NovelToon NovelToon
Sembilan Tahun Pelarian

Sembilan Tahun Pelarian

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Penyesalan Suami / Lari Saat Hamil
Popularitas:7.7k
Nilai: 5
Nama Author: Hanela cantik

Demi menyelamatkan diri dan bayinya, Arin memilih pergi dari suaminya dan mengubur rapat masa lalu kelam mereka. Ia mengungsi ke sebuah kampung terpencil dan menyambung hidup sebagai tukang cuci keliling demi membesarkan putra semata wayangnya.

Tapi, Takdir membawa Arin berhadapan kembali dengan laki-laki dari masa lalu yang paling ia benci dan tak ingin ia temui lagi seumur hidupnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hanela cantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 29

Beberapa hari berlalu sejak pagi di mess itu. Hubungan mereka perlahan menunjukkan perubahan kecil.

Kesempatan emas itu tak disia-siakan oleh Regan. Ia menjadi jauh lebih gencar mendekati Arin dan Zayyan, memanfaatkan setiap detik waktu luangnya untuk sekadar hadir dan menunjukkan kesungguhannya.

Hari ini, tepat saat jam menunjukkan waktu istirahat siang, Regan melangkah keluar dari ruang kerjanya. Pikirannya langsung tertuju pada Arin yang ia tahu pasti sedang mendapat jeda kerja di restoran depan mess. Dengan senyum yang sulit disembunyikan, Regan merogoh ponsel di saku jasnya dan langsung mendial nomor Arin.

Ia menempelkan ponsel ke telinga sembari berjalan menuju lift. Tak butuh waktu lama hingga panggilan itu diangkat.

"Halo, Rin?" panggil Regan lembut, nada suaranya begitu hangat.

"Kamu lagi istirahat makan siang, kan?"

Di seberang sana, terdengar jeda sejenak sebelum suara Arin menyahut pelan. "Iya, baru aja duduk. Ada apa.?"

Mendengar suara yang kini tak lagi sedingin dulu membuat dada Regan berdesir hangat. Ia melangkah masuk ke dalam lift yang kosong, menyandarkan tubuhnya dengan rileks.

"Nggak apa-apa, cuma mau minta izin sama kamu," ujar Regan, tak ingin membuang waktu.

"Siang ini... boleh kan kalau aku yang jemput Zayyan pulang sekolah?"

Mumpung Arin belum menolak, Regan cepat-cepat menambahkan dengan nada penuh harap, "Nanti setelah jemput, boleh ya kalau aku bawa Zayyan jalan-jalan sebentar? Aku mau ajak dia makan es krim atau beli mainan yang dia suka. Aku janji bakal pulangin Zayyan tepat waktu sebelum sore dan nggak bakal bikin kamu cemas. Boleh ya, Rin?"

Di ujung telepon, Arin memejamkan mata sejenak. Pikiran tentang ancaman wanita tua itu sempat terlintas dan membuat dadanya sesak. Namun, membayangkan binar bahagia di mata Zayyan setiap kali anak itu menyebut nama papanya... membuat pertahanan Arin runtuh pelan-pelan. Ia tak tega merenggut kebahagiaan kecil itu dari anaknya.

"Arin? Nggak boleh, ya?"suara Regan terdengar agak cemas karena jeda yang cukup lama.

"Kalau kamu keberatan, nggak apa-apa kok, aku..."

"Boleh, Regan," potong Arin pelan, menyela ucapan pria itu.

Langkah kaki Regan yang baru saja keluar dari lift mendadak terhenti. Senyum lebar tak terbendung langsung terbit di wajahnya yang tampan. "Beneran, Rin? Kamu izinin?"

"Iya. Tapi janji, ya... jangan kasih dia es krim terlalu banyak. Zayyan gampang batuk," tutur Arin lembut, nada bicaranya penuh perhatian khas seorang ibu yang tak bisa disembunyikan.

"Satu lagi, jangan terlambat pulang. Jam lima sore Zayyan harus mandi dan istirahat."

"Pasti! Aku janji!" sahut Regan cepat, antusiasme dalam suaranya begitu jelas hingga Arin di seberang sana bisa merasakan energi positif itu.

"Aku bakal jagain Zayyan baik-baik. Makasih banyak ya, Rin... makasih."

"Sama-sama. Kamu udah makan siang?" tanya Arin refleks, namun sejurus kemudian ia tersadar dan langsung merapatkan bibir, merutuki kepeduliannya yang lepas kontrol.

Regan terkekeh pelan suara kekehan yang sudah sangat lama tidak Arin dengar, hangat dan begitu renyah.

"Belum. Tapi dengar kamu izinin aku jalan sama Zayyan, rasanya aku udah kenyang duluan. Nanti malam... boleh sekalian aku bawain makanan buat kamu?"

"Nggak usah berlebihan, Regan," cegat Arin cepat, berusaha menetralkan degup jantungnya yang mulai tak beraturan.

"Udah ya, waktu istirahatku mau habis. Hati-hati di jalan nanti."

"Iya, Arin. Selamat istirahat ya," ucap Regan lembut sebelum sambungan telepon terputus.

Regan menatap layar ponselnya yang kembali gelap dengan perasaan membuncah. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia merasakan gairah hidup yang begitu membara. Pria itu memasukkan ponselnya ke saku, merapikan jasnya dengan percaya diri, lalu melangkah mantap menuju parkiran kantor.

Saat melangkah mantap menyusuri koridor lantai dasar kantor menuju area parkir VIP, langkah kaki Regan mendadak terhenti.

Dari arah pintu masuk utama, sosok wanita paruh baya bertubuh anggun dengan pakaian elegan melangkah masuk diiringi asisten pribadinya. Wanita itu adalah mama Regan.

Langkah mamanya ikut terhenti saat matanya menangkap keberadaan putra tunggalnya. Dengan raut wajah heran, sang mama mendekati Regan yang tampak rapi dan seperti terburu-buru.

"Regan?" panggil mamanya lembut, menatap Regan dari ujung kepala sampai ujung kaki. "Kamu mau ke mana, Gan? Ini kan masih jam kerja?"

Regan sempat tertegun sejenak, namun dengan cepat ia memamerkan senyum tipis untuk menutupi rasa gugupnya. Ia tak ingin mamanya curiga, apalagi jika menyangkut keputusannya untuk menemui Zayyan.

"Aku mau keluar sebentar, Mah," jawab Regan tenang sembari merapikan jam tangan di pergelangan tangannya. "Ada urusan sebentar di luar."

Sang mama menyipitkan mata, menatap putranya curiga. "Urusan apa siang-siang begini? Mama baru mau naik ke atas, mau nemuin Papa kamu buat ajak makan siang bareng. Kamu nggak mau ikut sekalian?"

Mendengar nama ayahnya disebut, teringat kembali perdebatan sengit mereka beberapa hari lalu. Regan menggeleng halus.

"Nggak bisa, Mah. Urusan Regan lumayan penting dan nggak bisa ditunda," tolak Regan secara halus namun tegas. "Mama makan siang berdua sama Papa saja, ya. Regan permisi dulu, takut telat."

Tanpa menunggu balasan lebih lanjut dari sang mama yang masih menatapnya heran, Regan mencium pipi mamanya sekilas lalu melanjutkan langkahnya dengan bergegas menuju mobil.

Mobil serba hitam milik Regan berhenti tepat di depan gerbang Sekolah Dasar tempat Zayyan menuntut ilmu. Regan segera turun dari mobil, membenarkan letak kemejanya, dan berdiri menunggu di samping gerbang dengan mata yang terus memindai kerumunan anak-anak sekolah yang mulai berhamburan keluar.

Tak berapa lama, dari arah koridor, sosok Zayyan dengan seragam SD dan tas punggungnya berjalan keluar. Begitu mata kecil anak itu menangkap keberadaan Regan yang menjulang tinggi di dekat gerbang, tangannya langsung melambai tinggi-tinggi.

"Ommm!" panggil Zayyan nyaring dengan wajah berbinar bahagia.

Tanpa membuang waktu, anak laki-laki itu langsung berlari kecil menghampiri Regan. Namun sebelum benar-benar sampai, Zayyan menoleh sebentar ke arah beberapa temannya yang berjalan di belakang, melambaikan tangan kembali.

"Aku duluan ya! Udah dijemput sama om ku!" pamit Zayyan bangga pada teman-temannya, yang dibalas lambaian tangan oleh mereka.

Zayyan lalu mendongak menatap Regan dengan napas sedikit terengah usai berlari. "Om mau jemput aku, ya?"

Regan berlutut dengan satu kaki agar tingginya sejajar dengan Zayyan. Tatapannya begitu hangat dan penuh kasih sayang melihat kepolosan anak kandungnya yang masih memanggilnya Om.

"Iya, Om mau ajak kamu makan siang bareng," ujar Regan lembut, tangannya terulur merapikan kerah seragam Zayyan yang sedikit terlipat.

"Sama janji Om mau makan es krim itu, mau nggak? Om juga udah izin tadi sama ibu kamu."

Mata Zayyan seketika membulat gembira mendengarnya. "Beneran, Om?! Ibu ngizinin?"

"Ngizinin dong, tapi ada syaratnya," Regan tersenyum tipis, mencubit pelan pipi Zayyan. "Es krimnya cuma boleh satu, kata Ibu nanti kamu batuk. Gimana?"

"Mau, Om! Mau banget!" sorak Zayyan gembira, tak bisa menyembunyikan antusiasmenya.

Regan terkekeh pelan. Ia berdiri, lalu menggenggam jemari mungil Zayyan dengan erat dan hangat, menuntun langkah kecil anak itu menuju mobil yang terparkir tak jauh dari mereka.

Regan membukakan pintu tengah mobilnya. Di atas jok, sudah ada tas berisi setelan baju santai yang ia siapkan dari rumah.

"Sebelum jalan, Zayyan ganti baju dulu ya di mobil. Biar nggak gerah," ujar Regan lembut sambil membantu anak itu naik.

"Wah, Om bawain baju ganti buat Zayyan?" tanya Zayyan berbinar.

"Iya dong."

Regan mengambil kaos pahlawan super dan celana santai dari dalam tas. Ia melepas tas sekolah Zayyan, lalu dengan telaten mengganti seragam SD anak itu. Setelah menyapu keringat di dahi Zayyan dengan tisu, Regan merapikan rambutnya.

"Nah, sekarang udah makin ganteng," puji Regan.

Zayyan tersenyum lebar. "Makasih ya, Om Regan!"

"Sama-sama, Jagoan." Regan menahan haru. Ia memasukkan seragam sekolah ke tas Zayyan, menutup pintu, lalu pindah ke kursi pengemudi.

"Siap berangkat?" tanya Regan melirik lewat spion tengah.

"Siap, Om!" seru Zayyan semangat.

1
Anonim
ANJING PENGEN BUNUH REGAN ... DEMI TUHAN PENGEN BUNUH REGAN
Lina Asm
lanjut kak
falea sezi
lanjut donk
falea sezi
🤣🤣 didikan mu jelek rin 🤣 pantes anak mu berontak harusnya klo ada yg nginjak lawan. bego bukan diem😒 di bully diem. ya bloon
falea sezi
lagian goblok nya harusnya pergi dr suami bawa uang banyak biar anak mu gk menderita bawa fto nikah di pajang gede biar orang kampung tau lu bersuamii😒 begooo MC nya menye
falea sezi
anak g tau diri😒 baru baca uda kesel anak gk pernah di didik. ya gini
Mutaharotin Rotin
🥰🥰🥰🌹
Mutaharotin Rotin
mampir thor 🌹🌹🌹🌹🥰🥰🥰😭😭
Mutaharotin Rotin
karya baru ya🥰🥰🥰 mampir ya 🌹🌹🌹
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!