NovelToon NovelToon
Kesalahan Semalam Menjadi Takdir

Kesalahan Semalam Menjadi Takdir

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / CEO
Popularitas:742
Nilai: 5
Nama Author: Siti Muarofah

Raina, wanita mandiri yang sudah bercerai, mencari pelarian di malam yang kelam. Di tengah kebingungan karena mabuk, ia tanpa sengaja menghabiskan malam bersama Dika—seorang mahasiswa muda tampan yang ternyata merupakan pewaris tunggal keluarga kaya raya.

Perbedaan usia, masa lalu yang kelam, serta penolakan keras dari orang tua Dika menjadi tembok tinggi yang memisahkan mereka. Namun takdir seolah punya rencana lain, menumbuhkan cinta tulus di antara dua dunia yang berbeda.

Mampukah sebuah kesalahan semalam, berubah menjadi takdir cinta yang abadi?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Muarofah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

5.

 

Bab 5: Ujian yang Semakin Berat

Kejadian dengan Arga membuat ikatan hati Raina dan Dika semakin kuat. Namun mereka sadar, itu baru permulaan. Masalah dari masa lalu belum selesai, dan rintangan dari masa depan justru semakin menampakkan taringnya.

Kabar tentang kejadian di depan kantor Raina ternyata tidak hanya berhenti di situ. Arga yang merasa malu dan marah, tidak berhenti menyebarkan fitnah ke mana-mana. Ia bercerita kepada kerabat, kenalan, bahkan hingga ke lingkungan tempat tinggal Dika, seolah-olah Rainalah wanita yang tidak benar, yang memanfaatkan kepolosan pemuda itu demi uang dan kenyamanan.

Berita itu akhirnya sampai pula ke telinga orang tua Dika.

Suatu sore, Dika dipanggil pulang lagi ke rumah besar keluarganya. Suasana di ruang tengah terasa sangat dingin dan menyesakkan. Ayahnya duduk dengan wajah tegas, sementara ibunya terlihat menangis dan sangat kecewa.

"Dika," ucap Ayahnya dengan suara gemetar menahan amarah. "Kami sudah mendengar semuanya. Wanita itu bukan hanya lebih tua dan sudah pernah bersuami, tapi dia juga membawa masalah dari masa lalunya! Mantan suaminya sendiri datang menuduhnya tidak benar!"

"Itu tidak benar, Ayah," bantah Dika tenang namun tegas. "Arga adalah orang yang meninggalkan Raina. Dia yang bersalah, bukan Raina. Dia hanya menyebarkan kebohongan karena tidak ikhlas melihat Raina bahagia."

"Kami tidak mau tahu!" potong Ibunya dengan suara melengking. "Bagi kami, sudah cukup! Wanita itu membawa keributan dan aib ke dalam keluarga kita! Kalau kamu masih bersikeras mempertahankannya, kamu akan kehilangan hakmu sebagai anak kami! Kami akan memutuskan segala bantuan biaya kuliah, tempat tinggal, dan hak warismu!"

Ancaman itu begitu berat. Bagi orang lain, itu pasti akan membuatnya mundur ketakutan. Namun bagi Dika, ancaman itu justru membuktikan betapa sempitnya pandangan keluarganya.

"Ayah, Ibu," kata Dika perlahan sambil menatap kedua orang tuanya dengan mata jernih. "Saya mencintai Raina. Dan saya tidak akan meninggalkannya hanya karena takut kehilangan harta. Kalau memang harus memilih, saya rela berjuang sendiri dari nol bersama dia. Bersama Raina, saya sudah merasa kaya."

Setelah berkata begitu, Dika menundukkan kepala dengan sopan, lalu berbalik dan meninggalkan rumah itu tanpa menoleh lagi. Di belakangnya terdengar suara teriakan Ibunya yang memanggil nama, namun langkah Dika tidak terhenti.

Malam itu, Dika datang ke apartemen Raina. Ia tidak menyembunyikan apa pun. Ia menceritakan semua ancaman orang tuanya, dan keputusannya untuk tetap berada di sisi wanita itu.

Raina mendengarkan dengan mata berkaca-kaca. Rasa haru bercampur rasa bersalah memenuhi dadanya.

"Kenapa kamu melakukan ini semua untukku, Dika?" tanyanya dengan suara bergetar. "Kamu bisa kehilangan segalanya... masa depanmu, kekayaanmu, keluargamu..."

Dika mengangkat tangan Raina, mencium punggung tangannya dengan penuh rasa hormat.

"Karena kamu lebih berharga dari segalanya itu," jawabnya tulus. "Harta bisa dicari kembali. Keluarga bisa perlahan mengerti. Tapi jika aku melepaskanmu, aku tidak akan pernah menemukan orang sepertimu lagi."

Mendengar itu, air mata Raina mengalir deras. Ia sadar, pria muda ini bukan sekadar mencintainya, ia siap berkorban demi cinta itu.

Namun ujian belum berakhir.

Beberapa hari kemudian, muncul masalah baru dari arah yang tak disangka-sangka.

Saat Dika sedang berjalan menuju perpustakaan kampus, seorang gadis cantik dengan pakaian mahal menghadang jalannya. Itu adalah Sasa, teman dekat adik Dika yang sudah lama menyukai Dika.

"Kak Dika," panggil Sasa dengan nada manja yang menyembunyikan kebencian. "Kenapa Kakak masih saja mempertahankan wanita tua itu? Dia tidak pantas untuk Kakak! Aku saja yang sudah lama menyayangimu, yang berasal dari keluarga yang setara denganmu."

Dika menghela napas lelah. Ia sudah berkali-kali menegur gadis itu.

"Sasa, maafkan aku. Aku tidak mencintaimu. Dan tolong hormati Raina, dia adalah wanita yang aku pilih," ucap Dika tegas.

Sasa tertawa sinis. "Pilih? Kakak hanya tertipu! Aku akan buktikan pada Kakak, bahwa dia hanya ingin harta Kakak saja!"

Sejak hari itu, Sasa mulai melakukan berbagai cara untuk memisahkan mereka. Ia menyebarkan berita bohong di lingkungan kampus, mengirim pesan ancaman ke ponsel Raina, hingga mencoba memfitnah Raina di depan kerabat Dika.

Raina sempat merasa lelah dan hampir menyerah. Setiap hari ia harus menghadapi tatapan aneh, bisikan-bisikan, dan ancaman yang datang dari berbagai arah. Ada kalanya ia bertanya dalam hati: apakah benar kehadirannya hanya membawa kesusahan bagi Dika?

Suatu malam yang hujan deras, Raina memberanikan diri berbicara jujur pada Dika.

"Dika, mungkin sebaiknya kita berhenti sampai di sini saja..." ucap Raina pelan sambil menunduk dalam. "Aku tidak ingin kamu terus kehilangan keluargamu, kehilangan ketenanganmu, hanya karena aku..."

Dika langsung memegang kedua bahu Raina, memaksanya menatap wajahnya. Matanya menatap tajam namun penuh kasih sayang.

"Jangan pernah bicara seperti itu, Raina. Jangan pernah berpikir bahwa kamu adalah beban. Justru karena kamu, aku jadi mengerti arti berjuang untuk sesuatu yang benar. Jika kita berhenti sekarang, berarti kita membiarkan kejahatan dan prasangka menang."

Dika mengusap air mata di pipi Raina.

"Kita hadapi bersama. Aku tidak akan membiarkan kamu sendirian," janjinya.

Kata-kata itu kembali membangkitkan semangat di dada Raina. Ia menyadari bahwa cinta mereka mungkin tidak mudah, tapi itu adalah cinta yang nyata dan tulus.

Mereka mulai belajar untuk lebih kuat. Dika tidak lagi mempedulikan omongan orang, ia justru semakin terbuka menunjukkan perasaannya pada Raina. Raina pun mulai berani menatap dunia dengan kepala tegak, membuktikan bahwa ia wanita yang layak dicintai.

Meskipun badai masih terus menderu, di antara dua hati yang saling menjaga, ada kedamaian yang tak tergoyahkan. Mereka tahu, semakin berat ujian yang datang, semakin kuat ikatan yang terbentuk di antara mereka.

Dan di kejauhan, takdir sedang menyiapkan kejutan indah sebagai balasan atas segala kesetiaan yang mereka berikan.

 

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!