NovelToon NovelToon
ASISTEN DUDA TAJIR MELINTIR

ASISTEN DUDA TAJIR MELINTIR

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Duda
Popularitas:724
Nilai: 5
Nama Author: Flaura Charisma

Asisten Duda CEO Tajir Melintir

Grizella Madeline Dealova, seorang anak magang yang ambisius dan berani, tidak pernah menyangka akan terlibat dengan Galaxy Adelion Wesley, CEO kaya raya yang dingin dan terluka karena pengkhianatan masa lalu.

Pertemuan mereka dipenuhi pertengkaran, tetapi perlahan rasa benci berubah menjadi ketertarikan. Saat Galaxy memintanya menjadi asisten pribadi dan tinggal bersamanya, keduanya mulai menghadapi perasaan yang tidak bisa mereka hindari.

Namun, ketika cinta mulai tumbuh, mantan istri Galaxy kembali membawa rahasia lama yang mengancam hubungan mereka.

Akankah Grizella menjadi alasan Galaxy kembali percaya pada cinta, atau justru menjadi luka baru dalam hidup sang CEO?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Flaura Charisma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

paket misterius

Pagi itu, suasana Wesley Corporation tampak lebih sibuk dari biasanya. Para karyawan berlalu-lalang membawa berkas rapat, sementara Grizella sudah berada di meja kerjanya sejak pukul tujuh pagi.

Meski kasus hilangnya dokumen belum selesai, ia tetap menjalankan tugasnya dengan profesional.

Ia tidak ingin menunjukkan bahwa dirinya sedang tertekan.

"Selamat pagi, Nona Grizella."

Aaron menghampirinya sambil membawa beberapa map.

"Ini jadwal Tuan Galaxy hari ini."

"Terima kasih, Pak Aaron."

Grizella mulai menyusun ulang jadwal rapat yang berubah mendadak akibat kedatangan investor dari luar negeri.

Beberapa menit kemudian...

Seorang kurir datang ke lantai eksekutif sambil membawa sebuah kotak hitam yang dibungkus rapi.

"Permisi."

"Saya membawa paket untuk Tuan Galaxy Adelion Wesley."

Resepsionis menerima paket itu.

"Pengirimnya siapa?"

Kurir menggeleng.

"Tidak ada nama."

Kotak itu kemudian dibawa ke ruang CEO.

Galaxy sedang memeriksa laporan keuangan ketika Aaron masuk.

"Tuan, ada paket."

"Letakkan saja."

Aaron meletakkan kotak itu di atas meja.

Galaxy memperhatikannya beberapa saat.

Entah mengapa, firasatnya mengatakan bahwa paket itu bukan hadiah biasa.

Ia membuka penutup kotak perlahan.

Di dalamnya terdapat sebuah flash drive berwarna hitam dan sebuah surat tanpa tanda tangan.

Galaxy mengambil surat itu.

Isi suratnya sangat singkat.

"Kalau ingin tahu wajah asli asistenmu, lihat isi flash drive ini."

Tatapan Galaxy langsung berubah tajam.

Ia memasukkan flash drive ke laptop.

Beberapa detik kemudian...

Sebuah video muncul di layar.

Video itu memperlihatkan seseorang yang sangat mirip Grizella sedang membuka lemari arsip rahasia dan mengambil map proyek perusahaan.

Ruangan mendadak sunyi.

Aaron yang ikut melihat rekaman itu tampak terkejut.

"Ini..."

Galaxy tidak langsung berbicara.

Ia memperhatikan video itu hingga selesai.

Sepintas, rekaman tersebut tampak sangat meyakinkan.

Namun ia teringat hasil analisis semalam.

Ada kejanggalan pada CCTV sebelumnya.

Artinya...

Video ini juga belum tentu asli.

"Tutup pintunya."

Aaron segera melakukannya.

"Tuan..."

Galaxy menatap layar tanpa berkedip.

"Jangan beri tahu siapa pun tentang video ini."

"Baik."

Di luar ruangan, tanpa sengaja Grizella melihat ekspresi Galaxy yang keluar dari kantor dengan wajah jauh lebih dingin dibanding biasanya.

"Apakah terjadi sesuatu?"

Galaxy berhenti.

Tatapan mereka bertemu.

Beberapa detik berlalu tanpa sepatah kata pun.

Akhirnya Galaxy berkata pelan,

"Ikut aku."

Grizella menurut.

Sesampainya di ruang kerja, Galaxy meletakkan sebuah amplop di hadapannya.

"Aku ingin kau melihat sesuatu."

Grizella membuka amplop itu.

Wajahnya langsung memucat.

"Itu..."

Galaxy memperhatikan setiap perubahan ekspresinya.

"Video ini menunjukkan seseorang yang sangat mirip denganmu."

Grizella menggeleng cepat.

"Bukan saya."

"Saya bersumpah."

Galaxy tidak menjawab.

Ia hanya terus menatap mata Grizella.

Lalu, tanpa diduga, ia berkata,

"Aku percaya."

Grizella membeku.

"Tu... Tuan?"

Galaxy menarik napas panjang.

"Buktinya terlalu sempurna."

"Dan sesuatu yang terlalu sempurna justru membuatku curiga."

Mata Grizella mulai berkaca-kaca.

Untuk pertama kalinya sejak semua tuduhan itu muncul...

Ada seseorang yang memilih mempercayainya.

Galaxy menatapnya dengan serius.

"Tapi mulai hari ini, jangan pernah berjalan sendirian."

"Kenapa?"

"Karena orang yang menjebakmu..."

Galaxy mengepalkan tangannya.

"...mungkin juga sedang mengincarmu."

Saat itu juga, dari seberang jalan, seseorang yang mengenakan topi hitam sedang memperhatikan mereka melalui lensa kamera.

Pria misterius itu tersenyum tipis.

"Lumayan..."

"Galaxy mulai melindunginya."

"Itu akan membuat permainan ini jauh lebih menarik."

Ucapan Galaxy masih terngiang di benak Grizella.

"Mulai hari ini, jangan pernah berjalan sendirian."

Entah mengapa, kalimat itu membuat hatinya terasa hangat.

Selama ini, ia mengira Galaxy hanya melihatnya sebagai bawahan. Namun kini, ia merasakan ada ketulusan dalam nada bicara pria itu.

Galaxy berjalan lebih dulu keluar dari ruangannya.

"Ikut."

Grizella mengangguk.

Mereka menuju ruang rapat utama untuk bertemu para investor.

Sepanjang perjalanan, beberapa karyawan memperhatikan keduanya.

"Aneh..."

"Biasanya CEO tidak pernah berjalan berdampingan dengan asistennya."

"Sepertinya Tuan Galaxy benar-benar mempercayainya."

Bisikan itu sampai ke telinga seorang wanita yang berdiri di balik pilar.

Vanessa.

Ia menggenggam tasnya erat.

"Apa Galaxy mulai membuka hatinya lagi...?"

Ekspresinya berubah rumit. Ia memang ingin memperbaiki hubungannya dengan Galaxy, tetapi ia juga tidak ingin Grizella menjadi korban fitnah.

Namun ia tahu ada seseorang yang bergerak lebih cepat darinya.

Rapat dengan investor berlangsung selama hampir dua jam.

Grizella mencatat setiap keputusan penting dengan teliti.

Saat rapat selesai, salah satu investor asal Eropa tersenyum kepada Galaxy.

"Mr. Wesley, your assistant is very competent."

Galaxy melirik Grizella sekilas.

"She is."

Jawaban singkat itu membuat Grizella sedikit terkejut.

Jarang sekali Galaxy memuji seseorang di depan orang lain.

Setelah para investor pergi, Grizella tersenyum kecil.

"Terima kasih karena sudah mempercayai saya."

Galaxy memasukkan kedua tangannya ke saku celana.

"Aku belum sepenuhnya percaya."

Grizella terdiam.

"Tapi aku juga tidak akan menuduhmu tanpa bukti."

Meski terdengar dingin, jawaban itu justru membuat Grizella merasa lega.

Setidaknya, Galaxy memilih mencari kebenaran daripada langsung menghakiminya.

Sore harinya, Galaxy mengajak Grizella memeriksa ruang arsip.

Ruangan itu masih disegel oleh tim keamanan.

Galaxy memperhatikan rak tempat dokumen penting disimpan.

"Tidak ada tanda pembobolan."

Grizella ikut mengamati.

"Tapi dokumennya hilang."

Galaxy mengangguk pelan.

"Itu berarti pelakunya memiliki akses."

Saat Grizella hendak berbalik, ia melihat sesuatu yang berkilau di bawah rak.

"Sekejap..."

Ia berjongkok dan mengambil benda kecil itu.

Sebuah anting berbentuk bunga lily berwarna perak.

Galaxy langsung mengenalinya.

"Simbol yang sama..."

Grizella mengangguk.

"Seperti gantungan kartu akses yang saya temukan."

Tatapan Galaxy berubah semakin tajam.

"Ini bukan kebetulan."

Seseorang sengaja meninggalkan jejak.

Entah untuk memberi petunjuk...

Atau justru menyesatkan mereka.

Malam harinya, saat mereka hendak pulang, lift eksekutif tiba-tiba berhenti di tengah perjalanan.

Lampu di dalam lift berkedip beberapa kali.

Grizella refleks memegang dinding.

"Ada apa ini?"

Lift mendadak berguncang pelan.

Grizella kehilangan keseimbangan.

Sebelum tubuhnya terjatuh, sebuah tangan kuat menarik pinggangnya.

Bruk.

Grizella terjatuh tepat ke dalam pelukan Galaxy.

Jarak wajah mereka hanya beberapa sentimeter.

Grizella dapat merasakan napas hangat Galaxy.

Begitu pula Galaxy yang dapat melihat jelas mata Grizella yang bening.

Beberapa detik, tidak ada satu pun dari mereka yang berbicara.

Degup jantung Grizella semakin cepat.

Galaxy pun tanpa sadar masih memegang pinggangnya agar tidak terjatuh.

Saat lift kembali bergerak normal, keduanya buru-buru menjaga jarak.

Grizella menundukkan kepala, wajahnya memerah.

"Maaf..."

Galaxy berdeham pelan.

"Bukan salahmu."

Meski berusaha terlihat tenang, jantung Galaxy juga berdetak lebih cepat dari biasanya.

Ia belum pernah sedekat ini dengan wanita lain sejak perceraiannya.

Namun, sesaat setelah pintu lift terbuka, seorang petugas keamanan berlari menghampiri mereka.

"Wah, syukurlah Tuan baik-baik saja!"

"Ada apa?"

Petugas itu tampak panik.

"Kami menemukan seseorang menyusup ke ruang kontrol lift."

Galaxy dan Grizella saling berpandangan.

Ini bukan lagi sekadar fitnah.

Seseorang mulai mencoba mencelakai mereka.

Dan itu berarti...

Permainan berbahaya ini telah memasuki

Pintu lift terbuka sepenuhnya.

Galaxy segera melangkah keluar lebih dulu, lalu mengulurkan tangannya kepada Grizella.

"Hati-hati."

Grizella menerima uluran tangan itu tanpa ragu.

"Terima kasih."

Petugas keamanan masih berdiri dengan wajah pucat.

"Tuan, kami sudah mengamankan ruang kontrol lift."

"Bagaimana kondisinya?" tanya Galaxy.

"Seseorang memutus sebagian sistem keamanan. Sepertinya dilakukan dengan sengaja."

Tatapan Galaxy berubah tajam.

"Periksa seluruh rekaman CCTV."

"Baik, Tuan."

Malam itu, perjalanan pulang ke penthouse berlangsung dalam keheningan.

Galaxy sesekali melirik Grizella yang terlihat lelah.

"Apa kau takut?"

Grizella tersenyum tipis.

"Sedikit."

"Lalu kenapa tetap bertahan?"

Grizella menatap lampu-lampu Kota New York di balik jendela mobil.

"Karena kalau saya menyerah sekarang, berarti orang yang menjebak saya menang."

Jawaban itu membuat Galaxy kembali kagum.

Di tengah tekanan sebesar ini, Grizella masih memilih untuk melawan.

"Banyak orang akan memilih mengundurkan diri."

Grizella menggeleng.

"Itu bukan sifat saya."

Galaxy tidak mengatakan apa-apa lagi.

Namun di dalam hatinya, rasa hormat kepada Grizella semakin tumbuh.

Sesampainya di penthouse, Aaron sudah menunggu.

"Tuan, tim keamanan mengirimkan hasil pemeriksaan awal."

Galaxy segera membuka berkas yang diberikan.

"Bagaimana hasilnya?"

"Sidik jari di ruang kontrol lift sudah dihapus."

"Tapi kami menemukan satu petunjuk."

Aaron mengeluarkan sebuah kartu nama yang sedikit terbakar.

Di sudut kartu itu terdapat logo bunga lily berwarna perak.

Logo yang sama.

Galaxy mengepalkan tangannya.

"Orang ini sengaja meninggalkan jejak."

Grizella memperhatikan kartu tersebut.

"Atau... sengaja ingin kita mengejar orang yang salah."

Galaxy menoleh.

"Itu juga mungkin."

Untuk pertama kalinya, mereka mulai menyusun penyelidikan sebagai sebuah tim.

Keesokan paginya...

Grizella datang lebih awal ke kantor.

Ia berniat menyiapkan semua jadwal Galaxy sebelum pria itu tiba.

Saat berjalan melewati lorong menuju ruang asisten, ia melihat sebuah kotak kecil diletakkan di atas mejanya.

"Titipan siapa?"

Tidak ada nama pengirim.

Grizella membukanya perlahan.

Di dalamnya hanya ada sebuah gelang perak yang tampak biasa.

Namun ketika ia mengangkat gelang itu...

Klik!

Terdengar bunyi mekanis yang sangat pelan.

Mata Grizella membelalak.

Belum sempat ia bereaksi, Galaxy yang baru datang melihat kejadian itu dari kejauhan.

"Grizella!"

Galaxy berlari sekencang mungkin.

Tanpa berpikir panjang, ia menarik tubuh Grizella menjauh dari meja.

Brak!

Kotak kecil itu meledak dengan suara keras.

Ledakannya tidak besar, tetapi cukup menghancurkan meja kerja dan membuat pecahan kayu beterbangan ke segala arah.

Para karyawan menjerit panik.

"Ada ledakan!"

"Hubungi keamanan!"

Galaxy memeluk Grizella untuk melindunginya dari serpihan yang beterbangan.

Beberapa detik kemudian, keadaan mulai tenang.

Galaxy perlahan melepaskan pelukannya.

"Kau tidak apa-apa?"

Grizella masih syok, tetapi mengangguk pelan.

"Saya... saya baik-baik saja."

Galaxy menatap meja yang kini hancur.

Rahangnya mengeras.

Ini bukan lagi sekadar fitnah.

Seseorang benar-benar ingin mencelakai Grizella.

Di sisi lain gedung, seorang pria bertopi hitam melihat kekacauan itu melalui teropong dari gedung seberang.

Ia tersenyum tipis.

"Menarik..."

"CEO itu bahkan rela mempertaruhkan dirinya untuk menyelamatkan asistennya."

Pria itu menutup ponselnya setelah mengirim sebuah pesan kepada seseorang.

"Fase pertama selesai. Sekarang saatnya menghancurkan hati Galaxy."

Sementara Galaxy menggenggam tangan Grizella dengan erat.

Dalam hati, ia membuat satu janji.

"Siapa pun dalang di balik semua ini... aku akan menemukannya. Dan kali ini, aku tidak akan membiarkan siapa pun menyakiti Grizella."

Insiden ledakan membuat Galaxy memutuskan membawa Grizella ke sebuah resort mewah di pulau pribadi dengan alasan keamanan. Namun tanpa mereka sadari, musuh telah lebih dulu menunggu di sana.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!