Aryo Pradana adalah seorang pengusaha sukses, namun sayang berada di puncak pencapaian dengan bergelimang harta tak lantas membuatnya jadi suami bersyukur. Ia memilih mengkhianati Sekar—istri setianya yang berasal dari garis keturunan dukun terkuat di sebuah desa terpencil asal Banyuwangi.
Demi ambisi dan gairah, Aryo menikah siri dengan Maya, gadis kota, muda, namun ambisius. Alih-alih meratap dan menangisi nasibnya, Sekar yang mengetahui pengkhianatan ini justru memilih mundur dengan keheningan yang mematikan.
Ketika Maya mulai mengandung anak Aryo dan menuntut posisi sebagai istri sah satu-satunya, teror gaib yang legendaris, Santet Pring Sedapur, mulai dikirimkan.
Di balik keputusasaan Aryo untuk menyelamatkan istri mudanya, ia harus berhadapan dengan kenyataan bahwa satu-satunya cara menghentikan teror ini adalah menyerahkan kembali jiwanya pada Sekar—atau mati bersama seluruh keturunannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AnnaYoung, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13 - Kepulangan Aryo
Penerbangan pagi dari Jakarta menuju Banyuwangi terasa seperti perjalanan melintasi waktu bagi Aryo. Begitu roda pesawat turboprop yang membawanya menyentuh landasan pacu Bandara Blimbingsari, hawa panas pesisir timur Jawa langsung menyergap pori-porinya.
Namun, kehangatan tropis itu sama sekali tidak mampu mencairkan rasa dingin mencekam yang telah membeku di dalam dadanya semenjak boneka serat pisang di kolong ranjang menolak untuk terbakar.
Aryo menyewa sebuah mobil SUV hitam tanpa sopir. Ia membelah jalanan aspal, bergerak meninggalkan hiruk-pikuk kota Banyuwangi menuju ke arah barat, mendaki lereng luar kaki Gunung Ijen tempat Desa Kemiren berada.
Sepanjang perjalanan, pemandangan luar jendela berganti menjadi hamparan sawah hijau yang bertingkat, perlahan-lahan menyempit begitu mobilnya mulai memasuki kawasan yang didominasi oleh rimbunnya hutan dan perkebunan tua.
Tujuan Aryo hanya satu, ia harus menemui Sekar. Ia harus memohon, bersujud, atau melakukan apa pun. Bahkan jika ia harus menyerahkan seluruh harta kekayaannya.
Asal wanita itu sudi menarik kembali kutukan terkutuk yang kini sedang merobek-robek kewarasan Maya di Jakarta.
Mobil yang dikemudikan Aryo akhirnya berhenti di pelataran tanah luas yang bersih di depan sebuah rumah joglo tua berbahan kayu jati kuno. Rumah itu berdiri kokoh di balik kepungan rumpun bambu (pring) yang tumbuh lebat di pekarangan belakang.
Suasana Desa Kemiren siang itu sangat sepi, hanya terdengar suara angin yang sesekali menggoyang dahan pohon kelapa dan derit halus batang-batang bambu dari arah belakang rumah.
Aryo turun dari mobil. Langkah kakinya yang beralaskan sepatu kulit mahal terasa canggung di atas tanah merah pekat pekarangan rumah tersebut.
Setiap jengkal tempat ini mengingatkannya pada masa lalu, masa ketika ia bukan siapa-siapa, dan tempat ini adalah suaka yang memberinya jalan menuju takhta kejayaan.
Namun kini, ia kembali sebagai seorang pengkhianat yang sedang dikejar oleh dosa-dosanya sendiri.
Ia melangkah menaiki tiga anak tangga kayu menuju teras depan (jopo). Pintu utama rumah joglo yang dihiasi ukiran kuno itu tampak terbuka lebar, seolah-olah sang pemilik rumah memang sudah tahu bahwa akan ada tamu yang datang berkunjung hari ini.
"Sekar ...?" panggil Aryo, suaranya parau dan bergetar samar saat melintasi ambang pintu masuk.
Suasana di dalam rumah itu sangat sejuk, cenderung dingin. Tidak ada lampu neon yang menyala, hanya ada berkas sinar matahari siang yang menembus celah-celah genteng kaca, menciptakan garis-garis cahaya vertikal yang membelah kegelapan ruangan tengah.
Bau anyir kembang kantil yang selama ini meneror Aryo di Jakarta tidak ada di sini. Tempat ini justru berbau wangi dupa esensial yang menenangkan, bercampur aroma kayu jati tua yang khas.
"Mas Aryo ... jam segini baru sampai? Perjalanan dari bandara pasti melelahkan."
Sebuah suara lembut dan anggun mengalun dari arah sudut ruangan.
Aryo menoleh. Di dekat jendela besar yang menghadap ke kebun samping, Sekar sedang duduk dengan tenang di atas sebuah kursi kayu jengki. Penampilannya sangat bersahaja namun memancarkan wibawa yang dingin.
Seperti biasa, ia mengenakan kebaya katun putih dengan kain jarik bermotif Gajah Oling yang membungkus rapi bagian bawah tubuhnya. Di pangkuannya, tergelat selembar kain mori putih yang sedang ia beri malam menggunakan canting. Sekar sedang membatik.
Melihat ketenangan Sekar, entah mengapa gumpalan emosi di dada Aryo mendadak bergolak hebat. Ia melangkah mendekat dengan napas yang memburu.
"Hentikan!" ucap Aryo dengan emosi tertahan.
"Hentikan permainan sandiwaramu ini, Sekar!" kata Aryo lagi, suaranya mendalam penuh tekanan. "Aku sudah datang ke sini. Aku datang ke rumahmu. Tolong, cabut santet jahanam yang kamu kirim ke rumahku di Jakarta!"
Sekar tidak langsung menangapi. Ia justru tetap tenang dan fokus. Jemari lentiknya dengan sangat tenang menggoreskan canting di atas kain mori, mengikuti pola liukan motif batik yang rumit.
"Santet apa, Mas? Aku tidak mengerti hukum kota. Bukankah kamu sendiri yang membawa kertas-kertas tebal ke Jakarta kemarin? Kamu bilang kita sudah selesai. Aku di sini, dan kamu di sana."
"Jangan berkilah, Sekar! Aku menemukan boneka serat pisang di bawah kasur Maya! Boneka itu dililit rambut dan ditusuk paku berkarat! Dan boneka itu tidak bisa dibakar!" Aryo berteriak, suaranya menggema keras di dalam rumah yang sunyi.
"Maya muntah paku, lalu tubuhnya ... tubuhnya lebam-lebam hitam, dia hampir gila karena ketakutan! Kamu mau membunuh anakku, hah?!"
Mendengar kata "anak", gerakan tangan Sekar mendadak berhenti di udara. Cairan malam panas dari ujung cantingnya menetes, menciptakan noda hitam kecil di atas kain putih yang bersih.
Sekar meletakkan cantingnya di atas tungku kecil dengan perlahan. Ia mengangkat wajah, menatap Aryo lurus-lurus dengan sepasang mata bulatnya yang hitam tanpa riasan, tatapan yang seketika membuat lidah Aryo mendadak kaku dan tenggorokannya kering.
"Anakmu, Mas?" tanya Sekar, suaranya mendadak merendah hingga ke titik paling dingin. "Lalu bagaimana dengan rahimku yang kosong selama 15 tahun ini karena kamu terlalu sibuk mengejar tender di kota besar? Bagaimana dengan malam-malam yang kuhabiskan sendirian di rumah ini, merapalkan doa keselamatan untuk proyek-proyekmu, sementara kamu sedang menghabiskan uangmu di atas ranjang perempuan muda itu?"
Sekar bangkit dari kursinya, melangkah perlahan mendekati Aryo. Kain jariknya menghasilkan suara gesekan halus di atas lantai ubin kuno.
"Jadi kamu sengaja datang ke sini hanya untuk memohon demi perempuan itu, Mas? Kamu tidak pernah sekali pun datang ke sini untuk bertanya apakah hatiku hancur saat kamu mencampakkanku seperti kain lap kotor setelah semua kejayaan ini kamu dapatkan dari tanah bapakku," ucap Sekar, kini berdiri hanya berjarak satu meter di depan Aryo.
Aryo merasakan lututnya lemas. Aura yang dipancarkan Sekar begitu kuat, seolah-olah seluruh leluhur garis darah Ki Demang sedang berdiri di belakang wanita itu, turut menatapnya dengan murka.
"Aku minta maaf, Sekar ... aku mengaku salah."
Aryo akhirnya menyerah, suaranya melorot menjadi bisikan yang rapuh. Ia berlutut di atas lantai ubin di hadapan mantan istri sahnya itu.
"Aku akan ubah semua pembagian saham itu. Aku akan kembalikan PT Artha Raya ke tanganmu. Aku akan belikan rumah apa pun yang kamu mau di Jakarta. Aku akan beri kamu uang ratusan miliar, Sekar! Asal kamu lepaskan Maya. Dia tidak tahu apa-apa tentang masa lalu kita. Ini salahku, hukum aku saja, jangan anak di dalam kandungannya!"
Sekar menatap kepala Aryo yang menunduk di bawah kakinya dengan pandangan iba yang dingin. Ia mengulurkan tangannya, menyentuh rambut Aryo dengan lembut—sebuah sentuhan yang alih-alih menenangkan, justru membuat bulu kuduk Aryo meremang hebat karena jemari Sekar terasa sedingin mayat.
Tubuhnya perlahan merendah, lalu berhenti tepat di samping telinga Aryo. Ia pun berbisik, "Mas Aryo ... uangmu yang melimpah itu ... apakah bisa membeli kembali sumpah yang sudah kamu ucapkan di depan altar dan di hadapan almarhum bapakku 12 tahun lalu? Kamu mengira kutukan Pring Sedapur ini bisa dibeli dengan lembaran saham? Ilmu ini tidak mengenal uang, Mas. Ilmu ini hanya mengenal satu hukum adat: kesetiaan dibayar dengan nyawa, dan pengkhianatan harus ditebus dengan kepunahan rumpun."
Sekarang kembali menagakkan tubuhnya.
Aryo mendongak dengan wajah pucat pasi. "Sekar, tolong ... pasti ada caranya. Aku mohon ...."
Sekar mundur satu langkah, menggelengkan kepalanya perlahan sambil tersenyum tipis—senyuman anggun yang penuh dengan racun kepastian yang mematikan.
"Pulanglah ke rumahmu yang mewah itu, Mas Aryo. Rawatlah wanita mudamu baik-baik selama sisa waktu yang dia miliki. Karena apa yang sudah tertanam di bawah lantai rumahmu, tidak akan pernah bisa dicabut oleh siapa pun ... termasuk olehku sendiri."
"Sekar!" Aryo hendak meraih kaki Sekar, namun wanita itu berbalik dengan cepat, melangkah masuk ke dalam kamar rahasia di bagian belakang rumah dan menutup pintunya rapat-rapat.
Brak!
Suara pintu kamar yang tertutup itu memutus harapan terakhir Aryo. Pada saat yang sama, di luar rumah, langit yang semula terik siang bolong mendadak tertutup oleh gumpalan awan hitam yang pekat.
Rumpun bambu lebat di pekarangan belakang kembali bergoyang hebat, menghasilkan suara gesekan ritmis, terdengar seolah sedang menertawakan kepulangan Aryo yang sia-sia.
Yaa.... karena Pring sedapur ini memang tujuannya menghabiskan keturunan Aryo.
Jadi .... ibaratnya Aryo adalah target pamungkas dari pembalasan sakit hati Sekar.
Jadi ... Maya tidak mungkin dilepaskan oleh Sekar kan?
Bahkan siapapun yang terlibat dalam penghianatan Aryo sudah menuai akibatnya.
Seseorang yang bisa memutus santett Pring sedapur Ki demangkah ??
Dia tidak mau "menjatuhkan" dirinya di hadapan Sekar.
tapi ....
pada akhirnya azab yang akan memaksa dia untuk "jatuh" ..... sejatuh jatuhnya
dasar laki laki tidak tau diri
Rumah Sekar? atau
alas Purwo?
Aryo yang berbuat
tapi Maya yang menanggung siksa jiwa dan raga atas ulah Aryo.
Aryo menderita dan hampir gila dengan menyaksikan semua penderitaan Maya yang terkena santett Pring Sedapurr
Maya sudah hampir menjadi Pring/bambu yang kering dan mati .