Selama tiga tahun, Anisa menjadi istri pengganti Galang Gondokusumo—menggantikan posisi cinta pertamanya yang menghilang. Tiga tahun melayani, tiga tahun diabaikan, tiga tahun diperlakukan seperti bayangan orang lain.
Sampai akhirnya, Galang melemparkan surat cerai ke wajahnya.
"Tanda tangani. Sherly sudah kembali."
Malam itu, Anisa ditabrak mobil yang dikirim oleh Sherly Permata—perempuan yang merebut suaminya. Darah membasahi aspal. Galang melintas di lokasi kecelakaan tanpa menoleh.
Dia pikir Anisa sudah mati.
Tapi yang mati malam itu bukan Anisa.
Yang mati adalah **kebohongan**.
Karena benturan itu mengembalikan seluruh ingatannya. Nama aslinya bukan Anisa.
**Namanya Keira Hartono.**
Pewaris tunggal Hartono Group—konglomerat terbesar di Indonesia. Nona besar yang diculik empat tahun lalu dan dianggap hilang selamanya. Perempuan yang dicari oleh sepuluh kakak laki-laki, kakek yang menguasai setengah Jakarta, dan seorang pria misterius yang sudah menunggunya sejak dia berusia satu tahun.
Pria itu bukan Galang.
Pria itu adalah **Rayhan Tanuwijaya**—kepala keluarga Tanuwijaya, penguasa empat keluarga besar Jakarta. Dingin kepada semua orang. Kecuali kepada Keira.
Sekarang Keira kembali. Dengan ingatan yang utuh, identitas yang sesungguhnya, dan daftar panjang orang-orang yang harus membayar.
Sherly Permata? Akan kehilangan segalanya.
Galang Gondokusumo? Akan berlutut memohon.
Dan dunia yang pernah menginjak-injaknya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Larasati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 8
Bab 8: Ko Kevin
"Kalau orang Jakarta itu datang, Surabaya tidak akan tenang lama."
Ucapan Bryan masih menggantung di ruang kaca ketika suara mobil berhenti mendadak di halaman depan.
Tidak lama kemudian, langkah berat terdengar dari lorong. Bukan langkah tergesa yang berantakan seperti Bryan. Langkah ini terukur, cepat, dan menekan lantai seperti setiap pijakan sudah punya tujuan.
Bryan langsung menegakkan punggung. "Nah. Orang yang bisa membuat Surabaya tidak tenang tanpa bantuan Jakarta sudah datang."
Keira menoleh ke pintu.
Seorang pria masuk tanpa suara berlebihan. Tubuhnya tinggi, bahunya tegap, rambutnya dipotong pendek rapi. Kemeja hitam sederhana yang ia pakai tidak menutupi kesan militer di cara ia berdiri. Wajahnya keras, nyaris dingin, sampai matanya jatuh pada Keira.
Semua kekerasan itu retak.
"Keira."
Suara Kevin Hartono rendah. Satu kata saja, tetapi ruangan terasa ikut menahan napas.
Keira berdiri terlalu cepat. Rusuknya langsung nyeri, membuat wajahnya memucat. Kevin bergerak lebih cepat daripada siapa pun. Dalam dua langkah ia sudah berada di depannya, satu tangan menahan siku Keira tanpa mencengkeram terlalu kuat.
"Pelan," katanya.
Keira menatap pria itu dari dekat. Ingatannya belum lengkap, tetapi tubuhnya mengenali kehadiran ini. Rasa aman yang berbeda dari Engkong, berbeda dari Lina. Lebih tajam. Seperti dinding yang bisa bergerak.
"Ko Kevin," ucapnya pelan.
Mata Kevin memerah.
Ia tidak memeluk langsung. Sama seperti yang lain, ia menunggu. Namun, tangannya yang menahan siku Keira bergetar sangat halus.
"Boleh?" tanyanya.
Keira mengangguk.
Kevin memeluknya hati-hati. Tidak lama, tidak menekan rusuknya, tetapi cukup membuat Keira mencium aroma hujan, kain bersih, dan udara luar yang masih menempel di bajunya. Pria itu menundukkan kepala di bahunya, menarik napas dalam seperti sedang memastikan adiknya benar-benar hidup.
"Maaf," bisik Kevin. "Ko terlambat."
Keira menutup mata.
Kalimat itu sudah ia dengar dari Om De, dari Richard, dari Engkong dalam bentuk berbeda. Namun dari Kevin, rasa bersalahnya seperti pisau yang diarahkan ke diri sendiri.
"Aku masih hidup," jawab Keira.
Kevin melepas pelukannya, tetapi tidak menjauh. Matanya turun memeriksa wajah Keira, pergelangan tangan, cara ia menahan napas, warna bibirnya yang masih pucat.
"Dokter bilang apa?"
Bryan mengangkat tangan. "Aku juga senang melihatmu, Ko Kevin."
Kevin tidak menoleh. "Aku tanya Keira."
"Tentu. Aku cuma dekorasi mahal di ruangan ini."
Keira hampir tersenyum, tetapi Kevin sudah menatap Bryan sekilas. Satu tatapan saja cukup membuat Bryan pura-pura sibuk minum.
"Trauma kepala, rusuk retak ringan, memar," kata Keira. "Sudah membaik."
"Siapa dokter yang bertanggung jawab?"
"Dokter keluarga sudah memeriksa."
"Aku mau lihat laporan lengkap."
"Ko."
Kevin berhenti. Tatapan Keira tenang, tetapi ada batas jelas di sana.
"Aku bukan tahanan medis."
Bryan menurunkan gelas pelan. Om De yang baru masuk membawa map medis juga berhenti di dekat pintu.
Kevin menatap Keira beberapa detik. Lalu rahangnya mengeras, tetapi suaranya melunak. "Aku tahu. Aku hanya perlu memastikan tidak ada yang terlewat."
Keira mengangguk. "Om De punya salinannya. Ko boleh baca. Tapi jangan memutuskan apa pun tanpa aku."
Untuk pertama kalinya, Kevin tampak sedikit tersentak.
Lalu ia mengangguk sekali. "Baik."
Engkong masuk beberapa menit kemudian, ditemani Om De. Ia memandang Kevin dari ujung kepala sampai kaki.
"Baru datang sudah membuat cucuku berdiri lama?"
Kevin menunduk. "Maaf, Engkong."
"Duduk semua." Engkong mengetuk lantai dengan tongkat. "Kita bicara."
Mereka pindah ke ruang keluarga kecil yang lebih privat. Lina sempat datang membawa air hangat dan obat Keira, lalu keluar lagi setelah memastikan putrinya duduk nyaman. Richard berdiri di dekat jendela, diam tetapi wajahnya tegang.
Kevin membaca laporan medis tanpa satu kata pun.
Semakin lama, udara di ruangan makin berat.
Ketika ia sampai pada catatan kecelakaan, jarinya berhenti di satu baris. `Benturan kendaraan dari sisi belakang, kecepatan tinggi, korban terpental.`
"Ini bukan kecelakaan biasa," katanya.
Keira tidak menjawab.
Kevin mengangkat wajah. "Siapa yang menabrakmu?"
"Belum tahu."
"Galang tahu?"
Nama itu membuat ruangan menjadi dingin.
Bryan yang biasanya cepat bicara pun diam.
Keira menatap cangkir di tangannya. "Dia melewati lokasi kejadian. Tidak tahu itu aku."
Retak kecil di wajah Kevin berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih gelap.
"Dia lewat?"
"Mobilnya lewat. Sopirnya melihat ada kecelakaan. Galang tidak turun."
Kevin berdiri.
Kursinya terdorong ke belakang dengan suara keras. "Aku pergi sekarang."
"Kevin," Richard memperingatkan.
"Orang itu membuang adikku, membiarkan dia berjalan sendirian di hujan, lalu bahkan tidak turun saat ada orang sekarat di jalan depan rumahnya." Suara Kevin tetap rendah, tetapi lebih menakutkan daripada teriakan. "Orang itu harus membayar."
Bryan ikut berdiri, wajahnya tidak lagi bercanda. "Aku ikut."
"Tidak ada yang pergi," kata Keira.
Kedua pria itu menoleh.
Kevin menatapnya tajam. "Keira, jangan minta aku diam."
"Aku tidak minta Ko diam." Keira meletakkan cangkir perlahan. "Aku minta Ko tidak merusak ritmeku."
Ruangan itu hening.
Engkong menyipitkan mata, bukan marah, melainkan mengamati.
Keira berdiri. Kali ini ia lebih pelan, satu tangan menyentuh sandaran sofa. Tubuhnya masih lemah, tetapi tatapannya tidak.
"Kalau Ko datang ke Gondokusumo sekarang, apa yang terjadi?" tanyanya.
"Aku buat dia menyesal."
"Lalu?"
Kevin diam.
Keira melanjutkan, suaranya semakin tenang. "Galang akan tahu Hartono sudah bergerak. Sherly akan bersembunyi. Orang yang menabrakku mungkin kabur lebih jauh. Semua bukti yang belum kita pegang bisa hilang."
Bryan menelan ludah. Ia melihat Kevin, lalu melihat Keira. Untuk pertama kalinya hari itu, tidak ada yang memotong.
"Aku tidak mau mereka hanya takut," kata Keira. "Aku mau mereka kehilangan semua tempat untuk berbohong."
Kevin menatap adiknya seolah baru melihat sisi yang selama ini tertutup kabut.
Keira mengangkat wajah.
"Biar aku yang urus."
Kalimat itu tidak keras. Tidak dramatis. Namun, ia jatuh di ruangan seperti keputusan yang tidak bisa dibatalkan.
Engkong perlahan tersenyum, sangat tipis.
Richard menarik napas panjang, antara khawatir dan bangga.
Bryan bergumam, "Nah. Itu baru Kei."
Kevin masih berdiri dengan tangan terkepal. Amarah di matanya belum padam. Namun di balik amarah itu, muncul sesuatu yang lain. Pengakuan.
"Kamu baru pulang," katanya pelan. "Kamu masih sakit."
"Justru karena aku pernah sakit, aku tahu sakit mana yang harus dibalas langsung dan mana yang harus disimpan sampai waktunya tepat."
Kevin menatapnya lama.
Lalu ia menarik napas, menunduk sedikit, dan kembali duduk.
"Baik," katanya. "Aku tidak akan bergerak tanpa izinmu."
Keira duduk kembali. Tenaganya hampir habis, tetapi ia tidak membiarkan siapa pun melihat tangannya gemetar di balik lipatan selimut.
Kevin melihatnya.
Ia tidak mengatakan apa-apa. Hanya mengambil bantal kecil dari sisi sofa dan meletakkannya di belakang punggung Keira dengan gerakan hati-hati.
"Tapi satu hal," katanya.
Keira menoleh.
"Kalau kamu bilang serang, aku tidak akan berhenti di tengah jalan."
Keira menatap kakaknya. Untuk pertama kalinya sejak pulang, senyumnya tidak rapuh.
"Aku juga tidak."
Di luar, hujan mulai turun tipis di halaman Hartono.
Namun di dalam ruangan itu, semua orang tahu sesuatu telah berubah. Yang duduk di antara mereka bukan lagi Anisa yang dibuang dari rumah Gondokusumo.
Keira Hartono sudah membuka mata.
Dan kali ini, ia sendiri yang akan memilih siapa yang pertama kali jatuh.