Cerita ini hanya fiksi semata, hanya halu author.
Cerita ini, terispirasi dari curhatan-curhatan seorang ibu yang merasa lukanya terabaikan, lelahnya tak terlihat, dan sakitnya yang dianggap sepele, diselingkuhin pula.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Illana Clr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Empat tahun lalu part 1
Safa dan Alana berteman sejak SMA.
Setelah lulus mereka sempat renggang karena kuliah beda kota dan sibuk bangun karir masing-masing.
Tapi komunikasi mereka tetap lancar. Chat tiap hari, VC kalau sempat.
Safa pacaran sama Johan. Tapi nggak pernah sempat dikenalin ke Alana.
" Nanti ya Na, kalau udah serius banget," gitu terus kata Safa.
Hubungan Safa dan Johan nggak mulus.
Orangtua dua-duanya nggak merestui. Alasan klasik. "Belum mapan. Beda visi."
Berantem. Baikan. Berantem lagi.
Sampai akhirnya mereka kebablasan.
Safa hamil.
Mereka berharap dengan itu bisa dinikahkan.
Tapi yang ada malah mereka makin dijauhkan.
Stres. Frustasi.
Dan akhirnya Safa keguguran.
Saat itu Alana lagi sibuk-sibuknya kerja. Nggak tahu apa-apa.
Tiba-tiba dapat telpon dari Safa. Suaranya serak.
" Na... bisa ke RS sekarang? Temenin gue ya."
Alana langsung nyetir ke sana.
Di kamar rumah sakit Safa nangis.
" Safa... lo sakit apa?" tanya Alana panik.
" Biasa lah Na," jawab Safa pelan.
Alana peluk sahabatnya erat.
"Udah makan? Minum obat? Lo sakit apa sih?"
Safa terisak.
" Gue keguguran Na."
Mata Alana melebar. Kaget.
" Lo? Keguguran? Astaga... nangis aja gak apa-apa. Gue di sini sama lo."
" Pacar gue juga gak ada kabar Na. Hubungan kita gak direstui meski gue hamil anaknya dia," ucap Safa sambil sesenggukan.
Beberapa hari Alana bolak-balik RS. Nyuapin, nemenin tidur, urus administrasi.
Setelah Safa agak baikan, Safa mutusin ikut orangtuanya ke luar negeri buat nenangin diri.
Hari itu Alana yang nganter ke bandara.
Pelukan terakhir di depan gate.
" Jaga diri baik-baik ya Sa"
" Kamu juga Na"
Dari bandara Alana langsung ke kafe. Otaknya butuh kafein.
Selesai itu dia mampir ke rumah orangtuanya.
" Hey, anak mama tumben mampir kesini sayang," sapa Mama Arina.
" Iya ma, aku kangen masakan mama," jawab Alana sambil nyengir.
" Ah, kebetulan mama hari ini mau masak sop ayam sama..."
" Perkedel? Please maaa... udah lama gak makan perkedel bikinan mama," rengek Alana kayak anak kecil.
" Iya sayang iya. Yaudah kamu duduk sini aja dulu pasti capek kan abis dari bandara?"
" Nggak, aku mau ke dapur bantu mama."
Alana emang anak mama banget. Anak bungsu dari 3 bersaudara.
Dua kakaknya, Devan dan David, sayang banget sama dia.
Nggak lama kakak dan Papanya, Papa Anwar pulang.
" Wih, inces tumben inget rumah," goda Devan.
" Lagi nggak nulis kali," timpal David.
" Udah2 kalian udah pada gede ya. Masih aja isengin adik kalian," kata Papa Anwar sambil geleng-geleng.
" Tau nih rese banget," sahut Alana sebal tapi ketawa.
" Menantu-menantu mama mana? Kok gak dibawa?" tanya Mama Arina.
" Istri kita lagi jalan sama temen-temennya. Hebatnya mereka main bawa anak mah," jawab Devan.
" Kenapa gak dititip sini sih? Mama juga gak sibuk kok,"
" Biasa mah, play date," kata David.
" Aku udah lama gak ketemu ponakan-ponakan aku, semingguan ada kali ya,"
" Lagi lo, apart lo deket juga ngapa gak main aja?"
" Sibuk hehe"
Ruang makan rame sama tawa.
Sampai akhirnya Papa Anwar angkat bicara.
" Oh ya, ada yang mau papa bicarakan untuk Alana. Mumpung lagi di sini."
" Apa pa? Jadi takut," kata Alana.
" Papa ada rencana mau ngenalin kamu sama anak temen papa. Minggu depan kamu ke sini ya. Ya, anggap ini memperpanjang pertemanan."
" Alana dijodohin pa? Jangan lah pa, biarin dia meniti karir dulu," protes David.
" Dav, papa kan bilang memperpanjang pertemanan,"
" Tapi... liat kita deh, kita sampe nikah sama istri-istri kita karena pertemuan itu," kata Devan.
" Emang itu mah lo berdua aja yang gatel," canda Alana.
______
Seminggu berlalu.
Jam 2 siang, Alana sampai di rumah orangtuanya.
Dia dandan kayak anak muda yang cantik, lucu, sopan. Meski nggak berjilbab.
Celana jeans kulot, blouse putih, blazer coklat. Rambutnya digerai rapi.
Begitu masuk, rumah udah rame.
Papa Anwar langsung nyambut.
" Nah, anaknya sudah datang,"
Alana menunduk, sopan.
" Hallo om tante, maaf telat."
Amara dan Tedi, orangtua Johan, langsung nyamperin. Senyumnya lebar banget.
" Hallo sayang, kamu cantik banget ternyata," kata Tante Amara.
" Makasih tante... tante lebih cantik," jawab Alana kikuk.
" Ah bisa aja kamu. Oh ya, tante mau kenalin kamu sama anak tante."
Tante Amara ngelirik ke sudut ruangan.
Di sana Johan lagi ngobrol sama Devan dan David. Begitu dipanggil, dia langsung jalan ke arah Alana.
Papa Anwar memperkenalkan.
" Nah, Johan ini Alana anak bungsu om. Kenalin."
Johan ngulurin tangan. Gugup.
" Hallo. Johan."
Alana jabat pelan.
" Alana."
Hening sedetik. Canggung.
Terus Tante Amara nyelutuk sambil senyum-senyum.
" Kalian serasi tau. Bungsu sama anak pertama."
Alana langsung tersipu. Noleh ke arah lain.
Johan juga sama. Telinganya merah. Cuma bisa senyum.
Devan dan David saling lirik.
" Tuh kan, langsung salting," bisik Devan.
" Udah diem, biarin," sahut David sambil nahan ketawa.
Mama Arina langsung narik Alana ke meja makan.
" Udah duduk sini. Laper kan? Mama masak sop sama perkedel kesukaan kamu."
Selama makan, Johan beberapa kali ngelirik Alana.
Alana juga. Tapi buru-buru ngebuk pandangan kalau ketahuan.
Setelah makan, Papa Anwar ngasih kode.
" Yaudah kalian ngobrol di taman belakang aja. Biar kenal lebih jauh."
"Atau, kalian bisa jalan-jalan cari angan malam berdua", timpal Papa Tedi.
Di taman, cuma ada mereka berdua.
Duduk di bangku kayu. Jaraknya agak jauh.
Johan yang buka duluan.
" Emm... kerja di mana sekarang?"
" Di agensi periklanan. Bagian nulis," jawab Alana.
" Oh, pantes. Aura kreatifnya kerasa,"
Alana ketawa kecil. " Kebalik. Kamu kerja di mana?"
" Bantu usaha keluarga. Property."
Ngobrol ngalir pelan. Awalnya kaku.
Tapi lama-lama mereka ketawa bareng karena sama-sama awkward.
Saat hendak pulang, Johan pamit kepada keluarga Alana.
Alana mengantar Johan sampai depan dan menunggunya hingga masuk mobil.
" Makasih ya untuk hari ini," kata Johan.
" Sama-sama, hati-hati ya" jawab Alana.