Damar hanya ingin satu hal dalam hidupnya, pekerjaan kantoran yang tenang, duduk di belakang meja tanpa harus berhubungan dengan banyak orang. Namun, akibat terlilit utang dan tergiur gaji fantastis, si pemuda introvert dan penakut ini malah salah menandatangani kontrak kerja gaib di agen travel misterius bernama Last Trip Express.
Tugas Damar bukanlah membawa turis biasa, melainkan menjadi tour guide untuk rombongan hantu! Dari hantu penari yang histeris, hantu bapak-bapak yang lupa meletakkan kunci brankas, hingga hantu artis yang minta dibuatkan acara fansign terakhir—Damar harus memandu mereka mengunjungi tempat-tempat bersejarah dan TKP kematian demi menyelesaikan urusan terakhir mereka sebelum berpindah ke alam selanjutnya.
Di bawah ancaman bosnya yang cantik, modis, sarkastik, dan super galak—Madam Helga—Damar harus memutar otak mengatasi kehebohan para arwah, teror dari makhluk halus jahat, dan kepanikan dirinya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AnnaYoung, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12 - Destinasi 2
...GEDUNG TEATER TUA...
...----------------...
Bus nomor 666 berbelok perlahan memasuki kawasan cagar budaya yang terbengkalai. Di balik pepohonan tua yang merangas, berdiri sebuah bangunan megah bergaya kolonial berornamentasi klasik.
Gedung Teater Tua Sektor 2—begitu papan besi berkarat di depan gerbangnya bertuliskan. Dinding semennya yang tebal dipenuhi sulur-sulur tanaman liar, sementara pilar-pilar batu raksasanya tampak menghitam ditelan usia.
Pintu bus berdecit terbuka, memuntahkan hawa dingin yang lembap dan berbau debu tua.
"Baiklah, Rekan-Rekan Arwah sekalian," suara Damar mengudara lewat mikrofon, matanya sesekali melirik kertas clipboard. "Kita telah sampai di Destinasi Kedua: Gedung Teater Tua. Tolong jaga ketertiban selama berada di area teater, dan pastikan tidak ada yang terpisah dari rombongan."
Nadia Violeta melayang keluar paling pertama tanpa sabar. Gaun merah menyalanya tampak sangat kontras dengan latar belakang gedung tua yang suram.
Dia menurunkan kacamata hitamnya, menatap megahnya facade gedung teater dengan binar mata yang campur aduk—antara rindu yang mendalam dan trauma yang menyakitkan.
"Gedung ini," bisik Nadia pelan, suaranya bergetar tipis. "Dua tahun lalu, semua tiket sold out dalam waktu tiga menit untuk konser tunggal pertama saya di sini. Panggungnya sudah diset, lightings sudah terpasang, gaun ini ... gaun ini dirancang khusus untuk malam itu."
"Tapi konsernya nggak pernah terjadi, 'kan?" timpal hantu pemuda berkulit biru yang melayang turun di belakangnya.
Nadia mengepalkan tangannya rapat-rapat, membelakangi rombongan.
"Tiga hari sebelum konser ... fitnah itu menyebar di internet. Tuduhan plagiarisme lagu utama, rekayasa audio, sampai tuduhan bahwa saya menyogok juri penghargaan. Dalam semalam, lima juta followers saya berubah jadi jutaan jemari pengetik kebencian. Sponsor mundur, teater ini pun akhirnya membatalkan sewa secara sepihak. Dan saya ... saya dibiarkan sendirian di dalam kegelapan."
Suasana di halaman teater mendadak hening. Rombongan hantu lainnya yang tadinya riuh kini menatap Nadia dengan pandangan prihatin.
Di alam arwah, tragedi kematian akibat luka batin yang tak terlihat sering kali jauh lebih memilukan daripada kematian fisik.
Damar melangkah mendekati Nadia. Dia menyapu debu di tangga batu teater, lalu menatap gadis itu hangat.
"Mbak Nadia ... malam ini teater ini bukan milik sponsor atau netizen. Malam ini, teater ini disewa khusus oleh Last Trip Express untuk Mbak."
Nadia menoleh kaget, menatap pemuda kemeja lusuh itu dengan mata membelalak di balik kacamata mutiaranya.
"Kita bakal gelar Konser dan fansign terakhir Mbak Nadia di atas panggung itu," lanjut Damar mantap, mengacungkan clipboard-nya. "Penontonnya memang cuma tiga puluh hantu dan satu manusia penakut ... tapi saya jamin, ini bakal jadi penonton paling jujur yang pernah Mbak punya."
Seketika, rombongan hantu di belakang bersorak riuh.
"Setuju! Saya mau denger Mbak Nadia nyanyi live!" seru hantu wanita bergaun putih bersemangat.
"Saya siap jadi cheerleader paling depan!" tambah hantu kakek-kakek seraya mengangkat kepalanya tinggi-tinggi bak membawa lightstick gaib.
Madam Helga melangkah turun dari tangga bus dengan anggun, syal bulunya meliuk ditiup angin malam yang dingin. Matanya melirik ke arah atap teater yang gelap gulita sebelum mengalihkan pandangannya ke arah Nadia dan Damar.
"Jangan terlalu banyak bersenang-senang sebelum pertunjukan dimulai, Damar," ujar Madam Helga dingin, suaranya mengandung peringatan terselubung. "Gedung teater ini sudah lama tidak menerima 'kehadiran' manusia hidup maupun arwah dari luar. Udara di dalam sangat pekat."
"I-Iya, Madam," jawab Damar ragu-ragu, menatap pintu jati raksasa teater yang terkunci rapat.
Dengan satu jentikan jari Madam Helga, gembok rantai raksasa yang mengikat pintu teater terputus dan jatuh berkeping-keping.
Pintu jati tua itu terdorong terbuka dengan sendirinya, memperlihatkan ruang aula utama yang luas, gelap, dan diselimuti kabut tebal beraroma tanah lembap.
Rombongan tur melangkah masuk ke dalam aula. Interior teater itu sebenarnya sangat indah pada masanya. Kursi-kursi penonton berlapis kain merah berderet rapi di tribune, sementara di ujung aula, sebuah panggung kayu raksasa berdiri megah di bawah bingkai tirai beludru yang telah kusam dan koyak.
Nadia melayang perlahan menyusuri lorong tengah menuju panggung. Setiap langkah gaibnya menebarkan pendar merah muda yang menakjubkan, menerangi kegelapan aula. Saat kakinya menyentuh papan panggung kayu, matanya berbinar-binar.
"Panggungnya ... masih sama," gumam Nadia emosional. Dia melepas kacamata hitamnya, menatap ke arah ribuan kursi kosong di hadapannya.
"Baiklah! Rekan-Rekan Arwah sekalian, silakan mengambil tempat duduk di tribune depan!" seru Damar memandu dari bawah panggung. "Untuk Bapak, Ibu, dan Mas Hantu yang bawa anggota tubuh terpisah, tolong dipasang rapi ya, jangan sampai mengganggu estetika konser!"
Tiga puluh hantu rombongan tur melayang riang mengambil tempat di kursi-kursi tribune depan. Mereka menepuk-nepuk kursi berdebu itu dengan gembira, tak sabar menunggu pertunjukan dimulai.
Damar membagikan lembaran kertas kecil dan pulpen gaib yang ditemukannya di dalam tas kerja agen.
"Ini kertas untuk Sesi Fansign setelah konser selesai! Mbak Nadia nanti bisa tanda tangan di sini buat para penggemar!"
Nadia berdiri di tengah panggung, menyapu pandangannya ke arah penonton uniknya. Senyum paling tulus yang tak pernah diperlihatkannya di media sosial kini terukir indah di wajah cantiknya.
Rasa percaya dirinya yang runtuh akibat hujatan manusia hidup perlahan-lahan terbentuk kembali di atas panggung tua ini.
"Terima kasih ... terima kasih semuanya," kata Nadia dengan suara bergetar haru lewat sistem tata suara gaib yang mendadak aktif di dalam teater. "Malam ini ... saya akan menyanyikan lagu paling berharga dalam hidup saya. Lagu yang belum pernah didengar oleh siapa pun."
Nadia menarik napas dalam-dalam, memejamkan matanya, dan mulai menyuarakan nada pertama. Suaranya melengking merdu, begitu jernih dan penuh penghayatan, bergema indah memantul di dinding-dinding teater tua.
Rombongan hantu di tribune terpesona total. Damar tersenyum lebar dari samping panggung, merasa bangga rencana konsernya berjalan lancar.
Namun, di tengah-tengah bait pertama lagu Nadia, kehangatan di dalam aula mendadak menguap drastis.
Sreeek ... sreeek ....
Suara gesekan benda tajam pada kayu terdengar memantul dari arah balkon atas teater. Cahaya pendar merah muda Nadia mendadak bergetar liar, dan lampu-lampu gantung kristal di langit-langit teater mulai berayun-ayun kencang tanpa ada angin!
Damar tersentak, rasa merinding yang sangat hebat mendadak menjalar dari telapak kakinya hingga ke tengkuk.
Madam Helga yang berdiri di sudut panggung menyempitkan matanya. Cangkir tehnya diletakkan kembali ke tatakan dengan dentang halus.
"Mereka bangun ...," bisik Madam Helga dingin.
Dari balik bayangan tirai beludru hitam di atas panggung dan celah-celah balkon tua, muncul sepasang mata merah menyala yang sangat banyak.
Bau busuk daging terbakar dan aroma darah anyir mendadak menyeruak tebal, mengalahkan wangi aroma vanilla milik Nadia.
Sebuah suara bisikan berat, parau, dan penuh dengki bergema dari seluruh penjuru teater, memotong suara merdu Nadia.
"Siapa ... yang berani ... bernyanyi ... di panggung kami ...? Bintang kotor ... tidak boleh ... bersinar ... di sini ...!"
😂
mangkane ndak usah rahasiaan kepada keluarga pak tedjo yg belom mnjdi bejo ..krn penyesalan harta warisan yg tak sampai ke anak nya
tour kemana kita yakk
ngga ngompol di tempat
😂😂
serreemmm bgt