Damar hanya ingin satu hal dalam hidupnya, pekerjaan kantoran yang tenang, duduk di belakang meja tanpa harus berhubungan dengan banyak orang. Namun, akibat terlilit utang dan tergiur gaji fantastis, si pemuda introvert dan penakut ini malah salah menandatangani kontrak kerja gaib di agen travel misterius bernama Last Trip Express.
Tugas Damar bukanlah membawa turis biasa, melainkan menjadi tour guide untuk rombongan hantu! Dari hantu penari yang histeris, hantu bapak-bapak yang lupa meletakkan kunci brankas, hingga hantu artis yang minta dibuatkan acara fansign terakhir—Damar harus memandu mereka mengunjungi tempat-tempat bersejarah dan TKP kematian demi menyelesaikan urusan terakhir mereka sebelum berpindah ke alam selanjutnya.
Di bawah ancaman bosnya yang cantik, modis, sarkastik, dan super galak—Madam Helga—Damar harus memutar otak mengatasi kehebohan para arwah, teror dari makhluk halus jahat, dan kepanikan dirinya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AnnaYoung, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15 - Panggung Terakhir Nadia
Sisa-sisa hujan debu keemasan melayang turun membiaskan cahaya spotlight yang benderang. Keheningan yang manis merayap memenuhi setiap sudut teater tua.
Tidak ada lagi desisan dendam, tidak ada lagi bau busuk anyir. Hanya ada wangi parfum mawar dan aroma minyak kayu putih yang kini terasa seperti aroma kemenangan bagi rombongan tur.
Nadia Violeta berdiri tepat di tengah panggung. Dia memejamkan mata sejenak, menghela napas panjang untuk menata gejolak di dadanya.
Saat matanya terbuka kembali, kacamata hitam berbingkai mutiara tak lagi menutupi tatapannya. Wajah cantiknya kini terpancar utuh, bersih tanpa rasa gengsi atau kepura-puraan.
Di bawah panggung, Damar mengambil posisi di samping konsol audio tua. Dia mengetuk mikrofon di tangannya, memecah kesunyian.
"Hadirin sekalian ... para peserta tur Last Trip Express yang saya hormati." Suara Damar bergema lewat pengeras suara panggung. "Terima kasih atas kesabaran Anda sekalian melalui 'kendala teknis' tadi. Sekarang, tanpa memperpanjang waktu ... mari kita sambut bintang utama malam ini, Nadia Violeta!"
Prok! Prok! Prok!
Tiga puluh arwah di tribune bersorak-sorai meriah. Hantu kakek-kakek menepuk tangannya kencang-kencang, hantu pemuda berkulit biru bersiul heboh, bahkan hantu es yang sempat mencair kini memadatkan kembali wujudnya hanya untuk ikut bertepuk tangan.
Nadia tersenyum—sebuah senyuman yang belum pernah ditunjukkannya pada kamera mana pun sewaktu hidup. Dia menggenggam erat mikrofon tua di hadapannya.
"Selamat malam ... semuanya," sapa Nadia halus. Suaranya terdengar merdu menembus keheningan auditorium. "Terima kasih sudah mau bertahan di sini. Jujur ... sewaktu hidup, saya selalu takut tampil di depan sedikit orang. Saya selalu patuh pada angka followers, angka views, dan rating popularitas. Saya pikir, semakin banyak orang yang menyoraki nama saya, semakin berharga hidup saya."
Nadia menunduk pelan, jemarinya yang transparan membelai tiang besi mikrofon.
"Tapi ketika fitnah itu menyebar ... jutaan orang yang tadinya bersorak, dalam semalam berbalik melempar batu kebencian ke arah saya. Saya merasa sendirian, hancur, dan tidak bernilai," bisik Nadia dengan nada getar yang menyayat hati. "Malam ini ... lagu yang akan saya nyanyikan adalah lagu yang saya tulis di kamar gelap saya, beberapa jam sebelum saya memutuskan untuk mengakhiri semuanya. Lagu tentang kerinduan untuk didengar secara jujur."
Nadia menarik napas dalam-dalam. Denting musik gaib berupa alunan piano yang lembut mendadak mengudara, dimainkan secara spontan oleh jentikan jari Madam Helga dari balik bayangan tirai panggung.
Nadia mulai menyanyi.
Di antara bising jemari yang menghakimi ....
Kusembunyikan jerit sunyi di balik panggung ini ....
Apakah kalian mencintai musikku, atau sekadar bayanganku ...?
Malam ini, biarkan aku bernyanyi ... tanpa topeng, tanpa benci ....
Suaranya yang begitu jernih membelah kegelapan teater. Tiap nada yang meluncur dari bibir Nadia tidak hanya membawa keindahan vokal seorang bintang, tetapi juga meluapkan seluruh rasa sesak, kekecewaan, keputusasaan, dan kerinduan yang tertahan sejak hari kematiannya.
Pendar cahaya merah muda yang membungkus wujud Nadia bergetar lembut. Semakin tinggi nadanya memuncak, pendar itu berganti menjadi pendar cahaya putih keemasan yang murni dan menenangkan.
Di tribune, tak ada satu arwah pun yang bersuara. Hantu wanita bergaun putih menyapu air mata gaibnya dengan sapu tangan, sementara hantu pemuda berkulit biru mengangguk-angguk terpesona.
Damar berdiri bersandar di konsol audio, menatap gadis di panggung dengan rasa haru yang membuncah. Dia menyadari satu hal: di balik sifat manja dan menyebalkan Nadia selama perjalanan di bus, gadis ini hanyalah seorang jiwa muda yang hancur oleh kejamnya kata-kata manusia hidup.
Lagu ditutup dengan alunan nada rendah yang panjang dan bergetar halus, menghilang perlahan bersama hembusan angin malam.
Hening.
Sepersekian detik kemudian, riuh tepuk tangan paling kencang meledak dari tribune penonton!
"LUAR BIASA! MBAK NADIA KEREN BANGET!" jerit hantu pemuda berkulit biru seraya berdiri di atas kursinya.
"Bravo! Ini konser terbaik yang pernah saya tonton!" seru hantu kakek-kakek yang kini melempar kepalanya sendiri ke udara seperti melepas topi kebesaran, lalu menangkapnya kembali dengan sigap.
Nadia tertegun di panggung. Matanya berkaca-kaca menatap tiga puluh penontonnya yang bertepuk tangan tanpa henti. Tidak ada cibiran, tidak ada jemari ketikan kebencian, tidak ada kamera ponsel yang menghakimi. Hanya ada tepuk tangan yang tulus dari jiwa-jiwa yang mengerti arti sebuah luka.
Damar mengisyaratkan sesuatu dari samping panggung.
"Sesi Fansign dimulai sekarang!"
Rombongan arwah langsung melayang turun dari tribune secara tertib. Mereka berbaris rapi di depan meja kecil yang telah disiapkan Damar di samping panggung, memegang lembaran kertas gaib dan pulpen yang tadi dibagikan.
Nadia duduk di balik meja tersebut, menandatangani kertas satu per satu seraya tersenyum lebar.
"Terima kasih ya, Mas. Makasih sudah dengerin saya nyanyi," ujar Nadia pada hantu pemuda berkulit biru yang kegirangan menerima tanda tangannya.
"Sama-sama, Mbak! Lagu Mbak bakal saya inget terus sampai ke alam sana!" balas pemuda itu riang sebelum melayang kembali ke barisan.
Setelah peserta tur terakhir selesai mendapatkan tanda tangan dan kembali ke bus, suasana teater perlahan hening kembali. Nadia berdiri dari duduknya, melangkah mendekati Damar dan Madam Helga yang menunggu di tepi panggung.
Bekas jejak kehitaman di leher Nadia kini telah menghilang sepenuhnya. Gaun merah menyalanya berganti menjadi gaun putih polos yang memancarkan pendar keemasan yang sangat terang—tanda bahwa penyesalan terberatnya di dunia telah terangkat habis.
"Terima kasih, Damar," kata Nadia lembut. Suaranya tak lagi melengking manja, melainkan sangat tenang dan damai. "Kamu tour guide paling nekat, tapi juga paling baik yang pernah saya temui."
Damar tersenyum tulus, merapikan clipboard-nya.
"Sama-sama, Mbak Nadia. Selamat atas konsernya. Mbak beneran bintang sejati malam ini."
Nadia menoleh ke arah Madam Helga yang berdiri anggun sambil mengatupkan kipas sutranya.
"Dan terima kasih untuk iringan pianonya, Madam."
Madam Helga mengibaskan tangannya santai dengan raut wajah datar. "Jangan besar kepala. Musikmu tadi hanya sedikit sumbang di nada tinggi ketiga. Tapi ... tidak buruk untuk standar arwah priority."
Nadia terkekeh pelan. Dia melangkah mundur beberapa jalan menuju tengah panggung. Tubuh gaibnya perlahan-lahan mulai terurai menjadi partikel-partikel cahaya putih yang menari-nari indah di udara.
"Sampai jumpa lagi, semuanya ...," bisik Nadia penuh kedamaian. "Tepuk tangan malam ini ... sudah lebih dari cukup untuk membungkam jutaan kebencian di luar sana."
Dengan seulas senyum paling bahagia, wujud Nadia Violeta berubah sepenuhnya menjadi pusaran cahaya keemasan yang membumbung tinggi, menembus atap teater tua menuju langit malam yang terbentang luas. Ascension kedua telah terjadi dengan sangat indah.
Damar menengadah menatap cahaya Nadia yang menghilang di antara bintang-bintang. Perasaan hangat yang luarbiasa kembali merayapi dadanya—perasaan puas yang tak bisa dibeli dengan uang berapa pun di dunia nyata.
"Satu kasus lagi selesai," gumam Damar dengan senyum terpancar di wajahnya.
"Jangan melamun, Damar," tegur suara Madam Helga dari samping, menghancurkan momen puitis tersebut. "Jadwal tur kita terlambat sepuluh menit gara-gara aksimu menyiram minyak kayu putih di mana-mana. Kembalikan rombongan ke bus dan bersihkan noda garam di panggung!"
Damar menghela napas pasrah, tapi bahunya kini tegak.
"Siap, Madam!"
Saat Damar berbalik menuju bus, dia tidak menyadari bahwa Madam Helga menatap punggungnya dari belakang.
Wanita anggun itu mengukir senyum tipis yang amat sangat samar—sebuah pengakuan tak terucap bahwa pemuda introvert yang tadinya penakut ini ... perlahan telah menjadi pemandu tur yang luar biasa bagi jiwa-jiwa yang tersesat.
😂
mangkane ndak usah rahasiaan kepada keluarga pak tedjo yg belom mnjdi bejo ..krn penyesalan harta warisan yg tak sampai ke anak nya
tour kemana kita yakk
ngga ngompol di tempat
😂😂
serreemmm bgt