NovelToon NovelToon
Noda Pernikahan Di Balik Cadar

Noda Pernikahan Di Balik Cadar

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Penyesalan Suami
Popularitas:35.1k
Nilai: 5
Nama Author: ainuncepenis

"Tolong hentikan, tolong!" teriak Zena.

Saat ini gadis dalam ketakutan itu hanya pasrah, tidak bisa berbuat apa-apa, pria yang sudah pasti dipengaruhi alkohol itu melecehkannya dengan menyobek pakaian Zena.

Tidak ada satupun yang menolong gadis malang itu.

"Tolong jangan lakukan itu!"

"Tolong..."

"Tolong...."

Zena menghindar dengan memukul-mukul dada pria tersebut.

"Aaaaaaaaaa!" Zena seketika berteriak menahan rasa sakit disaat tubuhnya digagahi tanpa ampunan.

Zena pada akhirnya pasrah dengan air matanya menetes, dengan penuh hawa nafsu pria di atas tubuhnya terus mencari kenikmatan.

Zena tampak setengah sadar dengan mata yang terbuka, namun pasrah, sosok pria di atas tubuhnya benar-benar tidak terlihat dan hanya kalung yang tampak bergoyang dan perlahan mata Zena tertutup.

Siapakah sosok pria misterius tersebut dan apakah Zena mampu menjalani kehidupannya setelah kejadian kelam?
Jangan lupa untuk membaca dari bab 1 sampai akhir

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ainuncepenis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 9 Kembali

Karena masa lalu Zena, hubungan pernikahannya dengan suaminya menjadi hambar, tidak ada hal yang pasti dalam pernikahan mereka, rahasia dan aib itu tetap tersembunyi dan mereka tetap tinggal satu rumah.

Zena berusaha untuk memperbaiki pernikahannya, lebih banyak mengalah karena kesalahan tertuju kepadanya, saat ini pagi-pagi sekali Zena sudah menyiapkan sarapan untuk suaminya, karena berada di rumah Zena tidak menggunakan cadarnya dan hanya memakai hijabnya.

Mereka juga tidak menggunakan asisten rumah tangga, sebelumnya Zena sendiri yang meminta karena di luar negeri juga dulu dia selalu hidup mandiri dan bisa melakukan semua.

Zena saat ini terlihat menuangkan air putih ke dalam gelas, suara langkah kaki terdengar membuat Zena menoleh bagaimana Samudra yang baru saja keluar dari kamar, terlihat rapi.

"Kak sarapan dulu!" panggil Zena diabaikan oleh Samudra.

"Kak!" Samudera tetap tidak peduli, pergi begitu saja membuat Zena menghela nafas, lagi-lagi dia harus bersabar.

Hal yang sama berulang kali, Samudra memang tidak ada tugas di luar kota dan memang waktunya libur, tetapi sayangnya liburannya tidak bahagia karena pernikahannya sedang diambang permasalahan besar.

Zena saat ini tampak mengantuk duduk di meja makan dengan kepalanya beberapa kali hampir jatuh, makanan sudah terhidang dengan berbagai jenis lauk untuk malam hari, meski suaminya tidak peduli kepadanya dan cuek, Zena masih berusaha untuk melayani dengan baik dan menyiapkan makan malam suaminya.

Samapi akhirnya Zena langsung terbangun begitu cepat ketika mendengar suara langkah kaki dan sesuai dugaannya Samudra sudah kembali.

"Kakak sudah pulang?" tanyanya membuat Samudra tidak mengatakan apapun.

"Apa Zena segitu menjijikan sampai menoleh dan berbicara pun sudah tidak mau?" tanyanya terdengar lirih membuat langkah Samudra terhenti dan menoleh ke orang istrinya.

Zena masih tetap mendapat tatapan tajam dingin dan penuh amarah.

"Saya sudah mengatakan kepada kamu tidak perlu membuat makanan sebanyak ini, kamu tidak perlu cari-cari perhatian dari saya dengan menyiapkan segala sesuatu yang tidak saya inginkan, percuma saya tidak akan menyentuhnya!" tegas Samudra.

"Kenapa?" tanya Zena.

"Kamu masih bertanya kenapa?" sahut Samudra.

"Karena hanya aku tidak perawan dan membuat Kakak berubah sikap seperti ini kepadaku, apa Kakak pikir aku menginginkan semua ini?" tanyanya terasa sesak harus mengungkit apa yang terjadi kepada dirinya yang sama saja membuka kembali luka dalam traumanya.

"Segala sesuatu bisa dibicarakan jika kamu tidak menjebak saya dalam pernikahan ini. Kamu merasa sempurna dan baru jujur ketika sudah terlanjur menikah dengan kamu. Saya sama sekali tidak bangga dengan kejujuran kamu, kenyataan yang kamu utarakan dalam kejujuran setelah menikah sama saja kamu ingin menegaskan kepada saya bahwa saya adalah laki-laki yang bodoh!" tegas Samudra.

"Kak Samudra....." Zena berdiri di atas tempat duduknya dengan menghampiri Samudra.

"Zena pada awalnya ingin berkata jujur sebelum kita menikah, tetapi Kakak tidak memberi kesempatan itu. Kakak tidak ingat waktu di taman, bagaimana Zena berusaha untuk berbicara berdua dengan Kakak agar tidak ada rahasia yang terjadi dalam pernikahan kita," ucap Zena.

"Jadi sekarang kamu menyalahkan saya? kamu ingin mengatakan bahwa saya adalah orang yang paling bodoh di sini hah! Zena kamu sadar tidak apa yang kamu lakukan, kamu yang berbuat Zina sembarangan memberi tubuh kamu kepada orang lain dan saya yang harus kamu jadikan kambing hitam dan salahkan saat ini. Kamu itu munafik!" tegas Samudra kembali melukai hati Zena.

"Kamu jangan terus mencari pembelaan di hadapan saya, kalau sudah salah maka akan tetap salah, hentikan semua ini!" tegas Samudra.

"Apa Zena benar-benar tidak mendapatkan kesempatan apapun dalam pernikahan ini? Apa sangat kurang seseorang yang sudah tidak perawan lagi dan tidak berhak untuk bahagia?" tanyanya.

"Lalu bagaimana dengan Kakak? Apakah Kakak juga sudah bisa dikatakan bersih dan tidak pernah melakukan hubungan suami istri di luar pernikahan?" tanya Zena.

"Kau menuduh saya melakukan hal itu dan seolah-olah di sini saya yang salah dan kau adalah korbannya," emosi Samudra semakin terpancing dengan apa yang telah dikatakan Zena.

"Zena juga di sini adalah korban!" tegas Zena.

"Kamu korban seperti apa? kamu menikmati pergaulan bebas dan menipu saya dalam pernikahan, kamu masih bisa merasa korban?" tanya Samudra.

"Aku tidak melakukan perizinan, aku bukan wanita yang seburuk yang ada di dalam pikiran Kakak!" tegas Zena.

"Jika kamu tidak terjerumus dalam pergaulan bebas dan tidak mungkin kamu sampai tidak perawan!" tegas Samudra

Zena merasa lelah dan percuma mendapatkan hal itu dengan sepenuhnya dan tetap saja dialah penjahatnya yang terus disalahkan.

"Saya sudah lelah mengatakan ini dengan kamu, saya sudah tidak peduli lagi, saya sudah capek dengan semuanya. Kita tinggal satu rumah yang terbaiknya kita sebagai orang asing, jika kamu tidak ingin semakin terluka dan semakin menderita maka jangan pernah melakukan apapun atau berusaha apapun kepada saya,"

"Jangan membuat saya semakin marah kepada kamu, membuat saya semakin membenci kamu!" tegas Samudra.

"Terserah kamu ingin melakukan apapun? Terserah kamu ingin bersama laki-laki itu dan melanjutkan hubungan kalian maka silakan, saya tidak peduli dan tidak punya hak untuk melarang kamu!" tegas Samudra.

Samudra merasa cukup berbicara dengan istrinya yang membuatnya langsung berlalu dari hadapan Zena.

Lagi dan lagi Zena sudah tidak mampu mengatakan apapun lagi, kembali air matanya terjatuh dengan semua luka yang dia terima dan ternyata Samudra selalu bimbang dan tidak pernah bahagia dengan semua yang dia ucapkan dan kembali seperti ada penyesalan apa kata-kata yang keluar dari mulutnya membuat pria bertubuh kekar itu memejamkan mata saat bersandar di balik pintu kamar.

******

Zena berusaha untuk bangkit dan menyembunyikan masalah rumah tangganya, bagaimanapun ada karir yang harus dia selesaikan.

"Kalau desainnya seperti ini bagaimana Zena?" wanita yang duduk di sebelahnya sejak tadi terlihat tangannya memegang pensil dalam ukiran perhiasan yang sangat cantik.

Wanita tersebut tidak mendapatkan respon membuatnya mengerutkan dahi.

"Zena!" wanita itu mengharapkan suaranya membuat Zena kaget.

"Iya Anggi kenapa?" tanyanya.

"Kamu ini kenapa sejak tadi melamun terus, aku baru saja menanyakan hasil desainku kepada kamu dan apakah bisa dimasukkan dalam proses pengeluaran produk kita tahun ini, tetapi kamu malah bengong, kamu ini lagi mikirin apa?" tanya Anggi.

"Tidak apa-apa Anggi," jawabnya.

Wanita berhijab itu menghela nafas dan kemudian memegang tangan Zena.

"Jangan bohong padaku, aku bisa melihat dari mata kamu bahwa ada beban yang begitu besar yang kamu simpan saat ini, ayo ceritakan kepadaku ada apa sebenarnya?" tanya Anggi.

"Sejak kapan kamu berubah menjadi pakar ekspresi, sungguh tidak terjadi apa-apa, aku baik-baik saja, memang belakangan ini banyak sekali pikiran mengenai desain-desain yang kita keluarkan karena aku takut bersaing dengan orang-orang hebat," Zena terpaksa berbohong agar sahabatnya itu tidak terlalu memikirkan dirinya.

"Benar kamu hanya memikirkan hal itu saja?" tanya Anggi.

"Iya, lagi pula jika ada masalah besar dan tidak mungkin aku diam saja, sudah pasti aku akan menceritakan kepada sahabatku yang satu ini," sahut Zena

"Ya sudah kalau begitu kamu harus fokus mendesain dan jangan memikirkan apapun, masalah persaingan itu adalah hal yang biasa," ucap Anggi.

Zena menganggukkan kepala dengan tersenyum.

Bersambung .....

1
Ariany Sudjana
Zena ini bodohnya kebangetan yah, demi menjaga mental Khaira, samudra disuruh meninggalkan Zena dan Khaira, dan kembali bersama Ariana? istri macam apa kamu yah? itu bukan solusi, tapi mencari masalah baru, dasar bodoh
Uthie
Walau bagaimanapun, harusnya Zena lebih bisa paham aturan, dirinya masih bersuamikan Samudera, dan harus jaga hubungan yg tidak disukai oleh suaminya saat ini ..
Uthie
Nasihat Rain betul itu... sekeras apapun Zena menentang nya, namun Takdir Tuhan lah yg menentukan untuk mereka tetap bersatu lewat anak 👍
Uthie
itulah... Zena jangan jadi egois makanya
Uthie
Wahhh.. si Samudera tohhh itu 😡
Uthie
Wahhh.. Zena parah juga dehh kayanya .. punya anak tapi di titip kan... udah gtu gak ada cerita atau merahasiakan semuanya dr orang tua angkatnya?! 🤨
Uthie
Dasar Egois 😡
Uthie
Memang salah Zena juga yg gak terus terang sedari awal 😌
Uthie
penasaran siapa yg sdh menodai Zena dulu?!???
Uthie
nexxxttt
Uthie
coba mampir 👍
Ariany Sudjana
dasar pelacur murahan kamu itu Ariana, lebih baik kamu itu dibunuh
Ariany Sudjana
harusnya Zena tetap tenang, jangan terpancing emosi karena si pelacur murahan itu. kalau kamu seperti itu, Khaira akan jadi sasaran tembak Ariana. Ariana kan ga tahu peristiwa sebenarnya seperti apa, jadi kamu jangan bodoh
Ariany Sudjana
banyak typo kak
Ariany Sudjana
kalau gini ceritanya, Khaira akan meninggal, makanya terus kasih pesan seperti itu ke orang tuanya
Ariany Sudjana
terlalu lama si pelacur murahan ini buat ulah, kenapa ga langsung saja dibawa ke jalur hukum ? dia sudah mencemarkan nama baik dan karirnya harus habis atau kalau perlu dibunuh saja si pelacur murahan itu
Ariany Sudjana
kamu jangan egois Zena, dengar dulu penjelasan samudra.
dan Ariana kamu salah cari lawan, kamu harus dibinasakan
anamika
the best pokoknya, semangat berkarya terus Thor👍💪
Ariany Sudjana
dasar pelacur murahan kamu itu Ariana, kamu itu harusnya dibunuh saja
Ariany Sudjana
Anggi dan Zena ini sama-sama keras kepala dan bodohnya kebangetan, apalagi Zena itu egois, hanya peduli sama Khaira, tapi ga peduli sama samudra.
nah samudra mau jalankan tugas negara kan? kak penulis buat saja ceritanya samudra dan rain itu kena tembak gitu dan koma atau buat saja meninggal sekalian, apa kedua perempuan sombong itu masih tetap sombong dan angkuh?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!