Budiman Sekar, mahasiswi biasa yang butuh uang, melamar kerja di PT Lestari Group. Tapi nasib berkata lain — lamarannya dialihkan, dan dia berakhir jadi pengasuh pribadi nomor 88 untuk Tan Ardian, mantan Direktur Utama yang kini terpaksa duduk di kursi roda setelah kecelakaan misterius.
Ardian dingin. Angkuh. Sudah mengusir 87 pengasuh sebelumnya.
Tapi Sekar bukan orang yang gampang menyerah. Dia berani, blak-blakan, dan tidak takut membalas tatapan tajam sang CEO dengan senyum lebar.
Yang tidak Sekar tahu: Ardian menyimpan banyak rahasia. Tentang kecelakaan itu. Tentang kakinya. Dan tentang buku catatan kulit cokelat yang diam-diam ia tulis setiap malam — "Panduan Memelihara Kucing Hoki."
Isinya? Semua hal tentang Sekar.
"Hari ke-15: Dia tersenyum. Rasanya seperti matahari masuk lewat jendela yang sudah lama tertutup."
*Ketika sang kucing dingin bertemu anjing kecil yang ceria — siapa yang sebenarnya merawat siapa?*
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lumisse, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 8
Bab 8
Ternyata Menyesal
"Tidak ada yang mau jadi nomor delapan puluh sembilan."
Darren mengucapkan kalimat itu dengan hati-hati, tetapi efeknya tetap seperti meletakkan batu di tengah ruang kerja.
Tan Ardian tidak menjawab.
Ia duduk menghadap jendela. Di luar, halaman Rumah Tan tampak rapi seperti biasa. Pohon palem bergerak pelan tertiup angin. Tidak ada suara Sekar di dapur, tidak ada langkah cepatnya di koridor, tidak ada orang yang berani bertanya apakah tomat punya kondisi batin stabil.
Rumah itu kembali tenang.
Aneh sekali, ketenangan itu terasa mengganggu.
Darren menunggu hampir satu menit. Ketika Koko-nya tetap diam, ia memberanikan diri maju.
"Koko, aku sudah hubungi semua agensi yang masuk daftar. Tidak ada yang mau. Bahkan ada yang menawarkan jasa satpam tambahan, bukan pengasuh."
"Cari lagi."
"Sudah."
"Naikkan gaji."
"Sudah."
"Naikkan lagi."
Darren menarik napas. "Kalau dinaikkan lagi, gaji pengasuh Koko bisa mengalahkan manajer divisi."
Ardian akhirnya menoleh. "Masalah?"
"Bukan masalah buat aku. Masalah buat manajer divisi kalau tahu."
Ardian kembali memandang jendela. "Kalau tidak ada, tidak perlu."
Darren hampir tersedak. "Tidak perlu? Koko, tadi pagi kamu sendiri yang bilang besok jangan terlambat untuk pijat. Itu siapa yang mau pijat? Hantu?"
"Rio bisa kirim perawat."
"Perawat bisa masak nasi goreng yang Koko habiskan diam-diam?"
Ardian diam.
Darren langsung merasa menemukan celah. Ia maju satu langkah lagi. "Perawat bisa baca wajah Koko lalu tahu kapan harus diam dan kapan harus melawan? Perawat bisa menendang Kevin sampai dia jatuh ke sofa?"
"Itu bukan kualifikasi kerja."
"Menurutku itu kualifikasi utama."
Ardian menatap tajam.
Darren mengecil, tetapi tidak mundur. Ia sudah hidup dua puluh sekian tahun sebagai adik Tan Ardian. Kalau hari ini mati karena membela pengasuh, setidaknya matinya punya alasan mulia.
"Koko, Mbak Sekar tadi melindungimu."
Rahang Ardian menegang. "Aku tidak minta."
"Itu justru masalahnya. Koko tidak pernah minta apa pun. Terus kalau ada orang yang memberi tanpa diminta, Koko malah mengusirnya."
Ruangan hening.
Ardian menurunkan pandangan ke tangannya sendiri. Tangan yang tadi digenggam Sekar. Rasa hangat itu sudah hilang, tetapi ingatannya belum.
"Dia melewati batas."
"Kevin yang melewati batas duluan."
"Dia menyerang tamu."
"Tamu yang sengaja datang membawa kamera untuk membuat Koko terlihat buruk."
Ardian tidak membantah.
Darren melihat itu, lalu mengambil napas lebih berani. "Dan setelah semua itu, Koko memecatnya di depan Kevin. Menurutku kalau ada yang harus marah, Mbak Sekar lebih pantas marah."
"Darren."
"Iya, aku diam." Darren langsung menutup mulut.
Tiga detik kemudian ia membukanya lagi.
"Tapi sebelum diam, aku mau bilang satu kalimat terakhir."
Ardian memejamkan mata. "Kamu sudah bilang sepuluh."
"Yang ini penting." Darren menatap kakaknya. "Rumah ini sebelum Mbak Sekar datang terasa seperti ruang tunggu rumah sakit. Setelah dia datang, Koko makan, pijat, bahkan telinganya bisa merah. Kalau Koko mengusir dia cuma karena Papa bilang kecewa, berarti Papa menang, Kevin menang, Felicia juga mungkin tepuk tangan."
Ardian membuka mata.
Nama-nama itu membuat udara berubah.
Darren langsung menyesal sedikit, tetapi sudah terlanjur. Ia menggenggam tablet di depan dada seperti perisai.
"Aku tidak menyuruhmu meminta maaf," katanya cepat. "Aku tahu itu terlalu ekstrem untuk kepribadian Koko."
"Kamu ingin hidup sampai besok?"
"Iya. Jadi aku punya solusi yang lebih sesuai dengan gaya keluarga Tan."
Ardian menatapnya.
Darren meletakkan tablet di meja. "Kontrak kerja resmi. Bukan kontrak agensi. Langsung dari keluarga Tan. Posisi: pengasuh pribadi dan asisten rehabilitasi harian. Gaji tinggi. Sangat tinggi. Ada asuransi, bonus, hari libur jelas, biaya transportasi, klausul kalau majikan memecat tanpa alasan medis harus bayar kompensasi."
"Kompensasi?"
"Agar Koko tidak bisa sembarangan bilang dipecat setiap emosinya flu."
Ardian menatap Darren begitu lama sampai Darren menelan ludah.
Akhirnya Ardian berkata, "Hapus kalimat emosinya flu."
Darren hampir bersorak. "Berarti sisanya boleh?"
"Aku tidak menyuruh dia kembali."
"Tentu. Aku yang memaksa."
"Kalau dia bertanya, bilang kamu yang bersikeras."
"Siap. Koko tidak terlibat. Koko hanya korban dari adik yang terlalu peduli."
Ardian mengambil pulpen dari meja, menandatangani halaman terakhir tanpa membaca terlalu lama. Darren memandang tanda tangan itu seperti melihat matahari terbit.
"Gajinya," kata Ardian tiba-tiba.
"Kurang tinggi?"
"Naikkan dua puluh persen."
Darren membeku. "Koko."
"Dia menendang Kevin."
"Benar."
"Risiko kerja."
Darren menggigit bibir agar tidak tertawa. "Baik. Risiko kerja."
Lima belas menit kemudian, Darren sudah duduk di mobil menuju Depok dengan kontrak tebal di pangkuan. Handi mengemudi di depan, wajahnya tetap datar.
"Pak Darren yakin keluarga Budiman tidak akan mengusir kita?"
Darren memeluk kontrak itu lebih erat.
"Tidak yakin."
"Haruskah saya siapkan bodyguard?"
"Jangan. Kita datang meminta maaf, bukan menjemput tahanan."
Ia melihat keluar jendela, ke arah jalanan Jakarta yang mulai padat. Di ponselnya, pesan dari Koko baru masuk.
KokoTerPilihKasih:
Jangan bilang aku yang menyuruh.
Darren mengetik cepat.
Siap. Koko cuma pria dingin yang sama sekali tidak menyesal.
Pesan itu hanya centang satu selama beberapa detik, lalu berubah centang dua.
Tidak ada balasan.
Di Rumah Tan, Ardian meletakkan ponsel di meja dan menatap kulkas yang kini hanya punya satu sticky note kuning.
Tulisan pesanan sarapan itu masih ada.
Rumah kembali terlalu rapi.
Darren tersenyum sendiri.
Kadang, pada Tan Ardian, tidak membantah sudah sama dengan mengaku.