ini."

Dua lelaki di dekat pintu sedikit bergerak.

Prabu mengangkat tangan. Mereka kembali diam.

"Aku tidak datang untuk berkelahi," katanya.

Arya akhirnya duduk, pelan agar jahitannya tidak tertarik. Prabu melihat gerakan kecil itu, tetapi tidak mengomentari.

"Katakan syaratnya."

Prabu mendorong amplop cokelat ke tengah meja.

"Tiga bulan. Tiga pembuktian."

Pak Satria tidak ada di ruangan, tetapi Arya seolah bisa mendengar catatan mentalnya.

Prabu melanjutkan, "Pertama, kekuatan bisnis. Kau harus menunjukkan bahwa aset yang kau bangun di luar Takdir mampu bertahan tanpa perlindungan nama keluarga."

"Prima?"

"Jika memang milikmu."

"Kedua?"

"Krisis. Dalam tiga bulan, akan ada setidaknya satu krisis besar yang tidak bisa diselesaikan dengan uang. Aku ingin melihat bagaimana kau melindungi orang dan institusi saat semua orang panik."

Dewi menatap tajam. "Anda sudah tahu krisis apa?"

Prabu tidak menjawab langsung.

"Orang tua hidup cukup lama untuk mencium asap sebelum api terlihat."

"Atau cukup lama untuk menyalakan api sendiri," kata Arya.

Prabu tersenyum tipis.

"Ketiga, jaringan. Empat Keluarga Besar tidak hidup sendiri. Kau harus membuktikan bahwa Pradipta, Wicaksana, dan minimal satu kekuatan nasional tidak menolak duduk di meja yang sama denganmu."

Arya membuka amplop.

Di dalamnya ada dokumen formal: pemulihan status sementara sebagai kandidat ahli waris aktif, bukan pewaris penuh. Ada tanda tangan beberapa tetua, belum semua. Ada kolom kosong yang akan diisi setelah tiga pembuktian.

Di halaman belakang, ada daftar indikator yang sangat dingin: nilai aset yang harus diaudit, jumlah dukungan tertulis dari keluarga lain, serta catatan "stabilitas keamanan pribadi". Kalimat terakhir membuat Arya hampir tersenyum. Mereka bahkan memasukkan darahnya di Kota Selatan sebagai angka risiko.

Umpan yang indah.

Berbahaya karena separuh nyata.

"Jika aku berhasil?"

"Aku akan membawa namamu kembali ke Pendopo Leluhur Suryanegara dan memaksa Dewan Tetua memilih terbuka."

"Jika gagal?"

"Kau tetap hidup dengan asetmu sendiri, tetapi jangan lagi menyentuh inti keluarga."

Dewi tertawa tanpa hangat. "Murah sekali. Arya yang mengambil risiko, Anda yang memegang pintu."

Prabu menatap Arya. "Kau bisa menolak."

"Aku bisa."

"Tapi kau tidak akan."

"Kenapa?"

"Karena kau mencari kebenaran Bagaskara dan Lestari. Dan kau tahu kebenaran itu berada di jantung keluarga, bukan di luar pagar."

Nama ibunya membuat udara berubah.

Arya menatap Prabu.

Dua anggota intelijen di dekat pintu tetap diam, tetapi salah satu dari mereka mengalihkan berat badan sangat sedikit. Pria itu berusia sekitar empat puluh lima, wajahnya datar, matanya tidak pernah berkedip terlalu lama.

Prabu memperkenalkannya. "Bayangan."

"Nama asli?"

"Tidak penting."

Pria itu menunduk sedikit. "Saya kepala operasional Divisi Intelijen Keluarga."

Suaranya rendah, tanpa emosi.

Arya menatapnya. "Jadi kau yang mengirim orang ke Rumah Bukit?"

Bayangan tidak menjawab.

Prabu berkata, "Operasi itu kesalahan."

"Kesalahan biasanya tidak membawa delapan orang terlatih."

"Aku bilang kesalahan, bukan kecelakaan."

Bayangan akhirnya berkata, "Tim itu diperintahkan mengambil barang, bukan membunuh."

"Mereka masuk ke rumahku pada malam hari."

"Karena barang itu dianggap ancaman."

Arya menatapnya tanpa berkedip. "Orang yang menganggap warisan ibuku sebagai ancaman seharusnya bertanya kenapa ibuku merasa perlu menyimpannya."

Dewi menghela napas pelan. "Luar biasa. Permintaan maaf gaya Suryanegara."

Prabu meletakkan cangkirnya.

"Aku tahu kau memiliki sesuatu dari Lestari."

Kalimat itu jatuh tepat di meja.

Arya tidak bergerak.

Dewi juga tidak.

"Setiap orang memiliki peninggalan dari ibunya," kata Arya.

"Jangan bermain kata denganku."

"Anda yang mulai dengan jalan pulang."

Untuk pertama kalinya, senyum Prabu hilang.

"Lestari menyimpan dokumen yang tidak seharusnya keluar dari keluarga."

"Dokumen apa?"

"Kalau kau memilikinya, kau tahu. Kalau tidak, lebih baik tetap tidak tahu."

Arya menyandarkan punggung, menahan sakit kecil di sisi tubuh.

"Jadi ini bukan tentang membuktikan kemampuanku. Ini tentang memastikan apakah aku memegang sesuatu yang Anda cari."

Prabu menatapnya lama.

"Dua hal bisa benar pada saat yang sama."

Bayangan akhirnya bicara. "Jika dokumen itu jatuh ke tangan luar, seluruh keluarga bisa rusak."

Arya menoleh kepadanya. "Keluarga rusak bukan karena dokumen. Keluarga rusak karena hal yang tertulis di dalamnya."

Ruangan hening.

Dewi menatap Arya dengan mata yang menyimpan kebanggaan dan kekhawatiran sekaligus.

Prabu kembali tersenyum, kali ini lebih tua.

"Bagaskara memang menurunkan lidahnya kepadamu."

"Ayah menurunkan lebih dari itu."

"Ya," kata Prabu pelan. "Itulah yang membuatku datang."

Percakapan berakhir tanpa jabat tangan.

Arya mengambil salinan dokumen syarat, tetapi tidak menandatangani apa pun. Prabu tidak memaksa. Ia justru berdiri lebih dulu.

"Pikirkan tiga bulan itu."

"Saya tidak perlu tiga bulan untuk berpikir."

"Aku tahu. Tapi kau perlu tiga bulan untuk membuat orang lain takut pada kesimpulanmu."

Prabu berjalan ke pintu. Bayangan mengikutinya, tetapi sebelum keluar, pria itu berhenti di samping Arya.

"Tuan Arya, beberapa pintu lebih aman jika tetap tertutup."

Arya menatapnya.

"Kalau ada orang terkunci di baliknya, pintu itu akan kubuka."

Bayangan tidak bereaksi, tetapi matanya berubah sangat sedikit.

Setelah Prabu pergi, Dewi menutup pintu ruang VIP dan berdiri diam beberapa detik.

"Dia mencari hard disk."

"Ya."

"Dan lebih dari itu, dia takut Lestari menyimpan salinan sesuatu."

Arya memandang dokumen di meja. "Kau tahu apa?"

Dewi menurunkan suara.

"Sebelum kecelakaan itu, Lestari pernah datang kepadaku. Dia tidak membawa dokumen. Hanya satu pesan. Jika suatu hari Prabu tiba-tiba menawarkan jalan pulang kepadamu, jangan lihat tangannya. Lihat apa yang dia sembunyikan di belakang punggungnya."

Arya merasakan sesuatu di dadanya mengeras.

"Kenapa kau baru bilang sekarang?"

"Karena aku baru sekarang melihat pesan itu terjadi."

Di luar jendela, hujan turun lebih deras.

Arya mengambil amplop cokelat itu.

Tiga bulan.

Tiga pembuktian.

Dan di balik semua itu, satu bayangan bernama Lestari.

"Prabu tidak datang membawa jalan pulang," kata Arya.

Dewi mengangguk.

"Dia datang memastikan apakah kau sudah menemukan jalan masuk."

1
Riski Channel
mantap
Riski Channel
cerita bagus sayang orang pada tidak tahu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!