Dulu kopilot yang satu kokpit dengannya. Lalu istri siri yang dibuang dengan selembar talak. Tapi Anindya kembali—terbang lagi ke maskapai sang Kapten yang mencampakkannya, sambil menyimpan rahasia: dia pemilik Klub Enggar dan pewaris Grup Wicaksana. Ibunya dibunuh ibu tiri dan saudari tirinya. Amara cuma pramugari di kabin; hanya Anindya yang duduk di kokpit. Kini sang Kapten berlutut, menyesal… terlambat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mira K., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 29
Bab 29
Dendam Bu Herlina
“Tiga jas dari atelier yang sama, satu buket bunga, dan satu undangan makan malam yang bahkan tidak dijawab.”
Bu Herlina meletakkan cetakan foto di meja makan keluarga Wibisana. Damar berdiri di seberangnya, masih mengenakan kemeja kantor.
Foto pertama menunjukkan dirinya masuk ke atelier Kemal. Foto kedua diambil dari sudut jauh ketika ia berbicara dengan Anindya di parkiran. Foto terakhir adalah tangkapan layar berita tentang pengakuan nikah siri Arkana.
“Ibu menyuruh orang mengikuti saya?” tanya Damar.
“Ibu mencari tahu kenapa kamu membatalkan perkenalan dengan keluarga yang sudah kita atur.”
“Makan malam dua keluarga bukan pertunangan.”
“Itu langkah menuju hubungan yang pantas.”
“Pantas bagi siapa?”
Herlina duduk di kursi ujung meja. Ruang makan di rumah Pondok Indah itu cukup panjang untuk dua belas orang, tetapi malam tersebut hanya menampung ibu dan anak yang tidak lagi bersedia berpura-pura sepakat.
“Anindya pernah menjadi istri siri Arkana,” katanya. “Sekarang dia masih terseret dalam urusan Adiwijaya, bekerja sebagai kopilot di perusahaan yang sama, dan punya hubungan tidak jelas dengan Klub Enggar. Kamu ingin membawa kekacauan itu masuk ke keluarga?”
“Saya mengajaknya makan malam, bukan membawanya ke akad.”
“Kamu mempermalukan keluarga dengan mengejar perempuan yang bahkan belum menjawab.”
Damar melihat foto-foto itu sekali lagi. “Yang mempermalukan keluarga adalah mengawasi anak dewasa karena dia menolak makan malam bisnis yang disamarkan sebagai perkenalan.”
Wajah Herlina menegang. “Jaga bicaramu.”
“Ibu juga harus menjaga batas.”
“Batas?” Herlina tertawa tajam. “Semua yang kamu nikmati datang dari nama Wibisana. Ibu hanya memastikan kamu tidak menghancurkannya karena seorang perempuan.”
“Anindya tidak meminta apa pun dari saya.”
“Itulah cara perempuan seperti dia membuat laki-laki penasaran.”
Damar mengambil foto parkiran dan merobeknya menjadi dua.
“Jangan hina dia untuk mengendalikan saya.”
“Kamu membelanya setelah beberapa kali bertemu?”
“Saya membela hak siapa pun untuk tidak difitnah di meja makan.”
Herlina berdiri. “Kalau kamu terus mendekatinya, Ibu akan menghentikan semua fasilitas yang kamu pakai.”
Damar mengeluarkan kunci mobil dan meletakkannya di atas meja. “Mobil keluarga. Kartu tambahan. Akses rumah liburan. Silakan ambil.”
Herlina memandang benda-benda itu, tidak menyangka ancamannya diterima begitu mudah.
Damar juga mengeluarkan kartu akses kantor keluarga. “Mulai besok saya tidak akan memakai ruang kerja Wibisana untuk urusan pribadi. Proyek yang memang menjadi tanggung jawab saya akan diserahterimakan secara tertulis. Jangan katakan saya membawa data perusahaan.”
“Kamu sudah menyiapkan ini?”
“Saya menyiapkan kemungkinan bahwa suatu hari Ibu memakai fasilitas untuk menentukan siapa yang boleh saya temui.”
Selama dua tahun terakhir, Damar diam-diam menyimpan pendapatan dari konsultasi dan investasi kecil atas namanya sendiri. Jumlahnya tidak setara dengan gaya hidup keluarga, tetapi cukup untuk membayar apartemen, kendaraan sewaan, dan hidup tanpa meminta izin setiap minggu.
Herlina selalu menganggap kegiatan itu permainan. Sekarang ia sadar anaknya telah membangun pintu keluar.
“Kamu pikir penghasilanmu sendiri cukup mempertahankan hidupmu?”
“Kita akan tahu.”
Damar mengambil tas kerja. “Dan kalau Ibu mengirim orang untuk mengikuti Anindya, saya akan memperingatkannya.”
“Kamu berani mengancam ibu sendiri?”
“Saya memberi batas yang jelas.”
Pintu depan tertutup beberapa detik kemudian.
Herlina tetap berdiri di ruang makan. Selama bertahun-tahun, ia menganggap sikap santai Damar sebagai kelemahan yang mudah diarahkan. Baru malam itu ia menyadari bahwa sebagian kecerobohan anaknya mungkin hanya cara untuk menghindari kendali keluarga.
Rasa terkejut tersebut segera berubah menjadi marah.
Pelayan rumah memberitahunya bahwa Amara Wicaksana datang tanpa rombongan. Herlina hampir menolak, tetapi nama itu mengingatkannya pada video Menteng dan perempuan yang baru saja dibela Damar.
Amara masuk ke ruang baca dengan gaun sederhana dan wajah prihatin.
“Maaf datang malam-malam, Bu Herlina. Saya dengar ada salah paham antara Anda dan Damar.”
“Siapa yang memberitahumu?”
“Lingkaran Jakarta tidak pernah benar-benar menyimpan rahasia.”
Herlina tidak menawarkan duduk, tetapi Amara tetap berdiri dengan sabar.
“Kalau Anda datang untuk membicarakan Anindya, langsung saja.”
“Saya hanya khawatir Damar belum tahu seberapa rumit perempuan itu.”
“Saya sudah tahu cukup.”
Amara menggeleng pelan. “Dia bukan hanya mantan istri siri Arka. Ia masuk ke banyak proyek Klub Enggar tanpa jabatan publik yang jelas. Setiap orang yang mempertanyakannya dibuat malu. Sekarang dia membiarkan tiga laki-laki penting berputar di sekelilingnya, tetapi tidak pernah menyatakan maksud.”
“Tiga?”
“Arka, Damar, dan dokter yang merawatnya.”
Herlina menyipitkan mata. “Kamu mengikuti dia?”
“Saya melindungi keluarga saya, sama seperti Anda.”
Mereka akhirnya duduk berhadapan.
Amara tidak mengusulkan kekerasan. Ia hanya menyodorkan salinan daftar acara publik dan menjelaskan bahwa Anindya akan hadir dalam beberapa kegiatan mode bulan depan. Menurutnya, sedikit tekanan sosial cukup untuk membuat perempuan itu berhenti mendekati Damar.
“Tekanan seperti apa?” tanya Herlina.
“Buat sponsor mempertanyakan latar belakangnya. Buat orang tahu dia membawa masalah. Kalau dia kehilangan panggung, Damar akan melihat kenyataan.”
Herlina menyentuh tepi daftar itu. “Dan apa keuntunganmu?”
“Saya juga ingin dia berhenti masuk ke hidup Arka.”
Tidak ada persahabatan di antara mereka. Hanya dua perempuan yang mengira bisa menggunakan kebencian satu sama lain tanpa ikut terbakar.
Herlina menutup map.
“Baik,” katanya. “Kita mulai dengan membuatnya tahu bahwa ada batas yang tidak boleh ia lewati.”