NovelToon NovelToon
IBU MAFIA

IBU MAFIA

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Cinta Seiring Waktu / Single Mom
Popularitas:741
Nilai: 5
Nama Author: Princess Catalunya

Amara pernah memiliki keluarga yang ia cintai. Namun setelah bertahun-tahun mendukung suaminya dari nol, ia justru dikhianati.

Sebagai ibu tunggal dengan tiga anak, Amara berusaha bangkit dari luka dan kehancuran. Takdir kemudian mempertemukannya dengan seorang pria mafia yang memberinya sebuah kerajaan.

Kini, di mata dunia, Amara hanyalah seorang ibu sederhana yang bekerja sebagai careworker.

Tidak ada yang tahu bahwa di balik sosok pendiam itu, tersembunyi seorang penguasa dunia bawah tanah.

Amara membangun kerajaan demi ketiga anaknya. Ia ingin mereka memiliki masa depan, tetapi tidak pernah ingin mereka tumbuh menjadi manusia yang bergantung pada kekayaan.

Karena seorang ibu akan melakukan apa pun untuk melindungi anak-anaknya.

Bahkan jika ia harus menjadi seorang mafia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Princess Catalunya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Anak Buangan

Malam itu hujan turun deras. Kael berdiri sendirian di balkon mansion keluarga Amara sambil memandang kota yang dipenuhi cahaya. Wajahnya tetap tenang seperti biasa. Namun tangannya mengepal pelan di balik mantel hitamnya.

Karena beberapa jam sebelumnya, masa lalu yang selama ini ia kubur akhirnya datang mengetuk kembali.

“Ayahmu ingin bertemu.”

Kalimat itu diucapkan langsung oleh salah satu pria tua kepercayaan keluarga Adrian. Keluarga besar konglomerat internasional yang selama ini menjadi rival bisnis lama keluarga Amara. Kael bahkan tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap pria itu dingin.

“Aku tidak punya ayah.”

Pria tua itu menghela napas.

“Tuan besar sedang sakit. Pewaris utama gagal mengendalikan perusahaan. Mereka membutuhkanmu.”

Kael tertawa kecil. Tawa yang sangat dingin.

“Mereka membuangku seperti anjing dua puluh tahun lalu.”

“Situasi sekarang berbeda.”

“Tidak.”

Tatapan Kael berubah tajam.

“Mereka tetap keluarga yang sama.”

Kabar itu sampai ke telinga Amara bahkan sebelum Kael sendiri melaporkannya, tentu saja. Tidak ada pergerakan besar dunia bisnis yang lolos dari pengawasan Madam A.

Pagi itu Amara sedang duduk di taman sambil meminum teh ketika Kael datang menghampiri.

“Madam.”

Amara tidak menoleh.

“Keluargamu datang?”

Kael diam beberapa detik.

“Ya.”

“Mereka ingin pewaris.”

“Bukan saya.”

“Lalu siapa?”

Kael menatap jauh ke depan.

“Mereka hanya ingin alat.”

Sunyi. Amara memahami nada itu. Nada seseorang yang sejak kecil tidak pernah benar-benar dicintai.

Nayla mulai menyadari ada yang berbeda. Kael menjadi lebih dingin dari biasanya. Ia sering menghilang malam hari. Dan lebih sering berdiri diam seperti sedang memikirkan sesuatu yang berat.

Suatu malam Nayla akhirnya menghentikannya di lorong rumah.

“Kamu kenapa?”

“Saya baik-baik saja.”

“Kamu bohong.”

Kael diam.

Nayla menatapnya serius.

“Aku tidak suka lihat kamu seperti ini.”

Untuk sesaat, tatapan dingin Kael sedikit melemah. Namun ia tetap berkata pelan,

“Ini bukan masalah yang harus Nona pikirkan.”

“Aku bukan orang asing.”

Kalimat itu membuat Kael terdiam cukup lama. Karena jauh di dalam dirinya, Nayla memang sudah menjadi rumah yang tidak pernah ia miliki.

Tiga hari kemudian, serangan pertama terjadi. Salah satu gudang logistik milik keluarga Amara dibakar. Dua pengawal terluka dan pesan singkat dikirim langsung kepada Kael.

“Pulang. Atau semuanya akan hancur.”

Leon Volkov yang datang malam itu langsung melempar laporan ke meja.

“Keluargamu mulai bodoh.”

Kael berdiri diam.

“Saya akan menyelesaikannya sendiri.”

Namun suara Amara langsung memotong tenang.

“Tidak.”

Semua orang menoleh. Amara duduk santai di kursinya dengan wajah pucat karena sakit yang belum sepenuhnya sembuh. Namun matanya tetap mengerikan.

“Mereka menyentuh orangku.”

Ruangan mendadak sunyi, suasana berubah tegang. Dan semua orang tahu. Kalau Amara sudah bicara seperti itu, artinya perang dimulai.

Malam berikutnya, pertemuan rahasia berlangsung di sebuah hotel tua milik keluarga Adrian.

Petinggi perusahaan dan organisasi bawah tanah mereka berkumpul untuk membahas perebutan kekuasaan internal. Mereka yakin Kael akan datang sendiri. Namun yang muncul justru Amara.

Pintu ruangan terbuka perlahan. Seluruh suasana langsung berubah tegang.

Bahkan pria-pria tua yang selama puluhan tahun menguasai dunia bisnis ilegal mendadak berdiri refleks. Madam A masuk dengan langkah tenang. Di belakangnya berdiri Leon dan puluhan pengawal elit.

Kael langsung menatap Amara.

“Madam…”

“Kau pikir aku akan membiarkan mereka menyentuhmu?”

Suara wanita itu lembut. Namun membuat seluruh ruangan merinding.

Seorang pria tua berdiri perlahan. Dia adalah ayah Kael. Wajahnya penuh usia dan kekuasaan.

“Kau terlalu ikut campur, Amara.”

Amara tersenyum tipis.

“Anakmu bekerja padaku.”

“Dia darah dagingku.”

“Lucu,” jawab Amara tenang. “Kalian baru ingat setelah pewaris kalian gagal.”

Wajah beberapa petinggi langsung berubah. Ayah Kael menatap putranya tajam.

“Kau seharusnya kembali dan mengambil posisi yang memang milikmu.”

Kael berdiri diam. Lalu menjawab dingin,

“Aku tidak pernah punya tempat di keluarga itu.”

Sunyi.

“Aku dibuang ketika masih anak-anak.”

Tatapan Kael mulai berubah gelap.

“Kalian membiarkanku mati.”

Ayahnya mencoba bicara namun Kael memotong lebih dulu.

“Dan orang yang menyelamatkanku…”

Kael melirik Amara sebentar.

“…adalah dia.”

Ruangan kembali sunyi total. Amara akhirnya berdiri perlahan. Meski tubuhnya belum pulih sempurna, auranya tetap membuat seluruh ruangan terasa berat.

“Dengarkan aku baik-baik.”

Tatapan wanita itu dingin menatap keluarga Adrian.

“Kael bukan milik kalian lagi.”

Salah satu petinggi mencoba menyela.

“Kau tidak bisa menghalangi darah keluarga—”

“Aku bisa.”

Suara Amara langsung memotong tajam. Dan untuk pertama kalinya, aura asli Madam A muncul sepenuhnya. Menghancurkan seluruh ruangan tanpa perlu berteriak.

“Kalian ingin perang?”

Amara melangkah pelan mendekati meja utama.

“Aku sudah menguasai perang sebelum kalian belajar membaca laporan keuangan.”

Tidak ada yang berani bicara. Karena semua orang di sana tahu reputasi Amara bukan mitos. Ia benar-benar mampu menghancurkan kerajaan siapa pun.

Namun yang paling mengejutkan adalah ketika Amara berkata pelan,

“Kael tetap bersamaku.”

Kalimat sederhana itu membuat Kael membeku. Karena sepanjang hidupnya, tidak pernah ada orang yang memilih dirinya tanpa syarat. Tidak pernah ada yang berkata: Tetaplah di sini.

Pertemuan malam itu berakhir tanpa perang terbuka, karena keluarga Adrian akhirnya mundur. Bukan karena takut kehilangan bisnis. Namun karena mereka sadar, melawan Amara berarti bunuh diri.

Saat perjalanan pulang, Kael duduk diam di mobil. Amara yang kelelahan bersandar sambil memejamkan mata. Tiba-tiba Kael berkata pelan,

“Kenapa Madam melakukan semua ini untuk saya?”

Amara membuka mata perlahan.

Lalu menjawab sederhana,

“Karena kau keluargaku.”

Kael terdiam.

Namun bagi Amara, kalimat itu bukan sekadar ucapan untuk menenangkan seorang pengawal yang sedang terluka oleh masa lalunya. Sejak awal, ia tidak pernah melihat Kael hanya sebagai seorang bawahan.

Bertahun-tahun lalu, ketika Amara menemukan Kael dalam keadaan hampir mati, ia melihat seorang anak yang dibuang oleh keluarganya sendiri. Seorang anak yang tidak memiliki rumah, tidak memiliki tempat untuk pulang, dan tidak tahu kepada siapa ia harus meminta pertolongan.

Saat itu, Amara langsung teringat pada ketiga anaknya. Arsen, Raka, dan Nayla.

Ia membayangkan sesuatu yang tidak pernah ingin ia pikirkan. Bagaimana jika suatu hari dirinya tidak cukup beruntung untuk pulang? Bagaimana jika ia mati ketika anak-anaknya masih kecil? Apakah mereka akan terlantar? Apakah ada seseorang yang mau menolong mereka? Atau justru mereka akan tumbuh sendirian, merasa tidak diinginkan, dan harus bertahan hidup tanpa tahu ke mana harus pulang?

Pikiran itu selalu membuat dada Amara terasa sesak. Ia tahu bagaimana rasanya berjuang sendirian demi anak-anak. Ia tahu bagaimana rasanya tidak memiliki cukup uang, tidak memiliki cukup bantuan, dan tetap harus berdiri karena ada tiga anak yang bergantung padanya.

Karena itu, ketika melihat Kael yang dibuang dan dibiarkan hidup tanpa perlindungan, Amara tidak mampu berpaling. Bukan karena ia membutuhkan seorang pengawal. Bukan pula karena ia ingin memanfaatkan kemampuan Kael. Ia hanya tidak sanggup membiarkan seorang anak terlantar di luar sana.

Selama Amara masih memiliki kekuasaan untuk melindungi seseorang, ia akan melindunginya. Selama ia masih memiliki rumah, ia akan memberikan tempat pulang. Dan selama ia masih mampu merawat seseorang yang telah dibuang oleh dunia, ia tidak akan membiarkannya berjalan sendirian.

Mungkin itulah salah satu alasan mengapa banyak orang menganggap Madam A terlalu berbahaya. Mereka hanya melihat kekuasaan, jaringan bisnis, dan dunia gelap yang berada di bawah kendalinya.

Namun mereka tidak pernah tahu bahwa di balik semua itu, Amara hanya seorang ibu. Seorang ibu yang selalu membayangkan anak-anaknya berada di tempat orang lain.

Jika suatu hari Arsen, Raka, atau Nayla membutuhkan pertolongan, Amara berharap akan ada seseorang yang mau menyelamatkan mereka.

Maka sebelum hari itu datang, ia memilih menjadi orang yang menyelamatkan anak-anak lain.

Dan Kael, adalah salah satu anak yang ia pilih untuk tidak ditinggalkan.

Kael masih menatap Amara dalam diam. Untuk pertama kalinya sejak kecil, ia hampir menangis. Namun ia segera menundukkan kepala dan menyembunyikan wajahnya.

“Terima kasih, Madam.”

Amara hanya tersenyum kecil.

“Jangan berterima kasih.”

Kael mengangkat wajah.

“Kalau begitu… apa yang harus saya lakukan?”

Amara menyandarkan tubuhnya ke kursi.

“Pulang.”

Kael terdiam.

Amara menatapnya lembut.

“Rumahmu ada di sini.”

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!