"Mulai hari ini, silakan ambil kembali anak laki-laki kebanggaanmu, Ibu. Karena suamiku... selamanya memang hanya milik keluarganya!"
Dulu, rumah tanggaku bersama Mas Bayu begitu harmonis. Dia suami yang manis dan selalu menyerahkan seluruh gajinya padaku. Tapi semua hancur saat kami mengalah untuk pindah dan tinggal satu atap dengan Ibu Mertua serta adik ipar.
Neraka dimulai ketika suami dari adik iparku menganggur. Alih-alih menegur menantunya yang malas, Ibu Mertua justru terus mengamuk dan memanipulasi keadaan. Kena guilt trip dan air mata sang ibu, Mas Bayu tega merebut hak keuanganku. Seluruh gajinya resmi diserahkan ke rekening ibunya demi membiayai ipar parasit.
Saat nafkah anakku dipangkas habis dan suamiku lebih memilih melihatku menangis demi senyum ibunya, aku sadar pernikahan ini sudah mati.
Nggak akan ada lagi tangisan mengemis. Aku akan angkat kaki membawa putriku, mengembalikan Mas Bayu pada keluarganya, dan membuktikan betapa hancurnya hidup mereka tanpa diriku
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blcak areng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SUAMIKU SELAMANYA MILIK KELUARGANYA
Langkah kakiku terasa jauh lebih berat ketika melangkahkan kaki turun dari angkutan umum di depan gang perumahan mertuaku. Langit sore mulai berganti warna menjadi jingga keperakan, memancarkan bayang-bayang panjang di sepanjang jalan setapak menuju rumah beratap limas itu.
Genggaman tanganku pada jemari Naya makin erat. Setelah menyicipi sedikit kehangatan dan rasa dihargai di kediaman Pak Ibra bersama Bik Nana siang tadi, kembali ke tempat ini rasanya seperti melangkah masuk kembali ke dalam kurungan besi yang berkarat. Namun, aku sudah membulatkan tekad. Apapun yang terjadi hari ini, aku harus menatap mata Mas Bayu dan menyelesaikan kejelasan hubungan kami sebelum aku benar-benar pindah menginap di pavilion kediaman Pak Ibra.
"Mimo... kita pulang ke rumah Nenek lagi?" tanya Naya pelan, menengadah menatapku dengan mata bulatnya yang polos. Suaranya tersirat sedikit ketakutan.
"Cuma sebentar ya, Sayang," bisikku lembut, menyunggingkan senyum terpaksa untuk menenangkan batinnya. "Mimo cuma mau bicara sebentar sama Pipo."
Namun, begitu langkah kami memasuki halaman depan rumah, perasaanku mendadak tidak enak. Angin sore bertiup dingin menyapu tengkukku, membawakan firasat buruk yang mendadak membuat dadaku berdesir hebat.
Mobil milik Mas Bayu sudah terparkir canggung di teras depan sesuatu yang sangat tidak biasa. Jam baru menunjukkan pukul lima sore, padahal biasanya suamiku itu baru pulang melintasi magrib.
Ada yang tidak beres.
Sambil menggendong tas ransel yang berisi dokumen penting yang kubawa saat wawancara tadi siang, aku mendorong pelan pintu depan yang ternyata tidak terkunci.
Suara tangisan histeris langsung menyambut pendengaranku begitu kaki kami melewati ambang pintu.
Di atas sofa ruang tamu, Ibu Sumiati sedang terisak-isak hebat, menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan. Tubuhnya terguncang seolah-olah baru saja mengalami kemalangan paling dahsyat seumur hidupnya. Di sampingnya, Rika sedang merangkul bahu ibunya seraya mengusap-usap punggungnya dengan raut wajah dramatis, sementara Fery berdiri di sudut ruangan bersedekap dada, menatap ke arah pintu dengan pandangan penuh permusuhan.
Dan tepat di tengah ruangan itu, berdiri Mas Bayu.
Pria yang biasanya berwajah lembut dan selalu mengalah itu kini berdiri tegap dengan urat-urat leher yang menegang keras. Rahangnya terkunci rapat, dadanya naik-turun menahan napas yang memburu. Namun, yang paling meremukkan hatiku adalah tatapan matanya. Mata Mas Bayu yang biasanya memancarkan kasih sayang kini merah membara, dipenuhi oleh kekecewaan, kemarahan, dan hilangnya kepercayaan yang sangat pekat.
"Mas Bayu...?" panggilku lirih, menahan napas.
"Dari mana kamu, Maya?!"
Suara Mas Bayu menggelegar menghantam ruangan, begitu tinggi dan penuh tekanan hingga membuat Naya langsung ketakutan. Aku tersentak hebat. Belum pernah seumur hidupku melihat Mas Bayu membentakku dengan nada semenyayat ini.
Di sampingku, Naya langsung terkejut luar biasa. Anak mungil itu menjerit pelan, menyembunyikan wajahnya di balik paha kakiku seraya menangis ketakutan mendengarkan suara Pipo-nya yang mendadak asing dan menakutkan.
"Pipo... hikss... Pipo marah..." tangis Naya pecah, jemari mungilnya meremas kain celanaku rapat-rapat.
Melihat Naya ketakutan setengah mati, naluriku sebagai seorang ibu langsung mengambil alih. Aku menurunkan tubuhku, merangkul Naya dan mengusap punggungnya dengan cepat.
"Naya sayang, masuk kamar belakang dulu ya, Nak," bisikku gemetar, mencoba menjaga suara agar tetap tenang di depan putriku. "Buka tas Mimo, main sama boneka di dalam kamar dulu ya? Nanti Mimo susul."
"Naya takut, Mimo... hikss..."
"Gak apa-apa, Nak. Ada Mimo di sini. Masuk kamar dulu ya, Sayang... pinter," bujukku setengah memaksa, menuntun langkah kecil Naya menuju kamar belakang dan menutup pintunya rapat-rapat agar dia tidak menyaksikan keributan ini.
Setelah memastikan Naya aman di dalam kamar, aku membalikkan badan dan kembali berjalan menuju ruang tamu. Aku menarik napas dalam-dalam, mencoba mengumpulkan sisa-sisa keberanianku untuk berdiri tegak menghadapi pria yang masih berstatus sebagai suamiku itu.
"Mas, ada apa ini? Kenapa Mas membentakku di depan Naya?" tanyaku dingin, berusaha mengontrol getaran di suaraku.
"Masih berani kamu tanya ada apa, Maya?!" potong Mas Bayu dengan nada yang makin meninggi, melangkah mendekatiku dengan tatapan menusuk. "Tega kamu ya, Maya! Tega-teganya kamu maki-maki Ibu dan ngusir Rika sama Fery dari rumah ini pas Mas baru berangkat kerja tadi pagi!"
Aku melongo, dahiku berkerut dalam. "Maksud Mas apa? Siapa yang maki-maki?"
Ibu Sumiati mendadak makin mengeraskan tangisannya dari atas sofa. "Aduh, Bayu... Ibu udah gak sanggup lagi, Le... Tadi pagi pas kamu baru jalan kerja, istrimu ini keluar dari kamar langsung nyerang Rika sama Fery! Dia bilang adikmu sama suaminya itu beban menjijikkan yang bikin habis uang rumah tangga!"
Rika ikut menyahut dengan suara melengking yang dibuat-buat. "Iya, Mas Bayu! Mas Bayu harus tau! Padahal tadi pagi Mas Bayu cuma nanya baik-baik soal Mas Fery kerja, tapi Mbak Maya malah sengaja keluar kamar buat ngeluarin kata-kata kasar! Dia ngatai Mas Fery parasit, ngatai Ibu gak becus ngatur uang, terus dia banting botol dan ngancem mau ngusir kami semua!"
Aku menatap Rika dan Ibu Sumiati bergantian dengan tatapan tak percaya. Kepala rasanya mendadak pusing luar biasa. Tadi pagi aku hanya membalas sindiran Rika dengan kata-kata tenang mengenai fakta bahwa Fery menganggur, lalu aku kembali ke kamar. Bagaimana bisa ceritanya diputarbalikkan menjadi aku yang menyerang dan mengamuk?.
"Bahkan Mbak Maya ngancem mau kabur bawa Naya dan gak bakal sudi nampung kamu lagi kalau kamu gak ngusir Ibu sama kami hari ini juga, Mas!"
tambah Fery dari sudut ruangan dengan wajah tanpa dosa, memperkeruh suasana. "Lihat tuh, buktinya dia beneran kabur bawa tas ransel dari siang sama Naya!"
"Kamu dengar itu, Maya?!" bentak Mas Bayu lagi, matanya makin memerah. "Ibu menangis histeris dari siang sampai Mas harus pulang cepat dari kantor! Kamu maki-maki keluarga Mas, terus kamu nyelinap pergi gitu aja bawa Naya tanpa izin! Mau kamu apa sebenarnya?!"
Deg!
Jantungku rasanya berhenti berdetak seketika. Seluruh darah di tubuhku serasa menyusut habis. Katakutan terbesarku akhirnya terjadi hari ini. Semua kebaikan, kesabaran, dan pengorbananku selama bertahun-tahun di rumah ini runtuh seketika hanya dalam hitungan menit oleh sandiwara busuk yang dirancang begitu rapi oleh ibu dan adik-adik kandungnya sendiri.
Aku menatap Mas Bayu, berharap ada sedikit saja celah keraguan di matanya. Berharap pria yang sudah bersamaku selama lima tahun ini mengenal ketulusan dan sifat asliku.
Namun, yang kulihat di mata Mas Bayu hanyalah kekecewaan yang sangat dalam dan buta. Hilangnya rasa percaya itu terpancar jelas dari caranya menatapku seolah-olah aku adalah monster paling jahat yang telah menyakiti keluarga tercintanya.
"Mas... kamu beneran percaya sama semua omongan itu?" tanyaku pelan, hampir tak terdengar. Suaraku tercekat di tenggorokan. "Kamu percaya kalau aku sejahat itu sama Ibu?"
Mas Bayu mengepalkan tangannya rapat-rapat di sisi tubuhnya. "Lalu Mas harus percaya siapa, Maya?! Ibu menangis Histers seperti ini! Rika dan Fery saksinya. Kamu pergi dari rumah berjam-jam bawa tas ransel tanpa pamit sama siapa pun setelah bikin keributan tadi pagi. Kalau kamu gak merasa salah, kenapa kamu menyelinap pergi tadi siang?."
Keheningan yang mencekam mendadak melingkupi ruangan itu.
Pertanyaan Mas Bayu menghantam dadaku begitu telak. Kenapa aku menyelinap pergi tadi siang? Kerena aku pergi untuk melamar pekerjaan! Karena aku pergi mencari jalan keluar dari neraka yang diciptakan oleh keluargamu! Karena aku tidak mau terus-menerus diinjak-injak di rumah ini.
Kata-kata itu sudah berada di ujung lidahku. Aku ingin berteriak meluapkan seluruh kebenaran. Aku ingin membongkar bagaimana Ibu Sumiati dan Rika yang menyindirku duluan tadi pagi, bagaimana mereka memeras uang gaji Mas Bayu hingga kami tidak punya apa-apa untuk masa depan Naya.
Namun, saat mataku menatap wajah Ibu Sumiati yang melirikku sinis di balik usapan air mata palsunya, dan menatap Mas Bayu yang sudah sepenuhnya terhasut tanpa sisa keraguan sedikit pun... bibirku mendadak terkunci rapat.
Untuk apa aku membela diri?
Untuk apa aku menguras air mata dan tenagaku menjelaskan kebenaran kepada pria yang bahkan tidak mau memberiku kesempatan untuk bernapas dan bertanya terlebih dahulu? Ketika seorang suami lebih memilih mempercayai kebohongan yang manis ketimbang fakta dari istrinya sendiri, maka penjelasan apa pun hanya akan terdengar seperti alasan seorang penjahat.
Rasa sakit yang membakar di dadaku perlahan-lahan berubah menjadi kedinginan yang membeku.
Aku hanya diam. Menatap Mas Bayu lurus-lurus tanpa mengedipkan mata. Tidak ada air mata yang menetes, tidak ada jeritan histeris pembelaan diri. Aku membiarkan keheningan itu menggantung pekat di antara kami berdua.
"Kenapa kamu diam, Maya?!" bentak Mas Bayu lagi, langkahnya makin mendekat. "Jawab Mas! Kenapa kamu tega melakukan semua ini pada Ibu?!"
Aku menarik napas panjang dan mengeluarkannya perlahan. Pandanganku beralih menatap Ibu Sumiati, Rika, dan Fery yang kini menungguku meledak agar mereka punya alasan makin menyudutkanku.
"Kalau Mas Bayu sudah memilih untuk percaya pada apa yang ingin Mas percaya..." ucapku datar, suaraku terdengar begitu dingin dan asing, bahkan bagi diriku sendiri. "...maka apapun yang kukatakan tidak akan pernah ada artinya lagi di mata Mas."
Mas Bayu tertegun sejenak, terkejut mendengar reaksiku yang sangat tenang di tengah tuduhan seberat ini.
"Maya! Jangan berbelit-belit! Kamu minta maaf sekarang sama Ibu!" perintah Mas Bayu tegas, menunjuk ke arah ibunya. "Minta maaf dan akui kesalahanmu!"
Aku menyunggingkan senyum tipis sebuah senyuman miris yang penuh dengan kepahitan.
Awalnya, tujuanku pulang sore ini dari tempat wawancara adalah untuk duduk berdua bersama Mas Bayu, berbicara dari hati ke hati, dan menanyakan kepastian mau dibawa ke mana hubungan rumah tangga kami yang sudah retak ini. Aku ingin memberi kesempatan terakhir bagi pernikahan kami sebelum aku melangkah pergi menginap di pavilion kediaman Pak Ibra bersama Bik Nana.
Namun melihat pemandangan di depanku saat ini... pertanyaan itu rasanya sudah mendapatkan jawabannya sendiri tanpa perlu kuucapkan.
Mas Bayu telah memilih posisinya. Dan posisi itu bukanlah di sampingku atau Naya.
"Aku tidak akan meminta maaf untuk hal yang tidak pernah kulakukan, Mas," jawabku tegas dan tenang.
"Maya!!" suara Mas Bayu memuncak, siap meledakkan kemarahannya lebih jauh.
Sebelum kalimat caci maki berikutnya meluncur dari mulut suamiku, aku membalikkan badan dengan anggun. Tanpa memedulikan panggilannya, tanpa memedulikan tangisan palsu Ibu Sumiati atau tatapan puas dari adik-adik iparku, aku berjalan lurus menuju kamar belakang.
Aku melangkah masuk ke dalam kamar, mengunci pintunya dari dalam, dan mendapati Naya sedang duduk terkurung di sudut kasur sambil memeluk boneka beruangnya dengan mata sembab.
"Mimo..." bisik Naya gemetar.
Aku menghampiri putri kecilku, memeluk tubuh mungilnya erat-erat ke dalam dekapanku. Di balik pintu kamar yang tipis ini, aku masih bisa mendengar suara Mas Bayu yang menggedor pintu dan membentak-bentak dari luar, menuntut jawaban dan permintaan maafku.
Namun, aku tetap diam. Menggantung semuanya.
Biarlah malam ini menjadi malam terakhir kami bernapas di bawah atap yang beracun ini. Mas Bayu boleh kehilangan kepercayaannya padaku, tapi aku tidak akan pernah membiarkan diriku kehilangan martabat dan masa depan Naya.
Janji Bik Nana di kediaman Pak Ibra bergaung kembali di kepalaku. Pintu rumah ini selalu terbuka lebar kapan pun Mbak Maya siap untuk datang.
Dan besok pagi... aku dipastikan akan melangkah keluar dari rumah ini untuk selama-lamanya.