Karina terbangun sebagai ibu tiri kejam dalam novel yang baru ia baca. Nathan dan Lucas, dua anak kecil yang seharusnya ia lindungi, justru gemetar setiap kali melihatnya. Lebih gawat lagi, Sebastian Wijaya, suaminya yang dingin dan berkuasa, pulang dengan kecurigaan tajam.
Karina hanya punya satu pilihan: memperbaiki semuanya sebelum terlambat.
Namun ketika Nathan dan Lucas mulai memanggilnya Mama, rahasia keluarga Wijaya perlahan terbuka. Pernikahan tanpa cinta berubah menjadi perjuangan melawan masa lalu, fitnah, dan keluarga besar yang ingin memisahkan mereka.
Bisakah Karina menjadi Mama yang mereka butuhkan sebelum takdir menyeretnya pergi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nilam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 21
Bab 21
Insiden di Kursi Mobil
Pak Darto membuka pintu geser Alphard.
Karina baru menyadari Sebastian berada di dalam setelah Lucas lebih dulu berseru, "Ada Papa."
Sebastian duduk di deretan belakang dengan tablet di tangan. Ia masih mengenakan pakaian kerja, dasinya telah dilonggarkan, dan tatapannya singgah pada balon ikan yang terikat di pergelangan Lucas.
"Masuk," katanya.
Karina membantu anak-anak lebih dulu. Nathan memilih kursi yang dekat adiknya. Karena barang belanja kecil memenuhi satu sisi dan Lucas menolak melepaskan balon, akhirnya mereka duduk rapat di bangku belakang: Lucas di dekat jendela, Karina di tengah, Sebastian di sisi lain. Nathan duduk di kursi depan mereka dan berkali-kali menoleh.
Mobil meninggalkan Ancol menjelang jam pulang kerja. Tol Dalam Kota sudah dipenuhi kendaraan. Lampu rem merah memanjang sejauh pandangan, membuat perjalanan yang seharusnya singkat berjalan tersendat.
Lucas bertahan kurang dari sepuluh menit. Kepalanya jatuh ke bahu Karina, balon ikan terjepit di antara tubuh dan pintu. Karina melepas gelangnya perlahan lalu memegang tali balon agar tidak mengganggu tidurnya.
Nathan memandang adiknya sebelum berbisik, "Mama."
"Iya?"
"Kenapa Opa sama Oma nggak suka kami?"
Pertanyaan itu terdengar lebih berat ketika datang dari Nathan. Anak itu tidak sekadar mengulang ucapan. Ia telah menyimpannya, mungkin jauh lebih lama daripada Lucas.
Karina merangkul bahunya dari belakang kursi. "Mama belum tahu kenapa mereka bicara begitu. Tapi apa pun alasannya, itu bukan salah kalian."
"Kalau kami anak baik, mereka bisa suka?"
"Kalian nggak perlu berubah supaya pantas disayang." Karina menahan suaranya agar tidak membangunkan Lucas. "Orang dewasa bertanggung jawab atas sikap mereka sendiri. Nathan cukup jadi anak-anak."
Nathan menunduk. Ia belum sepenuhnya percaya, tetapi bahunya tidak setegang tadi.
Di sebelah Karina, layar tablet Sebastian telah padam. Lelaki itu memandang lalu lintas di luar, seolah tidak ikut mendengar. Namun rahangnya mengeras ketika Nathan menyebut Opa dan Oma.
Karina mencatat reaksi itu tanpa bertanya. Mobil bukan tempat yang tepat untuk membuka perang keluarga.
Kemacetan bergerak satu mobil, lalu berhenti lagi.
Lucas bergeser dalam tidur. Pengait sabuk pengamannya yang tadi terpasang miring semakin longgar karena tubuh kecil itu melorot. Karina menahan kepalanya, lalu membungkuk untuk membetulkan posisi sabuk.
"Sebentar, Sayang."
Ia harus memutar tubuh di ruang sempit. Tangan kirinya menjaga Lucas, tangan kanan mencari pengait di sisi kursi.
Mobil mendadak maju lalu mengerem.
Tubuh Karina terdorong ke samping. Agar tidak menimpa Lucas, ia menahan berat badan dengan siku.
Sikunya mendarat tepat di paha Sebastian.
Keduanya membeku.
Satu detik.
Dua detik.
Tiga detik.
Karina menyadari telapak tangannya juga mencengkeram lengan jas Sebastian. Wajah mereka tidak terlalu dekat, tetapi cukup dekat untuk melihat satu alis lelaki itu perlahan terangkat.
"Sudah puas pegangnya?" tanya Sebastian dingin.
Karina segera menarik siku. Panas menjalar dari leher ke telinga.
"Siapa juga yang sengaja? Mobilnya yang ngerem."
"Mobilnya tidak memegang lengan saya."
"Saya sedang menjaga Lucas supaya nggak jatuh."
"Sabuknya sudah benar sekarang?"
Karina memeriksa pengait, lalu mengangguk kaku. "Sudah."
Ia memalingkan wajah ke jendela dan berpura-pura tertarik pada deretan beton pembatas. Jantungnya berdebar terlalu cepat untuk sebuah kecelakaan kecil.
Dari pantulan kaca, ia melihat sudut bibir Sebastian bergerak. Hanya sedikit, tetapi lelaki itu jelas hampir tersenyum.
Karina semakin kesal karena telinganya justru bertambah panas.
Mereka tiba di Menteng sekitar empat puluh menit kemudian. Setelah anak-anak mandi dan berganti pakaian, Bi Asih datang memberi tahu bahwa makan malam sudah siap dan tamu telah menunggu.
Lucas terbangun saat mobil masuk gerbang dan langsung mencari balonnya. Nathan menyerahkan tali yang sejak tadi dijaganya, membuat adiknya tersenyum mengantuk sebelum mereka turun.
Karina memilih gaun sederhana dari lemari, lalu membawa Nathan dan Lucas turun. Balon ikan ditinggalkan terikat pada sandaran tempat tidur Lucas agar tidak pecah di ruang makan.
Susan Wijaya duduk di sisi kanan meja. Usianya tidak mengurangi ketajaman tatapan atau kesempurnaan pakaiannya. Di sampingnya ada seorang perempuan muda bergaun lembut dengan rambut tertata rapi.
"Karina," kata Susan tanpa berdiri. "Akhirnya. Ini Priscilla. Ayahnya sudah lama menjadi mitra perbankan keluarga Wijaya."
Priscilla tersenyum. "Senang bertemu denganmu."
"Senang bertemu juga," jawab Karina.
Tempat duduk telah diatur dengan jelas. Sebastian berada di ujung meja. Kursi di sebelah kanannya disediakan untuk Priscilla, sedangkan Susan duduk satu kursi setelahnya. Lucas ditempatkan di sisi Priscilla, seolah perempuan muda itu sudah menjadi bagian dari lingkaran dekat keluarga. Karina dan Nathan berada di sisi berlawanan.
Karina tidak memprotes. Ia membantu Lucas duduk dan memastikan anak itu dapat melihatnya dari seberang.
Sepanjang hidangan pembuka, Susan terus mengarahkan percakapan kepada Priscilla dan Sebastian.
"Priscilla baru pulang dari Singapura," katanya. "Dia juga memahami pengelolaan aset. Kalian pasti punya banyak topik."
"Saya datang untuk makan malam, Tante Susan," jawab Sebastian.
Nada datarnya tidak menghentikan Susan.
Priscilla berusaha bersikap ramah. Ia menanyakan pekerjaan Sebastian, memuji rumah, lalu beberapa kali mencoba mengajak Nathan bicara. Nathan menjawab seperlunya.
Ketika sup buntut disajikan, Lucas kesulitan menunggu kuahnya dingin. Priscilla mengambil satu sendok, meniupnya, lalu mengarahkannya ke mulut anak itu.
"Adik manis, buka mulut, ya."
Lucas menoleh tajam ke arah sendok. Tubuhnya langsung mundur. Ia turun dari kursi sebelum siapa pun sempat menghentikan, berlari mengitari ujung meja, lalu memeluk pinggang Karina.
"Aku maunya disuapin Mama aja."
Ruang makan menjadi sunyi.
Karina merangkul Lucas. "Nggak apa-apa. Kita duduk di sini."
Ia meminta satu kursi tambahan diletakkan di sampingnya. Tanpa mengatakan apa pun, Nathan menggeser kursinya mendekat setengah langkah hingga lengan mereka hampir bersentuhan.
Priscilla menurunkan sendok. Senyumnya menegang. "Saya cuma mau membantu."
"Lucas belum nyaman dengan orang baru," kata Karina. "Bukan salahmu."
Susan tertawa kecil yang terdengar dipaksakan. "Anak-anak memang perlu belajar bersosialisasi. Kalau terlalu menempel pada satu orang, nanti sulit mandiri."
"Mereka baru pindah empat hari," jawab Karina. "Kita bisa memberi waktu."
Wajah Susan mengeras sepersekian detik sebelum senyumnya kembali.
Sebastian tidak ikut bicara. Ia hanya memandang tangan Lucas yang mencengkeram gaun Karina dan kursi Nathan yang telah bergeser. Tatapannya berhenti cukup lama, lalu berpindah ke piringnya.
Makan malam berakhir tanpa pertengkaran terbuka. Priscilla akhirnya berdiri dan mengatakan harus pulang. Sebastian ikut bangkit, berjalan sampai ke aula sebagai bentuk kesopanan, tetapi tidak menawarkan percakapan pribadi.
Setelah pintu utama menutup di belakang Priscilla, Susan memandang Sebastian dengan senyum tipis.
"Dia perempuan baik. Kamu seharusnya meluangkan waktu untuk mengenalnya."
Sebastian merapikan ujung lengan kemejanya.
"Lain kali nggak usah diundang lagi."
Senyum Susan runtuh.