Di bawah pendar lampu Los Angeles, hidup Lux Victoria hancur dalam semalam. Maksud hati hanya memeriksa kesehatan, hasil tes justru menyatakan dirinya hamil. Padahal, Lux bersumpah belum pernah tersentuh pria mana pun.
Demi membuktikan kebenarannya, Lux Nekat membeli tes Kehamilan di larut malam.
Takdir konyol justru mempertemukannya dengan Braxton Valerio Desmon, putra kedua dari pengusaha kaya keluarga Desmon.
Demi memenangkan taruhan konyol bersama teman-temannya, Braxton nekat mencium Lux di depan apotek.
Sial bagi mereka, keluarga Lux yang menguntitnya mendapati situasi tersebut dan salah paham.
Kejadian beruntun itu menyeret Lux dan Braxton ke dalam jerat kesalahpahaman, di mana pernikahan paksa menjadi satu-satunya jalan keluar yang disiapkan kedua orang tua Lux.
Happy reading 🌷🦋
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#31
Lampu lalu lintas di kawasan pusat kota Los Angeles berganti merah, memancarkan pendar kemerahan yang memantul indah di atas kap mobil sport hitam milik Braxton.
Di dalam kabin yang sejuk dan harum aroma vanila segar, suasana sore terasa begitu tenang setelah hiruk-pikuk aktivitas kampus yang menguras energi.
Lux menyandarkan punggungnya secara rileks di kursi kulit yang empuk. Wajah cantiknya yang tadinya diliputi kejengkolan akibat ulah Ambar kini tampak jauh lebih cerah dan berbinar. Jemari lentiknya menari-nari santai di atas pangkuan, menahan kebahagiaan yang meluap-luap dari dalam dadanya.
Braxton melirik istrinya dari sudut mata, menyunggingkan senyum narsisnya yang amat memikat.
"Sepertinya ada berita sangat bagus yang membuat istriku ini tersenyum manis dari tadi?" goda Braxton dengan nada suara berat yang hangat, mengulur tangan kirinya untuk menggenggam jemari Lux di atas konsol tengah.
Lux menoleh, tak mampu lagi menahan senyuman bahagianya yang paling murni. Mata abu-abunya berbinar-binar penuh kebanggaan.
"Tadi... sebelum kelas berakhir, Profesor Henderson memanggilku ke ruangannya," ujar Lux dengan nada suara yang bergetar haru. "Braxton... aku terpilih! Namaku masuk sebagai satu-satunya mahasiswi yang mewakili Universitas Los Angeles untuk ikut pameran di Galeri Grand Luxe bulan depan!"
Mendengar pengumuman tersebut, sepasang mata cokelat Braxton seketika membelalak bangga. Pria itu menepi sejenak di bahu jalan yang aman, mematikan lampu sein, lalu sepenuhnya memutarkan tubuhnya menghadap Lux.
"Benarkah, Sayang?!" seru Braxton dengan binar mata yang dipenuhi rasa kagum murni. "Astaga, Lux! Itu galeri seni kontemporer paling bergengsi di seluruh pesisir barat! Karyamu akan bersanding dengan para seniman kawakan internasional!"
Braxton meraih kedua telapak tangan Lux, membawanya ke bibir lalu mendaratkan kecupan-kecupan penuh kebanggaan di sana.
"Selamat, Sayangku! Aku tahu betul seberapa keras kau mengasah bakatmu. Kau pantas mendapatkan panggung sebesar itu!" pungkas Braxton dengan nada antusias dan penuh dukungan murni. "Kau adalah seniman paling hebat yang pernah kutemui!"
Lux tersenyum haru, matanya berkaca-kaca oleh kepuasan batin. Bagi seorang seniman independen seperti dirinya, diakui oleh kurator papan atas murni karena kualitas lukisannya adalah pencapaian tertinggi yang selalu diimpikannya.
Seluruh rasa lelah, cemoohan, hingga fitnah dari orang-orang seperti Ambar terasa menguap tak berbekas pada detik itu.
"Terima kasih, Braxton," bisik Lux tulus, membalas genggaman tangan suaminya. "Ini benar-benar pembuktian bahwa bakatku diakui murni karena mampuku, bukan karena hal lain."
"Tentu saja, Lux," sahut Braxton yakin. "Lukisanmu punya jiwa yang luar biasa."
Namun, di tengah binar kebahagiaan yang membuncah tersebut, Lux teringat akan sebuah amplop dokumen emas yang diberikan Profesor Henderson sebelum ia melangkah keluar dari ruangan tadi.
Amplop itu berisi lembaran syarat teknis dan profil pihak kurator serta sponsor utama yang mendanai seluruh pameran megah tersebut.
Lux meraih tas tangannya, mengeluarkan lembaran kertas tebal beraroma eksklusif itu dari dalam amplop.
"Profesor menyuruhku membaca profil sponsor tunggal pameran ini," gumam Lux santai, memiringkan kertas tersebut ke arah pendar lampu kabin. "Beliau bilang sponsor tahun ini sangat dermawan karena menanggung seluruh biaya cetak katalog hingga promosi media massa."
***
Lux mulai membaca baris demi baris teks berhuruf cetak tebal di halaman depan.
Namun, semakin jauh matanya menyapu barisan kata tersebut, senyuman manis di wajah Lux perlahan-lahan luntur sepenuhnya.
Pendar bahagia di mata abu-abunya berganti menjadi kaku, terkejut, dan seketika membeku oleh sensasi dingin yang merayap di dadanya.
Di lembaran kertas tersebut, tertera dengan sangat jelas logo keluarga besar bernilai miliaran dolar:
Sponsor Tunggal Pameran Seni Kontemporer Galeri Grand Luxe: Desmon Corporation & Family Foundation.
Dunia Lux serasa berputar dan berhenti mendadak pada detik itu juga.
Nama keluarga besar suaminya—keluarga Desmon—terpampang megah sebagai pihak yang mendanai, membeli slot utama, dan memegang kendali penuh atas pemilihan seniman di galeri tersebut.
Seketika itu juga, benteng harga diri, kebanggaan, dan kerja keras yang baru saja dibangun Lux hancur berkeping-keping.
Bayangan perlakuan Ambar di kelas pagi tadi—cemoohan tentang "jalur belakang", tuduhan memanfaatkan "kekuasaan keluarga", serta sindiran tentang orang dalam—serta-merta menghantam kepala Lux bagaikan tamparan yang amat keras dan memalukan.
Apakah bakat murninya yang dipuji-puji Profesor Henderson selama ini sejujurnya hanyalah bentuk formalitas karena universitas ingin menyenangkan keluarga Desmon?
Apakah terpilihnya ia ke galeri bergengsi itu murni karena lukisannya... atau karena suaminya yang bertindak di balik layar menggunakan uang dan pengaruhnya?
Keheningan yang teramat pekat dan tegang mendadak menyelimuti kabin mobil.
Braxton, yang menyadari perubahan raut wajah istrinya yang mendadak pucat dan kaku, berkerut bingung. "Ada apa, Sayang? Kenapa wajahmu berubah seperti itu?"
Lux perlahan mendongakkan kepalanya. Mata abu-abunya yang tadinya dipenuhi kehangatan cinta kini menatap Braxton dengan pendar kekecewaan, kejengkelan, dan rasa terluka yang amat pekat.
"Braxton..." bisik Lux, suaranya terdengar begitu dingin dan bergetar menahan emosi yang membakar dadanya. "...apa artinya ini?"
Lux melemparkan lembaran dokumen sponsor itu ke atas lapang dada Braxton.
Braxton melirik kertas tersebut. Begitu melihat nama Desmon Corporation tertera di sana, raut wajah tampan Braxton seketika sedikit salah tingkah, namun pria itu berusaha tetap tenang.
"Oh... soal sponsor itu?" ujar Braxton santai, mencoba menyunggingkan senyum tipis. "Lux, yayasan keluargaku memang sudah menjadi donor utama untuk Galeri Grand Luxe sejak Lama. Aku hanya memastikan kepada dewan direksi pameran minggu lalu agar mereka memberikan panggung yang paling layak untuk karya-karya terbaik dari kampus kita."
Deg!
Pengakuan jujur dari mulut Braxton seketika menyulut api kemarahan besar di dalam dada Lux.
Untuk pertama kalinya sejak mereka menikah, sebuah kesalahpahaman yang amat pekat dan tajam merekah di antara mereka.
Lux menarik tangannya dari genggaman Braxton secara kasar, menyilangkan kakinya seraya menatap suaminya dengan pandangan yang sarat akan rasa ketidak terimaan yang mendalam.
"Kau yang menyuruh dewan direksi itu, Braxton?" cetus Lux dengan suara yang meninggi, nada bicaranya memotong keheningan malam dengan begitu tajam. "Kau menggunakan pengaruh nama Desmon untuk mencampuri seleksi pameranku?!"
Braxton terkejut melihat respon eksplosif dari istrinya. "Tunggu dulu, Sayang. Kenapa kau marah? Aku sama sekali tidak mencampuri penilaian bakatmu! Aku hanya menggunakan posisiku untuk mempermudah jalanmu agar—"
"Agar apa?!" potong Lux brutal, air mata kekecewaan menetes di sudut matanya yang berkilat marah. "Agar aku terlihat seperti mahasiswi yang memanfaatkan jalur belakang?! Agar seluruh kalimat busuk yang diucapkan Ambar dan anak-anak kampus pagi tadi menjadi kenyataan?!"
Wajah Braxton mengeras. "Lux! Dengarkan aku dulu!"
"Tidak, Braxton! Kau yang dengarkan aku!" jerit Lux dengan napas terengah-engah, emosi kemarahannya sebagai seorang seniman independen meledak tanpa bendungan.
"Aku berjuang mati-matian selama bertahun-tahun melukis sampai jariku kapalan demi diakui murni karena bakatku sendiri! Aku tidak pernah meminta atau membutuhkan bantuan uang, kekuasaan, atau pengaruh nama besar keluargamu untuk melicinkan jalanku!"
Lux menunjuk dada Braxton dengan jarinya yang gemetar.
"Kau mengambil keputusan ini tanpa pernah berdiskusi denganku!" pungkasi Lux tajam, hatinya terasa begitu risih, jijik, dan terluka oleh fakta bahwa pencapaian terbesarnya kini dinodai oleh campur tangan orang dalam.
"Kau membuatku merasa seperti seorang penipu yang mendapatkan panggung bergengsi itu hanya karena statusku sebagai istri dari seorang Braxton Desmon!"
Braxton membelalakkan matanya, merasa niat baik dan dukungannya disalahartikan secara mentah-mentah. Harga diri seorang pria Desmon yang terbiasa memberi yang terbaik untuk orang yang dicintainya seketika ikut tersulut emosi.
"Aku melakukan ini karena aku menyayangimu dan ingin mendukung kariermu, Sayang!" balas Braxton dengan suara rendah yang tegas dan tertahan. "Salahkah seorang suami jika ia ingin menggunakan seluruh sumber daya yang dimilikinya untuk memastikan istrinya berada di tempat tertinggi?!"
"Sangat salah jika kau melakukannya tanpa menghargai prinsip hidupku!" desis Lux dingin, memalingkan wajahnya ke arah jendela kaca mobil seraya menghapus air matanya secara kasar.
Keheningan yang dingin, kaku, dan membekukan seketika mengunci keduanya di dalam kabin mobil sport tersebut.
Untuk pertama kalinya dalam perjalanan rumah tangga mereka yang baru seumur jagung, sebuah bentrokan prinsip dan kesalahpahaman besar menciptakan jarak yang begitu lebar di antara dua jiwa yang sebelumnya saling memeluk dalam kehangatan.
Braxton mencengkeram kemudi dengan rahang bertaut keras, sementara Lux memaku tatapannya ke luar jendela—keduanya tenggelam dalam amarah dan ego masing-masing di bawah pendar lampu kota yang dingin.
semangat ya bang, buat meluluhkan hati Lux