NovelToon NovelToon
Mata Dewa: Dari Batu ke Tahta

Mata Dewa: Dari Batu ke Tahta

Status: tamat
Genre:Balas dendam. / Perubahan Hidup / Kaya Raya / Tamat
Popularitas:8.2k
Nilai: 5
Nama Author: Fajar

"Bayu Prasetyo kehilangan segalanya dalam satu hari.

Dipecat dari kantor karena posisinya diberikan kepada anak bos. Diputus pertunangan karena ""belum mapan."" Dan keris pusaka titipan sahabatnya tertipu terjual Rp 2 juta — padahal nilainya miliaran.

Di titik terendah hidupnya, Bayu Prasetyo menerima Mata Dewa dari kakek misterius — mata yang menembus batu, membaca nilai, dan membongkar kepalsuan. Dari judi batu ke meja lelang, dari pemuda miskin Pacitan ke puncak daftar orang terkaya — sampai ia menatap musuh terakhirnya: sindikat pemalsu pusaka yang dilindungi nama paling dihormati di Indonesia."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fajar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 32

Bab 032: Penyidik Bernama Nadira

Pesan itu masuk pukul tujuh pagi.

Nomor tidak dikenal. Kalimatnya pendek.

`Pak Bayu Prasetyo. Jika Anda ingin tahu mengapa nama Mahkota muncul terlalu sering, datang pukul 10.00. Kopi Tepi Jalan, Menteng. Datang sendiri.`

Di bawahnya ada foto kartu identitas dinas yang sebagian ditutup.

Nama yang terlihat:

Nadira C. Kesuma.

Bayu membaca pesan itu dua kali. Lalu ia menghubungi Budi.

"Saya dapat undangan dari penyidik."

"Nomor resmi?"

"Belum saya pastikan."

"Jangan datang tanpa verifikasi."

Setengah jam kemudian, melalui kontak kuasa hukum dan satu kenalan Pak Wiryo di Jakarta, identitas itu terkonfirmasi. Nadira Chandrakirana Kesuma, penyidik Bareskrim Polri, unit khusus kejahatan benda cagar budaya.

Budi tetap tidak tenang.

"Kirim lokasi live. Jangan bawa dokumen asli. Jangan bicara di luar kapasitas."

"Saya tahu."

"Kalimat paling berbahaya di dunia."

Kafe itu kecil, berada di sisi jalan yang tidak terlalu ramai. Bayu datang sepuluh menit lebih awal. Ia memilih kursi yang bisa melihat pintu dan jalan.

Perempuan itu masuk tepat pukul sepuluh.

Rambut pendek. Kemeja abu-abu. Tas selempang hitam. Langkahnya tidak terburu-buru, tetapi setiap gerak seperti sudah dihitung. Bayu mengenal wajahnya.

Perempuan di malam amal.

Ia duduk tanpa basa-basi, meletakkan kartu identitas dinas di meja, lalu membukanya cukup lama untuk dibaca.

"Nadira Kesuma. Penyidik."

"Bayu Prasetyo."

"Saya tahu."

Bayu menunggu.

Nadira membuka map tipis.

"Saya sudah baca berkas Surabaya. Kasus keris, kasus Karto, arca amal, arsip 217 barang palsu. Semua ada nama kamu."

Tidak ada `Mas`. Tidak ada senyum sosial.

Bagus, pikir Bayu.

Orang ini datang dengan urusan kerja dan sama sekali tidak tampak kagum.

"Apa yang Ibu butuhkan dari saya?"

"Jawaban."

Nadira mengeluarkan tiga kotak kecil dari tas. Setiap kotak hanya diberi label kode tanpa nama barang.

"Replika barang bukti. Aman disentuh. Saya ingin kamu menilai tanpa informasi awal."

"Ini pemeriksaan resmi?"

"Ini pertemuan pendahuluan. Jika berlanjut, semua akan ada suratnya."

Bayu mengangguk.

Kotak pertama berisi pecahan keramik biru putih. Ia memeriksa tepi pecah, lapisan glasir, dan bekas tanah.

"Asli. Fragmen tua, kemungkinan dari barang ekspor abad ke-18. Tidak utuh, tapi bukan buatan baru."

Nadira tidak bereaksi.

Kotak kedua berisi koin perak kecil.

Bayu menimbang dengan jari, lalu memakai kaca pembesar Pak Wiryo. Mata kirinya menghangat singkat. Struktur logam dan aus pinggirnya bercerita lebih jujur daripada tulisan.

"Asli, tetapi dibersihkan terlalu keras. Nilai forensiknya berkurang."

Nadira menulis satu garis.

Kotak ketiga berisi patung kecil dari perunggu gelap.

Begitu Bayu melihat bagian dasar, hawa dingin tipis naik di belakang lehernya. Perasaan itu menyerupai pintu yang terbuka ke ruangan gelap dan tidak membawa ancaman fisik langsung.

Ia memutar benda itu.

"Palsu. Modern. Lapisan tua kimia. Bagian dalam terlalu rapi. Ada goresan pengimbang di punggung bagian dalam."

Nadira akhirnya mengangkat mata.

"Goresan apa?"

"Saya melihat pola serupa di beberapa barang yang masuk database kami. Saya menyebutnya pola Bengkel."

Pena Nadira berhenti selama satu detik. Jeda pendek itu sudah cukup.

"Dari mana kamu dengar kata itu?"

"Saya dan tim memakai istilah itu sendiri karena beberapa sampel menunjukkan tangan produksi yang sama."

"Bengkel bukan istilah publik."

"Sekarang saya tahu polisi juga memakai istilah itu."

Udara di antara mereka menegang.

Nadira menutup kotak ketiga pelan.

"Lima tahun kami mengejar jaringan ini. Yang tertangkap selalu ujung kecil. Penjual lapak. Kurir. Pemilik toko yang pura-pura tidak tahu. Setiap kali naik satu tingkat, dokumennya bersih atau orangnya hilang."

Bayu tidak memotong.

"Ada pola yang belum bisa kami buktikan penuh," lanjut Nadira. "Sebelum satu barang palsu masuk pasar, barang asli yang mirip sering lebih dulu menghilang dari koleksi pribadi, gudang, atau catatan lama. Seolah ada dua jalur. Yang asli keluar. Yang palsu masuk menggantikan cerita."

"True object out, fake object in," kata Bayu pelan.

"Bahasa Inggris tidak membuatnya lebih ringan."

"Tidak. Tapi membuat polanya lebih jelas."

Nadira menatapnya lama.

"Kamu terlalu cepat."

"Tuduhan seperti itu sudah biasa saya dengar."

"Ucapan saya tadi sama sekali tidak mengandung pujian."

"Bagus, karena saya juga tidak menerimanya sebagai pujian."

Untuk pertama kalinya, sudut mulut Nadira hampir bergerak.

Ia mengeluarkan map kedua. Di dalamnya ada draf surat, kop resmi, dan lembar perjanjian kerahasiaan.

"Unit kami membutuhkan ahli eksternal. Statusmu konsultan, sehingga kamu tidak memiliki kewenangan polisi. Barang bukti hanya boleh disentuh dengan izin dan informasi perkara wajib dijaga. Semua analisis harus masuk berita acara atau laporan tertulis. Jika ada konflik kepentingan, kamu wajib mundur dari pemeriksaan."

Bayu membaca setiap halaman.

"Ini berarti saya masuk ke kasus polisi," katanya.

"Tidak." Nadira mengetuk lembar ketiga. "Ini berarti kamu berdiri di pintu kasus polisi. Masuk atau tidak, tergantung izin, kebutuhan, dan apakah kamu bisa menjaga mulut."

"Kalau media bertanya?"

"Jawabanmu: no comment. Kalau temanmu bertanya?"

"No comment."

"Kalau pemilik barang menangis dan minta kepastian?"

Bayu diam sebentar.

"Saya berikan batas penilaian. Kepastian hukum tetap wewenang penyidik."

Nadira baru menatapnya sedikit lebih hangat.

"Bagus. Banyak ahli hancur setelah terlalu senang didengar, meski penglihatannya atas barang cukup tajam."

Ia menggeser satu foto dari map. Foto itu menunjukkan rak barang bukti, sebagian buram.

"Besok, kalau atasan saya menyetujui, kamu masuk gudang. Ada lebih dari tiga ratus item. Kamu tidak perlu menjadi pahlawan. Kamu perlu menjadi rapi."

"Rapi lebih sulit daripada pahlawan," kata Bayu.

"Maka kita lihat besok, di tempat yang tidak punya kamera."

"Honor?"

"Ada, per tugas. Tidak besar."

"Saya tidak mengejar honornya."

"Bagus. Karena negara juga tidak kaya untuk membayar mata mahal."

Kali ini Bayu tersenyum.

"Apa Ibu percaya saya?"

"Tidak."

Jawabannya terlalu cepat sampai terdengar jujur.

"Saya tidak percaya keberuntungan. Saya juga tidak percaya orang yang selalu benar tanpa alasan. Tapi saya percaya hasil yang bisa diuji."

Bayu menandatangani lembar penerimaan pendahuluan.

"Kalau begitu, kita mulai dari hasil."

Nadira mengulurkan tangan.

Jabat tangannya kuat, kering, singkat.

Tidak ada musik.

Tidak ada tatapan terlalu lama.

Namun kerja sama ini terasa berbeda. Intan mengajarinya kanal, Riani membuka cara kerja industri, sementara Budi dan Rizal membantunya membangun rumah usaha.

Dengan Nadira, ia baru saja masuk ke ruangan di mana kesalahan bisa menjadi pasal.

Mereka keluar dari kafe bersama, tetapi tidak berjalan terlalu dekat.

Di trotoar, Nadira berhenti.

"Satu hal lagi."

Bayu menoleh.

"Kalau kamu ternyata bagian dari mereka—"

Ia berhenti sebentar.

Matanya dingin, tapi bukan benci.

"Saya sendiri yang akan memborgol kamu."

Bayu melihat mobil lalu-lalang di jalan Menteng.

Lalu ia tersenyum.

"Kalau begitu, semoga borgolnya tidak pernah dipakai."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!